Raditya Dika – sang blogger cerdas

Hari ini merupakan hari yang melelahkan bagi saya. Mulai dari mengurus perbaikan dokumen dan verifikasi data untuk pembuatan e-ktp, mendapat kabar bahwa anak saya terpeleset di sekolah sehingga pahanya luka dan memar, sampai ban mobil yang kempes karena tertusuk paku.

Namun di tengah hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, saya berusaha untuk mencari hal-hal baik yang terjadi di hari ini, yang masih membuat saya bersyukur bahwa saya masih diberi hidup.

Dan hari ini, hal yang menyenangkan dan patut disyukuri adalah keikutsertaan saya dalam sebuah acara talk show yang diselenggarakan oleh developer perumahan di tempat saya tinggal, dengan seorang blogger yang sudah sangat sering terdengar namanya : Raditya Dika.

Saya cukup kaget melihat partisipan yang hadir, semakin sore semakin memadati ruangan, dan mayoritas adalah kaum muda, baik mahasiswa maupun para karyawan. Selama ini saya hanya mengenal Raditya Dika sebagai seorang blogger yang ngetop karena bukunya yang berjudul “Kambing Jantan” dan “Manusia Setengah Salmon”. Lalu saya juga mendengar bahwa Raditya juga seorang stand up comedian, sebuah profesi yang baru saja nge-trend di Indonesia. Tapi saya tidak ingat bagaimana raut wajahnya dan selama ini belum merasa perlu untuk mengenalnya lebih jauh.

Namun begitu acara dimulai, saya memperhatikan cara Raditya berkomunikasi dengan audience. Memang topiknya bukan melulu blogging atau menulis, tapi menyinggung juga sedikit mengenai wirausaha. Konsentrasi dan perhatian saya terfokus pada cara Raditya melakukan komunikasi dua arah dengan MC maupun dengan audience.

Raditya Dika adalah seorang entertainer sejati. Dia pandai mengolah kata, selalu tersenyum dan berani melakukan kontak mata dengan audience, lontaran joke-nya tidak terkesan menghina – tetapi lebih terkesan cerdas. Saya belum pernah membaca bukunya, tetapi kalau dari berbicara saja dia sudah mampu membuat audience terbawa suasana, maka saya yakin tulisannya pun akan demikian.

Contoh yang sederhana adalah saat ada seorang mahasiswa bertanya, apakah isi buku pertamanya itu benar-benar kejadian dalam kehidupannya sehari-hari ? Raditya menjawab memang benar, walaupun ada beberapa bagian yang memang dia kembangkan sesuai dengan imajinasinya. Lalu dia memberikan contoh bercerita tentang kucingnya yang bernama Alfa, yang dicoba dijodohkan dengan kucing pilihan keluarga, tetapi malah jatuh cinta dengan kucing tetangga depan rumah. Pihak keluarga merasa sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Padahal kucing tetangga itu ngga oke banget, karena kerjaannya cuma berdiri di dekat tiang listrik. Tapi Alfa tetap backstreet dengan kucing tetangga ini dan malah sekarang sudah hamil diluar nikah. Saya sampai terbahak-bahak mendengar ceritanya itu, karena diceritakan dengan demikian lancarnya, dengan muka yang serius namun lucu, seolah-olah hal tersebut adalah perbuatan manusia. Padahal itu cuma cerita tentang seekor kucing, yang diolah pembawaan dan kata-katanya oleh Raditya dengan begitu baiknya.

Namun dari pengalaman pribadi yang dia share dengan audience, kemudian berbagai joke yang segar dan cerdas yang dia lontarkan, saya mendapatkan sebuah tambahan ‘ilmu’ dari Raditya tentang menulis :

1. Berangkatlah dari kegelisahan pribadi atau kejadian sehari-hari, contohnya tentang kucing tersebut. Sebuah hal kecil, namun bisa dikembangkan menjadi sebuah cerita yang unik dan lucu.

2. Kreatif dalam menulis dengan menggabungkan pengamatan dan cara penyampaian cerita. Itulah yang membuat sebuah kisah bisa menjadi menarik.

3. Kita patut untuk mencoba dan berjuang untuk sesuatu yang kita senangi. Contohnya bahwa bukan penerbit yang mendatangi Raditya untuk menerbitkan buku pertamanya, tapi Raditya yang mendatangi dan memaksa sang editor untuk langsung membaca naskah tulisannya saat itu juga.

Memang tidak menjadi jaminan bahwa jika kita bisa melakukan semua hal tersebut, lalu kita akan menjadi terkenal seperti Raditya. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana Raditya bisa sampai kepada pemikiran seperti itu, pemikiran yang telah membuatnya dikenal banyak orang.

Memperhatikan bagaimana Raditya membagi pengalamannya tentang menulis dan menjawab pertanyaan para orang muda tentang bagaimana menjaga semangat menulis dan lain-lain, saya merasa Raditya adalah orang yang gemar membaca, sebab dia bisa menjawab semua pertanyaan teknis yang ada. Dan itu tidak akan terjadi jika dia tidak mempelajarinya dari buku atau internet.

Dia juga adalah orang yang berpikir sederhana dan pengamat yang baik, terlihat dari caranya menggoda peserta yang sedang bertanya, caranya melontarkan joke yang enak didengar namun tidak terkesan klise dan juga terlihat dari cuplikan cerita yang dia tulis di bukunya.

Tidak pernah sekalipun dia menggunakan kalimat dengan kosa kata yang ‘canggih’, semua kata-kata yang dipakai adalah kata-kata umum yang kita gunakan sehari-hari. Tidak pernah sekalipun dia menggunakan contoh saat sedang keluar negeri, dia lebih senang bercerita tentang pengalaman sehari-hari. Dan tidak pernah sekalipun dia lupa memberi semangat kepada para peserta yang bertanya, bahwa jangan putus asa, menulislah terus.

Sungguh sebuah pengalaman yang sangat mengesankan, bertemu dengan seorang pria muda dengan passion menulis yang sangat kuat, dengan pemikiran yang sederhana bahwa pengalaman hidup keseharian adalah hal yang bisa dijadikan bahan tulisan, dan bahwa kita harus bisa menghargai kemampuan diri kita sendiri walaupun itu cuma ‘menulis’.

