INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 05 : Sex Education – Tabu atau Perlu ?

Beberapa tahun yang lalu saya bekerjasama dengan beberapa teman yang tergabung dalam sebuah lembaga yang bergerak di bidang penyuluhan HIV/AiDS, menyelenggarakan sebuah kegiatan penyuluhan untuk para remaja yang berada di lingkungan sekitar saya. Pesertanya lumayan, sekitar 25 remaja. Secara umum, bisa dikatakan penyuluhan berlangsung dengan baik dan sambutan para remaja juga cukup baik.

Setelah itu selama bertahun-tahun saya mencoba ‘menjual’ ide ini kepada beberapa teman, dengan menawarkan membuatkan penyuluhan dimana didalamnya terselip materi Sex Education untuk remaja. Tetapi sayangnya tidak ada respon yang hangat.

Kembali saya mencoba mengevaluasi diri. Apakah saya yang salah membidik ‘target audience’ ? Ataukah memang kesadaran masyarakat tentang penyebaran virus ini yang berawal dari pergaulan bebas masih sangat kurang ?

Saya sangat prihatin dengan kondisi saat ini, dimana anak remaja kita semakin mudah ter-ekspos dalam pergaulan bebas di dunia yang sangat cepat berputar dengan segala kemajuan pikiran, pandangan dan teknologinya. Dan kalau kita menyimak laporan tahunan dari WHO, betapa mengkhawatirkan tingkat pertumbuhan penderita HIV/AiDS terutama di benua Asia. Mungkin karena data yang tidak terlalu banyak diberitakan, seolah di area Jabodetabek tidak ada ancaman dari penyakit ini. Padahal angka pengidapnya cukup tinggi.

Sudah lama saya memiliki keinginan, entah bagaimana caranya, untuk bisa bekerjasama dengan para dokter, psikolog dan lembaga yang punya kepedulian tinggi terhadap remaja, HIV/AiDS dan sejenisnya untuk melakukan penyuluhan berupa Sex Education kepada para remaja. Yang saya maksud disini bukan seperti pelajaran biologi di sekolah yang menjelaskan mengenai organ reproduksi manusia, tetapi penjelasan dengan lebih sederhana namun gamblang mengenai apa yang terjadi jika dilakukan hubungan seksual, bagaimana dan kapan pria dan wanita matang sehingga siap untuk memiliki anak, konsekuensi apa yang ada jika terjadi pergaulan bebas atau sampai menyebabkan kehamilan diluar nikah. Tentunya dikemas dengan baik sehingga tidak menjadi hal yang menakutkan remaja atau malah memicu keingintahuan remaja untuk mencobanya.

Beberapa bulan yang lalu saya mendengar sebuah talk show di radio yang mengatakan bahwa di tahun 2013 (kalau saya tidak salah mengingat) sudah dicanangkan bahwa di DKI Jakarta diharapkan para remaja sudah diberikan penyuluhan dan mengerti tentang HIV/AiDS. Bukankah program seperti itu sangat bagus ?

Sebenarnya kalau kita lihat kembali, barangkali keengganan orang untuk mengadakan penyuluhan atau Sex Education ini berdasarkan pemikiran bahwa hal tersebut masih merupakan hal yang sensitif dan tabu bagi sebagian orang. Dan saya juga khawatir masih banyak orang tua yang justru takut kalau anak remajanya diikutkan penyuluhan seperti ini dimana didalamnya pasti terselip materi tentang Sex Education, karena pola pikirnya adalah ‘wah, nanti anak saya malah penasaran ingin mencoba-coba …’

Kalau kita tetap bertahan dengan pola pikir seperti itu, mau jadi apa generasi muda kita nanti ? Sementara di sekeliling kita berita tentang bayi yang dibuang, remaja hamil di luar nikah, semakin banyak.

Melindungi anak remaja kita bukan dengan cara menutupi mata dan telinga mereka dari apa yang terjadi di sekeliling kita. Justru dengan melihat dan mendengar, kita bisa membantu menjelaskan kepada mereka mengapa hal itu jangan sampai terjadi pada diri mereka.

Menurut saya, ada dua hal penting yang sangat mendasar yang perlu dimiliki oleh seorang anak remaja agar dirinya tidak sampai jatuh ke dalam pergaulan bebas.

Satu, iman yang kuat. Dalam setiap agama, saya yakin seluruh pengajarannya adalah baik. Dan tempat untuk menumbuhkan keimanan yang kuat adalah dalam keluarga, komunitas yang terkecil dan paling dekat dengan sang remaja. Binalah iman anak-anak kita sedari kecil sehingga mereka terlatih mata batinnya untuk bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik.

Dua, pengetahuan yang memadai lewat Sex Education yang bisa disampaikan dalam berbagai cara dan bentuk. Dalam bentuk percakapan antara orang tua dan anak. Berbagai macam buku untuk membantu orang tua menjelaskan beberapa hal mendasar tentang Sex Education sudah bisa dijumpai di toko buku besar. Mengikuti kegiatan penyuluhan yang ditujukan untuk remaja. Atau bahkan kita sebagai orang tua rajin mengikuti seminar parenting sehingga kita mengetahui bagaimana cara menjelaskan kepada anak remaja kita mengenai haid pertama, kesuburan pada wanita dan lain-lain. Atau menggunakan handphone, blackberry, iPhone kita untuk ‘follow’ di twitter, facebook atau blog yang mengkhususkan diri pada ketrampilan parenting dimana biasanya dijelaskan mengenai hal-hal tersebut.

Maka, teman-teman yang mungkin sudah lama berkecimpung dalam dunia remaja dan penyuluhan, yuk, kita bekerjasama membekali generasi muda kita lewat penyuluhan yang komprehensif tentang Sex Education bagi remaja.

Bagi para orang tua, yuk, jangan malas untuk banyak membaca buku, ‘follow’ akun di twitter, facebook atau blog yang membahas mengenai remaja atau sesekali mengikuti seminar parenting. Rekan saya dalam project menulis ini adalah seorang ibu muda yang sangat antusias dalam mengikuti seminar parenting. Jika anda tertarik untuk mengetahui dimanakah sedang ada seminar parenting, bisa contact saya di akun twitter @r_pranoto (Rossy) atau rekan saya di akun twitter @LetsShareABook (Judith).

Ayo, kita bantu dampingi anak remaja kita agar lebih siap menghadapi dunia pergaulan antara pria dan wanita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s