The Millenium Parenthood – Day 07 : KOMUNIKASI – Two Different Wor(l)d

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

Beberapa minggu belakangan ini saya sedang menghadapi situasi unik di rumah. Pertanyaan yang timbul dalam benak saya adalah : mengapa anak saya yang sudah remaja tumbuh menjadi remaja yang seolah tidak punya nilai hidup yang baik ? Kemana semua nilai hidup yang sudah kami ajarkan selama ini ?

Lalu semalam saya mencoba mencari referensi dengan browsing di internet. Dan saya menemukan sebuah artikel yang sangat menjawab pertanyaan saya tadi. Artikel ini saya baca di http://www.empoweringparents.com. Saya tersenyum membacanya karena saya menyadari bahwa dunia saya dan dunia anak saya adalah BERBEDA.

Saya baru menyadari bahwa di saat saya sedang mencoba untuk mengingatkan anak remaja saya tentang betapa pentingnya mengingat tentang sopan santun, cara merapikan kamar dan meja belajarnya, sebenarnya saat itu yang ada dalam pikirannya adalah bahwa aku cantik, aku sedang ‘suka’ dengan temanku, aku ingin beli buku tentang boy band yang sedang ngetop di Amerika sekarang, dan berbagai macam ‘persoalan’ yang timbul di usianya yang baru memasuki masa remaja.

Akhirnya yang terjadi adalah sebuah adegan yang lucu, saya sebagai ‘sang ibu’ sedang bicara tiada henti sementara putri saya sebagai ‘sang remaja’ hanya diam mendengarkan namun pikirannya sedang berjalan-jalan entah kemana.

Terkadang saya merasa putus asa, merasa sedih memikirkan mengapa putri saya sekarang tumbuh menjadi remaja yang sulit diberitahu dan diatur, padahal dulu dia adalah anak yang manis dan menyenangkan.

Diberitahu dan diatur – sebuah kalimat yang pada akhirnya perlu dipertanyakan ulang. Dari sisi siapa kita melihat ? Dari sisi orang tua. Kita ‘menilai’ bahwa anak remaja kita sulit diberitahu dan diatur. Bagaimana dari sisi mereka ? Pernahkah kita memikirkan tanggapan mereka. Saya baru menyadari bahwa putri saya ternyata merasa ’banyak dikritik’ oleh saya.

Maka terjadilah benturan. Pihak orang tua merasa sedih dan putus asa karena ’nasehatnya’ tidak didengar, sementara sang remaja merasa dirinya terlalu diperhatikan dan banyak dikritik.

Two different world, two different words. Tidak akan bertemu di tengah-tengah jika tidak ada kompromi dari kedua belah pihak. Dan kompromi hanya akan bisa terjadi jika timbul kerelaan dari diri masing-masing untuk mau berkorban bagi pihak lainnya.

Tidak ada pengorbanan secara fisik, tidak ada harta atau uang yang dikorbankan, tidak ada harga diri yang dipertaruhkan. Yang diperlukan hanya kerelaan untuk menyediakan waktu, pikiran dan hati untuk mau membuka pikiran dan terbuka terhadap satu sama lain.

Saya pun saat ini masih sering mengalami kesulitan untuk bisa rela mendengar dan memahami putri saya. Apalagi putri saya yang masih sangat belia. Namun semua itu adalah proses. Dan proses itu akan berjalan jika dimulai dari pihak orang tua, kita yang sudah lebih lama hidup di dunia ini dan sudah pernah mengalami masa remaja, walaupun kondisinya sangat jauh berbeda.

Tidak pada tempatnya jika kita langsung menuntut anak remaja kita untuk lebih bisa mengerti kita. Mereka masih sangat muda dan baru saja mulai untuk bisa melihat dunia dengan segala macam permasalahannya.

Kompromi yang paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah belajar mendengar dan mengerti dunia mereka. Mencoba mengerti bahwa lagu-lagu One Direction (grup boyband yang saat ini sedang nge-top) itu adalah sangat COOL. Mencoba mengerti bahwa lagu-lagu SNSD dan Wonder Girl, serta tariannya adalah sangat KEREN. Mencoba mengerti bahwa sinetron Putih Abu Abu itu menarik sekali. Dan sekaligus mencoba mengerti bahwa mereka tidak bisa mengerti mengapa orang tuanya masih suka mendengar lagu-lagu Harvey Malaiholo, ayah dan ibu selalu ribut tentang meja belajar yang rapi padahal mereka sendiri tidak merasa itu menjadi masalah.

Belajar untuk mendengar dan belajar untuk mengerti dunia remaja, adalah dua hal mendasar (menurut saya) yang paling penting kita pelajari. Cara menasihati dan lain-lain itu adalah prioritas ke-sekian.

Saat ini saya mengalami bahwa belajar mendengar akan lebih mudah jika kita sudah belajar untuk mengerti dunia remaja. Saat ini saya belum bisa mengerti dengan sepenuhnya. Saya masih sering mencoba berpikir dengan logika saya dan buka dengan cara berpikir remaja.

Dunia remaja adalah dunia yang ’unik’, penuh dengan permasalahan mulai dari jerawat, model rambut, pertemanan sampai gaya bicara. Dunia remaja adalah dunia yang tidak mudah dimengerti dengan logika, karena didalamnya bercampur segala macam emosi dan perasaan, tanpa ada batasan dan definisi kapan dan dimana perasaan itu bisa timbul. Dunia remaja adalah dunia yang penuh dengan tanjakan dan turunan, suka dan duka, sedih dan gembira, marah dan tertawa, yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja.

Mungkin sampai putri saya sudah dewasa nanti, saya belum dapat memahami 100% dunia remaja. Namun setidaknya dalam hidup ini saya sudah berusaha untuk mencoba mengerti, walaupun saya harus rela berkorban waktu, pikiran dan perasaan saya untuk bisa melakukan hal tersebut. Yang saya selalu ingat adalah bahwa saya melakukannya untuk anak saya, yang sudah ada dalam rahim saya selama 9 bulan. Maka apalah artinya waktu, tenaga dan pikiran yang harus saya sediakan saat ini untuk bisa memahami putri saya.

Two different world, two different words. Akan bertemu di tengah-tengah jika kita mau belajar mengerti dunia mereka dan belajar mendengar.

It’s not easy but it’s possible.

Slide presentasi dari posting ini dapat dilihat dan diunduh di : http://goo.gl/2W7lE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s