INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 09 : Gamang

Mitra menulis saya di Inspirasi 30 Hari ini, yaitu mbak Judith, pernah menulis mengenai dampak positif yang dia peroleh setelah masuk dalam dunia per-twitter-an. Saya pun mengalami hal yang sama. Tapi intinya adalah kami berdua mungkin merupakan bagian kecil dari populasi manusia yang masih tercengang dengan segala keajaiban teknologi dalam era digital ini.
 
Tadi malam saat saya sedang menulis, saya menyadari dengan sesadar-sadarnya, bahwa peribahasa yang mengatakan ”Dunia tak selebar daun kelor” bisa dilihat dengan jelas disini. Bayangkan, era digital telah membawa kita untuk bisa melihat inovasi yang menakjubkan (mobil canggih, gadget yang super cool, rumah dengan konsep go-green yang eksklusif, mobil hybrid dan lain-lain). Kita juga terekspos pada kenyataan bahwa begitu mudahnya informasi didapat, lewat berbagai jejaring sosial ataupun media yang ada. Bahkan saat ini anak SD pun sudah piawai menggunakan komputer karena adanya tuntutan dalam pelajaran ilmu komputer dimana teknologi telah membantu dengan menyiapkan program yang sesuai dengan usia mereka agar lebih cepat mengenal komputer.
 
Itu semua adalah reaksi saya, yang sudah diberi karunia untuk cukup lama merasakan hidup di dunia ini. Sudah sempat menjalani hidup bersekolah, bekerja dan berkeluarga. Saya kagum, saya tercengang, saya bingung dengan pilihan yang ada, tapi saya masih bisa memilih yang mana yang saya perlukan.
 
Tapi pernahkah terpikir oleh kita apa yang dirasakan oleh anak remaja saat dihadapkan pada kondisi seperti itu ? Remaja yang sedang memasuki masa puber – dimana mereka sendiri masih merasa tidak nyaman dengan badannya karena hormon yang belum bekerja dengan optimal dan perkembangan tubuh menuju tubuh dewasa, eh … sekarang masih ditambah dengan segala gegap gempita pilihan yang ada di depan mata.
 
Apa sih yang mereka rasakan ? Barangkali analogi paling mudah adalah jika kita berdiri di tepi sebuah gedung yang tinggi, di atap yang paling atas dan kita melihat ke bawah. Apa yang kita rasakan ? GAMANG. PUSING. TAKUT JATUH. BADAN LEMAS.
 
Salah satu contoh sederhana adalah saat ini kalau kita bertanya kepada para remaja, ’Nanti kalau kamu kuliah, mau ambil jurusan apa?’ – mungkin tidak ada yang bisa menjawab dengan yakin. Bukan salah mereka, karena sedemikian banyaknya pilihan yang terbentang, sehingga jika tidak ada yang mendampingi, mereka tidak akan pernah tahu hidup mereka harus dibawa kemana. Kita lihat betapa banyak jurusan untuk sekolah yang merupakan pengembangan dari jurusan yang sudah ada. Contoh yang paling mudah adalah Animasi, yang saat ini menjadi salah satu jurusan favorit, padahal sebelumnya belum pernah ada disiplin ilmu khusus yang mendalami animasi.
 
Lalu apa yang kita harapkan dari para remaja, yang baru saja berada di dunia ini dalam hitungan belasan tahun ? Tanpa kita dampingi dan kita bekali, mereka akan merasa gamang menentukan pilihan untuk menuju ke masa depan. Tanpa kita temani, mereka akan selalu merasa takut pilihannya salah. Tanpa kita dukung penuh, mereka akan selalu uring-uringan karena merasa serba salah dengan pilihan yang dibuat. Karena itu janganlah heran kalau melihat ada mahasiswa/i yang tidak selesai-selesai kuliah, malah asyik berganti-ganti jurusan tanpa pernah tuntas menyelesaikannya. Atau malah banyak anak muda yang mencari gelar S-1 lewat program yang sesingkat-singkatnya sehingga di usia 22-23 tahun sudah bisa bekerja dengan embel-embel S-1 di belakang namanya.
 
Setelah menyadari fakta seperti itu, apakah yang hendak kita perbuat ? Mendampingi para remaja sampai mereka merasa mantap dengan pilihannya menuju masa depan, baik itu dalam bentuk memilih jurusan kuliah, memilih pekerjaan, memilih sekolah, memilih teman bergaul, dan lain-lain. Atau membiarkan mereka menemukan jalannya sendiri – dimana kita tidak bisa memastikan apakah mereka menemukan jalan yang baik atau jalan yang tidak baik.
 
Let’s do something …

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 08 : Hidup Kita Adalah Sekumpulan Pilihan …

Pernahkah kita merenungkan bahwa hidup kita saat ini merupakan hasil dari sekumpulan pilihan yang dibuat oleh orang tua, keluarga dan diri kita sendiri ?
 
Kita masih hidup sampai saat ini karena orang tua kita memilih untuk membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, bukan membuang kita ke pinggir jalan …
 
Kita bisa mengenyam pendidikan tinggi karena itu adalah pilihan orang tua kita yang ingin anaknya bisa belajar sebanyak-banyaknya agar menjadi orang yang sukses …
 
Kita memiliki pasangan hidup dan anak-anak, itu juga adalah pilihan yang kita buat, karena sebenarnya tersedia juga pilihan untuk hidup melajang …
 
Kita punya pekerjaan saat ini, adalah pilihan yang kita ambil, dimana tersedia kesempatan untuk berleha-leha dan menganggur …
 
Hidup tidak akan pernah putus menyodorkan pilihan pada kita, karena memang seharusnya diri kita yang menentukan kemana hidup ini akan dibawa.
 
Saya selalu mencoba menanamkan konsep berpikir ini kepada anak-anak saya, bahwa hidup adalah sekumpulan pilihan yang kita buat. Dalam hal yang paling sederhana pun, kita diberi kesempatan untuk memilih. Contoh sederhana adalah di hari pertama anak-anak kembali bersekolah setelah libur Lebaran yang cukup panjang, anak saya harus belajar untuk ulangan keesokan harinya, tetapi dia sangat lelah dan akhirnya dengan kesal dia mengatakan bahwa dia mengantuk. Saya mengingatkan bahwa dia punya pilihan : mengikuti rasa kantuk itu dan tidur, tetapi resikonya tidak belajar dan tidak siap menghadapi ulangan. Atau melawan rasa kantuk itu dengan membangkitkan keinginan untuk menyelesaikan belajar dengan cepat sehingga dia bisa cepat tidur.
 
Semakin usia kita bertambah, kita dikaruniai kemampuan untuk bisa menganalisa dan mengevaluasi pilihan yang ada dengan lebih mendalam, dibandingkan saat kita masih di usia sekolah (SD sampai dengan SMA). Misalnya saat kita akan bekerja, kita akan mempertimbangkan dengan hati-hati seluruh aspek yang ada sebelum memutuskan untuk mengambil sebuah pekerjaan. Atau saat kita memutuskan untuk menikah, pasti kita akan menimbang-nimbang apakah si dia memang pasangan hidup saya.
 
