THINKING vs FEELING

Dalam sebuah teori mengenai kepribadian/personality, disebutkan bahwa manusia adalah mahluk yang unik, namun secara garis besar biasanya mereka memiliki kecenderungan/preference dalam hal menyalurkan energinya, cara memahami lingkungan sekitarnya, cara mengelola kehidupannya dan cara memecahkan permasalahan dalam hidupnya.

Saya baru saja mengalami sebuah diskusi dengan seseorang dimana terlihat sekali kecenderungan manusia dalam mencari solusi untuk permasalahannya. Secara garis besar, inti permasalahannya adalah Janitor/Office Girl yang bekerja di tempat kami sudah mengatakan akan mengundurkan diri setelah Lebaran tahun ini dengan alasan keluarga. Karena Lebaran sudah dekat, maka saya langsung memulai usaha untuk mencari orang pengganti agar tidak kelimpungan nantinya. Tanpa sengaja, lewat seorang teman saya mendapatkan kandidat pengganti. Namun saya ingin melihat dulu hasil kerjanya sebelum saya memutuskan akan memperkerjakan sang kandidat ini. Awalnya sang kandidat akan masuk di hari yang sama dengan Office Girl kami dimana kami akan meminta si karyawan lama untuk memberitahukan apa saja yang harus dikerjakan selama satu hari dan kami akan melihat hasil pekerjaannya sehingga bisa memutuskan apakah orang ini bisa bekerja dengan baik.

Namun sejalan dengan waktu, tadi siang saya berubah pikiran. Saya mempunyai ide untuk melakukan pendekatan yang sedikit berbeda. Saya tetap meminta kandidat ini untuk masuk dan mencoba bekerja selama setengah hari saja, namun karyawan lama tidak perlu masuk. Tapi saya akan meminta asisten saya yang baru, untuk mengajarkan orang baru ini sekaligus melihat hasil kerjanya bersama-sama, kemudian memutuskan bersama mengenai kelanjutannya.

Sebenarnya perubahan ide ini didasari dengan pertimbangan sederhana yang logis yaitu :
1. Memberi kesempatan kepada asisten saya yang baru, untuk ‘take in charge’ atas Office Girl yang baru karena memang hal tersebut merupakan bagian dari tanggung jawabnya.
2. Memberi gambaran kepada calon karyawan kepada siapa nantinya dia akan berkoordinasi.
3. Berusaha mencari pendekatan yang memungkinkan kami mengambil keputusan dengan obyektif tanpa adanya tambahan penilaian dari karyawan yang lama.
4. Manusia punya kecenderungan untuk merasa ‘dibutuhkan’, sehingga pasti ada rasa ‘tidak aman’ jika mengetahui sudah ada calon penggantinya walaupun dia masih bekerja sebulan lagi.
5. Saya selalu mempunyai prinsip bahwa masalah harus dicari solusinya secepat mungkin, apalagi jika menyangkut urusan sumber daya manusia.

Semua perubahan ide dan pertimbangan logis tersebut saya sampaikan kepada asisten saya yang sudah lama bekerja dengan saya, karena saya ingin melihat pertimbangan dan pemikirannya. Tanggapannya memang mengejutkan – bukan dalam arti tanggapannya aneh, tetapi dalam arti bahwa teori personality tersebut terbukti dari sebuah kasus kecil seperti ini. Tanggapan dari asisten saya yang senior ini sederhana koq : dia khawatir karyawan lama ini malah bertanya-tanya jika ada temannya yang bekerja di ruko sebelah kami melihat ada orang baru yang sedang membersihkan ruko kami.

Sebelum menganalisa perbedaan cara pandang tersebut, saya ingin berbagai mengenai teori tersebut dimana kecenderungan manusia untuk memecahkan masalah biasanya terbagi menjadi dua kutub yang melibatkan kombinasi antara empati dan logika, yaitu :

Kutub 1 : disebut tipe THINKING, dimana biasanya kita mendahulukan cara berpikir dengan logika untuk memecahkan masalah, setelah itu barulah dikombinasikan dengan unsur empati untuk mencari solusi yang terbaik

Kutub 2 : disebut tipe FEELING, dimana biasanya kita mendahulukan empati dan berkeinginan kuat untuk membuat lingkungan sekitar semuanya merasa senang dan nyaman, baru setelah itu memasukkan unsur logika untuk memutuskan

Jadi dari penjelasan tersebut, terlihat dengan jelas bahwa saya adalah orang dengan preference THINKING dimana saya selalu mendahulukan logika untuk memutuskan sesuatu. Sementara asisten senior saya adalah orang dengan preference FEELING dimana dia berkeinginan kuat memastikan agar semua pihak merasa tidak tersakiti dengan pendekatan yang ada. Apakah salah satu pemikiran tersebut ada yang salah ? Apakah saya adalah orang yang kejam karena tidak mau berempati dengan karyawan lama ? Apakah asisten senior saya adalah orang yang tidak berpikiran maju karena selalu mendahulukan perasaan orang sebelum memutuskan sesuatu.