Dalam perjalanan pulang, saya sempat melihat tweet terakhir yang dia kirim – kelihatannya terinspirasi dari acara tersebut, dia menulis :
SARAN PALING GAMPANG BUAT YANG MAU NULIS : JANGAN NGELUH. JANGAN NGELUH SUSAH, GAK KOMERSIL, GAK ADA WAKTU, TAKUT JELEK. SHUT UP AND WRITE.

Advertisements

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 30 : Di hari ke-30 …

Tidak terasa sudah 30 hari saya dan mitra menulis saya, mbak Judith (@LetsShareABook) telah menulis di blog kami masing-masing tentang pengalaman hidup kami sehari-hari, yang telah memberikan inspirasi dan aspirasi bagi kami (bisa dilihat di : http://www.rosepratiwi.wordpress.com dan http://www.myshareabook.wordpress.com).

Sungguh 30 hari yang penuh dengan berbagai rasa, seperti permen nano nano : seru, tegang, mendebarkan.

Seru, karena ternyata sangat mengasyikkan untuk memilih sebuah pengalaman hidup keseharian untuk ditulis menjadi sesuatu yang bisa berguna bagi diri saya dan pembaca.

Tegang, karena banyak hari dimana saya harus meluangkan waktu untuk menulis menjelang tengah malam, di saat semua orang di rumah sudah tidur. Atau malah di pagi hari di saat anak-anak saya sudah berangkat sekolah. 

Tegang karena ada hari-hari dimana kepanikan melanda sebab saya merasa tidak ada ide sedikitpun apa yang akan saya tulis untuk hari tersebut. 

Tegang karena ada hari-hari dimana saya hanya duduk terpaku dan bengong di depan laptop, bingung mau menulis apa.

Mendebarkan saat saya sedang memposting tulisan saya hari itu, karena berarti saya telah berhasil mengisi hari saya dengan sebuah kegiatan positif, yaitu mengasah ketrampilan menulis saya. 

Mendebarkan karena file saya sempat hilang, yang sempat membuat saya bengong sejenak. Namun syukurlah masih bisa saya copy dari tulisan di blog saya, walaupun beberapa draft tulisan tidak bisa kembali lagi.

Namun dibalik semuanya itu, saya belajar banyak sekali dari menulis setiap hari selama 30 hari belakangan ini.

Saya belajar bahwa bermitra dengan orang seperti mbak Judith, yang memiliki passion menulis dan membaca yang sangat tinggi, ternyata telah menularkan kepada saya semangat untuk terus maju dan tidak pernah putus asa, walaupun banyak kegiatan rutin yang harus dilakukan. Walaupun kami belum pernah bertemu muka sekalipun, hanya berkomunikasi via twitter dan chatting.

Saya belajar bahwa janji dan komitmen untuk menepati janji tersebut, adalah hal yang sulit namun tidak mustahil untuk dilakukan. Karena kalaupun saya ‘bolong’ menulis satu atau dua hari, saya yakin tidak ada satu orangpun yang akan marah atau menghukum saya. Tapi saya dan mbak Judith melakukannya setiap hari karena kami merasa bahwa sebuah janji sudah terucap dari kami dan janji harus ditepati.

Saya belajar bahwa melakukan sesuatu dengan cinta yang besar, yaitu menulis, adalah hal yang sangat menyenangkan. Merupakan sebuah kegiatan relaksasi di akhir hari yang sibuk. Dan merupakan sebuah ekspresi diri saya lewat pengalaman keseharian yang saya tuliskan.

Saya belajar bahwa ternyata banyak yang bisa kita serap dari lingkungan sekitar kita. Bahwa dengan berpikir positif, kita bisa menemukan hal-hal yang baik dari semua peristiwa yang kita alami.

Saya belajar untuk lebih menghargai dan mensyukuri keberadaan saya saat ini, karena lewat pengalaman keseharian atau kisah hidup teman yang saya tulis, saya belajar untuk mensyukuri apa yang saya miliki saat ini dan tidak mengeluh lagi terhadap Tuhan yang telah begitu baik memberikan kehidupan dan keluarga yang saya cintai kepada saya.

Saya belajar bahwa ‘BELAJAR’ memang tidak mengenal usia. Apakah itu belajar menulis, belajar untuk banyak membaca buku, belajar memasak dan belajar lainnya. Yang terpenting adalah niat dan tekad serta usaha untuk bisa mewujudkannya.

Dan saya belajar bahwa menulis bisa menjadi sebuah terapi bagi diri saya untuk bebas berekspresi lewat cara yang tidak mengganggu dan merugikan orang lain.

Once again, the biggest thank to mbak Judith, my partner. It is an honor to write with you. I really enjoyed the moment. I hope we can write together again and again and again in the future.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 29 : Saya Adalah Seorang Ibu Rumah Tangga

Jika 8 tahun yang lalu, saya ditanya apa pekerjaan saya, maka saya pasti akan ragu sejenak dan sedikit merasa malu untuk menjawab bahwa saya sekarang adalah ibu rumah tangga. Itu terjadi beberapa lama setelah saya memutuskan berhenti bekerja.

Namun jika saat ini saya diberikan pertanyaan yang sama, saya akan langsung menjawab bahwa saya adalah ibu rumah tangga, tanpa ada ragu sedikitpun.

Saya tidak ingin membandingkan kehebatan seorang ibu yang bekerja dengan seorang ibu rumah tangga. Saya hanya ingin berbagi pengalaman selama 8 tahun saya menjalani hidup dengan cara yang sangat berbeda.

Awalnya tentu saja saya merasa khawatir tidak punya kegiatan, karena sudah terbiasa dengan tingkat kesibukan kerja di kantor. Namun ternyata kekhawatiran saya tidak beralasan. Ternyata kegiatan sebagai ibu rumah tangga sudah dimulai dari subuh, sejak menyiapkan anak-anak untuk sekolah, dan tidak pernah berhenti sampai malam menjelang.

