img_9656

Profile – Bollywood : Priyanka Chopra

Nama yang sudah banyak disebut orang. Berawal dari kesuksesannya meraih gelar Miss World, Priyanka tidak lupa dengan tanah kelahirannya, India. Dia tetap meluangkan waktu untuk berkarier sebagai aktris di dunia film Bollywood. 

Tidak sedikit filmnya yang menorehkan memori yang manis di hati para pencintanya. Teri Meri Kahaani, Anjaana Anjaani, Mary Kom, Barfi!, Dil Dhadakne Do, dan yang terbaru adalah sebuah film kolosal berjudul Bajirao Mastani yang telah mengukuhkan namanya sebagai aktris papan atas di India. 

Priyanka tidak sekedar memanfaatkan kesempatan yang ada untuk bermain film, seperti layaknya sebagian kecil selebriti. Kalau kita melihat mutu aktingnya dalam film Bollywood, bagi saya pribadi, Priyanka dapat masuk ke dalam semua karakter yang dia perankan. 

Menjadi istri yang tertekan walaupun kaya raya dan hebat dalam wirausaha di Dil Dhadakne Do. Menjadi aktris yang sedang jatuh cinta dalam Teri Meri Kahaani. Menjadi seorang boxer wanita India di Mary Kom. Menjadi seorang gadis autisme dalam film Barfi! (world class acting). Menjadi istri dari seorang Peshwa (panglima perang) yang dimadu oleh suaminya namun tetap mencintai suaminya sampai maut memisahkan mereka di Bajirao Mastani. 

Sebagai bagian dari gelarnya menjadi Miss World, tentu saja dia juga banyak terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Penghargaan dalam dunia akting dan karya sosial mungkin sudah tidak terhitung lagi banyaknya. 
Puncak kesuksesannya saat ini adalah menjadi leading role/pemeran utama dalam serial TV dari ABC yang berjudul Quantico. Saat ini sudah memasuki season yang ke-2. Priyanka memerankan agen FBI Alex Parrish. 

So practically, the whole world knew who is Priyanka Chopra. 

Namun bagaimanapun tetap akan ada komentar yang kurang positif terhadap kesuksesannya di dunia perfilman Bollywood dan di Amerika. 

Saya sempat kaget membaca sebuah pernyataan dari seseorang di India yang berkata bahwa mari kita lihat saja berapa lama Priyanka dapat bertahan di Amerika. 

Mari kita lihat semua kerja keras yang telah dia lakukan. Film-filmnya di dunia perfilman Bollywood disutradai oleh beberapa sutradara hebat. Dan kita tentu saja tahu bahwa sutradara yang bagus, tidak akan sembarangan memilih aktor dan aktris untuk memerankan karakter di filmnya. Lalu bagaimana Priyanka bisa bertahan di Quantico bahkan sudah memasuki season yang ke-2, mari kita berpikir dengan logika betapa sulit mempertahankan stamina agar bisa memerankan Alex Parrish dengan konsisten sementara terkadang dia masih harus bolak balik Amerika dan India karena adanya beberapa hal yang harus dia hadiri di India. 

Talentanya masih ditambah dengan vokalnya yang unik. Priyanka tidak serta merta terjun ke dalam dunia tarik suara hanya karena dia sudah menjadi Miss World. Farhan Akhtar, seorang aktor India yang sekaligus penyanyi, yang mendorong Priyanka untuk berkarier di dunia tarik suara. 

Kalau kita melihat beberapa sesi wawancara Priyanka ataupun beberapa pidato singkat saat dia menerima penghargaan, Priyanka berbicara dalam bahasa Inggris yang jelas artikulasinya. Namun dia juga tidak lupa dengan bahasa ibu yaitu bahasa Hindi. Menurut saya, itu luar biasa. 

My personal opinion ? She is beautiful inside and out. She is sexy inside and out. She is energetic. She has a contagious smile. She has an excellent attitude. It’s her inner characters. We can’t blame her or saying something bad about her. Mistakes … to err is human. Her personal life is not our business. 

Bukan pertanyaan berapa lama dia bisa bertahan di Amerika. Namun seharusnya India sangat bangga bisa memiliki seorang Priyanka Chopra, yang dengan kesuksesannya, masih tetap mencintai negaranya. 

Priyanka, I always admire all your work. Wish you all the best, girl. You deserve it. 

img_9793

Movie Review – Bollywood : TAMASHA

Film Bollywood yang unik. Dibintangi oleh Ranbir Kapoor dan Deepika Padukone. Dua aktor yang sedang di puncak kariernya, namun setelah meihat filmnya, tidak heran mereka memang sedang menjadi incaran sutradara dan produser. 

Intinya adalah love story, dengan pesan moral bahwa menemukan diri sendiri adalah kunci kebahagiaan hidup. Sederhana namun mendalam. Baru kali ini saya menonton film yang dibintangi oleh Ranbir Kapoor dan disutradarai oleh Imtiaz Ali. Deepika Padukone sudah pernah saya tonton di beberapa film sebelumnya dan memang kualitas aktingnya diatas rata-rata.

 

Imtiaz Ali sering saya dengar namanya sebagai seorang sutradara yang brilian dengan hasil karyanya yang selalu mendapat pujian dari kritisi. Apakah berhasil menjadi box office atau flop di peredaran, saya tidak mengetahui dengan jelas. Namun beberapa filmnya sudah ‘melegenda’ di dunia perfilman Bollywood.

 

Sebut saja misalnya Jab We Met, Highway, Rockstar, beberapa filmnya yang sudah pasti diketahui oleh masyarakat pencinta film India. Namun lewat film Tamasha, saya mengakui bahwa Imtiaz memiliki metode penyutradaraan yang unik, dengan jalinan kisah yang unik pula.

 

Sementara ini kali pertama juga saya melihat penampilan akting Ranbir Kapoor, yang diakui oleh dunia perfilman Bollywood untuk kemampuan aktingnya. Ternyata benar, rentang emosi yang ditampilkan oleh Ved yang diperankan Ranbir Kapoor, luar biasa. Kita bisa merasakan roller coaster perjalanan jiwa Ved dari seorang yang free spirit menjadi seorang yang bertingkah laku seperti mesin karena tuntutan keluarga dan akhirnya berhasil menemukan dirinya sendiri, dengan bantuan Tara, kekasihnya.

 

Tamasha, yang berarti pertunjukan, memberikan sebuah pesan moral yang sangat penting. Bahwa bagaimanapun tradisi keluarga akan tetap lekat, dimanapun kita berada. Kisah leluhur yang hidup susah kemudian berhasil, bisa jadi akan membebani hidup kita di masa depan, karena adanya ‘tuntutan’ untuk bisa menjadi pahlawan bagi keluarga. Sama dengan yang dialami oleh Ved, yang dituntut untuk bisa menjadi orang yang bekerja di kantor dengan dasi dan jas, memiliki reputasi yang baik, sopan dan penurut. Walaupun didalamnya sebenarnya Ved adalah seorang ‘artis’ yang mendapatkan kepuasan batin dengan menjadi seorang ‘story teller’.

 

Sebuah cara pandang yang umum, bahwa masih banyak profesi yang berkaitan dengan ‘performing art’ dinilai sebagai profesi yang tidak menjanjikan kehidupan. Penyanyi, story teller, aktor aktris yang biasa bermain di teater, dan masih banyak lagi lainnya, yang dianggap tidak layak untuk dijadikan profesi.

 

Apakah kita memerlukan seorang Mona Darling atau Tara, untuk bisa memiliki keberanian menemukan diri kita yang sebenarnya, dan berani untuk mengungkapkan hal tersebut di depan keluarga kita ? Film ini tidak menitikberatkan pada kekuatan seorang kekasih, tapi lebih menitikberatkan pada keberanian diri kita untuk bisa menentukan kemana arah kisah hidup kita mau dibawa. Mengikuti tuntutan lingkungan namun tidak bahagia, atau berani untuk mengungkapkan ‘siapa saya sebenarnya’ dan memperoleh kebahagiaan batin.

