INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 04 : Gadget dan Teknologi Dalam Kehidupan

Dua tahun yang lalu saya pernah mendengar keluhan dari seorang ibu yang baru saja membelikan anaknya sebuah handphone dengan fitur yang hebat. Sang ibu mengeluh kepada teman saya bahwa sekarang anaknya selalu mengurung diri di kamar setiap pulang sekolah dan komunikasi dengan orang tua hampir tidak ada. Sang ibu bertanya kepada teman saya, apa yang harus dia perbuat. Dan teman saya bertanya pada saya, apa yang harus diperbuat sang ibu.

Kalau teman-teman ada di posisi saya, apakah jawaban yang akan diberikan ? Kelihatannya mudah tetapi ternyata sulit dijawab. Tetapi menurut saya, akar dari segala keruwetan tersebut adalah kita sebagai orang tua.

Teknologi saat ini sudah maju. Lihatlah berbagai macam gadget*) yang ada, dengan harga terjangkau dan fitur yang luar biasa, bisa menjamah seluruh dunia lewat Twitter, Facebook, email, koneksi internet, mengirim foto ke seluruh dunia dan lain-lain. Bahkan kita nyaris tidak dapat mengejar kemajuan teknologi.

Tetapi kekaguman terhadap teknologi perlu diimbangi juga dengan kewaspadaan akan begitu mudahnya terjadi ‘cyber crime’ atau kejahatan di dunia maya. Sudah banyak berita yang kita dengar tentang perempuan yang berkenalan di facebook dengan seorang pemuda kemudian mencoba bertemu lalu ternyata terjadi pemerkosaan. Atau malah ternyata anak-anak kecil banyak yang menjadi korban para phaedophylia. Belum lagi kehebatan dunia internet, dimana kita bisa menemukan segala yang kita inginkan, mulai dari cuplikan khotbah berbagai agama sampai dengan berbagai hal yang menjurus ke pornografi.

Anak-anak adalah kelompok yang paling cepat belajar segala sesuatu yang baru, termasuk teknologi. Saya bisa memberikan sebuah handphone kepada anak saya yang berusia 12 tahun tanpa memberi informasi apapun. Dan keesokan harinya dia sudah bisa menggunakan handphone itu dengan lancar bahkan sudah mengunduh lagu-lagu dari internet. Bahkan anak saya yang berusia 9 tahun sudah bisa mengajarkan orangtuanya tentang beberapa shortcut yang bisa dilakukan di handphone kami hanya dari keisengannya bermain-main dengan handphone kami saat kami sedang bersantai di malam hari.

Nah, apakah kita ingin menjadi orang tua yang berada di luar lingkaran dan melihat anak kita tanpa bisa berbuat apapun ? Atau kita mau masuk ke dalam lingkaran bersama mereka dan belajar bersama mereka agar kita tetap dapat mendampingi sampai suatu saat mereka sudah cukup matang untuk bisa berkelana dengan teknologi yang ada ?

Di awal tulisan saya sudah menyebutkan bahwa akar dari segala keruwetan ini adalah kita sebagai orang tua. Mengapa ?

Fakta #1 : Saya yakin banyak orang tua yang bersikap bahwa karena faktor usia kelihatannya orang tua sudah tidak mungkin belajar suatu hal yang baru. Siapa yang bilang begitu ? Belajar tidak pernah mengenal usia. Apalagi kalau kita belajar demi anak. Kalau kita rela sakit atau mati demi anak, masakan kita tidak mau rela bersusah sedikit belajar sesuatu yang baru agar kita bisa mendampingi anak kita ? Apalagi semakin usia kita bertambah, semakin tinggi kebutuhan kita untuk terus melatih otak kita untuk aktif berpikir, agar kita tidak mengalami penurunan fisik lebih cepat seperti pikun dan lain-lain.