Jawabannya adalah TIDAK ADA YANG SALAH. Justru keadaan seperti itu bisa dimanfaatkan dengan baik jika kita bisa mensinergikan perbedaan tersebut dan bisa dengan lapang dada menerima pemikiran dan cara pandang yang berbeda seperti itu. Cara pandang asisten senior saya juga telah membantu saya untuk bisa lebih berempati dengan karyawan lama saya dan memikirkan bagaimana saya harus menjelaskan jika memang sang karyawan lama bertanya kepada saya. Saya juga berharap asisten senior saya bisa mengambil hal positif dari logika saya.

Namun inti dari semuanya itu adalah bahwa kita memang adalah mahluk unik yang diciptakan Tuhan dengan cara berpikir yang tidak pernah sama. Bahkan dalam hal yang sederhana sekalipun.

Jadi bersyukurlah atas segala yang ada dalam diri kita. Dan bersyukurlah jika kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa melihat dan mengalami bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki cara pandang berbeda dengan kita. Hindari untuk melihat mereka sebagai orang yang ‘aneh’, tetapi cobalah untuk memahami mereka dan pakailah cara pandang mereka untuk ‘memperkaya’ batin kita.

Kegiatan Positif Saat Libur : Sekelompok Anak Usia 12 Tahun Mencoba Kerja Magang Sederhana

Berawal dari sejak berakhirnya UN (Ujian Nasional) untuk kelas 6, dimana kebetulan sekolah anak saya ternyata meliburkan siswa kelas 6 selama sebulan. Tentu saja saya merasa kaget mendengar hal tersebut dari anak saya karena saat itu anak yang lain masih aktif bersekolah dan menurut saya seharusnya siswa kelas 6 tetap datang ke sekolah agar dapat tetap dimonitor oleh guru dan memiliki kegiatan terarah.

Setelah itu saya berpikir bagaimana caranya agar anak saya tidak menghabiskan waktunya dengan nonton tv atau main-main internet. Yang pasti, kegiatan tersebut haruslah baru dan melibatkan beberapa temannya.Lalu saya teringat pada teman saya yang memiliki sebuah toko yang menjual part-part atau item elektronik seperti kabel, stop kontak, IC dll. Saya coba tanyakan apakah teman saya membutuhkan tenaga untuk melakukan stock taking di tokonya.

Akhirnya setelah disetujui, saya berbicara dengan anak saya dan menjelaskan konsep magang atau internship. Saya tawarkan kesempatan tersebut dan menanyakan apakah dia tertarik. Jawabannya : tertarik. Lalu kami bersama-sama mencari 3 orang temannya yang orangtuanya saya kenal.Setelah itu saya menelpon orang tua mereka, dalam hal ini para ibu, dan menawarkan apakah mereka mengijinkan anaknya untuk ikut dalam program magang di tempat teman saya selama libur ini. Tentunya ada sedikit uang saku yang sudah disiapkan. Tapi bukan itu tujuan utamanya. Tujuannya adalah untuk mengisi waktu mereka dengan kegiatan yang positif sekaligus memberikan pengalaman baru bagi mereka tentang rasanya ‘bekerja’.

Beberapa hari sebelum program magang dimulai, saya mengumpulkan mereka dan menjelaskan mengenai konsep magang dengan term kerja yang sangat mudah yaitu : tugas mereka adalah menghitung barang dan menuliskannya pada kartu stock, periode bekerja adalah sekitar 9 hari dan hanya dilakukan setiap hari Rabu sampai Jumat, dibagi dalam dua kelompok dan hanya bekerja selama 3 jam saja.Untuk lebih memberikan gambaran dunia kerja, saya buatkan sebuah Perjanjian Kerja yang sangat sederhana dimana didalamnya tertulis mengenai jam kerja, datang harus tepat waktu dll.

