INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 03 : Tarian Nusantara – Benda Apakah Itu ???

Untuk teman-teman yang mengikuti tulisan saya di Inspirasi 30 Hari, jika melihat kepada tulisan di Day 01, maka saya sempat menyebutkan bahwa project ini merupakan mimpi kecil dari 2 orang praktisi HR yang sudah memutuskan untuk mencurahkan konsentrasi kepada keluarga. Saya dan mbak Judith sudah memulai project ini di blog kami masing-masing. Dan kalau teman-teman membaca di tulisan mbak Judith di Day 01 (www.myshareabook.wordpress.com) dapat dibaca bahwa mbak Judith menceritakan sedikit tentang saya yang memiliki sanggar tari.

Fakta tersebut ada benarnya, tapi sebenarnya saya memiliki sebuah sanggar dimana didalamnya tersedia beberapa macam kegiatan dalam bentuk kursus dengan tujuan agar anak bisa mendapatkan wadah untuk menyalurkan bakatnya. Sebenarnya saya tidak mau terlalu banyak bicara tentang sanggar saya, tetapi kata-kata ‘sanggar tari’ mengusik hati saya untuk menulis sesuatu yang sudah lama saya ingin ungkapkan.

Memang saat ini ada kelas tari yang dibuka, yaitu Ballet, dimana saya bekerjasama dengan sebuah sekolah ballet di Jakarta. Tapi kita tahu bahwa Ballet bukanlah tarian asli Indonesia. Dan saya adalah orang Indonesia, yang mencintai tarian Nusantara dan sangat kagum dengan kekayaan yang terkandung dalam tarian-tarian tersebut.

Karena itulah sejak sanggar saya mulai beroperasi, sekitar tahun 2007 saya mulai mencoba mendekati sanggar tari A yang cukup punya nama dalam dunia tarian Nusantara. Prosesnya tidak perlu saya ceritakan dengan detil, tapi intinya selama kurang lebih 2 tahun saya mencoba mengejar dan memohon agar mereka mau bekerjasama dengan saya sehingga saya bisa membuka sanggar tari Nusantara di daerah tempat saya tinggal. Namun yang saya dapat hanyalah alasan demi alasan tanpa adanya kejelasan. Akhirnya saya memutuskan untuk ‘give up’ dan mencoba mencari sanggar lain.

Setahun kemudian, saya mendapat info dari teman saya bahwa ada sebuah sanggar lagi yaitu sanggar tari B yang secara jarak memang lebih dekat tempatnya dengan saya, sudah memiliki pengalaman banyak dalam kurikulum tari Nusantara, punya pengalaman banyak ikut dalam misi kebudayaan Indonesia ke luar negeri dan lain-lain. Karena rekomendasi yang sangat bagus, akhirnya saya coba hubungi dan responnya sangat bagus, bahkan dalam waktu singkat saya sudah berkunjung ke sanggarnya, pemilik sanggar pun sudah berkunjung ke tempat saya. Saya sangat menggantungkan harapan saya dengan prospek yang terlihat cerah ini.

Namun yang saya alami ternyata kurang lebih sama. Sudah 2 tahun juga saya belum bisa mendapatkan kepastian. Terakhir saya mendapatkan informasi dari pemilik sanggar mengenai biaya kursus jika mereka mengirim guru tari ke sanggar saya. Setelah saya hitung, wow, harganya terlalu tinggi untuk dibuka di daerah tempat saya tinggal.

Saya kemudian mencoba menata kembali pikiran saya dan mencoba mengevaluasi diri dan melakukan refleksi apakah ada sesuau yang kurang yang saya lakukan sehingga saya sulit sekali mencari mitra kerja dalam hal tarian Nusantara.