Kita mau menjadi orang yang berhasil atau orang yang gagal – menjadi pengusaha atau karyawan – menjadi orang tua yang baik atau yang cuek – menjadi teman yang baik atau yang jahat ; pilihan terakhir ada pada diri kita. Tidak perlu merasa sedih melihat pemuda yang segar bugar mengemis di pinggir jalan, karena menurut saya, dia punya pilihan untuk bisa berkarya di usia mudanya itu, tetapi dia lebih memilih untuk menjadi pengemis di pinggir jalan. Tapi jangan iri melihat seorang pemuda yang sudah menjadi milyuner di usia 20 tahun, karena saya yakin dia memilih untuk bekerja dan belajar lebih keras dari teman-temannya dimana usahanya itu membuahkan sebuah kesuksesan baginya.
 
Maka mulai sekarang, ingatlah bahwa kita punya pilihan. Jangan pernah mengasihani diri kita dengan berkata : ”Saya tidak punya pilihan”. Belajarlah untuk membuka mata hati kita untuk mengenali pilihan yang ada di depan mata. Pertimbangkan dengan matang dan pilihlah dengan bijak.
 
Karena hidup kita adalah sekumpulan pilihan yang kita buat !

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 07 : Practice Makes Perfect

Sehabis melakukan berbagai kegiatan rumah tangga, mengecek keadaan di sanggar, lalu pulang di sore hari dengan tujuan ingin beristirahat sejenak, tiba-tiba saya disambut kedua anak saya di depan pintu dengan kalimat-kalimat seperti : ‘Ibu, aku besok mesti bawa karton manila, nanti ke toko buku ya’ … ‘Ibu, tadi si A ngomongnya seenaknya, aku jadi kesel’ … ‘Ibu, aku punya masalah besar, aku ngga tahu tugas PKn mesti ngapain, anterin ke rumah temen dong’ … ‘Ibu, bantuin bikin PR matematika dong, susah banget, aku pengennya bikinnya dibantu Ibu’ … dan masih ada segudang permintaan lainnya.

Saya yakin sebagian pembaca sudah pernah berada dalam situasi seperti itu. Dalam keadaan badan penat, rasanya ingin menjerit ya. Karena belum sempat masuk rumah dan menaruh tas, tiba-tiba sudah disambut dengan setumpukan permintaan lainnya.

Bagaimana respon kita seharusnya ? Teori mengatakan bahwa kita harus sabar dan tidak emosi. Tradisi di masyarakat Timur juga mengatakan kita harus menjawab dengan sabar, tenang, tidak emosi. Dan faktanya adalah bahwa anak memang belum bisa dipaksa untuk mengerti bahwa kita lelah bekerja seharian. Mereka hanya ingin menunjukkan bahwa mereka masih memerlukan kita sebagai orang tuanya untuk mendukung mereka dalam segala hal. Dan seharusnya hal ini membuat kita bahagia karena berarti anak masih membutuhkan kita. Maka memang sudah menjadi tugas kita untuk bisa meladeni mereka dengan sabar walaupun badan kita terasa penat.

Saya mengakui menjadi sabar masih merupakan pembelajaran bagi saya. Saya masih lebih sering merasa terganggu daripada merasa bersyukur bahwa masih ada anak-anak yang menyambut saya pulang dengan segala ‘permasalahannya’. Bertahun-tahun saya mencoba belajar untuk sabar, berulang kali saya gagal dan mungkin hanya beberapa kali saya berhasil.

Tapi saya tahu bahwa saya tidak boleh putus asa untuk belajar bersabar menghadapi dan melayani anak-anak saya. Karena kesempatan untuk belajar bersabar selalu datang berulang kali setiap harinya.

Menulis tentang pembelajaran bersabar juga sekaligus mengingatkan diri saya untuk selalu terus berusaha dan belajar. Contoh kecil adalah suatu pagi di saat hendak berangkat sekolah, anak saya dengan bersemangat sibuk memberitahu tentang sebuah mangga yang baru jatuh dari pohon padahal dia sedang tergesa-gesa menuju mobil jemputan sekolah. Tapi saat saya ingin menegur dia untuk tidak terlalu meributkan buah yang jatuh, saya tiba-tiba tersentak mengingat satu kata yang sederhana : sabar.

Maka, jika ingin menjadi sabar, belajarlah untuk mempraktekkan hal tersebut kepada anak-anak, bukan kepada orang dewasa. Karena anak-anak adalah mahluk Tuhan yang paling jujur dalam mengekspresikan keadaan hatinya dan disitulah kesabaran kita dibutuhkan untuk menanggapi antusiasme mereka. Coba kita lihat bagaimana sabarnya orang tua kita menanggapi seluruh cerita dan permintaan kita dulu. Apakah mereka pernah berkeluh kesah tentang betapa lelahnya mereka bekerja sampai larut malam agar anaknya bisa tetap bersekolah dan makan dengan layak ?

Saya rasa para orang tua kita sudah menjadi ‘role model’ untuk sebuah bentuk kesabaran. Dan kini saatnya bagi kita, yang sedang menjalani peran menjadi orang tua, untuk belajar bersabar dalam mendampingi anak-anak kita.

Berlatih dan terus berlatih untuk bersabar. Mungkin sampai kita mati, kita tidak akan pernah berhasil menjadi orang yang bisa bersabar 100% dalam melayani anak-anak kita, tapi setidaknya kita telah menggunakan semua kesempatan yang telah diberikan oleh Tuhan untuk berlatih bersabar. Practice makes perfect …

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 06 : Konvensional

Bulan Mei yang lalu, ayah saya jatuh terserempet motor dan tidak bisa jalan. Hasil rontgen menunjukkan patah tulang panggul. Jalan keluar satu-satunya adalah operasi untuk pemasangan pen. Karena kami ragu, maka malam itu saya mencari informasi tentang dokter orthopedi yang punya reputasi bagus untuk penanganan patah tulang. Tiba-tiba suami saya teringat kepada seorang dokter orthopedi yang beberapa kali menangani kasus yang berhubungan dengan kerusakan tulang karena kelalaian kerja.

Keesokan harinya saya berangkat dengan membawa hasil rontgen menemui dokter tersebut. Ketegangan saya usai saat dokter berkata : ‘kalau melihat usia bapak, saya tidak menyarankan operasi, tapi saya menyarankan metode konvensional saja’. Rasanya saat itu saya ingin melompat-lompat di hadapan sang dokter. Senangnya bukan main. Akhirnya ayah saya tidak perlu dioperasi, saat ini sedang menjalani fisioterapi dalam proses penyembuhan.

Kalau kita mendengar kata KONVENSIONAL, yang terbayang di benak kita adalah sesuatu yang oldies, lama, ketinggalan jaman, cenderung kolot dan kaku, tidak menarik, dan berbagai macam konotasi yang kurang ‘fun’.