Akhirnya hari pertama dimulai dimana teman saya menjelaskan mengenai cara kerja dan juga memberitahu jangan hanya menghitung tetapi cobalah untuk belajar mengenai item yang ada. Diakhir hari, saya bertanya kepada anak saya, bagaimana rasanya bekerja. Jawabannya : capek. Ternyata setelah saya coba kumpulkan data, ketiga anak yang lain juga memiliki komentar yang sama : capek.

Namun walaupun ada yang kecapekan seperti anak saya yang selalu makan dengan sangat ‘lahap’ setiap pulang kerja, ada yang ‘mutung’ karena terlalu capek sebab pagi harinya baru main futsal dengan teman-temannya, ada yang berencana tukar hari karena ada rencana main dengan teman, ada yang berkata bahwa tidak mau lagi kerja menghitung seperti ini ; yang mengagumkan adalah keempat anak ini pada akhirnya tetap dengan semangat dan konsisten menyelesaikan periode kerjanya selama 9 hari.

Selayaknya usia anak kelas 6, mereka masih malu-malu untuk bertegur sapa dengan karyawan toko, sehingga tidak tahu nama mereka. Tapi saya mendorong anak saya untuk bertanya siapa nama mereka dan alangkah baiknya kalau bisa berinteraksi dengan mereka. Saya juga diberitahu bahwa mereka tidak mau mengambil jatah air mineral yang sudah disediakan. Mungkin malu ya …

Yang lebih menarik lagi adalah saat pembagian uang saku. Sesuai dengan permintaan teman saya, mereka dibuatkan kartu ucapan terima kasih yang dilaminating dan dimasukkan ke dalam amplop. Reaksi mereka ternyata bermacam-macam. Anak saya loncat-loncat kegirangan menerima honornya dan langsung punya rencana banyak dengan uang tersebut (tentu saja upah tersebut tidak akan bisa mengakomodasi semua rencananya ). Ada yang dengan bangga mengatakan dia akan membawa uang hasil kerjanya saat nonton bareng dengan teman-temannya ke mall dan berencana untuk belanja buku dll. Tapi ada juga yang sama sekali tidak melihat isi amplopnya dan keesokan harinya ibunya menemukan amplop tersebut di tempat sampah dan setelah dicek, uangnya masih ada dalam amplop, dan saat diberitahukan kepada anak tersebut, reaksinya hanya ketawa saja.

Sampai  saat ini saya belum sempat berbicara lagi dengan keempat anak tersebut. Namun saya yakin bahwa mereka sudah mendapat ‘essence’ dari program magang yang sederhana ini, bahwa untuk mendapatkan sesuatu, kita harus berusaha. Dalam hal ini, untuk mendapatkan tambahan uang saku di hari libur, mereka harus bekerja.

Reaksi mereka yang beraneka ragam memang mencengangkan, tapi sekaligus juga menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga dan unik untuk saya. Bagian terbaik yang saya sangat hargai adalah komitmen dan konsistensi mereka dalam menyelesaikan tugasnya. Walaupun saya yakin pasti ada hari-hari dimana godaan untuk bolos pasti sangat besar. Sama seperti kita, dimana terkadang timbul kejenuhan untuk berangkat kerja di pagi hari.

Dan yang membuat saya bersyukur adalah saat saya mendengar beberapa cerita dari para ibu tentang kegiatan anaknya yang membuat mereka stress, yaitu main sepeda seharian atau malah asyik main game online di rumah dari pagi sampai malam.
Saya juga bersyukur bisa mendapat advice dan moral support dari mbak Nina (@AnnaNinaSurti) saat hendak melaksanakan ide ini. Beliau juga yang mendorong saya untuk menuliskan pengalaman saya ini di blog dengan harapan agar bisa dibaca oleh para orang tua.

Di belahan dunia barat, anak bekerja saat liburan adalah hal yang wajar sepanjang pekerjaannya memang sesuai dengan usianya. Dan kita sebagai orang tua bisa membantu menciptakan lapangan kerja tersebut dengan mengandalkan kreatifitas kita dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Gunakan koneksi dengan teman yang memiliki toko atau usaha sendiri. Pilihlah jenis pekerjaan yang cocok. Jadilah pendengar yang baik bagi mereka. Anda pasti akan kagum dengan nilai-nilai hidup dan cara pandang mereka dalam proses ini.