 

Seperti umumnya film Bollywood, Tamasha mengambil setting di beberapa tempat. Di Corsica sebagai tempat pertemuan Ved dan Tara. Lalu pindah ke Simla, India, tempat masa kecil Ved. Berpindah lagi ke Kolkata tempat tinggal Tara. Kembali ke Delhi sebagai tempat pertemuan Ved dan Tara setelah 4 tahun berpisah. Dan ditutup dengan pertemuan akhir mereka di Tokyo.

 

Ada dua hal unik dalam film ini. Pertama, film dibuka dengan adegan di panggung antara robot dan badut. Ranbir menjadi robot dan Deepika menjadi badut. Mereka melakukan monolog sebagai pengantar sebelum kita dibawa masuk kedalam masa kecil Ved.

 

Yang kedua, hal yang paling sering dibicarakan orang yaitu chemistry antara dua leading role dalam sebuah film. Saya sudah menonton film Deepika beberapa buah. Saya setuju dengan sebuah komentar orang di Instagram bahwa dalam 2 buah film, dimana Deepika berpasangan dengan Ranveer Singh, yang konon merupakan kekasihnya, chemistry diantara mereka bisa digolongkan ‘explosive’. Kita bisa merasakan dahsyatnya kekuatan cinta mereka dalam karakter yang diperankan, lewat mata dan ekspresi wajah. Saya juga pernah menonton film Deepika yang berpasangan dengan Shah Rukh Khan, seorang aktor Bollywood yang sudah mendunia dan melegenda. Chemistry yang terlihat memang indah, namun mungkin karena perbedaan usia yang cukup jauh, terasa dan terlihat biasa saja, tidak ada sesuatu yang istimewa.

 

Untuk Deepika dan Ranbir, ini adalah film ke-3 yang mereka mainkan bersama. Chemistry yang ada, sama seperti yang diungkapkan banyak orang, adalah luar biasa. Dalam film Tamasha, saya tidak melihat sepasang kekasih dengan gelora cinta yang dahsyat. Yang kita rasakan adalah bagaimana kita dibawa mengikuti perkembangan hati mereka.

 

Kita diajak untuk bisa merasakan awal pertemuan Ved dan Tara yang didasari iseng, menikmati kekonyolan mereka dalam waktu 7 hari di Corsica. Bagaimana beratnya perasaan Tara saat harus meninggalkan Ved, karena mereka telah berjanji untuk tidak bertemu lagi. Bagaimana kita menjadi ikut terharu melihat Tara melewatkan 4 tahun dengan kenangan tentang Ved yang tidak pernah lepas. Kita ikut deg-degan saat Tara berhasil menemukan Ved di Delhi, namun ikut merasakan frustasi bersama Tara melihat Ved dengan kepribadian yang berbeda.

 

Puncak emosi adalah saat Tara minta maaf karena sudah mengatakan kebenaran bahwa Ved yang dia kenal di Delhi berbeda dengan Ved yang dia kenal di Corsica. Namun kelihatannya saat itu Ved sudah dalam puncak krisis jati diri, sehingga dia begitu marah dan tidak mendengarkan Tara.

 

Adegan di dalam sebuah perpustakaan/restaurant unik antara Tara dan Ved, sungguh luar biasa. Tara dengan lantang menyatakan bahwa dia tidak bisa lepas dari Ved. Namun Ved merasa tersakiti karena dengan demikian berarti Tara melakukan kompromi, berkorban hanya untuk supaya tidak jauh dengan Ved. Penggambaran rasa sayang Tara diperlihatkan dengan adegan Tara dan Ved meletakkan kepala di meja. Bagaimana Tara ingin menyalurkan rasa cinta dan keprihatinannya lewat belaian tangannya di kepala Ved. Kita bisa merasakan hal tersebut, tanpa harus ada dialog.

 

Dan seluruh perjalanan hati Ved dan Tara ditutup dengan dibukanya kostum robot Ved dan tampillah Ved dengan jati diri yang sebenarnya, seorang story teller, dengan baju kasual, rambut digelung dan ikat kepala. Saat Ved memberikan isyarat terima kasih sampai dia menelungkup di atas panggung, kepada Tara, menunjukkan betapa besar kehadiran Tara telah mendorong Ved untuk bisa menemukan dirinya.

 

Adegan penutup di Tokyo, dengan tulisan ‘Don Returns’ ditutup dengan Ved dan Tara yang sedang menari masing-masing dengan headphone, merupakan sebuah adegan penutup yang manis, yang membuat kita tersenyum lega tanpa harus menyaksikan adegan peluk cium yang mesra dan lain-lain.

 

Positive vibe yang ingin dimunculkan dari Tara, berhasil dirasakan oleh kita. Imtiaz Ali berhasil memadukan pertunjukan teater, kehebatan seorang story teller dalam menyampaikan cerita yang bisa membuat orang terpana dengan kehidupan manusia yang umum kita jumpai, dimana kita masih menjalankan hidup karena tuntutan masyarakat.

 

Seperti pesan moral yang saya rasakan dalam sebuah film Hollywwod yang berjudul ‘Me Before You’, saya rasa film Tamasha juga memiliki pesan yang sama : You only get one life, it’s actually your duty to live it as fully as possible.

 

How? Depend on ourselves. Kita mau menjalani untuk memuaskan orang lain, atau kita mau menjalani agar kisah hidup kita adalah kisah yang nyata dengan diri kita yang sebenarnya.

img_9848

Movie Review – Bollywood : KAPOOR & SONS (Since 1921)

Salah satu film Bollywood yang unik. Plot cerita tidak seperti yang diduga. Banyak issue yang ditimbulkan oleh penulis cerita, namun sengaja tidak digali lebih dalam. Saya menduga bahwa hal tersebut memang ditulis untuk menggambarkan kebohongan dan kekacauan yang terjadi dalam sebuah keluarga, yang dibungkus dengan motivasi kasih sayang. 

Film ini dimulai dengan kehidupan keluarga Kapoor yang tidak dijelaskan tinggal dimana dan apa yang dikerjakan oleh sang ayah. Yang digambarkan adalah Dadu (kakek) yang sudah berusia 90 tahun, yang sering berlatih mati mendadak. Hingga akhirnya suatu hari, sang kakek benar-benar terkena serangan jantung sehingga harus dirawat di rumah sakit. 

Hal inilah yang membuat kedua cucunya yang tinggal di Inggris untuk kembali ke India. Yang pertama bernama Rahul Kapoor yang berprofesi sebagai penulis dan memiliki kehidupan yang nyaman di London. Penampilannya sangat rapi dan cenderung kelimis, namun sangat menyayangi ibunya. Sang ibu selalu menjuluki Rahul sebagai ‘the perfect son’. Yang kedua bernama Arjun Kapoor, dengan kepribadian yang cenderung ‘free-spirit’, tinggal di Inggris namun selalu berganti profesi. 

Sepanjang film digambarkan bahwa keluarga ini ternyata tidak pernah bisa duduk dengan tenag dan damai. Sang ibu selalu memancing pertengkaran dengan sang ayah, mulai dari urusan membetulkan pipa air sampai tuduhan bahwa sang ayah berselingkuh. Sementara sang ayah selalu mengeluarkan perkataan yang cenderung menyakiti hati istrinya. Rahul selalu berada dalam posisi sebagai penengah untuk seluruh perselisihan yang ada. Arjun selalu dianggap sebagai anak yang tidak pernah serius dalam segala hal.

