Kegiatan Positif Saat Libur : Sekelompok Anak Usia 12 Tahun Mencoba Kerja Magang Sederhana

Berawal dari sejak berakhirnya UN (Ujian Nasional) untuk kelas 6, dimana kebetulan sekolah anak saya ternyata meliburkan siswa kelas 6 selama sebulan. Tentu saja saya merasa kaget mendengar hal tersebut dari anak saya karena saat itu anak yang lain masih aktif bersekolah dan menurut saya seharusnya siswa kelas 6 tetap datang ke sekolah agar dapat tetap dimonitor oleh guru dan memiliki kegiatan terarah.

Setelah itu saya berpikir bagaimana caranya agar anak saya tidak menghabiskan waktunya dengan nonton tv atau main-main internet. Yang pasti, kegiatan tersebut haruslah baru dan melibatkan beberapa temannya.Lalu saya teringat pada teman saya yang memiliki sebuah toko yang menjual part-part atau item elektronik seperti kabel, stop kontak, IC dll. Saya coba tanyakan apakah teman saya membutuhkan tenaga untuk melakukan stock taking di tokonya.

Akhirnya setelah disetujui, saya berbicara dengan anak saya dan menjelaskan konsep magang atau internship. Saya tawarkan kesempatan tersebut dan menanyakan apakah dia tertarik. Jawabannya : tertarik. Lalu kami bersama-sama mencari 3 orang temannya yang orangtuanya saya kenal.Setelah itu saya menelpon orang tua mereka, dalam hal ini para ibu, dan menawarkan apakah mereka mengijinkan anaknya untuk ikut dalam program magang di tempat teman saya selama libur ini. Tentunya ada sedikit uang saku yang sudah disiapkan. Tapi bukan itu tujuan utamanya. Tujuannya adalah untuk mengisi waktu mereka dengan kegiatan yang positif sekaligus memberikan pengalaman baru bagi mereka tentang rasanya ‘bekerja’.

Beberapa hari sebelum program magang dimulai, saya mengumpulkan mereka dan menjelaskan mengenai konsep magang dengan term kerja yang sangat mudah yaitu : tugas mereka adalah menghitung barang dan menuliskannya pada kartu stock, periode bekerja adalah sekitar 9 hari dan hanya dilakukan setiap hari Rabu sampai Jumat, dibagi dalam dua kelompok dan hanya bekerja selama 3 jam saja.Untuk lebih memberikan gambaran dunia kerja, saya buatkan sebuah Perjanjian Kerja yang sangat sederhana dimana didalamnya tertulis mengenai jam kerja, datang harus tepat waktu dll.

Akhirnya hari pertama dimulai dimana teman saya menjelaskan mengenai cara kerja dan juga memberitahu jangan hanya menghitung tetapi cobalah untuk belajar mengenai item yang ada. Diakhir hari, saya bertanya kepada anak saya, bagaimana rasanya bekerja. Jawabannya : capek. Ternyata setelah saya coba kumpulkan data, ketiga anak yang lain juga memiliki komentar yang sama : capek.

Namun walaupun ada yang kecapekan seperti anak saya yang selalu makan dengan sangat ‘lahap’ setiap pulang kerja, ada yang ‘mutung’ karena terlalu capek sebab pagi harinya baru main futsal dengan teman-temannya, ada yang berencana tukar hari karena ada rencana main dengan teman, ada yang berkata bahwa tidak mau lagi kerja menghitung seperti ini ; yang mengagumkan adalah keempat anak ini pada akhirnya tetap dengan semangat dan konsisten menyelesaikan periode kerjanya selama 9 hari.

