img_6852

Rotating Wheels

Kita sering lupa bahwa hidup itu seperti roda yang berputar. Sesaat kita berada di atas, dalam sekejap kita berada di bawah. 

Saat kita diberikan ‘kemudahan’ dalam hidup oleh Tuhan, mudah sekali kita terbuai dalam puja puji, nama besar, harta dan kekuasaan. Namun jika kita selalu mendongak ke atas, mudah sekali untuk tersandung dan berada di bawah. 

Sampai kita mati, kita akan terus mengalami perputaran ini seperti roda. Karena itulah hidup. 
So stay humble, because life is like a rotating wheel. The constant change in this world is the change itself. No need playing God for others, just take care of yourself.

Post on Instagram

Sayang Anak … Sayang Anak …

Dengan kodrat wanita sebagai ibu, mayoritas para ibu di berbagai belahan dunia pasti akan rela berkorban demi anaknya. Bahkan kalau perlu berkorban sampai mati. 

Tapi sampai dimana batasan seorang ibu disebut sayang atau tidak sayang terhadap anaknya. Apakah ada parameter untuk mengukur kadar sayang seorang ibu ? Bahkan lebih jauh lagi, jika seorang ibu dinilai kurang menyayangi anaknya, apakah layak dan wajar jika orang lain melakukan campur tangan untuk memastikan kadar sayang si ibu mencapai kadar yang layak (layak menurut siapa ??).

Saya tergelitik untuk menuangkan pemikiran saya dalam tulisan ini karena melihat banyak hal yang terjadi di sekeliling saya, yang membuat saya melakukan introspeksi seperti itu.
 
Misalnya dalam hal bekerjasama dengan sekolah untuk kepentingan anak kita, sudah lama saya melihat ada tiga tipe orangtua. Yang sangat dalam mengikuti kegiatan anak dan sekolah. Yang tidak terlalu banyak ikut turun dalam kegiatan anak, tapi tetap mengikuti. Dan yang tidak pernah ada ‘suaranya’ seolah sekolah adalah tempat penitipan anak. 

Saya secara pribadi yakin bahwa hampir semua ibu punya tujuan yang baik untuk anaknya. Hanya metodenya yang berbeda-beda. Dan itu harus dihargai.
Saya termasuk tipe ibu yang amat jarang beredar di sekolah kecuali saat memang harus hadir di pengambilan rapot, pertemuan orangtua atau pertemuan lainnya. Tapi saya selalu mencoba untuk mengikuti perkembangan anak saya lewat komunikasi dengan walikelas dan anak saya. Sudah ideal dan sempurna? Tentu saja tidak. 

Namun menurut saya, kurang elok juga jika kita mudah sekali untuk melayangkan keluhan kepada sekolah atau menegur anak karena hal-hal kecil. Walaupun saya salut dengan orangtua yang seperti itu, karena sebenarnya mereka benar-benar mengalokasikan waktu dan hatinya untuk memantau perkembangan anaknya. 

Namun seharusnya kita bisa memberikan ruang bagi sekolah untuk bisa berinteraksi dan mendidik anak. Saya hanya berpegang pada prinsip kami sebagai orangtua, bahwa pada saat kami memutuskan untuk menyekolahkan anak di sekolah tertentu, otomatis kami sudah mempercayakan sekolah untuk membantu membentuk anak dari sisi akademik, karakter dan sosialisasi. Walaupun dasar dari karakter dimulai pembentukannya dari rumah.  

Bayangkan kalau hanya karena mendengar cerita anak bahwa di kantin sekolah ada lalat, lalu orangtua bisa mencak-mencak. Mending kalau mencak-mencak ke pihak sekolah, terkadang justru cerita berbumbu yang beredar ke orang-orang, sementara pihak sekolah juga tidak pernah menerima keluhan. Padahal belum jelas ceritanya, apakah lalatnya banyak, apakah setiap saat selalu ada dan pihak kantin tidak melakukan apa-apa ? Capek deh kalau gara-gara cerita lalat, kita jadi emosi. Itu baru satu contoh kecil yang saya pernah lihat sendiri memang terjadi. 

Selain itu dalam hal mengembangkan bakat non akademis. Saya pengikut teori Multiple Intelligences dan percaya bahwa tidak semua anak punya tingkat intelegensia yang baik untuk akademik. Masih ada area lain yang patut diperhatikan. Namun perlu dipahami juga bahwa kemampuan anak dalam satu bidang, belum tentu sama dengan ‘passion’ anak untuk kehidupannya. Janganlah kita memcampurkan antara passion anak, kemampuan anak dengan mimpi kita. 

Kalau anak kita ingin ikut kursus tertentu yang ternyata sesuai dengan ‘keinginan’ kita, janganlah menganggap bahwa itu adalah passion sang anak. Siapa tahu sang anak sedang mengeksplor apakah memang passionnya disitu. Jadi harus siap menerima berita bahwa ternyata dia tidak mau menekuni bidang tersebut karena tidak menarik untuk dia. Fair enough. 

Yang paling penting, sebaiknya jangan sampai kemudian kita lalu mulai intervensi dan memaksakan kepada orang-orang di sekeliling anak kita, untuk mendukung dengan segala cara. Tanyakan dulu pada diri sendiri, kita melakukan itu untuk kebaikan semua orang atau untuk kepuasan diri kita ?

Kesimpulannya ? Sebaiknya kita tahu ruang lingkup kita bahwa kita adalah orangtua untuk anak kita, bukan untuk anak orang lain. Karena itu, cobalah untuk bisa menahan diri untuk tidak mengintervensi orangtua lain dan memberitahu tentang bagaimana seharusnya menangani anak. Belum tentu cara kita ‘menyayangi’ anak itu sudah sempurna dan tepat. Karena tidak ada cara menyayangi yang sempurna. Rasa sayang bisa diwujudkan dengan cara yang berbeda-beda. 

So, take time to reflect, do I do this for my child or for myself ? From now on, Let’s taking care of our children, not other people’s children. 

Movie Junkie

Pernah mendengar kata ‘junkie’ ? Definisi dalam Merriam-Webster Dictionary adalah pecandu obat. Konotasinya negatif ya. Namun seperti bahasa lainnya, seiring dengan berkembangnya jaman, terjadi pergeseran arti dalam penggunaan kata ‘junkie’. Kata ini tidak hanya digunakan untuk pecandu obat/drugs, tapi dipakai juga untuk beberapa padanan kata. Salah satunya yang saya suka adalah ‘movie junkie’.
 

Terjemahan bebasnya kira-kira adalah orang yang kecanduan nonton. Saya merasa saya bisa masuk dalam kategori tersebut, tapi boleh dong saya punya definisi sendiri. Movie junkie untuk saya pribadi adalah orang yang punya hobi nonton, baik itu di bioskop atau TV atau nonton DVD di rumah. Rela meluangkan waktu untuk nonton sebuah film yang biasanya berkisar antara 1,5-2 jam, yang untuk sebagian orang akan dirasa membuang waktu. Tidak berhenti sampai disitu, selesai nonton, biasanya otak kita tidak berhenti merenungkan dan menganalisa film yang tadi sudah membuat kita duduk selama itu.

 

Biasanya secara otomatis otak saya akan memproses film tersebut. Kalau tidak berkesan untuk saya, ya sudah saya lupakan saja. Kalau cukup berkesan, saya mencoba menganalisa film tersebut. Kira-kira apa yang menarik, pesan moral yang ingin disampaikan itu apa ya. Kalau film tersebut sangat berkesan, saya gelagapan sendiri saking terpesonanya dan biasanya 99,99% saya akan kembali ke bioskop menonton film yang sama, untuk memperhatikan (kalau bisa) seluruh aspek dalam film tersebut. Dari kualitas akting para aktornya, gaya penyutradaraannya, settingnya, original score dan soundtracknya, dialognya, jalan ceritanya dan detil-detil lainnya.