Padahal segala sesuatu yang ada di dunia saat ini berasal dari sesuatu yang konvensional dan berakhir menjadi sesuatu yang konvensional. Dahulu orang hidup secara konvensional dalam gua, dan hasilnya saat ini manusia bisa membuat rumah untuk menggantikan gua. Betapapun hebatnya teknologi yang dimiliki oleh seseorang, pada saat dia mati, dia tidak membawa apa-apa. Pilihannya adalah dimakamkan atau dikremasi yang semuanya adalah metode konvensional.

Saya ingin mengajak pembaca untuk bisa memandang segala sesuatu yang konvensional dari sudut pandang yang sedikit berbeda.

Kalau kita mendengar orang tua berkata : anak bayi kalau belum berumur 40 hari jangan dibawa keluar rumah, kalau menggunting kuku jangan di malam hari, … reaksi pertama adalah tertawa. Karena alasan dari semua larangan itu biasanya hanya satu kata : Pamali, sebuah kata yang sulit didefinisikan dengan jelas. Sementara saat ini kita hidup dalam dunia teknologi yang semuanya bisa dijelaskan dengan logika.

Lalu apakah itu berarti generasi tua adalah generasi yang superstitious ? Yang percaya takhayul ? Tentu saja tidak, karena di jamannya, mereka belum mampu menjelaskan alasan logis dibalik semua larangan itu. Padahal kalau kita renungkan lagi, semuanya beralasan logis koq. Anak bayi kalau belum berumur 40 hari jangan dibawa keluar rumah, alasannya karena badannya masih rentan terhadap bibit penyakit dan kuman yang bertebaran di tempat umum. Kalau menggunting kuku jangan di malam hari, alasannya karena penerangan yang kurang, bisa membuat kita tidak hati-hati sehingga bisa menimbulkan luka.

Jadi mulai sekarang, jika kita melihat sesuatu yang konvensional, coba renungkan sejenak. Contohnya : saat usia bertambah maka stamina akan menurun, untuk mencegah penyakit, kita dianjurkan memakai cara konvensional yaitu berolahraga, yang harus dilakukan oleh kita dan bukan oleh gadget kita. Saat seorang ibu mau melahirkan, metode apapun yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit, sang bayi tetap harus keluar lewat jalan lahir yang konvensional (kecuali untuk kasus operasi). Saat kita terluka, walaupun diberi obat yang paling mujarab sekalipun, tetap diperlukan metode konvensional yaitu mengistirahatkan diri agar tubuh bisa memperbaiki jaringan yang rusak, karena obat hanya membantu mempercepat proses regenerasi jaringan. Metode konvensional juga terbukti telah membuat ayah saya menjadi lebih baik dan tidak perlu dioperasi.

Maka, sesuatu yang konvensional belum tentu sebuah metode atau benda yang perlu dibuang dan dilenyapkan. Sebab dari sanalah segala sesuatu berawal. Seluruh wejangan dan kata-kata yang diucapkan oleh orang tua, buku-buku yang ditulis oleh para sastrawan di jaman dahulu, jurnal science yang ditulis oleh para ilmuwan jaman baheula atau film-film konvensional ala Charlie Chaplin, semuanya memiliki nilai yang sangat tinggi. Karena dari situlah manusia bisa menggali dan mengeksplorasi seluruh kemungkinan untuk bisa berbuat lebih baik.

Dari wejangan orang tua, maka kini kita bisa menemukan berbagai macam perlengkapan bayi dalam bentuk yang lucu dan mudah dibawa. Dari para sastrawan jaman dahulu, kini kita bisa melihat variasi berbagai bentuk tulisan di berbagai media yang lebih menarik kita untuk mau membaca. Dari jurnal science berabad-abad yang lalu, bisa ditemukan berbagai macam dalil ataupun penemuan-penemuan yang menakjubkan. Dari film bisu ala Charlie Chaplin, kini kita bisa menikmati film dengan efek visual yang dahsyat.

Maka mulai sekarang, marilah kita melihat sesuatu yang konvensional sebagai sesuatu yang memiliki nilai warisan yang tinggi, awal dari diri kita saat ini. Sudah selayaknya kita menjaganya agar tidak punah, tetapi tetap ada sebagai pengingat bagi kita darimana kita berasal.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 05 : Sex Education – Tabu atau Perlu ?

Beberapa tahun yang lalu saya bekerjasama dengan beberapa teman yang tergabung dalam sebuah lembaga yang bergerak di bidang penyuluhan HIV/AiDS, menyelenggarakan sebuah kegiatan penyuluhan untuk para remaja yang berada di lingkungan sekitar saya. Pesertanya lumayan, sekitar 25 remaja. Secara umum, bisa dikatakan penyuluhan berlangsung dengan baik dan sambutan para remaja juga cukup baik.

Setelah itu selama bertahun-tahun saya mencoba ‘menjual’ ide ini kepada beberapa teman, dengan menawarkan membuatkan penyuluhan dimana didalamnya terselip materi Sex Education untuk remaja. Tetapi sayangnya tidak ada respon yang hangat.

Kembali saya mencoba mengevaluasi diri. Apakah saya yang salah membidik ‘target audience’ ? Ataukah memang kesadaran masyarakat tentang penyebaran virus ini yang berawal dari pergaulan bebas masih sangat kurang ?

Saya sangat prihatin dengan kondisi saat ini, dimana anak remaja kita semakin mudah ter-ekspos dalam pergaulan bebas di dunia yang sangat cepat berputar dengan segala kemajuan pikiran, pandangan dan teknologinya. Dan kalau kita menyimak laporan tahunan dari WHO, betapa mengkhawatirkan tingkat pertumbuhan penderita HIV/AiDS terutama di benua Asia. Mungkin karena data yang tidak terlalu banyak diberitakan, seolah di area Jabodetabek tidak ada ancaman dari penyakit ini. Padahal angka pengidapnya cukup tinggi.

Sudah lama saya memiliki keinginan, entah bagaimana caranya, untuk bisa bekerjasama dengan para dokter, psikolog dan lembaga yang punya kepedulian tinggi terhadap remaja, HIV/AiDS dan sejenisnya untuk melakukan penyuluhan berupa Sex Education kepada para remaja. Yang saya maksud disini bukan seperti pelajaran biologi di sekolah yang menjelaskan mengenai organ reproduksi manusia, tetapi penjelasan dengan lebih sederhana namun gamblang mengenai apa yang terjadi jika dilakukan hubungan seksual, bagaimana dan kapan pria dan wanita matang sehingga siap untuk memiliki anak, konsekuensi apa yang ada jika terjadi pergaulan bebas atau sampai menyebabkan kehamilan diluar nikah. Tentunya dikemas dengan baik sehingga tidak menjadi hal yang menakutkan remaja atau malah memicu keingintahuan remaja untuk mencobanya.

Beberapa bulan yang lalu saya mendengar sebuah talk show di radio yang mengatakan bahwa di tahun 2013 (kalau saya tidak salah mengingat) sudah dicanangkan bahwa di DKI Jakarta diharapkan para remaja sudah diberikan penyuluhan dan mengerti tentang HIV/AiDS. Bukankah program seperti itu sangat bagus ?