Fakta #2 : Saya banyak menemui keluarga yang semuanya memegang handphone/gadget*). Bahkan saya pernah melihat anak umur 6 tahun sudah memiliki handphone sendiri. Tapi sayangnya, saya melihat juga masih banyak orang tua yang hanya membelikan handphone/gadget*) tanpa mendampingi sang anak, malah sibuk sendiri dengan handphonenya untuk meng-update status di twitter ataupun facebook. Jadi ini adalah tipe orang tua yang bersemangat belajar tetapi untuk kepentingan diri sendiri.

Fakta #3 : Ada juga orang tua yang benar-benar berjuang untuk bisa membelikan gadget*) yang bagus untuk anaknya, walaupun dirinya sendiri hanya menggunakan handphone yang sederhana. Motivasinya tidak diketahui dan saya melihat mereka memiliki cara berpikir bahwa anaknya sudah bisa dipercaya sehingga mereka merasa tidak perlu lagi memonitor dan belajar teknologi agar bisa mendampingi anak.

Sebagai orang tua, apakah kita punya keberanian untuk mengakui bahwa kita adalah salah satu diantara mereka ? Saya mengacungkan dua jempol dan angkat topi setinggi-tingginya, bagi para orang tua yang sudah melakukan pendampingan bagi anak-anaknya untuk penggunaan gadget*) yang diberikan kepada mereka.

Tapi saya sangat menghimbau agar para orang tua yang belum melakukan hal tersebut, untuk bisa merenungkan betapa pentingnya pendampingan bagi anak dalam berkelana di dunia maya dengan teknologi canggih seperti saat ini.

Melihat kondisi tersebut, saya memiliki keinginan untuk bisa membangkitkan semangat para orang tua terutama para ibu untuk mau belajar mengenali teknologi. Misalnya di arisan ibu-ibu tingkat gang/RT, daripada berkumpul untuk bergossip, bukankah lebih baik diisi dengan bersama-sama belajar sesuatu tentang teknologi saat ini. Selain bermanfaat untuk diri kita sendiri, yang pasti akan bermanfaat untuk pendampingan anak.

Malahan saya sempat berpikir, apakah ada keharusan anak SD sudah memiliki handphone ? Apakah kita tidak bisa menundanya sampai mereka duduk di bangku SMP setidaknya, agar mereka lebih bijak ? Atau kita terlalu takut anak kita akan minder jika tidak punya handphone.

Yang perlu diingat adalah handphone/gadget diciptakan dan dibuat dengan tujuan utama adalah membantu manusia untuk lebih cepat berkomunikasi dengan orang lain dan lebih cepat mengakses informasi yang dibutuhkan lewat koneksi internet. Tujuan utamanya bukan untuk gengsi atau menaikkan harga diri.

Saya selalu yakin bahwa hidup kita ditentukan oleh pilihan yang kita buat. Jadi, semuanya tergantung pada kita sebagai orang tua, yang diharapkan bisa lebih bijak dibandingkan anak-anak kita. Anak-anak adalah tetap anak-anak, yang di usia mudanya masih perlu bimbingan dan pendampingan orang tua dalam segala hal. Kini semuanya tergantung kita sebagai orang tuanya, mau mengorbankan waktu kita untuk belajar dan mendampingi anak kita dalam penggunaan teknologi di dunia maya sampai mereka cukup matang untuk bisa melakukannya seorang diri ? Atau hanya menjadi orang tua yang sanggup membelikan teknologi tersebut dan tidak mau pusing memikirkan efek negatif tidak adanya pendampingan bagi anak-anaknya.

The choice is yours …

Gadget*) : Menurut Wikipedia, Gadget adalah istilah bahasa Inggris untuk merujuk pada suatu peranti/instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis spesifik yang berguna yang umumnya diberikan terhadap sesuatu yang baru. Gadget dalam pengertian umum dianggap sebagai suatu perangkat elektronik yang memiliki fungsi khusus pada setiap perangkatnya. Contohnya: komputer, handphone, game konsole, dan lainnya.
Disadur dari B’Borneo Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s