Hingga suatu saat tanpa disengaja, kedua kakak beradik ini bertemu dengan Tia, seorang gadis cantik yang memiliki bungalow besar, warisan dari kakeknya, yang akan dijual. Tia seorang gadis yang terlihat ceria, spontan, dan agak nekad, namun ternyata dibalik semua itu dia menyimpan sebuah trauma mengenai kematian kedua orangtuanya. 

Alur cerita kemudian diarahkan dengan permintaan Dadu yang disampaikan kepada Rahul. Pertama, jika dia meninggal dia minta dikuburkan, bukan dibakar. Yang berarti tidak sesuai dengan adat Hindu.

Kedua, sebelum meninggal, Dadu ingin punya foto keluarga yang ingin digantung di dinding dengan tulisan “Kapoor & Sons Since 1921’. Sebuah keinginan yang sederhana, namun menjadi poros dari segala peristiwa yang terjadi setelahnya. 

Ada beberapa hal yang menarik dari film ini :

1. Tidak ada lagu yang mengiringi tarian, yang biasa kita jumpai dalam film Bollywood. Kalaupun ada, itu hanya sekedar menunjukkan betapa kepribadian Tia dan Arjun sangat mirip sehingga mereka menikmati saat-saat bersama. Dan betapa sebenarnya keceriaan dalam keluarga yang sudah lama hilang, masih dirindukan oleh keluarga.

2. Jika dilihat sampai akhir, maka sebenarnya alur cerita baru bergerak dengan cepat setelah Dadu mengutarakan keinginannya untuk merayakan ulangtahunnya yang ke-90 di rumah. Mulai dari kenyataan tentang perselingkuhan sang ayah, bahwa Tia tidak sengaja pernah mencium Rahul dan saat hal itu diceritakan kepada Arjun – malah membuat hubungan Tia dan Arjun menjadi renggang. Masih ditambah dengan kenyataan bahwa Rahul adalah gay dan sang ibu ternyata berperan besar dalam membuat Arjun percaya bahwa dirinya tidak berguna dengan cara memberikan novel pertama Arjun kepada Rahul, yang ternyata menjadi best seller dan mendatangkan kemasyuran bagi Rahul.

3. Dengan banyaknya issue yang ditampilkan, banyak pula yang memang tidak ditampilkan untuk diselesaikan. Yang terlihat adalah bahwa pada akhir cerita, walaupun dalam keadaan yang sedih, semua saling memaafkan. Namun sayang sekali, depth/kedalaman dari plot tidak terasa.

4. Pesan moral yang sangat kuat terlihat dan terasa, setidaknya untuk saya pribadi, adalah sebuah kalimat yang selalu terkait dengan Karan Johar yang menjadi salah satu produser film ini : It’s all about loving your parents. Dari sikap Arjun yang selalu menyentuh ujung kaki Dadu saat dia datang dari Inggris. Bagaimana Arjun yang begitu kecewa dan marah pada ibunya, ternyata tidak bisa memungkiri rasa sayang pada ibunya. Rahul yang menyatakan kekecewaannya bahwa dia sudah lelah dianggap anak sempurna dan dia hanya minta ibunya untuk menerima dia apa adanya, ternyata tetap tidak bisa hidup tenang dengan kondisi sang ibu tidak mau berdamai dengan dia. In the end, these boys reconcile with their mother. And in the end, it’s all about loving your parents.

5. Setting yang digunakan sederhana namun indah. Tidak banyak lokasi karena memang alur cerita hanya berkisar di rumah. Namun bagi saya, sang sutradara rasanya mencoba menampilkan suasana ‘rumah’ yang sebenarnya. Rumah yang seharusnya bisa menjadi tempat berlindung bagi keluarga, yang bisa menghangatkan hati anggota keluarga. Bagaimana kemarahan dan kebencian dapat merusak hakikat dari ‘rumah’.

6. Tidak ada lonjakan emosi yang berarti. Namun emosi saya mulai terusik saat Tia bercerita mengenai traumanya setiap hari ulangtahunnya kepada Arjun. Bahwa setiap ulangtahunnya selalu mengingatkan dia telpon terakhir dari orangtuanya yang diterima Tia dengan kemarahan dan ucapan untuk tidak pernah kembali lagi. Dan ternyata pada hari itu juga pesawat yang ditumpangi orangtuanya mengalami kecelakaan. Lonjakan yang kedua, yang sedikit membuat saya terbawa adalah saat Dadu berbicara lewat Facetime kepada Rahul dan Arjun, memberitahu bahwa sang ibu yang terlihat kuat di pagi hari, ternyata setiap malam menangis karena rasa kehilangan luar biasa dari meatian suaminya dan kepergian kedua anaknya. Satu dialog yang sangat menyentuh, diucapkan Dadu saat meminta Rahul dan Arjun untuk pulang : I’m asking you for the one thing I don’t have, just a little TIME. Everyone makes mistakes, kids, but we don’t abandon our families. Consider this as an old man request, once, just once, come back.

7. Sejujurnya, dari segi akting, saya melihat akting yang ditampilkan Rishi Kapoor sebagai Dadu dan Ratna Pathak sebagai Sunita Kapoor (sang ibu) yang membuat alur cerita terasa memiliki jiwa. Kemunculan Tia yang diperankan oleh Alia Bhatt, tidak berperan banyak terhadap alur cerita. Alia masih memerankan karakter gadis yang ceria dan spontan. Fawad Khan sebagai Rahul Kapoor dan Sidharth Maholtra sebagai Arjun Kapoor, belum memberikan percikan chemistry yang terasa, sebagai kakak beradik. Chemistry mereka baru sedikit muncul ke permukaan di setiap adegan mereka sedang bersama Dadu. Kehadiran Dadu menjadi stimulan bagi chemistry Fawad Khan dan Sidharth Maholtra.

 

Secara keseluruhan, film ini berhasil menyampaikan pesan yang mendasar bahwa keluarga adalah keluarga. Everyone makes mistakes, but we don’t abandon our families.

img_6852

Rotating Wheels

Kita sering lupa bahwa hidup itu seperti roda yang berputar. Sesaat kita berada di atas, dalam sekejap kita berada di bawah. 

Saat kita diberikan ‘kemudahan’ dalam hidup oleh Tuhan, mudah sekali kita terbuai dalam puja puji, nama besar, harta dan kekuasaan. Namun jika kita selalu mendongak ke atas, mudah sekali untuk tersandung dan berada di bawah. 

Sampai kita mati, kita akan terus mengalami perputaran ini seperti roda. Karena itulah hidup. 
So stay humble, because life is like a rotating wheel. The constant change in this world is the change itself. No need playing God for others, just take care of yourself.

Post on Instagram

Sayang Anak … Sayang Anak …

Dengan kodrat wanita sebagai ibu, mayoritas para ibu di berbagai belahan dunia pasti akan rela berkorban demi anaknya. Bahkan kalau perlu berkorban sampai mati. 

Tapi sampai dimana batasan seorang ibu disebut sayang atau tidak sayang terhadap anaknya. Apakah ada parameter untuk mengukur kadar sayang seorang ibu ? Bahkan lebih jauh lagi, jika seorang ibu dinilai kurang menyayangi anaknya, apakah layak dan wajar jika orang lain melakukan campur tangan untuk memastikan kadar sayang si ibu mencapai kadar yang layak (layak menurut siapa ??).

Saya tergelitik untuk menuangkan pemikiran saya dalam tulisan ini karena melihat banyak hal yang terjadi di sekeliling saya, yang membuat saya melakukan introspeksi seperti itu.
 
Misalnya dalam hal bekerjasama dengan sekolah untuk kepentingan anak kita, sudah lama saya melihat ada tiga tipe orangtua. Yang sangat dalam mengikuti kegiatan anak dan sekolah. Yang tidak terlalu banyak ikut turun dalam kegiatan anak, tapi tetap mengikuti. Dan yang tidak pernah ada ‘suaranya’ seolah sekolah adalah tempat penitipan anak. 