Sebenarnya kalau kita lihat kembali, barangkali keengganan orang untuk mengadakan penyuluhan atau Sex Education ini berdasarkan pemikiran bahwa hal tersebut masih merupakan hal yang sensitif dan tabu bagi sebagian orang. Dan saya juga khawatir masih banyak orang tua yang justru takut kalau anak remajanya diikutkan penyuluhan seperti ini dimana didalamnya pasti terselip materi tentang Sex Education, karena pola pikirnya adalah ‘wah, nanti anak saya malah penasaran ingin mencoba-coba …’

Kalau kita tetap bertahan dengan pola pikir seperti itu, mau jadi apa generasi muda kita nanti ? Sementara di sekeliling kita berita tentang bayi yang dibuang, remaja hamil di luar nikah, semakin banyak.

Melindungi anak remaja kita bukan dengan cara menutupi mata dan telinga mereka dari apa yang terjadi di sekeliling kita. Justru dengan melihat dan mendengar, kita bisa membantu menjelaskan kepada mereka mengapa hal itu jangan sampai terjadi pada diri mereka.

Menurut saya, ada dua hal penting yang sangat mendasar yang perlu dimiliki oleh seorang anak remaja agar dirinya tidak sampai jatuh ke dalam pergaulan bebas.

Satu, iman yang kuat. Dalam setiap agama, saya yakin seluruh pengajarannya adalah baik. Dan tempat untuk menumbuhkan keimanan yang kuat adalah dalam keluarga, komunitas yang terkecil dan paling dekat dengan sang remaja. Binalah iman anak-anak kita sedari kecil sehingga mereka terlatih mata batinnya untuk bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik.

Dua, pengetahuan yang memadai lewat Sex Education yang bisa disampaikan dalam berbagai cara dan bentuk. Dalam bentuk percakapan antara orang tua dan anak. Berbagai macam buku untuk membantu orang tua menjelaskan beberapa hal mendasar tentang Sex Education sudah bisa dijumpai di toko buku besar. Mengikuti kegiatan penyuluhan yang ditujukan untuk remaja. Atau bahkan kita sebagai orang tua rajin mengikuti seminar parenting sehingga kita mengetahui bagaimana cara menjelaskan kepada anak remaja kita mengenai haid pertama, kesuburan pada wanita dan lain-lain. Atau menggunakan handphone, blackberry, iPhone kita untuk ‘follow’ di twitter, facebook atau blog yang mengkhususkan diri pada ketrampilan parenting dimana biasanya dijelaskan mengenai hal-hal tersebut.

Maka, teman-teman yang mungkin sudah lama berkecimpung dalam dunia remaja dan penyuluhan, yuk, kita bekerjasama membekali generasi muda kita lewat penyuluhan yang komprehensif tentang Sex Education bagi remaja.

Bagi para orang tua, yuk, jangan malas untuk banyak membaca buku, ‘follow’ akun di twitter, facebook atau blog yang membahas mengenai remaja atau sesekali mengikuti seminar parenting. Rekan saya dalam project menulis ini adalah seorang ibu muda yang sangat antusias dalam mengikuti seminar parenting. Jika anda tertarik untuk mengetahui dimanakah sedang ada seminar parenting, bisa contact saya di akun twitter @r_pranoto (Rossy) atau rekan saya di akun twitter @LetsShareABook (Judith).

Ayo, kita bantu dampingi anak remaja kita agar lebih siap menghadapi dunia pergaulan antara pria dan wanita.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 04 : Gadget dan Teknologi Dalam Kehidupan

Dua tahun yang lalu saya pernah mendengar keluhan dari seorang ibu yang baru saja membelikan anaknya sebuah handphone dengan fitur yang hebat. Sang ibu mengeluh kepada teman saya bahwa sekarang anaknya selalu mengurung diri di kamar setiap pulang sekolah dan komunikasi dengan orang tua hampir tidak ada. Sang ibu bertanya kepada teman saya, apa yang harus dia perbuat. Dan teman saya bertanya pada saya, apa yang harus diperbuat sang ibu.

Kalau teman-teman ada di posisi saya, apakah jawaban yang akan diberikan ? Kelihatannya mudah tetapi ternyata sulit dijawab. Tetapi menurut saya, akar dari segala keruwetan tersebut adalah kita sebagai orang tua.

Teknologi saat ini sudah maju. Lihatlah berbagai macam gadget*) yang ada, dengan harga terjangkau dan fitur yang luar biasa, bisa menjamah seluruh dunia lewat Twitter, Facebook, email, koneksi internet, mengirim foto ke seluruh dunia dan lain-lain. Bahkan kita nyaris tidak dapat mengejar kemajuan teknologi.

Tetapi kekaguman terhadap teknologi perlu diimbangi juga dengan kewaspadaan akan begitu mudahnya terjadi ‘cyber crime’ atau kejahatan di dunia maya. Sudah banyak berita yang kita dengar tentang perempuan yang berkenalan di facebook dengan seorang pemuda kemudian mencoba bertemu lalu ternyata terjadi pemerkosaan. Atau malah ternyata anak-anak kecil banyak yang menjadi korban para phaedophylia. Belum lagi kehebatan dunia internet, dimana kita bisa menemukan segala yang kita inginkan, mulai dari cuplikan khotbah berbagai agama sampai dengan berbagai hal yang menjurus ke pornografi.

Anak-anak adalah kelompok yang paling cepat belajar segala sesuatu yang baru, termasuk teknologi. Saya bisa memberikan sebuah handphone kepada anak saya yang berusia 12 tahun tanpa memberi informasi apapun. Dan keesokan harinya dia sudah bisa menggunakan handphone itu dengan lancar bahkan sudah mengunduh lagu-lagu dari internet. Bahkan anak saya yang berusia 9 tahun sudah bisa mengajarkan orangtuanya tentang beberapa shortcut yang bisa dilakukan di handphone kami hanya dari keisengannya bermain-main dengan handphone kami saat kami sedang bersantai di malam hari.

Nah, apakah kita ingin menjadi orang tua yang berada di luar lingkaran dan melihat anak kita tanpa bisa berbuat apapun ? Atau kita mau masuk ke dalam lingkaran bersama mereka dan belajar bersama mereka agar kita tetap dapat mendampingi sampai suatu saat mereka sudah cukup matang untuk bisa berkelana dengan teknologi yang ada ?

Di awal tulisan saya sudah menyebutkan bahwa akar dari segala keruwetan ini adalah kita sebagai orang tua. Mengapa ?

Fakta #1 : Saya yakin banyak orang tua yang bersikap bahwa karena faktor usia kelihatannya orang tua sudah tidak mungkin belajar suatu hal yang baru. Siapa yang bilang begitu ? Belajar tidak pernah mengenal usia. Apalagi kalau kita belajar demi anak. Kalau kita rela sakit atau mati demi anak, masakan kita tidak mau rela bersusah sedikit belajar sesuatu yang baru agar kita bisa mendampingi anak kita ? Apalagi semakin usia kita bertambah, semakin tinggi kebutuhan kita untuk terus melatih otak kita untuk aktif berpikir, agar kita tidak mengalami penurunan fisik lebih cepat seperti pikun dan lain-lain.