 

Apakah saya menuangkan analisa di otak saya dalam bentuk tulisan atau podcast ? Belum tentu. Karena biasanya saya memilih mengambil waktu untuk meresapi dan mencerna semua yang peroleh dari film tersebut. Di saat saya sudah puas, wah biasanya sudah tidak sempat menulis lagi karena adanya kesibukan yang lain. Namun kalaupun saya menulis, tentunya isinya tidak seperti para kritikus film yang bisa memandang dari sudut ilmu perfilman. Saya hanya menuliskan dari sisi saya sebagai penonton dan penikmat film, yang mengapresiasi karya seni dalam bentuk film.

 

Sejak kapan saya kecanduan nonton ? Kalau saya runut ulang hidup saya, rupanya tanpa disadari sejak kecil saya suka diajak orangtua saya untuk nonton. Jaman itu yang paling diminati adalah film silat dari Hongkong. Lalu setelah saya kuliah jauh dari rumah, saya punya kebebasan untuk bepergian sendiri dan kebetulan ada bioskop di dekat tempat kost saya. Suasana yang sangat mendukung hobi nonton. Apalagi saat itu tiket masih harganya Rp 2.500,- (sekitar tahun 1985) dan banyak sekali film bagus. Hobi ini berlanjut sampai sekarang.

 

Saya bukan movie freak, yang kalau anda tanya film A pemeran utamanya siapa dan tahun berapa dibuatnya, belum tentu saya hafal. Contekan ajaib saya adalah situs IMDb yang datanya sangat terpercaya. Kalau sudah ngintip sedikit disitu, memori saya langsung terbuka tentang film itu. Tapi kalau anda tanya kesan saya nonton sebuah film, biasanya saya masih ingat walaupun mungkin nontonnya sudah bertahun-tahun yang lalu.

 

Saya sangat menikmati saat-saat menonton. Sampai saat ini suami dan anak-anak saya masih suka menggoda saya kalau saya menangis saat menonton film. Tapi untuk saya, berarti keseluruhan aspek dalam film tersebut telah mencapai sasarannya, yaitu membawa saya ikut hanyut dalam emosi yang diciptakan.

 

Boleh percaya atau tidak, ada film-film yang menurut saya adalah film yang luar biasa, yang saya tonton lebih dari satu kali. Tapi saya rasa banyak juga orang yang melakukan hal tersebut. Film luar biasa – itu menurut definisi saya lho, karena belum tentu para kritikus film berpengalaman atau penonton lainnya setuju dengan pendapat saya. Tapi film yang saya nilai bagus, belum tentu jua akan saya tonton lebih dari satu kali walaupun pemeran utamanya idola saya.

 

Contohnya The Revenant, saya nge-fans banget dengan Leonardo di Caprio. Tapi cukup satu kali saya nonton film itu. Kesannya, capek dan ikut sakit melihat Leo hidupnya merana sepanjang film. Tapi film Titanic, saya nonton delapan kali. Saya kagum dengan Leo, kagum dengan Kate Winslet, kagum dengan setting kapal Titanic yang megah, ngeri melihat proses tenggelamnya kapal tersebut dan masih banyak kesan lainnya, termasuk lagunya.

 

Mengapa Titanic sih ? Mengapa bukan The Revenant, film yang menghantar Leo mendapat Oscarnya yang pertama ? Karena adanya harmonisasi dari seluruh aspek yang ada, yang melibatkan banyak orang, mencampuradukkan emosi kita melihat Jack dan Rose. Sementara dalam The Revenant, itu benar-benar film laki-laki, saat orang-orang pendatang berbuat seenaknya terhadap suku Indian yang biasanya kita sebut ‘Native American’.

 

Namun sekali lagi, penilaian seperti itu relatif. Adalah hak asasi manusia untuk menilai sebuah film itu layak atau tidak layak ditonton, atau bahkan wajib ditonton berulang kali.

 

Jika ada yang bertanya tentang sebuah film, kepada saya, dengan senang hati saya akan bercerita dari sudut pandang saya. Memang tidak semua orang bisa menerima pandangan saya, tapi ada kepuasan tersendiri bisa berbagi tentang apa yang saya rasakan.

 

Maka, saya bangga mengakui bahwa saya seorang ‘movie junkie’ yang walaupun kadar kemurniannya mungkin baru 80% saja, karena saya sering lupa tentang judul, pemeran utama, sutradara atau tahunnya, saya sangat menikmati dan mencintai seni dalam bentuk film.

 

Anda yang memiliki hobi sama seperti saya, bahkan mungkin sering nonton film yang sama berulang kali, tidak usah malu. Tapi alangkah baiknya kalau kita bisa menuangkan pendapat kita dalam bentuk tulisan ya. Saya sedang mencoba untuk mulai tekun menulis sehabis menonton film yang menurut saya layak tonton.

 

Bukan untuk menjadi kritikus film, karena saya tidak punya latar belakang itu, tapi sebagai record/catatan saya saja, yang bisa saya baca berkali-kali dan mengembalikan memori saya tentang sebuah film.

 

Ayo, para ‘movie junkie’, lanjutkan hobi nontonnya. Kalau ada yang ingin sharing, ayo kita diskusi via twitter or email or instagram.

Ngegosip itu enak …

Iya betul, ngegosip itu enak. Hal ini saya perhatikan dari beberapa grup sosial media yang ada. 

Mereka, termasuk saya, berkumpul dalam sebuah grup atau komunitas karena kita punya persamaan. Apapun persamaannya. Apakah karena profesi yang sama, hobi yang sama atau senang pada sesuatu yang sama. 

Karena ada faktor yang menyatukan kita, maka umumnya topik pembicaraan akan menuju ke satu arah. Namun ada yang menarik lho. Kalau diperhatikan, pembicaraan dalam sebuah grup sosmed lama kelamaan akan menjadi sebuah diskusi yang akan membawa para peserta mulai mengeluarkan opininya. 

Nah disinilah mulai muncul persimpangan jalan yang harus dipilih. Satu jalan akan membawa kita hanyut dalam pembicaraan dan menjurus menjadi spekulasi yang tak berujung. Satu jalan lagi menawarkan logika bahwa tidak perlu ikut dalam diskusi yang tak berujung. 

Tapi, sadarkah kita bahwa jalan manapun yang dipilih, kita sudah ikut serta dalam diskusi, yang secara lebih umum dikenal dengan ‘ngegosip’ ….

Dan harus saya akui, ngegosip adalah kegiatan yang menyenangkan, apalagi jika dilakukan bersama teman-teman dekat atau yang punya passion yang sama. 😊

Namun apakah ‘ngegosip’ nya kita akan menjadi gosip yang selintas saja, we talked about it just for fun, atau berkembang menjadi gosip baru yang menambah ramai dunia maya, semuanya tergantung di titik mana kita mulai mendengarkan logika kita berbicara. 

Jangan salah paham lho, saya tidak anti ngegosip. Seperti yang sudah saya bilang, saya sendiri suka melakukannya koq. Dan sampai di titik tertentu, saya merasa itu kegiatan penghilang stress. Namun terkadang ada yang justru membuat saya jadi seperti orang kepentok tembok karena pada akhirnya merugikan saya dalam bentuk menghabiskan waktu saya untuk mengetik di sosmed atau menelpon teman, atau malah membuat saya menjadi emosi jiwa. 

Maka …. Tidak ada salahnya ngegosip. Karena setiap kita berkomunikasi dengan teman, kita pasti akan mencari topik untuk dibicarakan. Namun sejauh mana kita mau terbawa dalam pembicaraan tersebut, coba deh ngobrol dengan logika. 

Sekali lagi, saya selalu setuju bahwa ngegosip itu enak koq. 

Ada Apa Dengan Cinta 2 – Sekedar Film Romantis atau Film Kehidupan ?