Saya secara pribadi yakin bahwa hampir semua ibu punya tujuan yang baik untuk anaknya. Hanya metodenya yang berbeda-beda. Dan itu harus dihargai.
Saya termasuk tipe ibu yang amat jarang beredar di sekolah kecuali saat memang harus hadir di pengambilan rapot, pertemuan orangtua atau pertemuan lainnya. Tapi saya selalu mencoba untuk mengikuti perkembangan anak saya lewat komunikasi dengan walikelas dan anak saya. Sudah ideal dan sempurna? Tentu saja tidak. 

Namun menurut saya, kurang elok juga jika kita mudah sekali untuk melayangkan keluhan kepada sekolah atau menegur anak karena hal-hal kecil. Walaupun saya salut dengan orangtua yang seperti itu, karena sebenarnya mereka benar-benar mengalokasikan waktu dan hatinya untuk memantau perkembangan anaknya. 

Namun seharusnya kita bisa memberikan ruang bagi sekolah untuk bisa berinteraksi dan mendidik anak. Saya hanya berpegang pada prinsip kami sebagai orangtua, bahwa pada saat kami memutuskan untuk menyekolahkan anak di sekolah tertentu, otomatis kami sudah mempercayakan sekolah untuk membantu membentuk anak dari sisi akademik, karakter dan sosialisasi. Walaupun dasar dari karakter dimulai pembentukannya dari rumah.  

Bayangkan kalau hanya karena mendengar cerita anak bahwa di kantin sekolah ada lalat, lalu orangtua bisa mencak-mencak. Mending kalau mencak-mencak ke pihak sekolah, terkadang justru cerita berbumbu yang beredar ke orang-orang, sementara pihak sekolah juga tidak pernah menerima keluhan. Padahal belum jelas ceritanya, apakah lalatnya banyak, apakah setiap saat selalu ada dan pihak kantin tidak melakukan apa-apa ? Capek deh kalau gara-gara cerita lalat, kita jadi emosi. Itu baru satu contoh kecil yang saya pernah lihat sendiri memang terjadi. 

Selain itu dalam hal mengembangkan bakat non akademis. Saya pengikut teori Multiple Intelligences dan percaya bahwa tidak semua anak punya tingkat intelegensia yang baik untuk akademik. Masih ada area lain yang patut diperhatikan. Namun perlu dipahami juga bahwa kemampuan anak dalam satu bidang, belum tentu sama dengan ‘passion’ anak untuk kehidupannya. Janganlah kita memcampurkan antara passion anak, kemampuan anak dengan mimpi kita. 

Kalau anak kita ingin ikut kursus tertentu yang ternyata sesuai dengan ‘keinginan’ kita, janganlah menganggap bahwa itu adalah passion sang anak. Siapa tahu sang anak sedang mengeksplor apakah memang passionnya disitu. Jadi harus siap menerima berita bahwa ternyata dia tidak mau menekuni bidang tersebut karena tidak menarik untuk dia. Fair enough. 

Yang paling penting, sebaiknya jangan sampai kemudian kita lalu mulai intervensi dan memaksakan kepada orang-orang di sekeliling anak kita, untuk mendukung dengan segala cara. Tanyakan dulu pada diri sendiri, kita melakukan itu untuk kebaikan semua orang atau untuk kepuasan diri kita ?

Kesimpulannya ? Sebaiknya kita tahu ruang lingkup kita bahwa kita adalah orangtua untuk anak kita, bukan untuk anak orang lain. Karena itu, cobalah untuk bisa menahan diri untuk tidak mengintervensi orangtua lain dan memberitahu tentang bagaimana seharusnya menangani anak. Belum tentu cara kita ‘menyayangi’ anak itu sudah sempurna dan tepat. Karena tidak ada cara menyayangi yang sempurna. Rasa sayang bisa diwujudkan dengan cara yang berbeda-beda. 

So, take time to reflect, do I do this for my child or for myself ? From now on, Let’s taking care of our children, not other people’s children. 

Movie Junkie

Pernah mendengar kata ‘junkie’ ? Definisi dalam Merriam-Webster Dictionary adalah pecandu obat. Konotasinya negatif ya. Namun seperti bahasa lainnya, seiring dengan berkembangnya jaman, terjadi pergeseran arti dalam penggunaan kata ‘junkie’. Kata ini tidak hanya digunakan untuk pecandu obat/drugs, tapi dipakai juga untuk beberapa padanan kata. Salah satunya yang saya suka adalah ‘movie junkie’.
 

Terjemahan bebasnya kira-kira adalah orang yang kecanduan nonton. Saya merasa saya bisa masuk dalam kategori tersebut, tapi boleh dong saya punya definisi sendiri. Movie junkie untuk saya pribadi adalah orang yang punya hobi nonton, baik itu di bioskop atau TV atau nonton DVD di rumah. Rela meluangkan waktu untuk nonton sebuah film yang biasanya berkisar antara 1,5-2 jam, yang untuk sebagian orang akan dirasa membuang waktu. Tidak berhenti sampai disitu, selesai nonton, biasanya otak kita tidak berhenti merenungkan dan menganalisa film yang tadi sudah membuat kita duduk selama itu.

 

Biasanya secara otomatis otak saya akan memproses film tersebut. Kalau tidak berkesan untuk saya, ya sudah saya lupakan saja. Kalau cukup berkesan, saya mencoba menganalisa film tersebut. Kira-kira apa yang menarik, pesan moral yang ingin disampaikan itu apa ya. Kalau film tersebut sangat berkesan, saya gelagapan sendiri saking terpesonanya dan biasanya 99,99% saya akan kembali ke bioskop menonton film yang sama, untuk memperhatikan (kalau bisa) seluruh aspek dalam film tersebut. Dari kualitas akting para aktornya, gaya penyutradaraannya, settingnya, original score dan soundtracknya, dialognya, jalan ceritanya dan detil-detil lainnya.

 

Apakah saya menuangkan analisa di otak saya dalam bentuk tulisan atau podcast ? Belum tentu. Karena biasanya saya memilih mengambil waktu untuk meresapi dan mencerna semua yang peroleh dari film tersebut. Di saat saya sudah puas, wah biasanya sudah tidak sempat menulis lagi karena adanya kesibukan yang lain. Namun kalaupun saya menulis, tentunya isinya tidak seperti para kritikus film yang bisa memandang dari sudut ilmu perfilman. Saya hanya menuliskan dari sisi saya sebagai penonton dan penikmat film, yang mengapresiasi karya seni dalam bentuk film.

 

Sejak kapan saya kecanduan nonton ? Kalau saya runut ulang hidup saya, rupanya tanpa disadari sejak kecil saya suka diajak orangtua saya untuk nonton. Jaman itu yang paling diminati adalah film silat dari Hongkong. Lalu setelah saya kuliah jauh dari rumah, saya punya kebebasan untuk bepergian sendiri dan kebetulan ada bioskop di dekat tempat kost saya. Suasana yang sangat mendukung hobi nonton. Apalagi saat itu tiket masih harganya Rp 2.500,- (sekitar tahun 1985) dan banyak sekali film bagus. Hobi ini berlanjut sampai sekarang.

 

Saya bukan movie freak, yang kalau anda tanya film A pemeran utamanya siapa dan tahun berapa dibuatnya, belum tentu saya hafal. Contekan ajaib saya adalah situs IMDb yang datanya sangat terpercaya. Kalau sudah ngintip sedikit disitu, memori saya langsung terbuka tentang film itu. Tapi kalau anda tanya kesan saya nonton sebuah film, biasanya saya masih ingat walaupun mungkin nontonnya sudah bertahun-tahun yang lalu.