Fakta #2 : Saya banyak menemui keluarga yang semuanya memegang handphone/gadget*). Bahkan saya pernah melihat anak umur 6 tahun sudah memiliki handphone sendiri. Tapi sayangnya, saya melihat juga masih banyak orang tua yang hanya membelikan handphone/gadget*) tanpa mendampingi sang anak, malah sibuk sendiri dengan handphonenya untuk meng-update status di twitter ataupun facebook. Jadi ini adalah tipe orang tua yang bersemangat belajar tetapi untuk kepentingan diri sendiri.

Fakta #3 : Ada juga orang tua yang benar-benar berjuang untuk bisa membelikan gadget*) yang bagus untuk anaknya, walaupun dirinya sendiri hanya menggunakan handphone yang sederhana. Motivasinya tidak diketahui dan saya melihat mereka memiliki cara berpikir bahwa anaknya sudah bisa dipercaya sehingga mereka merasa tidak perlu lagi memonitor dan belajar teknologi agar bisa mendampingi anak.

Sebagai orang tua, apakah kita punya keberanian untuk mengakui bahwa kita adalah salah satu diantara mereka ? Saya mengacungkan dua jempol dan angkat topi setinggi-tingginya, bagi para orang tua yang sudah melakukan pendampingan bagi anak-anaknya untuk penggunaan gadget*) yang diberikan kepada mereka.

Tapi saya sangat menghimbau agar para orang tua yang belum melakukan hal tersebut, untuk bisa merenungkan betapa pentingnya pendampingan bagi anak dalam berkelana di dunia maya dengan teknologi canggih seperti saat ini.

Melihat kondisi tersebut, saya memiliki keinginan untuk bisa membangkitkan semangat para orang tua terutama para ibu untuk mau belajar mengenali teknologi. Misalnya di arisan ibu-ibu tingkat gang/RT, daripada berkumpul untuk bergossip, bukankah lebih baik diisi dengan bersama-sama belajar sesuatu tentang teknologi saat ini. Selain bermanfaat untuk diri kita sendiri, yang pasti akan bermanfaat untuk pendampingan anak.

Malahan saya sempat berpikir, apakah ada keharusan anak SD sudah memiliki handphone ? Apakah kita tidak bisa menundanya sampai mereka duduk di bangku SMP setidaknya, agar mereka lebih bijak ? Atau kita terlalu takut anak kita akan minder jika tidak punya handphone.

Yang perlu diingat adalah handphone/gadget diciptakan dan dibuat dengan tujuan utama adalah membantu manusia untuk lebih cepat berkomunikasi dengan orang lain dan lebih cepat mengakses informasi yang dibutuhkan lewat koneksi internet. Tujuan utamanya bukan untuk gengsi atau menaikkan harga diri.

Saya selalu yakin bahwa hidup kita ditentukan oleh pilihan yang kita buat. Jadi, semuanya tergantung pada kita sebagai orang tua, yang diharapkan bisa lebih bijak dibandingkan anak-anak kita. Anak-anak adalah tetap anak-anak, yang di usia mudanya masih perlu bimbingan dan pendampingan orang tua dalam segala hal. Kini semuanya tergantung kita sebagai orang tuanya, mau mengorbankan waktu kita untuk belajar dan mendampingi anak kita dalam penggunaan teknologi di dunia maya sampai mereka cukup matang untuk bisa melakukannya seorang diri ? Atau hanya menjadi orang tua yang sanggup membelikan teknologi tersebut dan tidak mau pusing memikirkan efek negatif tidak adanya pendampingan bagi anak-anaknya.

The choice is yours …

Gadget*) : Menurut Wikipedia, Gadget adalah istilah bahasa Inggris untuk merujuk pada suatu peranti/instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis spesifik yang berguna yang umumnya diberikan terhadap sesuatu yang baru. Gadget dalam pengertian umum dianggap sebagai suatu perangkat elektronik yang memiliki fungsi khusus pada setiap perangkatnya. Contohnya: komputer, handphone, game konsole, dan lainnya.
Disadur dari B’Borneo Blog

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 03 : Tarian Nusantara – Benda Apakah Itu ???

Untuk teman-teman yang mengikuti tulisan saya di Inspirasi 30 Hari, jika melihat kepada tulisan di Day 01, maka saya sempat menyebutkan bahwa project ini merupakan mimpi kecil dari 2 orang praktisi HR yang sudah memutuskan untuk mencurahkan konsentrasi kepada keluarga. Saya dan mbak Judith sudah memulai project ini di blog kami masing-masing. Dan kalau teman-teman membaca di tulisan mbak Judith di Day 01 (www.myshareabook.wordpress.com) dapat dibaca bahwa mbak Judith menceritakan sedikit tentang saya yang memiliki sanggar tari.

Fakta tersebut ada benarnya, tapi sebenarnya saya memiliki sebuah sanggar dimana didalamnya tersedia beberapa macam kegiatan dalam bentuk kursus dengan tujuan agar anak bisa mendapatkan wadah untuk menyalurkan bakatnya. Sebenarnya saya tidak mau terlalu banyak bicara tentang sanggar saya, tetapi kata-kata ‘sanggar tari’ mengusik hati saya untuk menulis sesuatu yang sudah lama saya ingin ungkapkan.

Memang saat ini ada kelas tari yang dibuka, yaitu Ballet, dimana saya bekerjasama dengan sebuah sekolah ballet di Jakarta. Tapi kita tahu bahwa Ballet bukanlah tarian asli Indonesia. Dan saya adalah orang Indonesia, yang mencintai tarian Nusantara dan sangat kagum dengan kekayaan yang terkandung dalam tarian-tarian tersebut.

Karena itulah sejak sanggar saya mulai beroperasi, sekitar tahun 2007 saya mulai mencoba mendekati sanggar tari A yang cukup punya nama dalam dunia tarian Nusantara. Prosesnya tidak perlu saya ceritakan dengan detil, tapi intinya selama kurang lebih 2 tahun saya mencoba mengejar dan memohon agar mereka mau bekerjasama dengan saya sehingga saya bisa membuka sanggar tari Nusantara di daerah tempat saya tinggal. Namun yang saya dapat hanyalah alasan demi alasan tanpa adanya kejelasan. Akhirnya saya memutuskan untuk ‘give up’ dan mencoba mencari sanggar lain.

Setahun kemudian, saya mendapat info dari teman saya bahwa ada sebuah sanggar lagi yaitu sanggar tari B yang secara jarak memang lebih dekat tempatnya dengan saya, sudah memiliki pengalaman banyak dalam kurikulum tari Nusantara, punya pengalaman banyak ikut dalam misi kebudayaan Indonesia ke luar negeri dan lain-lain. Karena rekomendasi yang sangat bagus, akhirnya saya coba hubungi dan responnya sangat bagus, bahkan dalam waktu singkat saya sudah berkunjung ke sanggarnya, pemilik sanggar pun sudah berkunjung ke tempat saya. Saya sangat menggantungkan harapan saya dengan prospek yang terlihat cerah ini.