Mulai dari memikirkan harus masak apa hari ini, harus belanja bulanan, harus membeli sayur mayur ke pasar, belum lagi urusan sekolah anak-anak, mengurus pembayaran listrik/air/telpon, membersihkan rumah atau setidak memonitor pekerjaan Asisten Rumah Tangga dalam membersihkan rumah, dan masih banyak kegiatan lainnya.

Mengalami semua itu, ada satu hal yang paling esensial yang saya rasakan selama saya tinggal di rumah. Dahulu saat saya bekerja, saya hanya ‘mendengar’ dari pengasuh anak bahwa anak saya sudah bisa bernyanyi, sudah bisa berlari, sudah bisa melipat kertas dan lain-lain. Lalu panik jika ada telpon dari pengasuh anak bahwa anak saya demam, muntah-muntah dan lain sebagainya. Hanya mendengar, mendengar dan mendengar.

Namun setelah saya di rumah, saya punya porsi waktu yang cukup banyak untuk bertemu dengan anak-anak saya. Saya tidak hanya ‘mendengar’ tetapi saya juga ‘melihat dan menyaksikan’ perkembangan anak-anak. Bagaimana cerita mereka tentang teman-teman, guru dan sekolahnya. Bagaimana mereka tumbuh menjadi tinggi, malahan anak sulung saya sudah masuk masa pubertas dan saya ada di sampingnya saat semua itu terjadi.

Maka tak heran jika di Jepang, negara yang sangat maju dengan teknologi dan kepandaian orang-orangnya, ternyata dengan segala tuntutan sekolah yang tinggi, telah membuat sebuah pergeseran pemikiran dimana para wanita Jepang yang sudah memiliki anak akan memutuskan tinggal di rumah menjadi kyoiku mama (ibu pendidikan) bagi anaknya.

Bahkan di belahan dunia Barat pun, banyak para wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, namun masih sempat untuk berkarya lewat menulis di blog.

Tsh (dibaca : Tish) Oxenreider, adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak yang masih kecil. Tinggal di Bend, Oregon. Di sela-sela kehebohan rumah tangganya, dia masih menyempatkan diri untuk menulis buku dan mengelola 5 buah blog miliknya, dimana seluruhnya berbicara tentang ibu, anak dan rumah tangga.

Contoh-contoh tersebut menggambarkan kepada kita bahwa profesi ibu rumah tangga pun tidak menghalangi kita untuk berkarya atau berekspresi. Apakah kita mau menulis, melukis, membuat lagu, apapun kegiatannya, selama kita menjalankannya dengan senang hati, pasti akan bisa dilalui dengan baik walaupun dikerjakan sambil mengurus rumah tangga.

Being a housewife – menjadi ibu rumah tangga, bukanlah sebuah kondisi yang menakutkan. Justru merupakan sebuah kesempatan yang sangat baik bagi kita untuk belajar sesuatu hal yang baru, bertemu dengan orang-orang baru, mempelajari teknologi yang ada dan memanfaatkannya untuk keperluan rumah tangga dan pribadi. Bahkan kita harus pandai mencari waktu untuk “me time”, waktu untuk diri kita sendiri. Apakah kita perlu jalan-jalan sendiri, atau membaca buku di kamar sendiri, atau menonton di bioskop bersama teman-teman dekat. Dan ibu rumah tangga dimampukan untuk melakukan semuanya itu.

Bagi sebagian wanita, keadaan lingkungan sekitar sangat mendukung bagi sang ibu untuk tetap bekerja. Misalnya ibu harus membantu ekonomi keluarga, ibu dengan anak-anak yang sudah beranjak dewasa sehingga sudah tidak terlalu banyak yang harus dilakukan, dan lain-lain.

Namun bagi sebagian lainnya, terkadang pada suatu titik kita memang harus memilih untuk tidak bekerja dan tinggal di rumah karena diawali dengan kondisi lingkungan sekitar sebagai pemicunya. Misalnya jarak kerja yang terlalu jauh sehingga mempengaruhi kesehatan, kondisi kesehatan anak yang kurang baik dan memerlukan perhatian penuh dari ibu, dan lain-lain.

Namun bersyukurlah jika jalan hidup kita adalah menjadi ibu rumah tangga, karena kita bisa melihat dan menyaksikan perkembangan anak-anak dari hari ke hari.

Bersyukurlah jika kita menjadi ibu rumah tangga, karena kita mempunyai lebih banyak waktu untuk memahami keadaan di sekeliling kita dan melatih mata batin kita untuk lebih peka terhadap sesama.

Tetaplah berkarya, gunakan talenta yang ada pada kita, jangan berhenti di tempat. Otak kita harus terus distimulasi dengan berbagai kegiatan yang kita senangi. Apakah melanjutkan hobi menyulam kita yang sudah lama ditinggalkan atau malah mulai memberanikan diri untuk menulis sebuah cerita.

Banyaklah belajar lewat buku, musik, film, social media dan internet tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah tangga, pendidikan anak-anak, parenting skill dan dunia kewanitaan. Pengetahuan baru akan menambah rasa percaya diri kita dan menambah semangat untuk bisa mengurus keluarga dengan lebih anak.

Last but not least, enjoy the moments. Karena momen-momen yang kita lalui sehari-hari bersama suami dan anak-anak tidak akan bisa diputar ulang.

Saya adalah seorang ibu rumah tangga ….

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 28 : Dasi

Pagi ini diawali dengan sebuah insiden kecil yang sempat membuat saya merasa menghadapi dilema. Biasanya sekitar pukul 05.30 pagi, kedua putri saya sudah siap dengan seragam sekolah dan hanya tinggal sarapan saja, sebab biasanya pukul 06.00 mereka sudah dijemput untuk pergi sekolah.

Namun putri sulung saya yang baru duduk di kelas 7 tiba-tiba mendekati saya dan berkata apakah dia bisa menelpon temannya untuk meminjam dasi. Nah, disinilah insiden itu bermula. Saya tanya mengapa harus meminjam. Putri saya menjawab karena dasinya dicari-cari tidak ada. Kebetulan hari ini memang ada pelajaran olahraga, sehingga biasanya seragam biru putihnya dibawa untuk baju ganti.