 

Saya sangat menikmati saat-saat menonton. Sampai saat ini suami dan anak-anak saya masih suka menggoda saya kalau saya menangis saat menonton film. Tapi untuk saya, berarti keseluruhan aspek dalam film tersebut telah mencapai sasarannya, yaitu membawa saya ikut hanyut dalam emosi yang diciptakan.

 

Boleh percaya atau tidak, ada film-film yang menurut saya adalah film yang luar biasa, yang saya tonton lebih dari satu kali. Tapi saya rasa banyak juga orang yang melakukan hal tersebut. Film luar biasa – itu menurut definisi saya lho, karena belum tentu para kritikus film berpengalaman atau penonton lainnya setuju dengan pendapat saya. Tapi film yang saya nilai bagus, belum tentu jua akan saya tonton lebih dari satu kali walaupun pemeran utamanya idola saya.

 

Contohnya The Revenant, saya nge-fans banget dengan Leonardo di Caprio. Tapi cukup satu kali saya nonton film itu. Kesannya, capek dan ikut sakit melihat Leo hidupnya merana sepanjang film. Tapi film Titanic, saya nonton delapan kali. Saya kagum dengan Leo, kagum dengan Kate Winslet, kagum dengan setting kapal Titanic yang megah, ngeri melihat proses tenggelamnya kapal tersebut dan masih banyak kesan lainnya, termasuk lagunya.

 

Mengapa Titanic sih ? Mengapa bukan The Revenant, film yang menghantar Leo mendapat Oscarnya yang pertama ? Karena adanya harmonisasi dari seluruh aspek yang ada, yang melibatkan banyak orang, mencampuradukkan emosi kita melihat Jack dan Rose. Sementara dalam The Revenant, itu benar-benar film laki-laki, saat orang-orang pendatang berbuat seenaknya terhadap suku Indian yang biasanya kita sebut ‘Native American’.

 

Namun sekali lagi, penilaian seperti itu relatif. Adalah hak asasi manusia untuk menilai sebuah film itu layak atau tidak layak ditonton, atau bahkan wajib ditonton berulang kali.

 

Jika ada yang bertanya tentang sebuah film, kepada saya, dengan senang hati saya akan bercerita dari sudut pandang saya. Memang tidak semua orang bisa menerima pandangan saya, tapi ada kepuasan tersendiri bisa berbagi tentang apa yang saya rasakan.

 

Maka, saya bangga mengakui bahwa saya seorang ‘movie junkie’ yang walaupun kadar kemurniannya mungkin baru 80% saja, karena saya sering lupa tentang judul, pemeran utama, sutradara atau tahunnya, saya sangat menikmati dan mencintai seni dalam bentuk film.

 

Anda yang memiliki hobi sama seperti saya, bahkan mungkin sering nonton film yang sama berulang kali, tidak usah malu. Tapi alangkah baiknya kalau kita bisa menuangkan pendapat kita dalam bentuk tulisan ya. Saya sedang mencoba untuk mulai tekun menulis sehabis menonton film yang menurut saya layak tonton.

 

Bukan untuk menjadi kritikus film, karena saya tidak punya latar belakang itu, tapi sebagai record/catatan saya saja, yang bisa saya baca berkali-kali dan mengembalikan memori saya tentang sebuah film.

 

Ayo, para ‘movie junkie’, lanjutkan hobi nontonnya. Kalau ada yang ingin sharing, ayo kita diskusi via twitter or email or instagram.

Ngegosip itu enak …

Iya betul, ngegosip itu enak. Hal ini saya perhatikan dari beberapa grup sosial media yang ada. 

Mereka, termasuk saya, berkumpul dalam sebuah grup atau komunitas karena kita punya persamaan. Apapun persamaannya. Apakah karena profesi yang sama, hobi yang sama atau senang pada sesuatu yang sama. 

Karena ada faktor yang menyatukan kita, maka umumnya topik pembicaraan akan menuju ke satu arah. Namun ada yang menarik lho. Kalau diperhatikan, pembicaraan dalam sebuah grup sosmed lama kelamaan akan menjadi sebuah diskusi yang akan membawa para peserta mulai mengeluarkan opininya. 

Nah disinilah mulai muncul persimpangan jalan yang harus dipilih. Satu jalan akan membawa kita hanyut dalam pembicaraan dan menjurus menjadi spekulasi yang tak berujung. Satu jalan lagi menawarkan logika bahwa tidak perlu ikut dalam diskusi yang tak berujung. 

Tapi, sadarkah kita bahwa jalan manapun yang dipilih, kita sudah ikut serta dalam diskusi, yang secara lebih umum dikenal dengan ‘ngegosip’ ….

Dan harus saya akui, ngegosip adalah kegiatan yang menyenangkan, apalagi jika dilakukan bersama teman-teman dekat atau yang punya passion yang sama. 😊

Namun apakah ‘ngegosip’ nya kita akan menjadi gosip yang selintas saja, we talked about it just for fun, atau berkembang menjadi gosip baru yang menambah ramai dunia maya, semuanya tergantung di titik mana kita mulai mendengarkan logika kita berbicara. 

Jangan salah paham lho, saya tidak anti ngegosip. Seperti yang sudah saya bilang, saya sendiri suka melakukannya koq. Dan sampai di titik tertentu, saya merasa itu kegiatan penghilang stress. Namun terkadang ada yang justru membuat saya jadi seperti orang kepentok tembok karena pada akhirnya merugikan saya dalam bentuk menghabiskan waktu saya untuk mengetik di sosmed atau menelpon teman, atau malah membuat saya menjadi emosi jiwa. 

Maka …. Tidak ada salahnya ngegosip. Karena setiap kita berkomunikasi dengan teman, kita pasti akan mencari topik untuk dibicarakan. Namun sejauh mana kita mau terbawa dalam pembicaraan tersebut, coba deh ngobrol dengan logika. 

Sekali lagi, saya selalu setuju bahwa ngegosip itu enak koq. 

Ada Apa Dengan Cinta 2 – Sekedar Film Romantis atau Film Kehidupan ?

Sejak di media sosial sudah mulai promosi film ini, saya sudah punya keinginan yang sangat besar untuk nonton. Jujur, saya belum pernah nonton AADC yang pertama. Yang menjadi motivasi besar saya ingin nonton film ini ada 2 hal : pertama, karena yang menjadi tokoh sentral adalah Dian Sastro dan Nicholas Saputra. I’m not their fanatic fans, but I love them. I love their professionalism and I love their work. Kedua, saya sangat suka dengan sequel karena sequel biasanya memanjakan imajinasi kita karena ada kelanjutan dari kisah originalnya.
Baru kemarin saya menyempatkan diri untuk nonton, di siang hari yang panas jalan menuju bioskop, sendirian karena this is my ‘me-time’.

Saya tidak akan menceritakan sinopsisnya. Saya hanya ingin berbagi efek dari film itu terhadap diri saya, yang melankolis kalau menonton film drama.

Begitu mulai melihat opening title dengan warna khas AADC, rasanya sukma tertarik masuk dalam dunia AADC yang fenomenal itu. Adalah satu kejelian dari Mira Lesmana dan Riri Riza yang tetap mempertahankan orginalitas dari AADC yang pertama untuk hal yang sederhana, komposisi warna yang unik.

Melihat Genk Cinta sebenarnya menyenangkan, tapi efeknya tidak seperti saat melihat Rangga. Can you imagine, the legendary Rangga, so cool and winter in NYC – hmmm, efeknya ternyata beda ya.