Namun yang saya alami ternyata kurang lebih sama. Sudah 2 tahun juga saya belum bisa mendapatkan kepastian. Terakhir saya mendapatkan informasi dari pemilik sanggar mengenai biaya kursus jika mereka mengirim guru tari ke sanggar saya. Setelah saya hitung, wow, harganya terlalu tinggi untuk dibuka di daerah tempat saya tinggal.

Saya kemudian mencoba menata kembali pikiran saya dan mencoba mengevaluasi diri dan melakukan refleksi apakah ada sesuau yang kurang yang saya lakukan sehingga saya sulit sekali mencari mitra kerja dalam hal tarian Nusantara.

Pertama, saya memiliki keinginan yang tulus setulus-tulusnya dalam membuka kelas tari Nusantara ini karena sangat besar keinginan saya untuk bisa melihat anak-anak saat ini mencintai tari Nusantara yang benar dan sesuai dengan pakemnya, bukan hanya tarian yang terlihat “Nusantara” yang digunakan dalam acara-acara sekolah. Saya sudah melihat bahkan mengalami sendiri betapa positif dampak dari berlatih tarian Nusantara. Walaupun cuma sebentar, saya pernah belajar tari sewaktu saya masih kecil dan saya merasakan sendiri bagaimana kita ditempa dengan kedisiplinan dalam melatih kaki agar kuda-kuda kuat, dengan mengenakan kain yang diikat stagen. Sang anak juga akan diajarkan untuk bisa melatih motorik halusnya dengan cara melatih otak untuk mengkoordinasikan antara gerakan badan dengan musik yang didengar oleh kita. Hebat bukan ? Dan yang pasti, setiap habis berlatih tari, keringat pasti bercucuran, sama dengan kalau kita habis berolahraga. Jadi saya melihat tarian Nusantara sebagai sebuah budaya yang harus kita pelihara tetapi bisa digunakan sebagai sarana untuk melatih kedisiplinan, kemandirian, juga untuk melatih motorik halus dan yang pasti bisa membantu menenangkan jiwa dengan mengikuti alur tarian.

Kedua, saya tidak bermaksud merendahkan tarian Nusantara dengan mengatakan bahwa biaya kursus seharusnya murah meriah, tapi dengan segala teknologi dan globalisasi saat ini, orang tua mesti kita buat untuk tertarik dan mau mendorong anak-anaknya cinta tarian Nusantara dengan menyediakan kelas yang memiliki biaya kursus yang ‘terjangkau’.

Ketiga, mengapa sulit sekali mengajak teman-teman yang notabene sudah menjadi penari profesional, untuk mau mengembangkan kecintaan anak-anak terhadap tarian Nusantara ? Sebagai perbandingan, saya hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk bisa mendapatkan approval bekerjasama dengan sekolah ballet di Jakarta.

Nah, dari perenungan pribadi saya, ada pertanyaan besar saat ini :

1. Dengan keadaan dimana saat ini anak-anak Indonesia tidak hafal Pancasila atau lagu kebangsaan Indonesia Raya, lalu apakah kita mau membiarkan mereka tumbuh menjadi generasi muda yang tidak punya semangat nasionalisme ?

2. Apakah memang lebih penting menjalankan dan mengenalkan misi kebudayaan Indonesia kepada negara lain dibanding mengembangkan kecintaan anak-anak kita sendiri terhadap tarian Nusantara ?

3. Apakah kita tidak malu jika membaca berita bahwa banyak orang asing yang tertarik untuk belajar menari tarian Nusantara, tetapi kita sulit sekali mendapatkan berita mengenai bagaimana antusiasnya anak-anak Indonesia mempelajari tarian Nusantara ?

Rasanya tidak tepat kalau saya yang mendatangi sanggar-sanggar tari Nusantara kemudian saya yang mempresentasikan betapa pentingnya menumbuhkan kecintaan terhadap tari Nusantara bagi anak-anak Indonesia. Justru mereka yang seharusnya lebih tahu dan lebih menyadari hal tersebut karena mereka yang sudah lebih lama terjun langsung ke dunia tari.

Saya bukan penari profesional, tapi saya punya kecintaan yang mendalam terhadap tari Nusantara dan saya punya keinginan yang sangat besar untuk bisa menumbuhkan kecintaan anak-anak Indonesia terhadap tarian kita sendiri.

Jadi saya berharap diantara teman-teman yang membaca tulisan ini, siapa tahu ada yang tergerak hatinya untuk mau membantu saya. Kita harus mengakui dengan segala kerendahan hati, bahwa tari Nusantara masih kalah populer dengan tarian dari negara-negara lain. Berarti secara prinsip marketing sederhana (saya bukan orang marketing lho …) seharusnya dimulai dengan sesuatu yang menarik dan ‘terjangkau’. Dengan segala permasalahan ekonomi yang ada saat ini, mana ada orang tua yang mau mengalokasikan uangnya untuk membiayai anaknya kursus tari Nusantara kalau biayanya saja sama dengan biaya kursus tarian dari negara lain. Karena kita harus menerima kenyataan bahwa promosi untuk tarian Nusantara masih sangat amat kurang. Saya yakin mereka akan lebih senang mengalokasikan dana tersebut untuk hal lainnya.

Saya sangat berharap saya bisa membangkitkan semangat dalam diri teman-teman yang mungkin sebagian besar sudah berkeluarga, untuk kembali melihat dan merenungkan, betapa kita perlu berbuat sesuatu untuk bisa mencetak generasi muda Indonesia yang memiliki semangat ‘cinta budaya Indonesia’ ketimbang semangat ‘cinta budaya orang lain’. Let’s do something, let’s make a change …

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 02 : Nonton Batman = Menjadi Orang Jahat ; Benarkah ???

Semalam saya menyempatkan diri untuk nonton sebuah film di bioskop, film yang menjadi kontroversial, karena selain menjadi box office, pada pemutaran perdananya telah menimbulkan peristiwa yang mengerikan di Colorado dimana seorang pemuda mengidentifikasikan dirinya sebagai The Joker, musuh Batman yang kejam dan sadis, dan melakukan penembakan brutal yang mengakibatkan banyak orang tewas dan terluka yang saat itu sudah ada di dalam studio untuk menonton.

Saya sangat berduka mendengar kabar tersebut, namun hal tersebut tidak membuat saya urung menonton, karena memang saya termasuk penonton setia film-film Batman. Dan saya semakin penasaran sebab bermunculan analisa mengapa film Batman bisa menginspirasi orang untuk berbuat hal yang menakutkan.

Selama 2.5 jam saya mencoba menikmati film tersebut dengan memperhatikan plot/jalan ceritanya. Saya memperhatikan bahwa memang tindakan sadis dan kejam banyak terlihat di sepanjang film, tapi menurut saya hal itu bukanlah sebuah propaganda kejahatan, melainkan sebuah cara kreatif dari sutradara untuk menunjukkan betapa dibutuhkannya Batman di Gotham City.