Sejak di media sosial sudah mulai promosi film ini, saya sudah punya keinginan yang sangat besar untuk nonton. Jujur, saya belum pernah nonton AADC yang pertama. Yang menjadi motivasi besar saya ingin nonton film ini ada 2 hal : pertama, karena yang menjadi tokoh sentral adalah Dian Sastro dan Nicholas Saputra. I’m not their fanatic fans, but I love them. I love their professionalism and I love their work. Kedua, saya sangat suka dengan sequel karena sequel biasanya memanjakan imajinasi kita karena ada kelanjutan dari kisah originalnya.
Baru kemarin saya menyempatkan diri untuk nonton, di siang hari yang panas jalan menuju bioskop, sendirian karena this is my ‘me-time’.

Saya tidak akan menceritakan sinopsisnya. Saya hanya ingin berbagi efek dari film itu terhadap diri saya, yang melankolis kalau menonton film drama.

Begitu mulai melihat opening title dengan warna khas AADC, rasanya sukma tertarik masuk dalam dunia AADC yang fenomenal itu. Adalah satu kejelian dari Mira Lesmana dan Riri Riza yang tetap mempertahankan orginalitas dari AADC yang pertama untuk hal yang sederhana, komposisi warna yang unik.

Melihat Genk Cinta sebenarnya menyenangkan, tapi efeknya tidak seperti saat melihat Rangga. Can you imagine, the legendary Rangga, so cool and winter in NYC – hmmm, efeknya ternyata beda ya.

Banyak yang bilang plotnya berjalan lambat. Bagi saya, tidak juga. Saya sangat menikmati kualitas akting para aktornya yang luar biasa. Natural tapi ngga lebay. Chemistrynya mantap. Belum lagi bicara soal settingnya yang indah di Jogjakarta, dengan tata pencahayaan yang ciamik yang membuat Jogjakarta menjadi kota yang unik dan eksotis.

Filmnya bukan film drama yang tragis atau penuh dengan kesedihan. Film ini film yang romantis banget. Saking romantisnya, sampai ada beberapa scene yang membuat saya menangis sedikit.

Melihat Cinta seperti melihat boneka princess yang terbungkus oleh kilau gemilau keindahan, bling bling dan kecantikan. Apalagi Dian Sastro yang wajahnya sangat ayu. Melihat Cinta seperti melihat gelas yang terbuat dari kaca, yang kelihatan cantik tapi sebenarnya rapuh. Melihat Cinta, saya merasa bisa ikut terhanyut dalam lautan cintanya yang begitu besar untuk Rangga.

Melihat Rangga seperti melihat sebuah pilar yang kokoh, yang dalam kesendiriannya justru membuat wanita penasaran. Melihat Rangga rasanya melihat sosok yang mungkin hampir tidak akan pernah kita temui dalam kehidupan nyata, cintanya hanya untuk satu orang – ganteng – bahasa Inggrisnya luar biasa – penulis yang handal – puitis banget lagi. Melihat Rangga, rasanya seperti minum Coca Cola, sekali teguk terus ketagihan untuk minum sampai habis. 

Mungkin karena Dian Sastro dan Nicholas Saputra yang memerankannya. Tapi lebih besar kemungkinannya karena pendalaman karakternya yang sudah kelasnya Piala Citra. 

Belum diramu dengan kehadiran Genk Cinta dan tokoh Mamet yang kocak. Kalau analoginya dengan makanan, enaknya seperti Es Teler 77 atau es sekoteng Bandung. Manis dan cantik. Masih ditambah dengan lagu-lagu cantik dari Melly Goeslaw dan Anto Hoed. 

Setelah nonton, barulah saya mencoba melihat review di iMDB ataupun comment orang-orang di Instagram yang berkaitan dengan AADC2. Ternyata banyak juga ya yang mengumpat habis film itu. Bahkan sampai ada yang membandingkan dengan film action dari Amerika. Pada dasarnya, semua itu relatif dan menjadi hak asasi setiap orang untuk mengutamakan pendapatnya. 

Tapi untuk saya, AADC 2 ini memiliki banyak nilai-nilai kehidupan :

SATU : Intelegensia dari Mira Lesmana dan Riri Riza dalam membuat sekuel ini menjadi sebuah film yang romantis tapi tidak kacangan …. Untuk film Indonesia, luar biasa. Dialognya cerdas walaupun disampaikan dalam bahasa sehari-hari : Dia itu udah kayak arsip buat gue …

DUA : Kualitas akting dan chemistry yang dimiliki Nicholas Saputra, Dian Sastro, Genk Cinta & Mamet … sekali lagi, luar biasa.

TIGA : Betapa kita selama ini terlalu haus dan konsumtif dengan segala sesuatu yang berbau ‘luar negeri’ padahal di Indonesia banyak sekali tempat dan budaya yang belum pernah kita temui. Contoh yang paling nyata, baru kali ini saya tahu ada kelompok teater yang menggunakan boneka yang bernama Papermoon Puppet Theater yang sudah berkelana sampai ke luar negeri. Saat melihat scene puppet show itu, rasanya ingin menangis melihat Rangga dan Cinta dengan matanya yang berlinang, duduk berdampingan dengan seriusnya melihat pertunjukan tersebut – yang … sekali lagi untuk saya : luar biasa.

EMPAT : Friendship tidak bisa dipungkiri adalah hal yang dibutuhkan manusia, karena Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk sosial yang perlu orang lain dalam menjalani kehidupannya. Setiap orang punya cara sendiri untuk memilih teman. Namun pertemanan Cinta – Karmen – Maura – Milly – Alya (yang diceritakan sudah meninggal karena kecelakaan) menjadi sebuah angin segar dalam kehidupan saat ini dimana teknologi menguasai kita sampai kita lupa untuk membuat perjumpaan dengan orang-orang yang kita cintai, teman-teman kita. Kita merasa sah saja kalau kita menyapa lewat media sosial sampai satu saat kita bertemu muka, yang muncul adalah ‘awkward situation’ dan bukan kehangatan.

LIMA : Untuk kesekian kalinya, Melly Goeslaw dan Anto Hoed menunjukkan talentanya yang luar biasa dalam menerjemahkan plotting film ke dalam lagu. Setiap sebuah lagu dimulai, rasanya perasaan ini seperti dicubit-cubit – bener lho, itu yang saya rasakan saat mendengar lagu-lagu dalam film ini.

ENAM : Semoga generasi muda yang tergoda menonton film ini, bisa menyadari bahwa sebenarnya Indonesia memiliki seniman/artis yang memiliki talenta luar biasa seperti yang kita jumpai dalam film ini. Mulai dari produser, sutradara, komposer, aktor aktris dan para crew yang terlibat. Tahukah anda, bahwa lagu ‘Bimbang’ yang dulu dinyanyikan Melly Goeslaw di film AADC, sekarang sudah diturunkan dan diarasemen ulang oleh 2 putra Melly & Anto Hoed dan dinyanyikan oleh putri dari Titi DJ.

TUJUH : Believe in LOVE – cinta antara pria dan wanita, anak dan orangtua, kakak dan adik, antara sahabat. TRUE LOVE exist, Cinta Sejati itu memang ada.

DELAPAN : Saya diingatkan kembali bahwa cara mengekspresikan perasaan kita lewat tulisan berbentuk surat atau puisi, adalah suatu bentuk apresiasi dan respect kita terhadap orang yang kita cintai. Bukan dari sisi romantismenya. Tapi bayangkan bahwa saat kita menulis surat, baik itu dalam bentuk email atau surat, bahkan jika kita bisa membuat puisi, kita meluangkan waktu kita, mencurahkan pikiran dan hati kita untuk mencari rangkaian kata-kata yang tepat agar orang tersebut dapat menerima pesan yang ingin kita sampaikan.