Saya juga ingat di awal tahun pelajaran saya sudah membeli dua buah dasi. Sewaktu saya tanyakan, ternyata satu buah dasi sudah hilang sejak lama, tapi dia tidak bercerita pada saya mengenai hal tersebut.

Saya selalu mengajarkan untuk mempersiapkan semuanya di malam sebelumnya agar tidak ada yang tertinggal. Karena dia sudah memasuki jenjang SMP, maka kesepakatan kami adalah dia harus sudah bisa mengurus dirinya sendiri dan bukan masanya lagi saya harus mengecek tasnya untuk memastikan semuanya lengkap.

Otak saya langsung berpikir sebelum memutuskan langkah apa yang saya ambil. Saya yakin dasinya ada di tumpukan baju kotor. Namun berkali-kali saya menemukan putri saya meletakkan dasi seenaknya sepulang sekolah. Lalu saya berpikir, kalau dia diijinkan meminjam temannya, berarti saya menanamkan nilai yang kurang baik, nilai yang ‘ambil gampangnya saja’. 

Memang ada rasa tidak tega, karena dia pasti akan ditegur oleh wali kelasnya. Namun jika saya terus melindunginya dengan cara memperbolehkan dia meminjam dasi temannya atau memberinya uang untuk membeli dasi baru setibanya di sekolah, saya khawatir putri saya tidak akan belajar untuk lebih bisa menghargai barang miliknya sendiri.

Akhirnya walaupun dengan berat hati, saya memutuskan dia tidak boleh meminjam dasi temannya. Jadi pagi ini dia pergi ke sekolah tanpa membawa dasi. Walaupun dia sarapan sambil menangis, saya berharap dia belajar dari pengalaman ini.

Urusannya sepele, tentang dasi sekolah yang harganya pun tidak sampai sepuluh ribu rupiah. Tapi nilai yang terkandung di dalam kejadian ini tidak sepele.

Generasi muda saat ini, termasuk anak-anak kita, adalah generasi instant. Dimana orang tua yang memiliki kemampuan ekonomi menengah keatas, cenderung untuk tidak mau ambil pusing dengan hal-hal yang kecil. Saya yakin banyak orang tua yang akan memilih jalan untuk memberi uang kepada anaknya untuk membeli dasi baru atau segera menyuruh menelpon temannya untuk meminjam dasi atau mungkin ada beberapa yang ikut menghadap wali kelas untuk menceritakan alasan bermacam-macam agar anaknya tidak ditegur.

Tetapi apakah kita memikirkan dampak dari ‘instant-isasi’ ini ? Bahwa generasi muda tidak diajak untuk berpikir lebih menghargai barang miliknya sendiri yang sudah diberikan oleh orang tua dari hasil jerih payah mereka. Bahwa generasi muda tidak diajak untuk berpikir untuk disiplin dengan cara mempersiapkan semuanya di malam  sebelumnya. Bahwa generasi muda harus sadar dalam kehidupan ini semua ada ‘aturannya’ dan jika dilanggar tentunya ada konsekuensinya.

Maka apakah generasi muda kita akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bisa bertahan dan berjuang melewati tantangan hidup, semuanya saat ini bergantung pada kita, sebagai orang tua, yang mendampingi mereka dalam setiap langkah kehidupannya.

Terkadang memang tidak tega rasanya untuk menerapkan sebuah peraturan dan konsekuensinya. Namun ke’tegaan’ kita diharapkan bisa membuat mereka belajar bahwa hidup di dunia ini ada aturan dan konsekuensinya.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 27 : Pelajaran Kehidupan

Dalam menjalani hidup ini, ada tiga hal yang selalu bisa memberikan ‘nilai tambah’ dalam kehidupan saya, yaitu : membaca buku, menonton film dan musik.

Membaca buku ‘Peak and Valley’ dari Spencer Johnson, telah memberikan konfirmasi tentang sebuah pelajaran hidup, bahwa kebahagiaan tidak diperoleh dari status atau pekerjaan, tetapi dari cara kita mengendalikan gelombang-gelombang dalam kehidupan kita dan mentransformasikannya menjadi sebuah kebahagiaan.

Membaca novel ‘Rara Mendut’ karangan Y.B. Mangunwijaya, saya selalu teringat bagian menarik, yaitu saat diceritakan Rara Mendut yang cantik, menjual rokok lintingan, sehingga para pria mengantri untuk membelinya. Saya bisa membayangkan keadaan saat itu, dimana para perempuan Indonesia masih memakai kain kebaya sebagai pakaian sehari-hari dan hidup di tengah-tengah budaya patriarki, yang menempatkan perempuan sebagai kaum tertindas. Pasti akan sangat sulit bagi seorang Rara Mendut untuk bisa berdiri sebagai seorang wanita yang berani menyuarakan isi hatinya dan menentang tradisi.

Bahkan saat saya membaca serial “Sia Tiauw Eng Hiong” (Pemanah Burung Rajawali), saya tidak bisa berhenti membaca karena kagum dengan imajinasi sang pengarang yang menciptakan berbagai macam nama untuk jurus-jurus kungfu di dalam buku. Sampai saya pernah berpikir betapa sengsaranya saat itu jika harus pergi dari satu ke tempat lain, sementara saat ini jarak yang jauh pun bisa ditempuh dengan transportasi modern dalam waktu yang relatif singkat.

Menonton film serial televisi berjudul ‘One Tree Hill’ telah memberikan inspirasi kepada saya bahwa menjadi remaja adalah sebuah periode yang berat dalam rentang hidup seorang manusia, maka remaja memang sangat membutuhkan pendampingan agar tidak salah melangkah.

Menonton film ‘Jomblo’, membuat saya tertawa terbahak-bahak. Dialognya lucu dan cerdas, sangat menggambarkan dunia mahasiswa yang dinamis. Tapi sekaligus membuat saya merasa miris, menyadari bahwa sebenarnya tingkat kreatifitas orang Indonesia itu bagus, hanya saja kita lebih senang membuat sebuah karya yang mutunya di bawah standar, hanya karena mengejar target jumlah penonton. Lihat betapa banyaknya film-film yang bertema hantu, yang sangat tidak layak untuk ditonton anak-anak.