Banyak yang bilang plotnya berjalan lambat. Bagi saya, tidak juga. Saya sangat menikmati kualitas akting para aktornya yang luar biasa. Natural tapi ngga lebay. Chemistrynya mantap. Belum lagi bicara soal settingnya yang indah di Jogjakarta, dengan tata pencahayaan yang ciamik yang membuat Jogjakarta menjadi kota yang unik dan eksotis.

Filmnya bukan film drama yang tragis atau penuh dengan kesedihan. Film ini film yang romantis banget. Saking romantisnya, sampai ada beberapa scene yang membuat saya menangis sedikit.

Melihat Cinta seperti melihat boneka princess yang terbungkus oleh kilau gemilau keindahan, bling bling dan kecantikan. Apalagi Dian Sastro yang wajahnya sangat ayu. Melihat Cinta seperti melihat gelas yang terbuat dari kaca, yang kelihatan cantik tapi sebenarnya rapuh. Melihat Cinta, saya merasa bisa ikut terhanyut dalam lautan cintanya yang begitu besar untuk Rangga.

Melihat Rangga seperti melihat sebuah pilar yang kokoh, yang dalam kesendiriannya justru membuat wanita penasaran. Melihat Rangga rasanya melihat sosok yang mungkin hampir tidak akan pernah kita temui dalam kehidupan nyata, cintanya hanya untuk satu orang – ganteng – bahasa Inggrisnya luar biasa – penulis yang handal – puitis banget lagi. Melihat Rangga, rasanya seperti minum Coca Cola, sekali teguk terus ketagihan untuk minum sampai habis. 

Mungkin karena Dian Sastro dan Nicholas Saputra yang memerankannya. Tapi lebih besar kemungkinannya karena pendalaman karakternya yang sudah kelasnya Piala Citra. 

Belum diramu dengan kehadiran Genk Cinta dan tokoh Mamet yang kocak. Kalau analoginya dengan makanan, enaknya seperti Es Teler 77 atau es sekoteng Bandung. Manis dan cantik. Masih ditambah dengan lagu-lagu cantik dari Melly Goeslaw dan Anto Hoed. 

Setelah nonton, barulah saya mencoba melihat review di iMDB ataupun comment orang-orang di Instagram yang berkaitan dengan AADC2. Ternyata banyak juga ya yang mengumpat habis film itu. Bahkan sampai ada yang membandingkan dengan film action dari Amerika. Pada dasarnya, semua itu relatif dan menjadi hak asasi setiap orang untuk mengutamakan pendapatnya. 

Tapi untuk saya, AADC 2 ini memiliki banyak nilai-nilai kehidupan :

SATU : Intelegensia dari Mira Lesmana dan Riri Riza dalam membuat sekuel ini menjadi sebuah film yang romantis tapi tidak kacangan …. Untuk film Indonesia, luar biasa. Dialognya cerdas walaupun disampaikan dalam bahasa sehari-hari : Dia itu udah kayak arsip buat gue …

DUA : Kualitas akting dan chemistry yang dimiliki Nicholas Saputra, Dian Sastro, Genk Cinta & Mamet … sekali lagi, luar biasa.

TIGA : Betapa kita selama ini terlalu haus dan konsumtif dengan segala sesuatu yang berbau ‘luar negeri’ padahal di Indonesia banyak sekali tempat dan budaya yang belum pernah kita temui. Contoh yang paling nyata, baru kali ini saya tahu ada kelompok teater yang menggunakan boneka yang bernama Papermoon Puppet Theater yang sudah berkelana sampai ke luar negeri. Saat melihat scene puppet show itu, rasanya ingin menangis melihat Rangga dan Cinta dengan matanya yang berlinang, duduk berdampingan dengan seriusnya melihat pertunjukan tersebut – yang … sekali lagi untuk saya : luar biasa.

EMPAT : Friendship tidak bisa dipungkiri adalah hal yang dibutuhkan manusia, karena Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk sosial yang perlu orang lain dalam menjalani kehidupannya. Setiap orang punya cara sendiri untuk memilih teman. Namun pertemanan Cinta – Karmen – Maura – Milly – Alya (yang diceritakan sudah meninggal karena kecelakaan) menjadi sebuah angin segar dalam kehidupan saat ini dimana teknologi menguasai kita sampai kita lupa untuk membuat perjumpaan dengan orang-orang yang kita cintai, teman-teman kita. Kita merasa sah saja kalau kita menyapa lewat media sosial sampai satu saat kita bertemu muka, yang muncul adalah ‘awkward situation’ dan bukan kehangatan.

LIMA : Untuk kesekian kalinya, Melly Goeslaw dan Anto Hoed menunjukkan talentanya yang luar biasa dalam menerjemahkan plotting film ke dalam lagu. Setiap sebuah lagu dimulai, rasanya perasaan ini seperti dicubit-cubit – bener lho, itu yang saya rasakan saat mendengar lagu-lagu dalam film ini.

ENAM : Semoga generasi muda yang tergoda menonton film ini, bisa menyadari bahwa sebenarnya Indonesia memiliki seniman/artis yang memiliki talenta luar biasa seperti yang kita jumpai dalam film ini. Mulai dari produser, sutradara, komposer, aktor aktris dan para crew yang terlibat. Tahukah anda, bahwa lagu ‘Bimbang’ yang dulu dinyanyikan Melly Goeslaw di film AADC, sekarang sudah diturunkan dan diarasemen ulang oleh 2 putra Melly & Anto Hoed dan dinyanyikan oleh putri dari Titi DJ.

TUJUH : Believe in LOVE – cinta antara pria dan wanita, anak dan orangtua, kakak dan adik, antara sahabat. TRUE LOVE exist, Cinta Sejati itu memang ada.

DELAPAN : Saya diingatkan kembali bahwa cara mengekspresikan perasaan kita lewat tulisan berbentuk surat atau puisi, adalah suatu bentuk apresiasi dan respect kita terhadap orang yang kita cintai. Bukan dari sisi romantismenya. Tapi bayangkan bahwa saat kita menulis surat, baik itu dalam bentuk email atau surat, bahkan jika kita bisa membuat puisi, kita meluangkan waktu kita, mencurahkan pikiran dan hati kita untuk mencari rangkaian kata-kata yang tepat agar orang tersebut dapat menerima pesan yang ingin kita sampaikan.

SEMBILAN : Film ini memanjakan imajinasi saya tentang kisah cinta klasik yang berakhir dengan happy ending. Perjalanan Rangga dan Cinta dalam film ini, sangat memukau saya. Seperti yang dikatakan oleh Dian Sastro bahwa saat dia mendengar plotting dari AADC 2 dari Mira Lesmana dan Riri Riza, sama seperti saat menonton film Whiplash (saya juga suka dan kagum dengan film ini), kesannya unik, filmnya bukan genre thriller tapi nontonnya ataupun mendengar storylinenya rasanya deg-degan. Tapi deg-degan inilah yang pada akhirnya memanjakan imajinasi saya. Yang bisa membuat saya tersenyum, menangis, tersenyum lagi dan pada akhirnya berharap saya ada di New York bersama Rangga dan Cinta.

SEPULUH : Imajinasi harus dimanjakan dengan cara yang positif karena dapat memicu kita untuk menjadi kreatif. Film ini tidak harus memicu kreatifitas saya untuk ikut-ikutan membuat film, tapi bisa memancing kreatifitas saya dalam banyak hal, misalnya membuat tampilan slide yang unik, membuat sebuah event kecil yang unik untuk kelompok kecil atau bahkan kreativitas yang tumbuh untuk mengajak kedua putri saya menjelajah Jogjakarta.

So, bebaskan imajinasimu secara positif. Be creative. Seimbangkan hidup kita antara kerja dan menikmati hidup. Menikmati hidup tidak harus dengan belanja atau pergi ke luar negeri, bisa dengan cara yang sederhana – nonton film, mencintai budaya Indonesia, baca buku dan masih banyak lagi.