SEMBILAN : Film ini memanjakan imajinasi saya tentang kisah cinta klasik yang berakhir dengan happy ending. Perjalanan Rangga dan Cinta dalam film ini, sangat memukau saya. Seperti yang dikatakan oleh Dian Sastro bahwa saat dia mendengar plotting dari AADC 2 dari Mira Lesmana dan Riri Riza, sama seperti saat menonton film Whiplash (saya juga suka dan kagum dengan film ini), kesannya unik, filmnya bukan genre thriller tapi nontonnya ataupun mendengar storylinenya rasanya deg-degan. Tapi deg-degan inilah yang pada akhirnya memanjakan imajinasi saya. Yang bisa membuat saya tersenyum, menangis, tersenyum lagi dan pada akhirnya berharap saya ada di New York bersama Rangga dan Cinta.

SEPULUH : Imajinasi harus dimanjakan dengan cara yang positif karena dapat memicu kita untuk menjadi kreatif. Film ini tidak harus memicu kreatifitas saya untuk ikut-ikutan membuat film, tapi bisa memancing kreatifitas saya dalam banyak hal, misalnya membuat tampilan slide yang unik, membuat sebuah event kecil yang unik untuk kelompok kecil atau bahkan kreativitas yang tumbuh untuk mengajak kedua putri saya menjelajah Jogjakarta.

So, bebaskan imajinasimu secara positif. Be creative. Seimbangkan hidup kita antara kerja dan menikmati hidup. Menikmati hidup tidak harus dengan belanja atau pergi ke luar negeri, bisa dengan cara yang sederhana – nonton film, mencintai budaya Indonesia, baca buku dan masih banyak lagi.

Untuk saya, menonton film ini punya dua efek yang baik. Memanjakan diri lewat imajinasi dan belajar nilai kehidupan yang sederhana tapi bermakna yang membuat saya bersyukur atas hidup ini.

Seperti yang saya sampaikan kepada dua teman saya yang juga ngefans berat dengan Rangga dan Cinta, biarpun saya sudah punya dua putri yang sudah usia remaja, komentar saya tentang ending AADC 2 (spoiler alert !!!) : Kalau yang nunggu di New York kayak Rangga (a.k.a Nicholas Saputra gitu), gua rela deh beli tiket pesawat ke New York dan tiba saat winter yang barangkali suhunya sudah seperti chicken nugget dalam freezer .. #aadc2 #timrangga #timcinta #ranggacinta #senyumrangga

Ratusan purnama berlalu

Tapi cinta tak pernah berlalu

Walau kau usir aku di hidupmu

Tapi cintaku tetap diam

– Ratusan Purnama / Melly Goeslaw & Marthino Lio

 

Semua perihal diciptakan sebagai batas.

Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain.

Hari ini membatasi besok dan kemarin.

Besok batas hari ini dan lusa.

Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita.

 

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta.

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata.

Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang.

Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.
Seorang ayah membelah anak dari ibunya—dan sebaliknya.

Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan.

Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur

 

Apa kabar hari ini?

Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.

-Batas / Aan Mansyur – puisi Rangga untuk Cinta

img_1138-2

Ada Apa Dengan Cinta 2 – Sekedar Film Romantis atau Film Kehidupan ?

Sejak di media sosial sudah mulai promosi film ini, saya sudah punya keinginan yang sangat besar untuk nonton. Jujur, saya belum pernah nonton AADC yang pertama. Yang menjadi motivasi besar saya ingin nonton film ini ada 2 hal : pertama, karena yang menjadi tokoh sentral adalah Dian Sastro dan Nicholas Saputra. I’m not their fanatic fans, but I love them. I love their professionalism and I love their work. Kedua, saya sangat suka dengan sequel karena sequel biasanya memanjakan imajinasi kita karena ada kelanjutan dari kisah originalnya. 

Baru kemarin saya menyempatkan diri untuk nonton, di siang hari yang panas jalan menuju bioskop, sendirian karena this is my ‘me-time’.

Saya tidak akan menceritakan sinopsisnya. Saya hanya ingin berbagi efek dari film itu terhadap diri saya, yang melankolis kalau menonton film drama. 

Begitu mulai melihat opening title dengan warna khas AADC, rasanya sukma tertarik masuk dalam dunia AADC yang fenomenal itu. Adalah satu kejelian dari Mira Lesmana dan Riri Riza yang tetap mempertahankan orginalitas dari AADC yang pertama untuk hal yang sederhana, komposisi warna yang unik. 

Melihat Genk Cinta sebenarnya menyenangkan, tapi efeknya tidak seperti saat melihat Rangga. Can you imagine, the legendary Rangga, so cool and so cold seeting in NYC – hmmm, efeknya ternyata beda ya. 

Banyak yang bilang plotnya berjalan lambat. Bagi saya, tidak juga. Saya sangat menikmati kualitas akting para aktornya yang luar biasa. Natural tapi ngga lebay. Chemistrynya mantap. Belum lagi bicara soal settingnya yang indah di Jogjakarta, dengan tata pencahayaan yang ciamik yang membuat Jogjakarta menjadi kota yang unik dan eksotis. 

Filmnya bukan film drama yang tragis atau penuh dengan kesedihan. Film ini film yang romantis banget. Saking romantisnya, sampai ada beberapa scene yang membuat saya menangis sedikit. 

Melihat Cinta seperti melihat boneka princess yang terbungkus oleh kilau gemilau keindahan, bling bling dan kecantikan. Apalagi Dian Sastro yang wajahnya sangat ayu. Melihat Cinta seperti melihat gelas yang terbuat dari kaca, yang kelihatan cantik tapi sebenarnya rapuh. Melihat Cinta, saya merasa bisa ikut terhanyut dalam lautan cintanya yang begitu besar untuk Rangga. 

Melihat Rangga seperti melihat sebuah pilar yang kokoh, yang dalam kesendiriannya justru membuat wanita penasaran. Melihat Rangga rasanya melihat sosok yang mungkin hampir tidak akan pernah kita temui dalam kehidupan nyata, cintanya hanya untuk satu orang – ganteng – bahasa Inggrisnya luar biasa – penulis yang handal – puitis banget lagi. Melihat Rangga, rasanya seperti minum Coca Cola, sekali teguk terus ketagihan untuk minum sampai habis.

Mungkin karena Dian Sastro dan Nicholas Saputra yang memerankannya. Tapi lebih besar kemungkinannya karena pendalaman karakternya yang sudah kelasnya Piala Citra.

 

Belum diramu dengan kehadiran Genk Cinta dan tokoh Mamet yang kocak. Kalau analoginya dengan makanan, enaknya seperti Es Teler 77 atau es sekoteng Bandung. Manis dan cantik. Masih ditambah dengan lagu-lagu cantik dari Melly Goeslaw dan Anto Hoed.

 

Setelah nonton, barulah saya mencoba melihat review di iMDB ataupun comment orang-orang di Instagram yang berkaitan dengan AADC2. Ternyata banyak juga ya yang mengumpat habis film itu. Bahkan sampai ada yang membandingkan dengan film action dari Amerika. Pada dasarnya, semua itu relatif dan menjadi hak asasi setiap orang untuk mengutamakan pendapatnya.

 

Tapi untuk saya, AADC 2 ini memiliki banyak nilai-nilai kehidupan :

1. Intelegensia dari Mira Lesmana dan Riri Riza dalam membuat sekuel ini menjadi sebuah film yang romantis tapi tidak kacangan …. Untuk film Indonesia, luar biasa. Dialognya cerdas walaupun disampaikan dalam bahasa sehari-hari : Dia itu udah kayak arsip buat gue …

2. Kualitas akting dan chemistry yang dimiliki Nicholas Saputra, Dian Sastro, Genk Cinta & Mamet … sekali lagi, luar biasa.

3. Betapa kita selama ini terlalu haus dan konsumtif dengan segala sesuatu yang berbau ‘luar negeri’ padahal di Indonesia banyak sekali tempat dan budaya yang belum pernah kita temui. Contoh yang paling nyata, baru kali ini saya tahu ada kelompok teater yang menggunakan boneka yang bernama Papermoon Puppet Theater yang sudah berkelana sampai ke luar negeri. Saat melihat scene puppet show itu, rasanya ingin menangis melihat Rangga dan Cinta dengan matanya yang berlinang, duduk berdampingan dengan seriusnya melihat pertunjukan tersebut – yang … sekali lagi untuk saya : luar biasa.