Mendengarkan musik memberikan kesan yang berbeda-beda pada diri saya. Saat saya mendengarkan lirik dari lagu ‘Butiran Debu’, saya kagum pada ketrampilan sang pencipta meramu kata seperti ini :

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan duka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu, butiran debu

Saat saya mendengarkan lirik lagu ‘Everything’ dari Michael Buble, dengan melodi yang sangat dinamis, saya bisa merasakan hati yang sedang jatuh cinta dengan lirik seperti ini :

And in this crazy life, and through this crazy times
It’s you, it’s you, you make me sing
You’re every line, you’re every word, you’re everything
You’re every song, and I’d sing along,
’cause you’re my everything

Maka membaca buku, menonton film dan mendengarkan musik, tidak melulu memberikan tambahan pelajaran kehidupan kepada saya. Tetapi terkadang memberikan konfirmasi tentang sebuah nilai kehidupan, terkadang membeberkan sebuah kenyataan pahit di depan mata kita, tapi terkadang juga bisa membantu kita untuk mengenang masa-masa indah seperti saat kita masih kecil atau saat kita masih pacaran.

Maka membaca buku, menonton film dan mendengarkan musik, adalah sebuah bentuk kebiasaan yang ingin saya tularkan dan kembangkan kepada generasi muda, dimulai dari anak-anak saya.

Maka membaca buku, menonton film dan mendengarkan musik, akan menjadi dahsyat efeknya, jika generasi muda kita didampingi untuk bisa memilah sisi positif dan negatifnya.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 26 : Bahasa Tubuh

Semalam saya dan beberapa teman baik, berkumpul untuk sebuah acara perpisahan sederhana di sebuah rumah makan, karena salah satu teman kami harus pindah bekerja di Jakarta. Awalnya acara makan malam berlangsung tenang dan obrolan ringan pun mengalir dalam suasana tenang sambil menikmati hidangan yang tersedia.

Kebetulan ruangan yang kami pakai adalah sebuah ruang tertutup yang dilengkapi dengan fasilitas karaoke. Ketika seorang teman saya sudah selesai makan, mulailah dia mencari-cari lagu karaoke. Setelah itu suasana pun perlahan-lahan berubah menjadi suasana yang penuh tawa dan canda. Karena ada yang menyanyi dengan nada yang tidak sesuai dengan lagu aslinya, malah ada teman yang tidak pernah mau menyanyi di depan umum, akhirnya berhasil kami bujuk dan dia malah bisa menyanyikan sampai tiga buah lagu.

Suasana yang sangat menyenangkan dan tentunya mengesankan terutama bagi teman kami yang akan pindah. Namun ada hal lain yang menarik perhatian saya dengan memperhatikan teman-teman yang ada dalam ruangan tersebut.

Mayoritas adalah para laki-laki yang sebagian besar sudah berkeluarga, dan hanya ada tiga perempuan termasuk saya. Dalam kesehariannya, saya mengenal mereka sebagai orang yang tenang, ada juga yang senang berpikir dan mengutarakan gagasannya dengan hati-hati, sebagian ada yang selalu berpikir cepat dan reaktif, ada juga yang terkesan galak, ada yang terkesan sangat cuek dengan orang dan malahan ada yang dalam kesehariannya memang senang bercanda.

Namun semalam saya melihat hal yang berbeda dari mereka. Semuanya berbaur menjadi satu menjadi kumpulan pribadi yang tidak malu untuk bernyanyi, tidak malu untuk tertawa terbahak-bahak dan tidak malu untuk ikut berjoget mengikuti alunan musik yang enak.

Faktor apa sih yang membuat hal itu bisa terjadi ? Jawabannya adalah BODY LANGUAGE atau BAHASA TUBUH.

Menurut Wikipedia, body language/bahasa tubuh adalah sebuah bentuk berkomunikasi secara non-verbal, yang terdiri dari postur tubuh, gesture, ekspresi muka dan pergerakan mata. Bahasa tubuh juga bisa memberikan petunjuk mengenai perilaku atau cara berpikir seseorang. Misalnya, dapat mengindikasikan seseorang yang agresif, atau penuh perhatian, atau sedang bosan/jenuh, atau sedang dalam keadaan bahagia, dan lain-lain.

Dan biasanya bahasa tubuh kita akan berkaitan erat dengan kondisi dan situasi dimana kita berada. Misalnya kita akan memberikan bahasa tubuh yang agak menunduk dan tidak mau terlihat, jika kita dalam keadaan tidak mau ditanya oleh orang. Atau kita akan memberikan bahasa tubuh yang berjalan dengan tegap, muka tersenyum, jika kita berada dalam kondisi sedang menuju sebuah panggung untuk menerima penghargaan.

Demikian juga dengan teman-teman saya. Saya jadi memahami bahwa jika keseharian mereka adalah orang-orang yang serius, tekun bekerja dan terlihat berhati-hati dalam berbicara, kemungkinan besar semua itu karena kondisi pekerjaan yang menuntut mereka memberikan bahasa tubuh yang tenang, tampak serius dan berpikir. Saya jadi memahami bahwa jika teman saya adalah orang yang terus menerus tersenyum atau bercanda, kemungkinan besar hal tersebut dilakukan sebagai bahasa tubuh mereka dalam menghadapi tekanan pekerjaan yang cukup tinggi.

Namun dalam kondisi yang berbeda, dimana tidak ada tekanan pekerjaan, dimana hanya ada sekumpulan teman yang sedang bersama-sama berkumpul, maka bahasa tubuh mereka pun menjadi berbeda. Saya melihat mereka lebih eskpresif, lebih banyak tersenyum, malah mau membantu teman yang tidak mau bernyanyi untuk bisa bernyanyi dengan benar.

Saya juga bisa melihat dan merasakan bahwa mereka benar-benar gembira, lewat bahasa tubuh yang ditunjukkan. Pengamatan dan pengalaman hidup saya selama ini mengajarkan bahwa orang bisa berbohong dengan kata-kata, tapi orang tidak bisa berbohong dengan bahasa tubuh. Itu akan terlihat jelas. Seseorang yang berusaha memberikan ekspresi muka gembira namun dirinya merasa tidak nyaman dengan situasi disekitarnya, akan terlihat dengan sangat jelas. Sebab dia akan tersenyum dengan terpaksa, tertawapun tidak akan lepas.