Saya bersyukur saya bisa mewujudkan ide dengan bantuan mbak Nina, teman saya dan juga dukungan dari para ibu mereka. Saya berharap anak-anak berempat itu bisa mendapatkan pengalaman yang positif dari program magang yang sederhana ini.
Saya masih memiliki keinginan untuk terus mencari kesempatan seperti ini lagi saat anak saya libur panjang, sehingga mereka bisa mendapatkan pengalaman positif. Kita boleh menyediakan seluruh sarana prasarana dengan teknologi canggih seperti internet dan gadget yang bagus dan hebat. Tapi jangan lupa untuk mengajarkan nilai kehidupan (value of life) dengan cara yang sederhana dan kreatif agar anak kita bertumbuh menjadi orang yang bisa bersosialisasi dengan semua orang dari berbagai kalangan karena mereka memiliki EMPATI.

Imajinasi JK Rowling yang …. WOW

Sudah 10 tahun lebih berlalu sejak Harry Potter dibuat menjadi movie. Dan mungkin seperti fans lainnya, saya tidak terlalu care apakah ceritanya 100% sama dengan buku atau tidak. Yang saya perlukan adalah melihat visualisasi dari sebuah imajinasi tentang dunia sihir yang sangat menarik.

Yang lebih menarik lagi adalah bahwa imajinasi itu keluar dari seorang ibu rumah tangga, dimulai dengan coretan diatas kertas tissue, kemudian sang pengarang membuat sebuah alur imajinasi yang diterjemahkan menjadi 7 buah buku yang semakin lama semakin tebal.

Apa  yang anda rasakan ketika menonton film Harry Potter : Deathly Hallow part 1 dan part 2. Atau apa yang anda rasakan ketika membaca bukunya ? Adakah yang merasa seperti akan mengalami perpisahan dengan teman saat buku yang kita genggam semakin mendekati halaman akhir ?

Saya tidak malu untuk mengakui saya merasakan hal tersebut. Bahkan saya membaca epilog dari buku terakhir berkali-kali sambil membayangkan Harry dan teman-temannya mengantar anak mereka yang akan berangkat ke Hogwarts.Bahkan saat menonton filmnya, perasaan yang sama tetap muncul. Malah lebih dramatis lagi.

Pernahkah kita berpikir apa yang membuat hal tersebut bisa terjadi ? Sebuah imajinasi yang hebat, yang tidak hanya berputar di kepala Rowling, tetapi dengan berani dia kembangkan dan dia tuangkan dalam sebuah tulisan.

Kalau kita melihat buku Harry Potter, saya merasa takjub dengan alur cerita yang ada. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana cara Rowling membuat kisah kehidupan Harry bertaut dengan tokoh lain. Bagaimana Rowling menciptakan nama-nama tokoh yang sulit diucapkan ataupun semua spell/mantera yang digunakan. Seolah-olah kita melihat bahwa Rowling adalah seorang jenius.

Tapi kalau kita mengikuti kisah tentang bagaimana Rowling bisa menulis sebuah kisah Harry Potter yang spektakuler, kita baru mengerti bahwa semua itu terjadi karena kreatifitas dan imajinasi Rowling yang sangat WOW dalam merangkai kata atau memilih kata. Contohnya : spell untuk membuat wand/tongkat sihir menyala dan berfungsi sebagai senter adalah LUMOS. Dan kata tersebut memang berarti cahaya. Banyak juga spell yang diambil dari bahasa Inggris tapi dengan kreatifitas Rowling yang sangat mengagumkan, dia bisa bermain dengan kata-kata tersebut sehingga seolah-olah spell tersebut benar-benar memiliki daya magis.

Jadi, sebenarnya kisah sang anak berkacamata yang kita ikuti dari awal masuk Hogwarts sampai dia berhasil membunuh Lord Voldermort, adalah hasil dari sebuah lamunan, imajinasi seorang ibu. Diramu dengan kreatifitas yang sangat mengagumkan, jadilah Sebuan kisah menakjubkan tentang dunia sihir.

Pengalaman Rowling menunjukkan bahwa usia tidak pernah menjadi limitasi bagi seseorang untuk bisa terjun dalam dunia imajinasi yang dia inginkan. Justru dengan terus mengaktifkan otak kita untuk terus berimajinasi, kita melatih sisi kreatif kita. Lihat saja Rowling, dia bukan penulis, tapi hanya ibu rumah tangga biasa.

Jadi, para ibu, para perempuan Indonesia, jangan takut untuk berimajinasi, jangan takut untuk menjadi kreatif dan jangan takut untuk menuangkan ide dan pikiran kita dalam tulisan.

Be creative ….