4. Friendship tidak bisa dipungkiri adalah hal yang dibutuhkan manusia, karena Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk sosial yang perlu orang lain dalam menjalani kehidupannya. Setiap orang punya cara sendiri untuk memilih teman. Namun pertemanan Cinta – Karmen – Maura – Milly – Alya (yang diceritakan sudah meninggal karena kecelakaan) menjadi sebuah angin segar dalam kehidupan saat ini dimana teknologi menguasai kita sampai kita lupa untuk membuat perjumpaan dengan orang-orang yang kita cintai, teman-teman kita. Kita merasa sah saja kalau kita menyapa lewat media sosial sampai satu saat kita bertemu muka, yang muncul adalah ‘awkward situation’ dan bukan kehangatan.

5. Untuk kesekian kalinya, Melly Goeslaw dan Anto Hoed menunjukkan talentanya yang luar biasa dalam menerjemahkan plotting film ke dalam lagu. Setiap sebuah lagu dimulai, rasanya perasaan ini seperti dicubit-cubit – bener lho, itu yang saya rasakan saat mendengar lagu-lagu dalam film ini.

6. Semoga generasi muda yang tergoda menonton film ini, bisa menyadari bahwa sebenarnya Indonesia memiliki seniman/artis yang memiliki talenta luar biasa seperti yang kita jumpai dalam film ini. Mulai dari produser, sutradara, komposer, aktor aktris dan para crew yang terlibat. Tahukah anda, bahwa lagu ‘Bimbang’ yang dulu dinyanyikan Melly Goeslaw di film AADC, sekarang sudah diturunkan dan diarasemen ulang oleh 2 putra Melly & Anto Hoed dan dinyanyikan oleh putri dari Titi DJ.

7. Believe in LOVE – cinta antara pria dan wanita, anak dan orangtua, kakak dan adik, antara sahabat. TRUE LOVE exist, Cinta Sejati itu memang ada.

8. Saya diingatkan kembali bahwa cara mengekspresikan perasaan kita lewat tulisan berbentuk surat atau puisi, adalah suatu bentuk apresiasi dan respect kita terhadap orang yang kita cintai. Bukan dari sisi romantismenya. Tapi bayangkan bahwa saat kita menulis surat, baik itu dalam bentuk email atau surat, bahkan jika kita bisa membuat puisi, kita meluangkan waktu kita, mencurahkan pikiran dan hati kita untuk mencari rangkaian kata-kata yang tepat agar orang tersebut dapat menerima pesan yang ingin kita sampaikan.

9. Film ini memanjakan imajinasi saya tentang kisah cinta klasik yang berakhir dengan happy ending. Perjalanan Rangga dan Cinta dalam film ini, sangat memukau saya. Seperti yang dikatakan oleh Dian Sastro bahwa saat dia mendengar plotting dari AADC 2 dari Mira Lesmana dan Riri Riza, sama seperti saat menonton film Whiplash (saya juga suka dan kagum dengan film ini), kesannya unik, filmnya bukan genre thriller tapi nontonnya ataupun mendengar storylinenya rasanya deg-degan. Tapi deg-degan inilah yang pada akhirnya memanjakan imajinasi saya. Yang bisa membuat saya tersenyum, menangis, tersenyum lagi dan pada akhirnya berharap saya ada di New York bersama Rangga dan Cinta.

10. Imajinasi harus dimanjakan dengan cara yang positif karena dapat memicu kita untuk menjadi kreatif. Film ini tidak harus memicu kreatifitas saya untuk ikut-ikutan membuat film, tapi bisa memancing kreatifitas saya dalam banyak hal, misalnya membuat tampilan slide yang unik, membuat sebuah event kecil yang unik untuk kelompok kecil atau bahkan kreativitas yang tumbuh untuk mengajak kedua putri saya menjelajah Jogjakarta.
So, bebaskan imajinasimu secara positif. Be creative. Seimbangkan hidup kita antara kerja dan menikmati hidup. Menikmati hidup tidak harus dengan belanja atau pergi ke luar negeri, bisa dengan cara yang sederhana – nonton film, mencintai budaya Indonesia, baca buku dan masih banyak lagi.

 

Untuk saya, menonton film ini punya dua efek yang baik. Memanjakan diri lewat imajinasi dan belajar nilai kehidupan yang sederhana tapi bermakna yang membuat saya bersyukur atas hidup ini.

Seperti yang saya sampaikan kepada dua teman saya yang juga ngefans berat dengan Rangga dan Cinta, biarpun saya sudah punya dua putri yang sudah usia remaja, komentar saya tentang ending AADC 2 (spoiler alert !!!) : Kalau yang nunggu di New York kayak Rangga (a.k.a Nicholas Saputra gitu), gua rela deh beli tiket pesawat ke New York dan tiba saat winter yang barangkali suhunya sudah seperti chicken nugget dalam freezer .. #aadc2 #timrangga #timcinta #ranggacinta #senyumrangga
Ratusan purnama berlalu

Tapi cinta tak pernah berlalu

Walau kau usir aku di hidupmu

Tapi cintaku tetap diam

– Ratusan Purnama / Melly Goeslaw & Marthino Lio
Semua perihal diciptakan sebagai batas.

Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain.

Hari ini membatasi besok dan kemarin.

Besok batas hari ini dan lusa.

Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita.

 

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta.

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata.

Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang.

Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.

 

Seorang ayah membelah anak dari ibunya—dan sebaliknya.

Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan.

Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur.

 

Apa kabar hari ini?

Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.

-Batas / Aan Mansyur – puisi Rangga untuk Cinta

Panta Rei – permenungan kecil seorang ibu

Sudah dua kali saya mengantar anak saya pulang ke asrama sekolahnya, sebuah SMA yang lokasinya di dekat Ambarawa, Jawa Tengah. Bukan mengantar dengan kendaraan pribadi, tapi menemani dia naik bis malam dan mengantar sampai ke tujuan. 

Saat ini saya sedang menunggu kereta api menuju Jakarta di Stasiun Tawang, Semarang. Daripada mengantuk karena saya menunggu sendirian, saya ingin menuliskan apa yang saya lihat dan saya rasakan dari perjalanan saya bersama dia kali ini. 

Saat di rumah, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan adiknya. Tapi saat berada di dalam bis, tidak putus ceritanya tentang kegiatannya, teman-temannya, gurunya. Pokoknya apapun diceritakan, seolah dia berpacu dengan waktu yang akan memisahkan kita beberapa bulan ke depan. 

Lalu di sela-sela bercerita, kita sempat ‘rehat bicara’. Lalu dua kali di dalam bis dia menangis. Saya sampai berulang-ulang bertanya, apakah ada sesuatu di sekolah atau asrama yang membuat dia tidak betah. Tapi dia meyakinkan saya bahwa dia senang sekolah disana. 

Karena tiba di Ambarawa sudah subuh, maka seperti biasa kami beristirahat dulu di sebuah penginapan sederhana di daerah Kerep, yang terletak di seberang terminal Ambarawa. 

Pagi hari tadi saat saya sedang membereskan tas, tiba-tiba dia menangis lagi. Saya peluk dia, saya tanyakan hal yang sama, dia pun menjawab sama. 

Terakhir, saat sudah sampai di asrama, dan saya pamit karena harus berangkat ke Semarang, terlihat dia sangat menahan diri untuk tidak menangis walaupun matanya sudah merah dan dia buru-buru menghilang ke dalam. 

Saat ini, sambil duduk menunggu di stasiun, saya merenungkan kembali perjalanan semalam. 