Selayaknya usia anak kelas 6, mereka masih malu-malu untuk bertegur sapa dengan karyawan toko, sehingga tidak tahu nama mereka. Tapi saya mendorong anak saya untuk bertanya siapa nama mereka dan alangkah baiknya kalau bisa berinteraksi dengan mereka. Saya juga diberitahu bahwa mereka tidak mau mengambil jatah air mineral yang sudah disediakan. Mungkin malu ya …

Yang lebih menarik lagi adalah saat pembagian uang saku. Sesuai dengan permintaan teman saya, mereka dibuatkan kartu ucapan terima kasih yang dilaminating dan dimasukkan ke dalam amplop. Reaksi mereka ternyata bermacam-macam. Anak saya loncat-loncat kegirangan menerima honornya dan langsung punya rencana banyak dengan uang tersebut (tentu saja upah tersebut tidak akan bisa mengakomodasi semua rencananya ). Ada yang dengan bangga mengatakan dia akan membawa uang hasil kerjanya saat nonton bareng dengan teman-temannya ke mall dan berencana untuk belanja buku dll. Tapi ada juga yang sama sekali tidak melihat isi amplopnya dan keesokan harinya ibunya menemukan amplop tersebut di tempat sampah dan setelah dicek, uangnya masih ada dalam amplop, dan saat diberitahukan kepada anak tersebut, reaksinya hanya ketawa saja.

Sampai  saat ini saya belum sempat berbicara lagi dengan keempat anak tersebut. Namun saya yakin bahwa mereka sudah mendapat ‘essence’ dari program magang yang sederhana ini, bahwa untuk mendapatkan sesuatu, kita harus berusaha. Dalam hal ini, untuk mendapatkan tambahan uang saku di hari libur, mereka harus bekerja.

Reaksi mereka yang beraneka ragam memang mencengangkan, tapi sekaligus juga menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga dan unik untuk saya. Bagian terbaik yang saya sangat hargai adalah komitmen dan konsistensi mereka dalam menyelesaikan tugasnya. Walaupun saya yakin pasti ada hari-hari dimana godaan untuk bolos pasti sangat besar. Sama seperti kita, dimana terkadang timbul kejenuhan untuk berangkat kerja di pagi hari.

Dan yang membuat saya bersyukur adalah saat saya mendengar beberapa cerita dari para ibu tentang kegiatan anaknya yang membuat mereka stress, yaitu main sepeda seharian atau malah asyik main game online di rumah dari pagi sampai malam.
Saya juga bersyukur bisa mendapat advice dan moral support dari mbak Nina (@AnnaNinaSurti) saat hendak melaksanakan ide ini. Beliau juga yang mendorong saya untuk menuliskan pengalaman saya ini di blog dengan harapan agar bisa dibaca oleh para orang tua.

Di belahan dunia barat, anak bekerja saat liburan adalah hal yang wajar sepanjang pekerjaannya memang sesuai dengan usianya. Dan kita sebagai orang tua bisa membantu menciptakan lapangan kerja tersebut dengan mengandalkan kreatifitas kita dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Gunakan koneksi dengan teman yang memiliki toko atau usaha sendiri. Pilihlah jenis pekerjaan yang cocok. Jadilah pendengar yang baik bagi mereka. Anda pasti akan kagum dengan nilai-nilai hidup dan cara pandang mereka dalam proses ini.

Saya bersyukur saya bisa mewujudkan ide dengan bantuan mbak Nina, teman saya dan juga dukungan dari para ibu mereka. Saya berharap anak-anak berempat itu bisa mendapatkan pengalaman yang positif dari program magang yang sederhana ini.
Saya masih memiliki keinginan untuk terus mencari kesempatan seperti ini lagi saat anak saya libur panjang, sehingga mereka bisa mendapatkan pengalaman positif. Kita boleh menyediakan seluruh sarana prasarana dengan teknologi canggih seperti internet dan gadget yang bagus dan hebat. Tapi jangan lupa untuk mengajarkan nilai kehidupan (value of life) dengan cara yang sederhana dan kreatif agar anak kita bertumbuh menjadi orang yang bisa bersosialisasi dengan semua orang dari berbagai kalangan karena mereka memiliki EMPATI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s