Empati Dalam Era Globalisasi

Tadi pagi saya bersama teman memutuskan untuk pergi ke tempat pijat refleksi langganan kami yang terletak di dalam kompleks perumahan kami. Karena kami adalah pelanggan pertama pada pagi hari itu, maka saya disodorkan remote control TV. Setelah pencet sana pencet sini, akhirnya jari saya berhenti di channel yang kebetulan saat itu memutar sebuah film science fiction yang sangat menarik. Karena tidak ada permintaan lagi, maka kami beramai-ramai nonton film tersebut selama refleksi.

Berselang setengah jam, datanglah seorang ibu yang mungkin middle aged, dengan selendang dan kacamata hitam. Dari sejak datang memang ibu tersebut sudah cukup heboh dan mungkin beliau habis terjatuh atau terkilir karena jalannya pincang.

Sambil duduk menunggu terapisnya datang, ibu ini melihat layar televisi. Pas pada saat itu adegan yang terjadi adalah adegan dimana ada sepasang kekasih sedang – maaf – berciuman. Tapi itu terjadi sangat singkat dan sudah berganti ke adegan pertempuran.

Tiba-tiba ibu itu berdiri dan dengan suaranya yang cukup lantang untuk didengar oleh kami semua dalam ruangan itu, dia meminta remote control TV dan berkata – entah ditujukan kepada siapa – bahwa : “kita ganti aja, ini filmnya terlalu ekstrim, kita cari yang ringan-ringan saja, musik saja lah …”

Dan tanpa ada kata-kata, beliau langsung mengganti channel. Tak lama kemudian karena tidak jadi dipijat, ibu tersebut langsung pulang.

Bagaimana reaksi semua orang yang ada dalam ruangan itu ? Hanya satu : bengong. Bagaimana dengan saya sendiri, sampai malam harinya saya masih terbayang-bayang dengan kejadian tersebut. Bukan karena saya marah sebab film yang menarik tersebut tidak bisa saya tonton selama beberapa menit. Tetapi saya lebih melihat dua hal penting dari kejadian tersebut.

Pertama, kita sebagai orang Timur, bukankah sangat menjunjung tinggi sopan santun dan etika berkomunikasi ? Dengan cara ibu ini langsung melakukan ‘sabotase kecil’ dengan remote control AC, menunjukkan bahwa beliau merasa tidak perlu bertanya apakah film tersebut sedang ditonton atau hanya salah pencet channel. Nah, kalau generasi middle-aged nya seperti itu, saya bertanya dalam hati, bagaimana dengan generasi muda di keluarga ibu ini. Bukankan anak-anak dan remaja selalu mencontoh segala tingkah laku dari orang tua mereka?

Yang kedua, sekarang adalah jaman globalisasi. Dari satu sisi, adegan seperti itu adalah bumbu sebuah film dan kebetulan film itu memang film untuk orang dewasa. Dari sisi lain, yang ada disitu semuanya orang dewasa, sudah menikah semua. Hanya karena ada scene yang beliau tidak berkenan, bukan berarti beliau punya hak untuk melakukan sensor dengan memindah channel.

Kalau kita gabungkan kedua hal tersebut, hal penting yang bisa ditarik sebagai kesimpulan adalah bahwa kita sebagai orang yang sudah ‘dewasa’ secara usia, sudah sewajarnyalah bisa beradaptasi dengan dunia dan teknologi saat ini. Memang kita mesti memberikan ‘pagar-pagar’ untuk anak kita, tapi bukan berarti kita memperlakukan anak seperti anak bayi. Dilihat dari cara ibu itu bertindak, dimana beliau langsung men-judge bahwa adegan tersebut ekstrim dan langsung mengambil kontrol dalan ruangan tersebut, maka bisa kita bayangkan bagaimana generasi muda di keluarga mereka akan bersikap. Tidak ada empati dengan lingkungan sekitar dan tidak bisa beradaptasi dengan teknologi dan globalisasi.

Hari gini kalau kita sebagai orang tua melarang anak-anak terlalu banyak, wah, mereka akan semakin penasaran dan akan menemukan cara untuk mencari tahu sendiri. Bukankah itu lebih berbahaya ?

Hari gini, kalau kita sebagai orang tua tidak bisa menumbuhkan empati anak-anak untuk bisa bersosialisasi dengan baik dengan semua orang, wah …. kasihan mereka nantinya kalau sudah masuk dunia kerja.

Jadi para orang tua, banyak-banyaklah membaca mengenai parenting skill. Banyaklah mengikuti ‘social media’ yang membahas mengenai parenting. Agar kita tidak terjebak ke dalam pola pengasuhan anak yang kolot dan tidak terbuka.

Anak adalah titipan Tuhan, jadi jangan mencoba membentuk anak sesuai dengan gambaran kita. Tugas kita di dunia ini hanyalah membimbing mereka agar tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar untuk diikuti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s