Ada air mata yang keluar karena merasakan cukup berat perjuangan batin yang dilalui oleh remaja seusia dia, melewati perpisahan seperti ini setiap kali habis pulang. Tapi ada rasa bangga karena dia sendiri yang memutuskan untuk mencoba bersekolah jauh dari rumah dan bisa tetap tegar walaupun hatinya sedih karena harus kembali berpisah dengan keluarganya, apalagi dia termasuk anak yang halus perasaannya. 

Terasa lelah sehabis mengantar dia. Lelah karena istirahat yang kurang dan lelah karena harus berpamitan dengan dia. Tapi kalau anakku saja tidak pernah merasa lelah melewati berjam-jam perjalanan untuk supaya bisa bertemu kami, mengapa saya harus menghitung tenaga untuk mengantarkan dia pulang. 

Waktu kita hidup di dunia ini tidak lama. Waktu kita bersama anak kita tidak lama. Lelah yang harus kita alami demi anak …. tidak perlu kita pandang sebagai hal yang merugikan. 

Nikmati saja … Jalani saja … Karena semuanya akan berlalu menjadi kenangan indah yang tidak akan pernah lepas dari ingatan kita. 

This too shall pass … Panta rei …

Week 6 – The Hottest Night of the Year (20.10.2014)

Introduction
It is interesting how the producers interpret the theme while most of the songs mentioned as Pitbull’s favorite songs or his song. Some people say the theme is ‘The Sexiest Night of the Year’ and some say ‘The Hottest Night of the Year’. While the type of the routine is mixed from Salsa, Samba to Foxtrot.

What is interesting this week is the presence of Leah Remini who fills in for Erin Andrews just for one week since Erin has another task. All I can say is : Leah Remini is superb. She is not afraid to say anything. I really mean anything. She is not afraid to say ‘no one can rely just on the judges score alone, thank God’ or when she hit Derek with the microphone saying : ‘Cause you don’t know what it feels like to get a 5 or 7, don’t you ?’. I laugh hard when she said that, because until now there is nobody ever saying that to Derek, the golden boy of DWTS. I also love the way she try to cheer up all the couples with her funny and positive comments.

There is only one thing that bothers me. Can we get some competent and qualified guest judge ? Not because they want to promote their new album or single, but at least can give a very neutral comment hence encouragement for each couple. Like Ricky Martin in the previous season, who is able to encourage the couple in a positive way.

The routine perform by couple (alphabetically from the first name of the pros)

1. Allison Holker and Jonathan Bennet
His best performance ? Yes, I totally agree. Unfortunately he’s been eliminated at the end of the show and I still think it’s not fair. Well, what’s fair in a reality show ? Finally Allison start to hold herself a little bit and thinking about her partner. And finally Jonathan came out and showed the world that he really can dance. Their jazz number is very entertaining and 8’s all across the board seems very fair. But I have to say it is contradictive. It seems like the judges knew he will be eliminated, so they spent their 8 on him. We will never know the answer. At the beginning of the routine, my focus is still in Allison. But starting from the middle of the routine, he really executed the routine very well. It’s really so sad to see him really happy listening to the judges comments yet he was the one who is eliminated.

2. Cheryl Burke and Antonio Sabato Jr.
Cheryl is such a small energetic lady. I love her. She has a free spirit. Never give up. Although she had a hard time during the rehearsal because her father is sick. Their routine is salsa, with Enrique Iglesias song ‘Bailando’ … Wow, a very interesting and sexy song, great setting and of course excellent choreography from Cheryl. And that’s what we called ‘Antonio is dancing’. He seems more and more comfortable with the movement especially the hip action. He seems very satisfied at the end of the routine. The combination of 7 and 8 is fair enough. Unfortunately, it’s all 7’s across the board. At least an 8 for the amazing choreography and Antonio’s significant improvement.

3. Emma Slater and Michael Waltrip
Emma looks great in her costume. But still he’s not a natural mover. This week they have Argentine Tango. I still can’t see he is dancing, no matter how hard he tried. But I always admire his spirit and enthusiasm to face all the challenges. Emma is really amazing in encouraging Michael to be always positive. I think the combination of 7 and 6 is fair for them.

4. Peta Murgatroyd and Tommy Chong
This week they do the foxtrot. And as soon as the song from Earth Wind & Fire started, I can’t take my eyes off of Peta. She is very gorgeous with her smile, her pink costumes, her spirit and the way she stand by Tommy. Perfect partner for Tommy. From week to week he survived and I really admire his willingness to learn and perform. Peta is amazing from the way she choreograph all the routines for Tommy and especially this foxtrot. It’s beautiful.

5. Witney Carson and Alfonso Ribeiro
This week is still full of injury. Both Alfonso and Witney got injured. It is affecting their performance just a little bit, but still they execute it well. And their routine really full of dangerous lifts and spins though. They dance salsa with J-Lo song ‘Booty’. Beautiful red costumes, especially on Witney. I agree with Julianne that this Alfonso-Witney team is really serious contender. Getting 39 out of 40 is fantastic.

6. Artem Chigvintsev and Lea Thompson
Artem said to Lea : ‘I need amazing, great is not an option’. He focused to beat Alfonso who’s on the top of the leaderboard. I feel that the song choice is not supported Artem’s choreography. And the help from the troupe is distracting since the color of the costume is not match Lea and Artem costumes. I think the combination of 7 and 8 is fair for them. In fact, the judges gave them all 8’s. I agree with Carrie Ann, they need to find what Lea feels great to do and not focusing on how to beat Alfonso. Lea seems not confident of herself as usual.

7. Derek Hough and Bethany Mota
Pure tango … Nothing more to say about Derek’s choreography. That guy can do anything with any song. Bethany is better than the last two weeks actually. She is not a professional dancer but she executes the routine well. She slips but she continue to dance. Looking at the whole routine, I think all 8’s across the board is good enough. But surprise, the judges gave them all 9’s. Bethany’s costume is great, but I think the hairstyle is too ‘old’ for her age. Although a lot of people like her hairdo. But when Carrie Ann said that she’s like watching Nicole Scherzinger dance, well I think she is exaggerating. The only person that you can compare with Nicole Scherzinger is Jennifer Grey.

8. Mark Ballas and Sadie Robertson
The package they shown about the objection from Sadie’s grandmother, and how Mark is really tried to accommodate it because he respect Sadie, really made me very curious what kind of choreography Mark create for their Rumba, the dance of love. Well, all I can say is Mark is a genius. Sadie looks very beautiful like a white swan. They dance sooo good until I believe that Mark is willing to give everything just to keep her in his arm. The closing is very very smart and amazing, when they sat on the floor and Mark reach out for Sadie to be close to him. I think they deserve all 9’s.

9. Valentin Chmerkovskiy and Janel Parrish
First thing first, why did they pick one of the strong couple as a filler for ‘you are in jeopardy’ thing ? Second, that is the first time I saw Janel fall apart right after Tom Bergeron announced that they are also in jeopardy. She seems depressed and suddenly she lost her confidence while she performed. I don’t need to correlate those two things. All I can say is as usual the choreography is great, Val’s routine, fast and sexy. They still managed to do their routine well though. But I feel that this week she is not focus as usual dance. Maybe because of ‘the jeopardy’ thing. Pitbull said he didn’t feel the passion in the routine. I say they always dance passionately and this routine is for TV audience consumption, not in the night club, and I think they did it with passion.