Untuk saya, menonton film ini punya dua efek yang baik. Memanjakan diri lewat imajinasi dan belajar nilai kehidupan yang sederhana tapi bermakna yang membuat saya bersyukur atas hidup ini.

Seperti yang saya sampaikan kepada dua teman saya yang juga ngefans berat dengan Rangga dan Cinta, biarpun saya sudah punya dua putri yang sudah usia remaja, komentar saya tentang ending AADC 2 (spoiler alert !!!) : Kalau yang nunggu di New York kayak Rangga (a.k.a Nicholas Saputra gitu), gua rela deh beli tiket pesawat ke New York dan tiba saat winter yang barangkali suhunya sudah seperti chicken nugget dalam freezer .. #aadc2 #timrangga #timcinta #ranggacinta #senyumrangga

Ratusan purnama berlalu

Tapi cinta tak pernah berlalu

Walau kau usir aku di hidupmu

Tapi cintaku tetap diam

– Ratusan Purnama / Melly Goeslaw & Marthino Lio

 

Semua perihal diciptakan sebagai batas.

Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain.

Hari ini membatasi besok dan kemarin.

Besok batas hari ini dan lusa.

Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita.

 

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta.

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata.

Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang.

Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.
Seorang ayah membelah anak dari ibunya—dan sebaliknya.

Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan.

Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur

 

Apa kabar hari ini?

Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.

-Batas / Aan Mansyur – puisi Rangga untuk Cinta

img_1138-2

Ada Apa Dengan Cinta 2 – Sekedar Film Romantis atau Film Kehidupan ?

Sejak di media sosial sudah mulai promosi film ini, saya sudah punya keinginan yang sangat besar untuk nonton. Jujur, saya belum pernah nonton AADC yang pertama. Yang menjadi motivasi besar saya ingin nonton film ini ada 2 hal : pertama, karena yang menjadi tokoh sentral adalah Dian Sastro dan Nicholas Saputra. I’m not their fanatic fans, but I love them. I love their professionalism and I love their work. Kedua, saya sangat suka dengan sequel karena sequel biasanya memanjakan imajinasi kita karena ada kelanjutan dari kisah originalnya. 

Baru kemarin saya menyempatkan diri untuk nonton, di siang hari yang panas jalan menuju bioskop, sendirian karena this is my ‘me-time’.

Saya tidak akan menceritakan sinopsisnya. Saya hanya ingin berbagi efek dari film itu terhadap diri saya, yang melankolis kalau menonton film drama. 

Begitu mulai melihat opening title dengan warna khas AADC, rasanya sukma tertarik masuk dalam dunia AADC yang fenomenal itu. Adalah satu kejelian dari Mira Lesmana dan Riri Riza yang tetap mempertahankan orginalitas dari AADC yang pertama untuk hal yang sederhana, komposisi warna yang unik. 

Melihat Genk Cinta sebenarnya menyenangkan, tapi efeknya tidak seperti saat melihat Rangga. Can you imagine, the legendary Rangga, so cool and so cold seeting in NYC – hmmm, efeknya ternyata beda ya. 

Banyak yang bilang plotnya berjalan lambat. Bagi saya, tidak juga. Saya sangat menikmati kualitas akting para aktornya yang luar biasa. Natural tapi ngga lebay. Chemistrynya mantap. Belum lagi bicara soal settingnya yang indah di Jogjakarta, dengan tata pencahayaan yang ciamik yang membuat Jogjakarta menjadi kota yang unik dan eksotis. 

Filmnya bukan film drama yang tragis atau penuh dengan kesedihan. Film ini film yang romantis banget. Saking romantisnya, sampai ada beberapa scene yang membuat saya menangis sedikit. 

Melihat Cinta seperti melihat boneka princess yang terbungkus oleh kilau gemilau keindahan, bling bling dan kecantikan. Apalagi Dian Sastro yang wajahnya sangat ayu. Melihat Cinta seperti melihat gelas yang terbuat dari kaca, yang kelihatan cantik tapi sebenarnya rapuh. Melihat Cinta, saya merasa bisa ikut terhanyut dalam lautan cintanya yang begitu besar untuk Rangga. 

Melihat Rangga seperti melihat sebuah pilar yang kokoh, yang dalam kesendiriannya justru membuat wanita penasaran. Melihat Rangga rasanya melihat sosok yang mungkin hampir tidak akan pernah kita temui dalam kehidupan nyata, cintanya hanya untuk satu orang – ganteng – bahasa Inggrisnya luar biasa – penulis yang handal – puitis banget lagi. Melihat Rangga, rasanya seperti minum Coca Cola, sekali teguk terus ketagihan untuk minum sampai habis.

Mungkin karena Dian Sastro dan Nicholas Saputra yang memerankannya. Tapi lebih besar kemungkinannya karena pendalaman karakternya yang sudah kelasnya Piala Citra.

 

Belum diramu dengan kehadiran Genk Cinta dan tokoh Mamet yang kocak. Kalau analoginya dengan makanan, enaknya seperti Es Teler 77 atau es sekoteng Bandung. Manis dan cantik. Masih ditambah dengan lagu-lagu cantik dari Melly Goeslaw dan Anto Hoed.

 

Setelah nonton, barulah saya mencoba melihat review di iMDB ataupun comment orang-orang di Instagram yang berkaitan dengan AADC2. Ternyata banyak juga ya yang mengumpat habis film itu. Bahkan sampai ada yang membandingkan dengan film action dari Amerika. Pada dasarnya, semua itu relatif dan menjadi hak asasi setiap orang untuk mengutamakan pendapatnya.

 

Tapi untuk saya, AADC 2 ini memiliki banyak nilai-nilai kehidupan :

1. Intelegensia dari Mira Lesmana dan Riri Riza dalam membuat sekuel ini menjadi sebuah film yang romantis tapi tidak kacangan …. Untuk film Indonesia, luar biasa. Dialognya cerdas walaupun disampaikan dalam bahasa sehari-hari : Dia itu udah kayak arsip buat gue …

2. Kualitas akting dan chemistry yang dimiliki Nicholas Saputra, Dian Sastro, Genk Cinta & Mamet … sekali lagi, luar biasa.

3. Betapa kita selama ini terlalu haus dan konsumtif dengan segala sesuatu yang berbau ‘luar negeri’ padahal di Indonesia banyak sekali tempat dan budaya yang belum pernah kita temui. Contoh yang paling nyata, baru kali ini saya tahu ada kelompok teater yang menggunakan boneka yang bernama Papermoon Puppet Theater yang sudah berkelana sampai ke luar negeri. Saat melihat scene puppet show itu, rasanya ingin menangis melihat Rangga dan Cinta dengan matanya yang berlinang, duduk berdampingan dengan seriusnya melihat pertunjukan tersebut – yang … sekali lagi untuk saya : luar biasa.

4. Friendship tidak bisa dipungkiri adalah hal yang dibutuhkan manusia, karena Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk sosial yang perlu orang lain dalam menjalani kehidupannya. Setiap orang punya cara sendiri untuk memilih teman. Namun pertemanan Cinta – Karmen – Maura – Milly – Alya (yang diceritakan sudah meninggal karena kecelakaan) menjadi sebuah angin segar dalam kehidupan saat ini dimana teknologi menguasai kita sampai kita lupa untuk membuat perjumpaan dengan orang-orang yang kita cintai, teman-teman kita. Kita merasa sah saja kalau kita menyapa lewat media sosial sampai satu saat kita bertemu muka, yang muncul adalah ‘awkward situation’ dan bukan kehangatan.

5. Untuk kesekian kalinya, Melly Goeslaw dan Anto Hoed menunjukkan talentanya yang luar biasa dalam menerjemahkan plotting film ke dalam lagu. Setiap sebuah lagu dimulai, rasanya perasaan ini seperti dicubit-cubit – bener lho, itu yang saya rasakan saat mendengar lagu-lagu dalam film ini.

