Tertekan Dalam Belajar

Suatu hari di sebuah kursus bahasa Inggris, semester baru dimulai dengan sang guru mengajak siswa untuk bersama-sama membuat Classroom Rules. Poin classroom rules tiba pada poin yang disetujui seluruh siswa yaitu : jika ada siswa yang merusak barang dalam kelas, maka siswa tersebut harus menggantinya.

Yang terjadi kemudian adalah hal yang tak terduga. Robert, sebutlah nama siswa tersebut, adalah siswa yang pendiam dan biasanya kooperatif. Tiba-tiba setelah poin tersebut disetujui, Robert langsung keluar kelas.

Sewaktu ditanya oleh sang guru tentang hal tersebut, Robert menjawab : “Aku capek, miss. Tadi habis les matematika, kepalaku pusing. Jadi aku tertekan….”

Robert adalah siswa kelas 4, namun sudah bisa mengekspresikan perasaannya dimana hidupnya penuh dengan berbagai macam les. Dengan satu kata yang mengherankan yaitu : TERTEKAN.

Padahal sewaktu tahun 80-an, jarang sekali anak SD yang penuh dengan berbagai macam les. Dan mungkin perasaan tertekan itu juga tidak kita rasakan.

Tetapi apakah salah orang tua sehingga anak harus mengikuti berbagai macam les ? Tidak juga, karena dasar pemikiran orang tua adalah agar berbagai macam les tersebut bisa menunjang si anak agar lebih mengerti materi yang diberikan di sekolah.

Lalu berarti kesalahan ada pada sekolah ? Tidak juga, karena sekolah memberikan materi sesuai dengan kurikulum pendidikan nasional dari Departemen Pendidikan Nasional.

Jadi berarti kesalahan ada pada Diknas ? Mungkin juga. Karena seharusnya materi yang diberikan kepada anak-anak harus sesuai dengan perkembangan dan kematangan pribadi anak.

Kalau kita perhatikan, materi yang diterima oleh anak-anak SD jauh lebih tinggi daripada sewaktu saya masih sekolah di SD. Apalagi yang sudah duduk di bangku SMP dan SMA.

Sebaiknya memang perlu dilakukan survey yang menyeluruh mengenai kurikulum yang saat ini dipakai di Indonesia. Apa tujuan akhir yang ingin dicapai ? Apakah memang tujuan tersebut sudah tercapai ? Apakah anak-anak di Indonesia memang mampu mengikuti kurikulum tersebut sesuai dengan usia mereka ? Jika mengadopsi kurikulum dari negara tetangga, apakah sudah benar-benar dipertimbangkan kelebihan dan kekurangannya ? Dan apakah dengan nilai akademis seorang anak bisa diukur kualitas dan keberhasilannya ?

Pertanyaan yang banyak dan memerlukan usaha yang banyak juga untuk menjawabnya.

Seorang manusia yang baik dan berguna bagi bangsa dan negaranya adalah manusia yang memiliki akhlak yang baik, kepribadian yang positif. Kemampuan akademis adalah hal formal yang diperlukan untuk melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan, tetapi bukan yang utama.

Apakah pernah dipertimbangkan bahwa tidak semua anak Indonesia disa diberi tekanan untuk ‘jago’ dalam matematika, fisika dan hal-hal eksakta lainnya ?

Pernahkan dipikirkan sesuai dengan teori Multiple Intelligence bahwa ada anak-anak yang memiliki intelegensia dalam hal linguistik/bahasa, seni, kemampuan motorik kasar/sport, dan lain-lain ?

Ayo, para orang tua, apakah ada opini atau pendapat mengenai hal ini ? Apakah kita sebagai orang tua bisa berbuat sesuatu agar tidak ada lagi anak-anak kita yang mengekspresikan keadaan dirinya dengan kata TERTEKAN. Belajar seharusnya merupakan pengalaman yang menyenangkan, bukan pengalaman yang menakutkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s