My favorite routines from the couples
1. Cheryl Burke and Antonio Sabato Jr. – Salsa / Bailando – Enrique Iglesias ft. Gente de Zona, Descemer Bueno and Sean Paul
2. Witney Carson and Alfonso Ribeiro – Salsa / Booty – Jennifer Lopez ft. Pitbull
3. Mark Ballas and Sadie Robertson – Rumba / Diamonds – Rihanna

My favorite routine from the pros
Opening number from Pitbull and the pros with the song ‘Fireball’ and do not forget that the number is choreograph by the one and only – Mandy Moore

Reflection from week 6
1. I will rewrite what I wrote previously. Being a positive-thinking person is not as easy as it seems. Jonathan Bennett is the perfect example for that. I can feel his disappointment but he still can smile and it is ah-ma-zing. If I put myself on his position, I really don’t want to imagine how my facial expression will be, hit hard every week, getting all 8’s for jazz routine and being eliminated as a closure, in front of million people watching him from all over the world. He is a survivor. On the other hand, this situation makes me think that if he can do it, then we can do it too.
2. Being competitive is good to keep your spirit up. But sometimes it will become a burden that might block your mind to be free. This week Artem stated to Lea that Alfonso is her direct competitor. The result ? Lea seems under pressure and not perform as good as usual, because maybe her mind is focused about how to perform better than Alfonso. I agree with Carrie Ann that sometimes we have to forget about it and just do the best we can.
3. Without considering all the scenarios from the producers or studio, we have to admit that this show is a high-end show. It involves a lot of talented people. Let’s start from the pros, the troupe, the band, the host (which is a very important aspect of the show) until all the crew that handling lighting, make up, hairdo, costumes, equipment and so many things needed for this show. Including the producers, of course. It is amazing to see large group of people working together to deliver a live TV show where we can watch all the beautiful routines from different angles at home. This show really makes me more and more respect and appreciate the people in entertainment world.

Week 5 – Switch-Up Night (13.10.2014)

Introduction
At least the new producers really learned from the previous season. In season 18, they did the switch up on week 4 and the impression from all the fans is that is brutal (quoted from Julianne’s comment). This season they did the switch-up on week 5. The advantage is the celebrity partners probably already feel comfortable with the environment of this show and hopefully the switch-up won’t make them fall apart. The disadvantage of the switch-up, and this will happen every time the switch-up is there, that the pressure will be on the celebrity partners, how fast they can adapt to the new partner. The pros will have less pressure since they’ve already experience in teaching and partnering with new person.

Although this switch-up is hard for all the contestants, or maybe it’s a relief for some contestants or pros, it’s still interesting to watch the bonding and chemistry that supposed to be there in less than one week. And it feels kind of weird that this time seems the producers like to do more experiment by switching up between two couples. If I’m not mistaken, in the previous season 18, they only switch the Chmerkovskiy brothers. But this time they did it for Val and Artem, Mark and Derek. We will never know whether that’s the result from audience pick or they just decided to switch them up because it happened that they are all strong couple in the competition. Val and Artem are exotic kind of guys, while everybody knows Mark and Derek are best friends.

I have to admit it is interesting to watch Val and Artem, Mark and Derek switch-up. But on the other hand, it seems the producers put the spotlight on them and other contestants are not so important like these four couples. But in the end, everybody can speculate or have their own opinions. The final decision still in the producers’ hands.

I am amazed that some of the songs chosen by the producers are not even match for the related dance. And still the judges comment sometimes too harsh for the celeb, as if they don’t know that song choices is really the vital element in performing the routine well on stage.

We know that this is in the middle road, but I think they need to appreciate the efforts from everybody in the switch up situation. I totally agree with the comment I saw in one of the social media, that the producers supposed to choose guest judge who at least watch the show. Because we hear repeatedly from Jessie J as a guest judge that this is the first she sees him/her. The opposite of Kevin Hart though, while he gave a very generous 9 and 10, Jessie J even gave 5.

Guest judge for this week is Jessie J. She has great voice and entertaining. But as a guest judge, I’m not comfortable with the way she judging the couples. Especially when she mentioned a few times that this is the first time she saw this and that, and that she was not watching the show. As a guest judge, I don’t think it’s fair to score the contestant by watching them on the spot for the first time. You have to appreciate their growth from the first week. Maybe also a comprehensive briefing from the producers about the scoring system for guest judge ? Since she gave an awkward score for some couples.

There is no elimination this week. But the scores and the votes will be combined and they will do the elimination on the week after.

The routine perform by couple (alphabetically from the first name of the pros)

1. Allison Holker and Antonio Sabato Jr.
They are doing Bollywood this week. Allison has a lot of Bollywood experience especially in So You Think You Can Dance show where the type of dance is more various. Like she said, Bollywood is a very high-energy dance and needs high stamina. The only Bollywood number I’ve ever seen in DWTS is when Peta did this with Giles Marini. I still see Allison is automatic turn herself into a professional dancer once they are on stage. Because what I see in Jonathan is happening again with Antonio. All I can see is her, not Jonathan or Antonio. Compare if you see other female pros perform with their partner on stage, you can SEE the celeb partner and the presence of the female pros is just completing the whole package. It is understandable that Allison did not come from the ballroom background, but she needs to learn very fast how to put herself as a teacher and as a partner to the celeb, rather than turn into an autopilot mode being a dancer. Otherwise she will make Jonathan not stay long in the competition. In the case of Antonio, I believe she is able to choreograph better routine for Antonio. This number really did not suit for Antonio. They seem to dance separately. The part where Allison is standing above him and the part where Antonio fly with the rope, for me is not relevant with the Bollywood number. The total score of 28 maybe is appropriate for appreciate Antonio’s hardworking to perform such a very fast movement routine. The song choice is not suitable, didn’t help Allison or Antonio to perform better.

2. Cheryl Burke and Alfonso Ribeiro
What can I say. Amazing flamenco. Amazing partnership with Cheryl. They are great together. Cheryl’s costume is amazingly white. And the expectation for Alfonso is getting higher and higher every week. With a serious routine like this, still he proves that he can do it. I expect all 9’s though, but the scores, well I think the combination of 8 and 9 is quite fair.

3. Emma Slater and Tommy Chong
Here you go, Tommy. Judges complaint about the song but they didn’t pick the song, like Erin said. Emma really did great choreography, such an entertaining routine with a very slow beat music. Tommy Chong is great. He’s not nervous at all, he finished the routine well and Emma still can do some spinning with his help. For his age, he is fantastic though. I guess an average 7 will be good for him, considering the effort. Sometimes what is weird from the judges is they are contradictive. Like Jessie J expressed she like the routine, but she came up with 6. What I really love is when I saw Emma and Peta expressions as the pros when Julianne gave him 5. Sometimes the comment from the judges also is irrelevant. Julianne mentioned that Tommy look tired. Well, he is 76 and he’s been in rehearsal almost every day for more than a month. Of course he looked tired. I think the combination of 6 and 7 will be fair for Tommy.

4. Peta Murgatroyd and Jonathan Bennett
I feel that Peta really happy to get Jonathan for this week. She did well with Tommy, but Peta is a great dancer and choreographer. She is still young and energetic. Although only for a week, at least she is able to do something different for the choreography, especially when they are given Jitterbug as their routine. Fast like Jive, fast like Peta and cheerful like Jonathan. Very energetic number and as usual Peta’s choreography is amazing. Although I agree with the judges that Jonathan started very well at the beginning and I was kind of hope that he did well until the end of the routine, but he seems lost in the middle of the number and Peta almost slip out from his hand. The choreography is quite complex since it involved a lot of athletics movement.

I thought all 7’s will be appropriate, but the judges gave them all 6’s. The disappointment is obvious on Peta’s face. It’s not for her own sake, but it’s a traumatic experience for Peta because in the previous season, she got hit by the comment from the judges when she got Charlie White in the Switch-Up week, said that it’s not Rumba at all. Although they still get total score above 30, but that week lowered down Charlie’s rank from the leader board. And it happened again with Jonathan, who had already suffered from the previous week. This time is even worse. That is a mess in the scoring and it’s not easy for Peta since she has moral obligation to take Jonathan to get a better score, and it’s not easy for Jonathan to keep get slammed by the judges scores.

5. Witney Carson and Michael Waltrip
For once, at least Michael can dance a little bit. Although we still have to admit that he is not a natural mover. I think he is better than last week and he did not busy counting on his steps but he enjoy it. I don’t know why Carrie Ann comments about ‘when you can’t dance, make us laugh’. I did not see the intention like that. But we have to admit, it makes sense that Michael survived mostly because of the fans votes. If we are talking about the content and technique, week 5 is supposed to be great. But I still think Witney did a fantastic job with choreograph the routine for Michael with a simple disco movement but still you can see clearly that is a disco. Michael is another celebrity partner who keeps getting low scores and unsatisfied comment from the judges. And he realized that he’s not as good as other contestants, but his positiveness is amazing, same as Jonathan.