Apakah karena saya penggemar film Batman, lalu saya tergerak untuk bisa menjadi Batman ? Atau menjadi pencuri ulung berwajah cantik seperti Catwoman ? Atau menjadi wanita cantik tapi sadis seperti Miranda Tate ?

Saya senang menonton film-film Hollywood, bahkan saya juga penggemar setia Harry Potter dan The Twilight Saga. Tapi apakah kemudian saya bercita-cita ingin seperti vampire yang bisa meminum darah orang sampai orang tersebut mati ? Apakah saya kemudian meniadakan Tuhan karena menurut saya menjadi penyihir atau menjadi vampire atau menjadi Batman jauh lebih ‘cool’ ?

Mengapa saya mempertanyakan hal tersebut ? Karena saya suka mendengar atau membaca ulasan yang suka menghubungkan film-film fantasi seperti itu dengan sesuatu yang religius ataupun sebuah tindak kriminal.

Menurut saya, semuanya tergantung pada mindset kita saat akan menonton. Dalam hidup ini kita selalu punya pilihan. Dan saat kita ingin menonton film-film yang berimajinasi tinggi seperti itu, kita punya pilihan yaitu : nonton dengan mindset bahwa saya ingin menikmati imajinasi dan kreatifitas yang menakjubkan dari para sineas atau nonton dengan mindset bahwa saya ingin mencari kekurangan atau kesalahan dari film tersebut. Kalau saya pribadi, saya lebih memilih pilihan nomor 1. Sayang dong, kita sudah beli tiket hanya untuk memikirkan kira-kira saya mau mencela film tersebut bagaimana.

Coba kita lihat bersama, apakah ada pahlawan seperti Batman saat ini dengan baju besinya dan kendaraannya yang hebat ? Ya tidak ada, wong itu kan imajinasi yang dituangkan dalam bentuk komik pada awalnya. Apakah saat ini ada sekolah yang khusus berisi penyihir atau ada keluarga vampire yang diam di tengah-tengah kita ? Walaupun saya penggemar Batman/Harry Potter/Twilight Saga, tapi kalau suatu hari saya berjumpa dengan seorang laki-laki berkostum Batman di malam hari atau bertemu anak kecil yang bisa menyihir atau bertemu keluarga vampire menjadi tetangga saya, saya juga pasti akan takut.

Tapi saat kita melihat film-film tersebut, jangan mencoba menganalisa dengan logika. Ikuti dan nikmati saja filmnya dengan berlandaskan pada pemikiran bahwa semuanya hanyalah fantasi dan imajinasi dari sang penulis cerita.

Tapi mengapa ada orang-orang yang bisa begitu terobsesi dengan film-film Hollywood bahkan berani melakukan hal-hal yang mengerikan karena mereka mengidentifikasi dirinya dengan salah satu karakter yang ada ?

Yuk, kita coba gabungkan semuanya. Dalam era globalisasi saat ini, di saat kita menerima hal-hal yang baru, cobalah membuka pikiran kita. Jangan terlalu membatasi pikiran dengan berbagai larangan yang kita buat sendiri. Namun kita harus selalu ingat bahwa kita punya Tuhan yang menjadi pagar bagi kita untuk bisa melihat dan memilah mana yang baik dan tidak baik, tetapi film Hollywood tidak akan menunjukkan bahwa Batman beragama, atau Harry Potter beragama atau vampire punya agama, karena mereka hanya akan mempertimbangkan segi komersialnya dan bukan segi religiusnya. Semua film fantasi akan berbeda artinya bagi kita tergantung dari mindset kita saat menonton.

Jika kita membawa mindset bahwa kita ingin menikmati kreatifitas mereka, maka saya yakin kita akan pulang dengan puas malahan mungkin bisa mengambil satu dua poin penting dari kisah tersebut. Ingatlah bahwa itu semua hanyalah buah pikiran dalam bentuk imajinasi sang penulis yang dituangkan oleh sang sutradara dan kemungkinan besar tidak pernah kita temui dalam kehidupan nyata. Sementara jika kita membawa mindset bahwa film ini adalah film yang mengerikan atau film yang perlu dilihat kekurangannya agar bisa diceritakan keburukannya kepada orang lain, maka yakinlah bahwa kita akan menonton film tersebut dengan hati yang terbeban. Atau malah justru kita akan menjadi terobsesi tidak karuan dan tidak bisa memisahkan antara dunia khayal dan dunia nyata.

Nah, menurut teman-teman lebih enak pilihan yang mana ? Saya sangat merekomendasikan untuk selalu menjaga pikiran kita tetap positif dan terbuka, mencoba melihat dan mengambil sisi positif dari setiap film yang kita tonton. Tularkan sikap tersebut kepada orang-orang di sekeliling kita atau bahkan anak-anak kita sehingga setelah kita menghabiskan waktu sekitar 1.5 jam dalam gedung bioskop, kita akan pulang dengan hati senang karena kita membawa pulang sesuatu walaupun itu berbentuk hal-hal positif yang bisa kita kenang dalam pikiran kita. Selamat menonton dengan cara baru ….

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 01 : Berawal dari …

Berawal dari iseng-iseng mencari-cari sesuatu yang menarik di Twitter untuk dibaca …

Berawal dari ketertarikan saya dengan sebuah akun Twitter yang mengulas isi buku …

Berawal dari curiosity saya untuk mengetahui pemilik akun tersebut …

Berawal dari tekad saya untuk berkenalan dengan pemilik akun tersebut …

Yang ternyata adalah seorang ibu muda yang cantik, senang membaca buku dan senang berbagi isi buku yang sangat bermanfaat dengan para followernya lewat tweetnya.

Dan ternyata ibu muda ini memiliki passion yang luar biasa dalam hal membaca buku. Walaupun aktifitas sehari-hari kelihatannya menumpuk, tapi saya salut dengan semangatnya untuk terus berusaha berbagi baik itu merupakan isi buku ataupun isi dari seminar parenting yang dia ikuti.

Namanya Judith, bisa dilihat di Twitter via account @LetsShareABook atau blognya (www.myshareabook.wordpress.com).

Orang bilang berteman lewat dunia maya itu tujuannya paling-paling ‘just for fun’. Tapi menurut saya, pendapat itu tidak valid. Karena lewat Twitter saya menemukan banyak wanita hebat yang tidak perlu tampil di TV atau koran atau tabloid untuk melakukan sesuatu bagi sesama. Saya bertemu dengan banyak wanita hebat yang tidak pelit dalam berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman.

Demikian juga halnya yang saya alami dengan pertemuan, perkenalan dan pertemanan saya dengan mbak Judith. I respect her, I respect her point of view and I respect her spirit to share with others. Dan saya merasa menemukan teman berdiskusi yang sangat cocok, yang selama ini saya cari. Teman yang sangat sulit saya dapatkan apalagi setelah saya memutuskan untuk berhenti kerja dan berkonsentrasi kepada keluarga.