Namun ada kalanya dengan mengatasnamakan sopan santun, kita mesti memberikan bahasa tubuh yang mungkin berlawanan dengan hati kita. Misalnya di saat anda sekeluarga hendak pergi keluar rumah, tiba-tiba datang tetangga, seorang ibu yang sudah lanjut usia, bermaksud untuk menitipkan kunci rumahnya. Namun sang ibu malah bercerita tentang cucunya. Tentunya tidak sopan jika kita memberikan raut muka cemberut atau tidak mendengarkan ceritanya tetapi langsung mengambil kuncinya. Setidaknya kita berusaha untuk memberikan ekspresi wajah yang tersenyum, untuk kemudian setelah beberapa saat, menjelaskan kepada sang ibu bahwa anda ada keperluan keluar.

Bahasa tubuh bisa memberikan gambaran mengenai cara berpikir anda saat itu. Gunakanlah bahasa tubuh yang sesuai dengan hati kita. Karena orang akan bisa melihat ketidaksesuaian antara suasana hati dan bahsa tubuh jika.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 25 : Cita-cita Seorang Anak Muda

Di dekat rumah saya, ada sebuah rumah makan yang menjual chinese food. Suatu pagi saya mampir kesitu untuk membeli mie ayam. Sambil menunggu pesanan datang, saya memperhatikan para karyawan bekerja dan perhatian saya tertuju pada satu orang karyawan pria yang masih cukup muda usianya.
 
Saya masih ingat dengan jelas, sekitar 4 tahun yang lalu, anak muda ini masuk bekerja di rumah makan tersebut sebagai karyawan yang membantu untuk cuci piring, melayani pesanan tamu, bisa dibilang sebagai pembantu umum. Sementara peran sebagai juru masak biasanya dilakukan oleh pemilik rumah makan dan masih ada satu karyawan yang sudah senior. Sampai suatu saat, karena ada sebuah insiden, maka juru masak yang lama ini dikeluarkan oleh sang pemilik.
 
Sempat beberapa lama saya melihat peran juru masak ditangani seluruhnya oleh sang pemilik. Namun beberapa bulan kemudian, saat saya membeli makanan disitu, ternyata anak muda ini sudah menjadi juru masak. Walaupun selama memasak, saya melihat sang pemilik mendampingi dan dia pula yang memberi bumbu. Saya sempat bertanya bagaimana prosesnya sampai anak muda ini bisa menjadi juru masak. Rupanya setelah juru masak yang terdahulu sudah keluar, maka anak muda ini memberanikan diri berbicara kepada sang pemilik, bahwa dia minta diberikan kesempatan untuk mencoba menjadi juru masak dan bersedia belajar.
 
Saya yakin sang pemilik sudah mempertimbangkan masak-masak sebelum mengiyakan permintaan anak muda ini, karena anak muda ini tidak punya pengalaman sebagai juru masak. Namun saat pagi itu saya memesan mie ayam, saya seperti diputarkan sebuah film yang mengulas kilas balik perjalanan anak muda ini dalam hal memasak.
 
Saya masih ingat diawal dia memasak, rasa masakan masih oke karena sang pemilik masih turun tangan memberi bumbu. Namun beberapa bulan kemudian, saat saya kembali membeli makanan, ternyata anak muda ini sudah diberi kepercayaan memberi bumbu sendiri dan menurut saya rasanya tidak cocok. Saya sempat mencoba beberapa kali, namun koq rasanya masih tidak cocok. Karena itu saya sempat tidak pernah membeli makanan disitu selama hampir setahun. Kalaupun saya membeli disitu, biasanya saya akan minta sang pemilik yang memasak.
 
Baru sekitar tahun lalu, karena saat itu saya tidak memasak di rumah, tiba-tiba saya kangen sekali ingin makan makanan disitu. Saya berpikir siapapun yang memasak tidak masalah, karena rasa kangen makan lebih kuat. Dan ternyata rasa masakannya cocok padahal yang memasak adalah anak muda tersebut.
 
Saya pikir ini hanya kebetulan. Kemudian beberapa minggu berikutnya, saya coba lagi. Ternyata rasa masakannya cocok lagi. Setelah beberapa kali membeli dan rasa masakannya konsisten dan enak, maka saya tidak pernah ragu lagi sampai sekarang, walaupun anak muda itu yang memasak.
 
Dari peristiwa yang sederhana tersebut, saya bisa belajar banyak dari anak muda ini. Empat tahun yang lalu saya melihat dia sebagai anak muda yang masih suka tertawa semaunya dan merokok saat tidak ada pembeli, dan sering ditegur sang pemilik karena suka ceroboh dalam bekerja. Saat ini saya melihat dia menjadi orang yang percaya diri, melakukan tugasnya dengan tenang, tidak pernah terlihat merokok, dan malah saya melihat dia menjadi orang kepercayaan sang pemilik.
 
Itulah pelajaran hidup yang dapat dari anak muda ini : kekuatan sebuah cita-cita yang dibarengi dengan tekad yang kuat untuk mewujudkannya.
 
Tidak banyak anak muda yang berani menyampaikan keinginan atau cita-citanya dengan terus terang. Tidak banyak anak muda yang mau menempuh jalan yang merepotkan untuk bisa mendapatkan sesuatu. Bayangkan, anak muda ini bekerja di sebuah rumah makan biasa, bukan restoran mewah di Jakarta. Tapi dia memiliki keinginan untuk menambah ilmunya dengan ketrampilan memasak. Padahal banyak anak muda lainnya yang lebih memilih bekerja di pabrik karena tidak perlu pusing dan mendapat UMR yang lumayan. Namun anak muda ini bisa melihat bahwa dia memiliki sebuah kesempatan dan tidak menyia-nyiakannya. Saya yakin sekali saat dia mengutarakan keinginannya, dia sudah siap dengan segala kemungkinan jawaban yang bisa diberikan sang pemilik. Namun setidaknya dia telah mencoba.
 