Pertama, saya memiliki keinginan yang tulus setulus-tulusnya dalam membuka kelas tari Nusantara ini karena sangat besar keinginan saya untuk bisa melihat anak-anak saat ini mencintai tari Nusantara yang benar dan sesuai dengan pakemnya, bukan hanya tarian yang terlihat “Nusantara” yang digunakan dalam acara-acara sekolah. Saya sudah melihat bahkan mengalami sendiri betapa positif dampak dari berlatih tarian Nusantara. Walaupun cuma sebentar, saya pernah belajar tari sewaktu saya masih kecil dan saya merasakan sendiri bagaimana kita ditempa dengan kedisiplinan dalam melatih kaki agar kuda-kuda kuat, dengan mengenakan kain yang diikat stagen. Sang anak juga akan diajarkan untuk bisa melatih motorik halusnya dengan cara melatih otak untuk mengkoordinasikan antara gerakan badan dengan musik yang didengar oleh kita. Hebat bukan ? Dan yang pasti, setiap habis berlatih tari, keringat pasti bercucuran, sama dengan kalau kita habis berolahraga. Jadi saya melihat tarian Nusantara sebagai sebuah budaya yang harus kita pelihara tetapi bisa digunakan sebagai sarana untuk melatih kedisiplinan, kemandirian, juga untuk melatih motorik halus dan yang pasti bisa membantu menenangkan jiwa dengan mengikuti alur tarian.

Kedua, saya tidak bermaksud merendahkan tarian Nusantara dengan mengatakan bahwa biaya kursus seharusnya murah meriah, tapi dengan segala teknologi dan globalisasi saat ini, orang tua mesti kita buat untuk tertarik dan mau mendorong anak-anaknya cinta tarian Nusantara dengan menyediakan kelas yang memiliki biaya kursus yang ‘terjangkau’.

Ketiga, mengapa sulit sekali mengajak teman-teman yang notabene sudah menjadi penari profesional, untuk mau mengembangkan kecintaan anak-anak terhadap tarian Nusantara ? Sebagai perbandingan, saya hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk bisa mendapatkan approval bekerjasama dengan sekolah ballet di Jakarta.

Nah, dari perenungan pribadi saya, ada pertanyaan besar saat ini :

1. Dengan keadaan dimana saat ini anak-anak Indonesia tidak hafal Pancasila atau lagu kebangsaan Indonesia Raya, lalu apakah kita mau membiarkan mereka tumbuh menjadi generasi muda yang tidak punya semangat nasionalisme ?

2. Apakah memang lebih penting menjalankan dan mengenalkan misi kebudayaan Indonesia kepada negara lain dibanding mengembangkan kecintaan anak-anak kita sendiri terhadap tarian Nusantara ?

3. Apakah kita tidak malu jika membaca berita bahwa banyak orang asing yang tertarik untuk belajar menari tarian Nusantara, tetapi kita sulit sekali mendapatkan berita mengenai bagaimana antusiasnya anak-anak Indonesia mempelajari tarian Nusantara ?

Rasanya tidak tepat kalau saya yang mendatangi sanggar-sanggar tari Nusantara kemudian saya yang mempresentasikan betapa pentingnya menumbuhkan kecintaan terhadap tari Nusantara bagi anak-anak Indonesia. Justru mereka yang seharusnya lebih tahu dan lebih menyadari hal tersebut karena mereka yang sudah lebih lama terjun langsung ke dunia tari.

Saya bukan penari profesional, tapi saya punya kecintaan yang mendalam terhadap tari Nusantara dan saya punya keinginan yang sangat besar untuk bisa menumbuhkan kecintaan anak-anak Indonesia terhadap tarian kita sendiri.

Jadi saya berharap diantara teman-teman yang membaca tulisan ini, siapa tahu ada yang tergerak hatinya untuk mau membantu saya. Kita harus mengakui dengan segala kerendahan hati, bahwa tari Nusantara masih kalah populer dengan tarian dari negara-negara lain. Berarti secara prinsip marketing sederhana (saya bukan orang marketing lho …) seharusnya dimulai dengan sesuatu yang menarik dan ‘terjangkau’. Dengan segala permasalahan ekonomi yang ada saat ini, mana ada orang tua yang mau mengalokasikan uangnya untuk membiayai anaknya kursus tari Nusantara kalau biayanya saja sama dengan biaya kursus tarian dari negara lain. Karena kita harus menerima kenyataan bahwa promosi untuk tarian Nusantara masih sangat amat kurang. Saya yakin mereka akan lebih senang mengalokasikan dana tersebut untuk hal lainnya.

Saya sangat berharap saya bisa membangkitkan semangat dalam diri teman-teman yang mungkin sebagian besar sudah berkeluarga, untuk kembali melihat dan merenungkan, betapa kita perlu berbuat sesuatu untuk bisa mencetak generasi muda Indonesia yang memiliki semangat ‘cinta budaya Indonesia’ ketimbang semangat ‘cinta budaya orang lain’. Let’s do something, let’s make a change …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s