Maka berawal dari chatting di kala senggang …

Berawal dari saling sharing tentang mimpi dan cita-cita kita …

Berawal dari saling membaca tulisan masing-masing …

Akhirnya lahirlah sebuah ide sederhana untuk membuat kumpulan tulisan sederhana. Dibuat oleh dua orang ibu rumah tangga (mbak Judith dan saya) berdasarkan pengalaman sehari-hari yang bisa menginspirasi kami untuk bisa berbuat sesuatu.

Jadi kami akan mulai dengan sesuatu yang sederhana dengan tekad yang kuat bahwa setiap hari selama 30 hari kami akan berbagi inspirasi yang muncul dari pengalaman sehari-hari.

Maka inspirasi saya di hari pertama ini adalah : bahwa sebuah ide kadang muncul dari hal-hal kecil dan sederhana yang didiskusikan terus menerus dengan seorang teman yang memiliki pandangan yang sama. Karena saya selalu berpegang pada kata-kata Mother Teresa : Lakukan hal-hal kecil dengan cinta yang BESAR. Sederhana tapi powerful.

Selamat beraktifitas …

Count Your Blessings

Pasti teman-teman sering mendengar kalimat bahwa hidup ini hanya sekali, hidup ini harus dinikmati, uang tidak berarti kalau kita sakit, kesehatan adalah segalanya. Percayalah, teman-teman, semuanya itu 1000% benar.

Saya berterima kasih kepada Tuhan karena saya telah diberi kesempatan untuk melihat dan mengalami betapa hidup ini perlu disyukuri apa adanya walaupun itu mungkin bisa merenggut kesehatan dan kebugaran kita saat kita masih muda.

Saya bisa menulis daftar yang panjang tentang bagaimana orang-orang di sekitar saya bereaksi menghadapi hidup mereka yang suatu saat terganggu dengan masalah kesehatan.

Beberapa contoh adalah :
1. Teman baik saya yang tinggal di Jakarta, beberapa tahun lalu menderita sebuah penyakit yang hampir saja merenggut nyawanya. Tapi dengan keuletannya untuk berjuang melawan penyakitnya ditambah dengan imannya yang kuat bahwa Tuhan Maha Pengasih, sekarang dia sudah sehat dan bisa beraktifitas seperti biasa.
2. Suami saya, yang tahun lalu benar-benar kesakitan dan ternyata ada masalah dengan jantungnya, setelah menjalani proses yang panjang untuk penyembuhan, dan dengan kemauannya untuk berhenti merokok dan benar-benar menjaga makanannya, saat ini sudah sehat, walaupun harus sedikit mengurangi aktifitas fisik di kantor.
3. Ibu saya yang baru saja diberitahu dokter mengidap hipertensi, sempat panik dan stress karena merasa mengidap sebuah penyakit yang mengerikan. Tapi dengan kemauannya yang kuat untuk bisa sembuh, beliau mematuhi semua petunjuk dokter dan hasilnya saat ini tekanan darahnya terkontrol dengan baik.
4. Namun ayah saya, yang baru saja terjatuh dua bulan yang lalu, sehingga mengakibatkan tulang panggulnya patah, sampai saat ini masih belum bisa berjalan normal karena tekadnya untuk sembuh terhalang oleh keinginannya untuk diperhatikan sebagai orang yang kurang sehat.
5. Baru saja dua hari yang lalu, saya mengetahui teman baik saya yang tinggal di Jakarta juga, ternyata beberapa bulan lalu dinyatakan menderita sesuatu di jantungnya. Dia belum bercerita banyak, tapi dia sudah memberikan pernyataan bahwa sekarang saatnya dia harus menjalani hidup dengan senang karena dia tidak mau penyakitnya datang lagi.
6. Keponakan dari teman saya yang menderita kanker di kakinya, mungkin karena usianya yang masih remaja, tekadnya untuk bisa melawan penyakit terkadang naik terkadang turun. Namun saat tekadnya untuk sembuh sedang tinggi, ternyata Tuhan memanggil dia untuk kembali ke pangkuanNya.
7. Kemarin saya baru mendapat kabar bahwa mantan tetangga saya juga terkena stroke yang mengakibatkan bagian memorinya terganggu dan bicaranyapun agak terganggu. Tadi saya baru saja menengoknya, terlihat bahwa sang istri sedang berjuang juga untuk membantu dan mendukung suaminya karena sang suami terlihat depressed dengan kondisinya saat ini.
8. Beberapa tahun lalu, anak dari teman saya yang berusia masih sangat kecil terkenan leukemia. Sewaktu saya menjenguknya, sang anak terlihat sudah kelelahan dengan rasa sakitnya. Dan beberapa minggu kemudian, saya mendapat kabar bahwa dia sudah pergi.
9. Beberapa teman saya di lingkungan gereja, yang saya tahu tidak dalam kondisi sehat walafiat, tapi tetap bertekad untuk sembuh dan tetap aktif dalam pelayanan kepada sesama, membuat saya salut dengan kegigihan hidup mereka.
10. Bahkan anak-anak saya pun terlihat berjuang mengatasi penyakitnya saat mereka sakit, walaupun mereka masih memerlukan dukungan orang tuanya 100%.

Kalau ditulis satu per satu, tidak akan ada habisnya. Tapi ada beberapa poin penting dan esensial yang saya bisa ambil dari semuanya itu.

Bahwa tekad untuk bisa sembuh atau melawan sakit yang kita derita itu, harus ditumbuhkan dari awal. Bukan di tengah, bukan di akhir. Sama seperti orang yang ingin berhenti merokok atau minum minuman keras, tekad untuk bisa bangkit lagi baru bisa berkembang jika dimulai dari diri kita sendiri, bukan dari orang lain. Jika anda tidak menyayangi diri sendiri, maka bertekadlah untuk sembuh demi orang-orang yang anda cintai, terutama keluarga.

Dan keluarga adalah pihak yang paling dekat yang bisa menjadi booster bagi kita untuk bisa bangkit dari sakit penyakit. Menjadi tidak berdaya memang merupakan cobaan yang berat, tapi jika semua dilalui bersama-sama, hand-in-hand dengan pasangan dan anak-anak, disertai dengan doa, maka saya selalu yakin semuanya akan bisa diatasi dengan baik.

Apa yang mau kita perbuat setelah kita berhasil melewati semuanya itu ? Bersyukurlah atas seluruh hidup yang sudah kita jalani, tanpa menilai apakah hidup itu dilalui dengan suka ataupun duka. Bersyukurlah bahwa ternyata Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk berada di dunia ini bersama-sama dengan keluarga tercinta. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah syukurilah rahmat tersebut dengan mengubah pola hidup menjadi pola hidup sehat dan bahagia.

Cobalah untuk memulai dan menutup hari dengan merenungkan betap banyak berkat yang kita dapatkan. Saya yakin setiap hari kita akan bangun dan beraktifitas dengan semangat dengan selalu berpikiran positif bahwa setiap detik yang ditambahkan dalam hidup kita adalah kesempatan kedua yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.