Setelah dia mendapatkan kesempatan tersebut, dia tidak membuang waktunya. Dia menjalaninya dengan tekun. Walaupun butuh waktu sampai sekitar empat tahun untuk bisa memasak dengan rasa yang enak dan konsisten, tapi hal tersebut telah menunjukkan bahwa anak muda ini tidak main-main dengan cita-citanya.
 
Jika dalam proses belajarnya, dia sempat membuat makanan dengan rasa yang tidak pas, itu hal yang wajar. Sama seperti anak kecil yang sedang belajar berjalan, pasti ada saat-saat dimana dia sering terjatuh.
 
Kalaupun suatu saat anak muda ini akan membuka rumah makan miliknya sendiri, saya tidak akan merasa heran, karena anak muda ini telah menunjukkan bahwa dia memiliki hasrat dan tekad dalam jumlah yang lebih dari cukup untuk mewujudkan mimpinya.
 
Ada yang mengatakan : cita-cita tanpa usaha untuk mewujudkannya adalah sebuah angan-angan belaka.
 
Ada seorang anak muda yang menunjukkan kepada saya bahwa cita-cita yang kelihatannya sederhana, jika dibarengi dengan tekad dan hasrat yang kuat untuk mewujudkannya, akan membuahkan hasil yang manis.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 24 : Gifts Differing – Judging dan Perceiving (bagian 4)

Dichotomy terakhir adalah Judging dan Perceiving. Kecenderungan sebagai J dan P menunjukkan lifestyle atau gaya hidup kita sehari-hari. Seseorang yang cenderung judging biasanya akan lebih suka menjalani hidupnya dengan rencana yang pasti. Seseorang yang cenderung perceiving akan lebih suka menjalani hidupnya dengan mengikuti apa yang ada.
 
Kita pasti sering mendengar bahwa sebuah pernikahan sebetulnya adalah sebuah pilihan hidup yang harus dijalani dengan kompromi, yang satu mengalah di sisi sebelah kiri dan yang satunya lagi mengalah di sisi sebelah kanan. Kalau bisa mengarah ke win-win solution. Itu juga yang terjadi pada saya. Semua perbedaan dan cara pandang kita dan pasangan, biasanya baru akan terungkap satu persatu setelah menikah. Setelah kita menghabiskan waktu bersama pasangan, tidak bisa sembunyi saat marah, selalu bertemu kemanapun kita pergi karena berada dalam satu lokasi.
 
Perbedaan tentang J dan P ini baru terasa saat anak pertama kami lahir. Setelah berusia beberapa bulan, dan sang bayi sudah bisa dibawa keluar rumah, kami memutuskan bahwa sudah saatnya membawanya ke rumah orang tua di daerah Depok. Maklum karena anak pertama, saya belum ada pengalaman, tentunya persiapan di malam harinya memakan waktu cukup lama. Karena khawatir ada yang ketinggalan, rasanya hampir semuanya saya bawa. Pada akhirnya, sepulang dari rumah orang tua, saya kelelahan sebab memerlukan waktu yang panjang untuk bersiap-siap maupun membereskan semuanya. Namun saya senang karena semuanya berjalan sesuai dengan ‘rencana’.
 
Setelah beberapa kali seperti itu, saya mulai terbiasa dengan kegiatan tersebut. Tiba-tiba suatu saat, tanpa diduga, di hari Minggu pagi, suami saya berkata : “Ayo, kita pergi”. Saya kaget bukan kepalang, karena itu tidak termasuk dalam ‘rencana’ saya di hari Minggu. Saya protes mengapa harus mendadak, sementara suami saya bertanya mengapa hal seperti ini harus diributkan, bawa saja seadanya. Yang saya ingat saat itu saya murung, karena merasa ada sesuatu yang berjalan diluar rencana dan seolah ada yang memporakporandakan hidup saya. Malah terkadang yang terjadi adalah kebalikannya, saya sudah bersiap-siap, namun di hari Minggu pagi, suami saya memberitahu tidak jadi pergi karena dia kecapean.
 
Kejadian ini berlangsung selama berbulan-bulan, sampai saya memahami tentang J dan P. Saya menyadari bahwa sebenarnya gaya hidup kami yang memang berbeda. Pilihannya hanya dua, menjalani apa adanya namun mungkin ada pihak yang tidak nyaman, atau melakukan sebuah kompromi dari hasil pembelajaran selama berbulan-bulan.
 
Akhirnya yang terjadi adalah sebuah kompromi dalam hidup kami. Saya belajar untuk memahami mengapa suami saya demikian, dan sudah tidak kaget lagi jika tiba-tiba ada sesuatu yang mendadak yang terlintas dalam pikiran suami saya. Suami pun ternyata belajar bahwa terkadang hidup ini juga harus dijalani dengan rencana yang baik, sehingga dia mulai belajar untuk menghargai dan menjalankan rencana yang sudah dibuat untuk keluarga.

Menjadi orang yang terlalu J, selalu penuh dengan perencanaan, tidak boleh lewat sedetikpun dari rencananya, tentunya juga tidak akan menyenangkan. Saya mencoba untuk bisa mengapresiasi bahwa terkadang kita butuh spontanitas untuk bisa membuat pikiran kita terbuka. Menjadi orang yang terlalu P juga bukan hal yang sempurna, karena di satu titik, orang harus berpikir dan merencanakan bagaimana dia mau menghabiskan sisa hidupnya di dunia ini.
 
Lalu apa yang terjadi dengan kombinasi seluruh dichotomy tersebut ? 16 tipe kepribadian menurut MBTI. Tapi menurut saya, hal tersebut bukan hal yang esensial untuk kita. Adalah hal yang esensial untuk melihat bahwa teori ini memberikan pencerahan kepada kita tentang bagaimana kita memandang diri kita dan sesama.

Pertama, kita diajak untuk tidak melihat sesama hanya dari penampilan lahiriah saja. Bahwa masih ada kepribadian yang lebih mendalam yang bisa kita lihat, bukan sebagai suatu keanehan atau ancaman, tetapi sebagai suatu anugrah. Bahwa orang-orang yang dinilai ‘berbeda’ dengan kita, sebenarnya bisa saling melengkapi dalam hidup bermasyarakat.