6. Semoga generasi muda yang tergoda menonton film ini, bisa menyadari bahwa sebenarnya Indonesia memiliki seniman/artis yang memiliki talenta luar biasa seperti yang kita jumpai dalam film ini. Mulai dari produser, sutradara, komposer, aktor aktris dan para crew yang terlibat. Tahukah anda, bahwa lagu ‘Bimbang’ yang dulu dinyanyikan Melly Goeslaw di film AADC, sekarang sudah diturunkan dan diarasemen ulang oleh 2 putra Melly & Anto Hoed dan dinyanyikan oleh putri dari Titi DJ.

7. Believe in LOVE – cinta antara pria dan wanita, anak dan orangtua, kakak dan adik, antara sahabat. TRUE LOVE exist, Cinta Sejati itu memang ada.

8. Saya diingatkan kembali bahwa cara mengekspresikan perasaan kita lewat tulisan berbentuk surat atau puisi, adalah suatu bentuk apresiasi dan respect kita terhadap orang yang kita cintai. Bukan dari sisi romantismenya. Tapi bayangkan bahwa saat kita menulis surat, baik itu dalam bentuk email atau surat, bahkan jika kita bisa membuat puisi, kita meluangkan waktu kita, mencurahkan pikiran dan hati kita untuk mencari rangkaian kata-kata yang tepat agar orang tersebut dapat menerima pesan yang ingin kita sampaikan.

9. Film ini memanjakan imajinasi saya tentang kisah cinta klasik yang berakhir dengan happy ending. Perjalanan Rangga dan Cinta dalam film ini, sangat memukau saya. Seperti yang dikatakan oleh Dian Sastro bahwa saat dia mendengar plotting dari AADC 2 dari Mira Lesmana dan Riri Riza, sama seperti saat menonton film Whiplash (saya juga suka dan kagum dengan film ini), kesannya unik, filmnya bukan genre thriller tapi nontonnya ataupun mendengar storylinenya rasanya deg-degan. Tapi deg-degan inilah yang pada akhirnya memanjakan imajinasi saya. Yang bisa membuat saya tersenyum, menangis, tersenyum lagi dan pada akhirnya berharap saya ada di New York bersama Rangga dan Cinta.

10. Imajinasi harus dimanjakan dengan cara yang positif karena dapat memicu kita untuk menjadi kreatif. Film ini tidak harus memicu kreatifitas saya untuk ikut-ikutan membuat film, tapi bisa memancing kreatifitas saya dalam banyak hal, misalnya membuat tampilan slide yang unik, membuat sebuah event kecil yang unik untuk kelompok kecil atau bahkan kreativitas yang tumbuh untuk mengajak kedua putri saya menjelajah Jogjakarta.
So, bebaskan imajinasimu secara positif. Be creative. Seimbangkan hidup kita antara kerja dan menikmati hidup. Menikmati hidup tidak harus dengan belanja atau pergi ke luar negeri, bisa dengan cara yang sederhana – nonton film, mencintai budaya Indonesia, baca buku dan masih banyak lagi.

 

Untuk saya, menonton film ini punya dua efek yang baik. Memanjakan diri lewat imajinasi dan belajar nilai kehidupan yang sederhana tapi bermakna yang membuat saya bersyukur atas hidup ini.

Seperti yang saya sampaikan kepada dua teman saya yang juga ngefans berat dengan Rangga dan Cinta, biarpun saya sudah punya dua putri yang sudah usia remaja, komentar saya tentang ending AADC 2 (spoiler alert !!!) : Kalau yang nunggu di New York kayak Rangga (a.k.a Nicholas Saputra gitu), gua rela deh beli tiket pesawat ke New York dan tiba saat winter yang barangkali suhunya sudah seperti chicken nugget dalam freezer .. #aadc2 #timrangga #timcinta #ranggacinta #senyumrangga
Ratusan purnama berlalu

Tapi cinta tak pernah berlalu

Walau kau usir aku di hidupmu

Tapi cintaku tetap diam

– Ratusan Purnama / Melly Goeslaw & Marthino Lio
Semua perihal diciptakan sebagai batas.

Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain.

Hari ini membatasi besok dan kemarin.

Besok batas hari ini dan lusa.

Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita.

 

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta.

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata.

Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang.

Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.

 

Seorang ayah membelah anak dari ibunya—dan sebaliknya.

Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan.

Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur.

 

Apa kabar hari ini?

Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.

-Batas / Aan Mansyur – puisi Rangga untuk Cinta

Panta Rei – permenungan kecil seorang ibu

Sudah dua kali saya mengantar anak saya pulang ke asrama sekolahnya, sebuah SMA yang lokasinya di dekat Ambarawa, Jawa Tengah. Bukan mengantar dengan kendaraan pribadi, tapi menemani dia naik bis malam dan mengantar sampai ke tujuan. 

Saat ini saya sedang menunggu kereta api menuju Jakarta di Stasiun Tawang, Semarang. Daripada mengantuk karena saya menunggu sendirian, saya ingin menuliskan apa yang saya lihat dan saya rasakan dari perjalanan saya bersama dia kali ini. 

Saat di rumah, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan adiknya. Tapi saat berada di dalam bis, tidak putus ceritanya tentang kegiatannya, teman-temannya, gurunya. Pokoknya apapun diceritakan, seolah dia berpacu dengan waktu yang akan memisahkan kita beberapa bulan ke depan. 

Lalu di sela-sela bercerita, kita sempat ‘rehat bicara’. Lalu dua kali di dalam bis dia menangis. Saya sampai berulang-ulang bertanya, apakah ada sesuatu di sekolah atau asrama yang membuat dia tidak betah. Tapi dia meyakinkan saya bahwa dia senang sekolah disana. 

Karena tiba di Ambarawa sudah subuh, maka seperti biasa kami beristirahat dulu di sebuah penginapan sederhana di daerah Kerep, yang terletak di seberang terminal Ambarawa. 

Pagi hari tadi saat saya sedang membereskan tas, tiba-tiba dia menangis lagi. Saya peluk dia, saya tanyakan hal yang sama, dia pun menjawab sama. 

Terakhir, saat sudah sampai di asrama, dan saya pamit karena harus berangkat ke Semarang, terlihat dia sangat menahan diri untuk tidak menangis walaupun matanya sudah merah dan dia buru-buru menghilang ke dalam. 

Saat ini, sambil duduk menunggu di stasiun, saya merenungkan kembali perjalanan semalam. 

Ada air mata yang keluar karena merasakan cukup berat perjuangan batin yang dilalui oleh remaja seusia dia, melewati perpisahan seperti ini setiap kali habis pulang. Tapi ada rasa bangga karena dia sendiri yang memutuskan untuk mencoba bersekolah jauh dari rumah dan bisa tetap tegar walaupun hatinya sedih karena harus kembali berpisah dengan keluarganya, apalagi dia termasuk anak yang halus perasaannya. 

Terasa lelah sehabis mengantar dia. Lelah karena istirahat yang kurang dan lelah karena harus berpamitan dengan dia. Tapi kalau anakku saja tidak pernah merasa lelah melewati berjam-jam perjalanan untuk supaya bisa bertemu kami, mengapa saya harus menghitung tenaga untuk mengantarkan dia pulang. 

Waktu kita hidup di dunia ini tidak lama. Waktu kita bersama anak kita tidak lama. Lelah yang harus kita alami demi anak …. tidak perlu kita pandang sebagai hal yang merugikan. 

Nikmati saja … Jalani saja … Karena semuanya akan berlalu menjadi kenangan indah yang tidak akan pernah lepas dari ingatan kita. 

This too shall pass … Panta rei …