Eksklusifitas – Perangkap yang Tidak Terlihat

Ada sebuah fenomena menarik yang saya lihat dari beberapa teman saya di kantor tempat mereka bekerja. Berawal dari kegemaran mereka untuk makan, mereka membentuk sebuah komunitas kecil dan berlanjut dengan memberi nama komunitas mereka. Setelah beberapa bulan saya amati, awalnya semuanya baik, karena mereka menjadi lebih solid dalam hal pertemanan, menyempatkan diri untuk sekedar makan malam bersama jika ada salah satu yang berulangtahun. Tapi lama kelamaan, komunitas kecil tersebut kemudian mulai menunjukkan eksistensinya dengan cara-cara sederhana, yang saya yakin tujuannya juga sebenarnya baik, yaitu misalnya berjanji memakai baju dengan dress code yang sama di hari tertentu, berfoto bersama saat istirahat dan lain-lain.

Apakah ada yang aneh dengan komunitas tersebut ? Saya cenderung tidak menyebutnya sebagai komunitas, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai kelompok. Karena mereka tidak menambah atau bahkan mencari member. Hanya sekian saja jumlah anggotanya.

Sebenarnya yang perlu diwaspadai adalah adanya sebuah perangkap yang tidak kita sadari. Kelompok kecil tersebut secara tidak sengaja telah menuju ke arah ‘eksklusifitas’. Dalam bahasa Indonesia, kata ‘eksklusif’ diterjemahkan sebagai sesuatu yang khusus atau bagian yang terpisah dari yang lain.

Dulu pernah ada teman saya yang sangat marah dikatakan bahwa kelompoknya adalah kelompok eksklusif. Karena ternyata pengertian teman saya adalah bahwa eksklusif itu adalah keadaan dimana sebuah kelompok terdiri dari orang-orang berduit.

Padahal dimanapun juga kita bisa menjadi eksklusif dengan cara menunjukkan jati diri kelompok atau komunitas dengan cara yang terlihat secara signifikan oleh umum.

Pernah satu saat sewaktu saya masih bekerja, saya diberi sebuah tim baru yang terdiri dari 3 orang staff dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, namun kami memiliki satu tugas yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu dan tidak ada negosiasi. Maka sebagai leader dari grup kecil tersebut, saya merasa bahwa hal terpenting adalah membawa grup saya melalui proses pembentukan tim yang baru dengan cepat, sehingga kami bisa bekerja sama dengan baik untuk tugas tersebut. Dan syukurlah team work dan bonding diantara kami berlangsung cukup cepat dengan memanfaatkan waktu luang disela-sela kerja untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi apa yang dilihat oleh boss saya? Saya dipanggil dan diberitahu bahwa adalah hal yang kurang baik saya membuat tim yang eksklusif.

Maka dari ketiga cerita diatas, terlihat nyata betapa kita mudah terbawa ke arah eksklusifitas dan betapa orang lain mudah menilai kelompok atau komunitas kita eksklusif atau tidak.

Mari kita coba lihat dari ketiga peristiwa tersebut :
Peristiwa 1 : kelompok kecil yang berawal dari kegemaran yang sama ternyata sekarang mulai menuju ke arah eksistensi kelompok dan mungkin orang akan menilai mereka menjadi eksklusif.
Peristiwa 2 : teman saya marah karena dikatakan eksklusif, sebab ternyata masih ada orang yang belum mengerti arti kata tersebut.
Peristiwa 3 : dengan tujuan menumbuhkan team work dan bonding di tim saya yang baru, ternyata orang lain melihat saya membentuk sebuah tim yang eksklusif.

Nah, karena itu teman-teman, marilah kita bersama-sama merenungkan bahwa walaupun sebuah kelompok memerlukan jati diri, hendaklah kita tidak membuat sesuatu yang ‘eksklusif’, yang terpisah dari yang lain. Kita patut berempati dengan perasaan orang di sekeliling kita, bukan penilaian mereka, karena mungkin sebagian orang akan melihat kita menjadi anggota dari sebuah grup yang eksklusif dengan seragam yang berbeda atau sandi-sandi yang dipakai dalam berkomunikasi dan lain-lain. Mungkin kita yang berada dalam kelompok tersebut merasa nyaman dan senang. Tapi apakah kita pernah berpikir bahwa mungkin orang-orang di sekitar kita sebenarnya juga ingin berteman dan bergabung dengan kita ?

Eksklusifitas adalah perangkap yang tersedia dimana-mana. Untuk bisa membuat diri kita aware/mawas diri, tumbuhkanlah empati dalam diri sehingga kita akan selalu melihat orang di sekeliling kita. Kita memang tidak perlu dan tidak akan pernah bisa membuat semua orang senang. Tapi setidaknya, sebelum kita melakukan sesuatu, hendaklah mata kita seperti mercusuar yang melayangkan pandangan ke sekeliling kita. Jadikanlah kelompok atau komunitas anda inklusif, bisa bergaul dengan siapa saja. Hindari terperangkap dalam eksklusifitas. Jika ada orang yang memberi masukan bahwa kelompok anda eksklusif, jangan marah, tapi pikirkan dan renungkan. Mungkin bukan maksud anda untuk berbuat seperti itu, tapi ada baiknya untuk sedikit menahan diri agar tidak terlihat seperti itu oleh orang-orang di sekeliling kita.

So, be inclusive, stay away from exclusivity.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s