6. Artem Chigvintsev and Janel Parrish
They got Burlesque as their routine. First of all, when I heard the After Show DWTS from Afterbuzz TV, Jenna Johnson mentioned that Artem explain about Burlesques is usually a female dance. To choreograph Burlesque as a pair of male and female dance, it’s tough. Although after I saw them performed, that is a very sexy routine and in this season only Janel can do that routine. Again the song is not quite suitable with the routine like Julianne said about Burlesque concept (of course she knew because she is one of the dancers in the ‘Burlesque’ movie with Christina Aguilerra and Cher). And there is a moment when the flip and drop between Artem and Janel seems awkward, I don’t know why. But it seems that when we expect a dramatic closing, the flip and drop and spin is not getting there. I still don’t agree the judges especially Julianne and Carrie Ann (in her blog) comments that the routine is sexy and rauchy, but it’s not Burlesque. Let’s compare with what Artem said to Jenna and they are not the ones who pick the style and the song. It’s a hard comment though, but the scores is quite fair, the combination of 8 and 9.

7. Derek Hough and Sadie Robertson
Now that’s what I called a perfect partner for Derek. Look at her, so energetic and fresh. Likeable and always smile. And we can see the difference of the choreography that Derek made for Bethany and Sadie. Sadie execute the choreography very well. Getting all 9’s is just perfect for them. Nice costumes and simple stage but deliver a beautiful Charleston style. It is flawless.

8. Mark Ballas and Bethany Mota
While Sadie is comfortable dancing in high heels or flat shoes, Bethany definitely comfortable doing her routine in flat shoes. For the first time, she really did perform very comfortable and enjoying the routine. Hip hop style seems perfect for her although the choreography is quite simple if we compare with the real hip hop dance. So far all 8’s across the board is fair. Mark as usual, always create a unique choreography where he put Sadie and Derek as a cameo in the beginning and the end of the routine.

9. Valentin Chmerkovskiy and Lea Thompson
Broadway style with Val. Great concept and fun. Great setting, even Val, Assist by Henry, Sasha, Lindsay and Jenna have makeover as a group of old people. Although Lea seems hesitate in the middle of the routine because her legs seems all over the place, but when Val spin her and she do the solo for a few seconds, she came back and they close the number beautiful. It is a complex choreography, because there is a story involved in that routine. I guess 9’s across the board is the appropriate score for them, but it’s weird when Julianne and Jessie J gave her an 8.

My favorite routines from the couples
1. Cheryl Burke and Alfonso Ribeiro – Flamenco / Angelica – Hans Zimmer
2. Artem Chigvintsev and Janel Parrish – Burlesque / Mamma Knows Best – Jessie J
3. Derek Hough and Sadie Robertson – Charleston / Crazy Stupid Love – Cheryl Cole ft. Tinie Tempah
4. Mark Ballas and Bethany Mota – Hip Hop / She Came To Give It To You – Usher ft. Nicki Minaj
5. Valentin Chmerkovskiy and Lea Thompson – Broadway / You Can’t Stop The Beat – Hairspray

My favorite routine from the pros
Opening number with Jessie J singing medley of ‘Bang Bang’ and ‘Burning Up’

Reflection from week 5
1. Being fair is not easy. Like the judges, they judge something that is not apple-to-apple comparison. How can you judge someone as young as Sadie or Janel compare to Tommy or Betsey. Either the producers have a set of parameters other than technical ability or the judges need to be more careful when they score.
2. Perseverance, in this week very obvious I can see from Jonathan. His journey is like a roller coaster. And last week he had a bad score. This week he got quite harsh comment from the judges. I don’t know what’s happen behind the scene, but at least in front of camera he shown enthusiasm while Peta shown her disappointment.
3. Maintain your level of optimism and positiveness. Michael and Jonathan are the experts in those areas. They keep slammed by the judges’ comments and/or scores week after week. But they keep moving on, keep smiling in front of the camera, keep rehearse as hard as they can – do their best. Amazing !

Weekly Dance Chart (source : from Wikipedia)

I hope this chart will help the readers to remember the routine and also keep tracking who already eliminated and which couple who still move on to the next round. I will update this chart every week.

Week 1 – Premiere Show
1. Witney & Alfonso : Jive
2. Mark & Sadie : Cha cha
3. Derek & Bethany : Jive
4. Artem & Lea : Foxtrot
5. Karina & Randy : Foxtrot
6. Allison & Jonathan : Jive
7. Sharna & Tavis : Foxtrot
8. Val & Janel : Jive
9. Peta & Tommy : Cha cha
10. Cheryl & Antonio : Cha cha
11. Emma & Michael : Cha cha
12. Keo & Lolo : Cha cha
13. Tony & Betsey : Cha cha

Week 2 – My Jam Monday
1. Witney & Alfonso : Samba
2. Mark & Sadie : Jazz
3. Derek & Bethany : Foxtrot
4. Artem & Lea : Jive
5. Karina & Randy : Cha cha
6. Allison & Jonathan : Cha cha
7. Sharna & Tavis : Cha cha
8. Val & Janel : Foxtrot
9. Peta & Tommy : Salsa
10. Cheryl & Antonio : Rumba
11. Emma & Michael : Samba
12. Tony & Betsey : Foxtrot

Week 3 – Movie Night
1. Witney & Alfonso : Quickstep
2. Mark & Sadie : Viennese Waltz
3. Derek & Bethany : Jazz
4. Artem & Lea : Cha cha
5. Karina & Randy : Paso doble
6. Allison & Jonathan : Tango
7. Val & Janel : Jazz
8. Peta & Tommy : Argentine Tango
9. Cheryl & Antonio : Foxtrot
10. Emma & Michael : Waltz
11. Tony & Betsey : Contemporary

Week 4 – Most Memorable Year
1. Witney & Alfonso : Jazz
2. Mark & Sadie : Samba
3. Derek & Bethany : Rumba
4. Artem & Lea : Contemporary
5. Allison & Jonathan : Samba
6. Val & Janel : Rumba
7. Peta & Tommy : Jive
8. Cheryl & Antonio : Samba
9. Emma & Michael : Quickstep
10. Tony & Betsey : Jive

Week 5 – Switch-Up Night
1. Witney & Michael : Disco
2. Mark & Bethany : Hip Hop
3. Derek & Sadie : Charleston
4. Artem & Janel : Burlesque
5. Allison & Antonio : Bollywood
6. Val & Lea : Broadway
7. Peta & Jonathan : Jitterbug
8. Cheryl & Alfonso : Flamenco
9. Emma & Tommy : Mambo

Week 6 – The Sexiest Night
1. Witney & Alfonso : Salsa
2. Mark & Sadie : Rumba
3. Derek & Bethany : Tango
4. Artem & Lea : Salsa
5. Allison & Jonathan : Jazz
6. Val & Janel : Samba
7. Peta & Tommy : Foxtrot
8. Cheryl & Antonio : Salsa
9. Emma & Michael : Argentine Tango

Week 7 – Halloween Night
1. Witney & Alfonso : Rumba
2. Mark & Sadie : Paso Doble
3. Derek & Bethany : Paso Doble
4. Artem & Lea : Argentine Tango
5. Val & Janel : Viennese Waltz
6. Peta & Tommy : Quickstep
7. Cheryl & Antonio : Viennese Waltz
8. Emma & Michael : Jive

Group dance – Team Itsy Bitsy : Emma & Michael, Artem & Lea, Val & Janel, Derek & Bethany
Group dance – Team Creep Du Soleil : Cheryl & Antonio, Witney & Alfonso, Mark & Sadie, Peta & Tommy