INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 06 : Konvensional

Bulan Mei yang lalu, ayah saya jatuh terserempet motor dan tidak bisa jalan. Hasil rontgen menunjukkan patah tulang panggul. Jalan keluar satu-satunya adalah operasi untuk pemasangan pen. Karena kami ragu, maka malam itu saya mencari informasi tentang dokter orthopedi yang punya reputasi bagus untuk penanganan patah tulang. Tiba-tiba suami saya teringat kepada seorang dokter orthopedi yang beberapa kali menangani kasus yang berhubungan dengan kerusakan tulang karena kelalaian kerja.

Keesokan harinya saya berangkat dengan membawa hasil rontgen menemui dokter tersebut. Ketegangan saya usai saat dokter berkata : ‘kalau melihat usia bapak, saya tidak menyarankan operasi, tapi saya menyarankan metode konvensional saja’. Rasanya saat itu saya ingin melompat-lompat di hadapan sang dokter. Senangnya bukan main. Akhirnya ayah saya tidak perlu dioperasi, saat ini sedang menjalani fisioterapi dalam proses penyembuhan.

Kalau kita mendengar kata KONVENSIONAL, yang terbayang di benak kita adalah sesuatu yang oldies, lama, ketinggalan jaman, cenderung kolot dan kaku, tidak menarik, dan berbagai macam konotasi yang kurang ‘fun’.

Padahal segala sesuatu yang ada di dunia saat ini berasal dari sesuatu yang konvensional dan berakhir menjadi sesuatu yang konvensional. Dahulu orang hidup secara konvensional dalam gua, dan hasilnya saat ini manusia bisa membuat rumah untuk menggantikan gua. Betapapun hebatnya teknologi yang dimiliki oleh seseorang, pada saat dia mati, dia tidak membawa apa-apa. Pilihannya adalah dimakamkan atau dikremasi yang semuanya adalah metode konvensional.

Saya ingin mengajak pembaca untuk bisa memandang segala sesuatu yang konvensional dari sudut pandang yang sedikit berbeda.

Kalau kita mendengar orang tua berkata : anak bayi kalau belum berumur 40 hari jangan dibawa keluar rumah, kalau menggunting kuku jangan di malam hari, … reaksi pertama adalah tertawa. Karena alasan dari semua larangan itu biasanya hanya satu kata : Pamali, sebuah kata yang sulit didefinisikan dengan jelas. Sementara saat ini kita hidup dalam dunia teknologi yang semuanya bisa dijelaskan dengan logika.

Lalu apakah itu berarti generasi tua adalah generasi yang superstitious ? Yang percaya takhayul ? Tentu saja tidak, karena di jamannya, mereka belum mampu menjelaskan alasan logis dibalik semua larangan itu. Padahal kalau kita renungkan lagi, semuanya beralasan logis koq. Anak bayi kalau belum berumur 40 hari jangan dibawa keluar rumah, alasannya karena badannya masih rentan terhadap bibit penyakit dan kuman yang bertebaran di tempat umum. Kalau menggunting kuku jangan di malam hari, alasannya karena penerangan yang kurang, bisa membuat kita tidak hati-hati sehingga bisa menimbulkan luka.

Jadi mulai sekarang, jika kita melihat sesuatu yang konvensional, coba renungkan sejenak. Contohnya : saat usia bertambah maka stamina akan menurun, untuk mencegah penyakit, kita dianjurkan memakai cara konvensional yaitu berolahraga, yang harus dilakukan oleh kita dan bukan oleh gadget kita. Saat seorang ibu mau melahirkan, metode apapun yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit, sang bayi tetap harus keluar lewat jalan lahir yang konvensional (kecuali untuk kasus operasi). Saat kita terluka, walaupun diberi obat yang paling mujarab sekalipun, tetap diperlukan metode konvensional yaitu mengistirahatkan diri agar tubuh bisa memperbaiki jaringan yang rusak, karena obat hanya membantu mempercepat proses regenerasi jaringan. Metode konvensional juga terbukti telah membuat ayah saya menjadi lebih baik dan tidak perlu dioperasi.

Maka, sesuatu yang konvensional belum tentu sebuah metode atau benda yang perlu dibuang dan dilenyapkan. Sebab dari sanalah segala sesuatu berawal. Seluruh wejangan dan kata-kata yang diucapkan oleh orang tua, buku-buku yang ditulis oleh para sastrawan di jaman dahulu, jurnal science yang ditulis oleh para ilmuwan jaman baheula atau film-film konvensional ala Charlie Chaplin, semuanya memiliki nilai yang sangat tinggi. Karena dari situlah manusia bisa menggali dan mengeksplorasi seluruh kemungkinan untuk bisa berbuat lebih baik.

Dari wejangan orang tua, maka kini kita bisa menemukan berbagai macam perlengkapan bayi dalam bentuk yang lucu dan mudah dibawa. Dari para sastrawan jaman dahulu, kini kita bisa melihat variasi berbagai bentuk tulisan di berbagai media yang lebih menarik kita untuk mau membaca. Dari jurnal science berabad-abad yang lalu, bisa ditemukan berbagai macam dalil ataupun penemuan-penemuan yang menakjubkan. Dari film bisu ala Charlie Chaplin, kini kita bisa menikmati film dengan efek visual yang dahsyat.

Maka mulai sekarang, marilah kita melihat sesuatu yang konvensional sebagai sesuatu yang memiliki nilai warisan yang tinggi, awal dari diri kita saat ini. Sudah selayaknya kita menjaganya agar tidak punah, tetapi tetap ada sebagai pengingat bagi kita darimana kita berasal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s