Kedua, kita diajak untuk mengenal diri sendiri dan meningkatkan self-awareness atau mawas diri terhadap pertanyaan “aku ini berkepribadian seperti apa ?”. Dan lebih aware terhadap sesama manusia yang berada di sekeliling kita. Dan mulai belajar untuk bisa menghormati mereka.

Ketiga, kita diajak untuk melihat bahwa manusia adalah mahluk yang unik, setiap individunya. Sehingga jika kita melihat ke 16 tipe kepribadian tersebut secara bersamaan, tidak ada yang jelek atau terbaik, tidak ada yang benar ataupun salah.

Keempat, MBTI hanya membantu kita menemukan ‘preference/kecenderungan’ cara kita berperilaku dan lain-lain. Masih banyak faktor lain yang tidak bisa kita kendalikan, yang terkadang membuat beberapa orang mungkin terlihat ‘berbeda’ dari yang lain. Karena itu gunakan pengetahuan kita tentang teori ini sebagai alat untuk membuka wawasan lebih luas, bukan untuk menilai atau memberikan predikat tertentu kepada orang lain.

Semoga dengan sharing sekilas mengenai ke-4 dichotomy dalam teori MBTI, dapat membuka wawasan dan cara berpikir kita dalam melihat diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Perbedaan dan keragaman adalah sebuah anugrah, bukan sebuah ancaman atau bencana.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 23 : Gifts Differing – Thinking dan Feeling (bagian 3)

Dichotomy yang ke-3 dari teori MBTI adalah Thinking dan Feeling. Kecenderungan sebagai T dan F menunjukkan fungsi bagaimana kita melakukan decision-making. Keduanya akan memberikan keputusan yang rasional, walaupun prosesnya yang berbeda. Seseorang yang cenderung thinking biasanya akan lebih suka memutuskan sesuatu dengan menimbang semua aspek logis yang ada dan sesuai dengan aturan yang berlaku.  Seseorang yang cenderung feeling akan lebih suka jika keputusannya itu akan membuat orang disekitarnya merasa senang dan bahagia.
 
Seorang T biasanya akan terlihat sebagai pribadi yang selalu mendahulukan logika dibandingkan dengan empati. Sementara seorang F biasanya akan terlihat sebagai orang lebih mendengarkan hati daripada logika. Sekilas terlihat bahwa seorang T adalah orang yang ‘kurang berperikemanusiaan’ dan seorang F adalah seorang yang ‘baik hati dan penyayang’. Namun kita tidak dapat menilai seperti itu jika ditinjau dari teori ini.
 
Saat saya mendapat tugas untuk bekerja di area HR yang bersinggungan dengan proses kompensasi dan benefit, ada sebuah peristiwa unik yang terjadi, yang masih membuat saya tersenyum sampai saat ini karena memperlihatkan perbedaan decision-making seorang T dan F.
 
Saat itu saya memiliki seorang staff yang memang baru saja dipindahkan ke bagian tersebut. Kami sudah berteman cukup lama sehingga saya mengira sudah mengenal dia dengan baik. Suatu saat, seperti layaknya sebuah perusahaan yang melakukan tinjauan terhadap kondisi finansial dan kinerjanya, akhirnya diputuskan akan dilakukan proses pemutusan hubungan kerja untuk beberapa orang yang dinilai memang tdaik bisa dipertahankan lagi jika dilihat dari sisi bisnis dan finansial perusahaan.
 
Maka setelah management sudah selesai memutuskan orang-orang yang akan terkena dampak keputusan ini, saya diberitahu oleh direktur saya untuk menyiapkan perhitungan kompensasi yang akan diberikan. Setelah itu saya memanggil staff untuk menjelaskan mengenai keputusan ini dan memberitahu bahwa sekarang kami berdua harus bekerja bersama untuk menyiapkan segala macam paperwork yang berkaitan dengan kompensasi orang-orang tersebut.
 
Saya kembali asyik dengan tugas saya di meja, dan beberapa saat kemudian saya ingat ada sesuatu yang perlu saya tanyakan kepada staff saya. Maka saya berjalan menuju mejanya. Pemandangan yang saya temukan membuat saya terkejut. Dia sedang bekerja di depan komputernya sambil menangis. Langsung saya tanyakan apa yang membuat dia menangis. Ternyata di saat dia membuka file yang berisi nama orang-orang yang terkenan pemutusan kerja tersebut, dia langsung menangis karena tidak sanggup membayangkan orang-orang yang dia kenal ternyata ada di dalam daftar tersebut.
 
Peristiwa tersebut menjadi sebuah momen bagi kami berdua untuk menyadari cara kami memutuskan sesuatu ternyata sangat berbeda. Saya seorang T, saat saya mendapat instruksi untuk mengerjakan perhitungan kompensasi dan melihat daftar nama orang-orang tersebut, yang pertama kali muncul dalam pikiran saya adalah mencoba untuk bisa memahami mengapa perusahaan melakukan hal tersebut. Lalu setelah saya memutuskan bahwa saya sudah paham, saya mulai mempelajari perhitungan kompensasi dan kebijakan management. Setelah itu saat saya mulai memasukkan data-data orang yang bersangkutan ke dalam perhitungan tersebut, itulah saat dimana empati saya mulai timbul. Memikirkan keluarga dari orang-orang tersebut, dan saya mulai berdoa agar mereka bisa melalui semuanya ini dengan baik.
 
Sementara staff saya mengalami proses sebaliknya. Yang menjadi perhatian nomor satu adalah ’orang/people’. Dan yang dia bukan dan pelajari pertama kali adalah daftar orang-orang tersebut. Empatinya bekerja lebih dulu, sebuah keputusan yang ternyata telah membuat dia menangis karena menyadari bahwa orang-orang di sekeliling ’tidak bahagia’. Empatinya telah membawa dia untuk membayangkan dampak yang bisa terjadi kepada keluarga mereka, walaupun setelah dia bisa mengatasi perasaan sedihnya, dia bisa melanjutkan pekerjaannya.
 
Hasil akhirnya sama, kami bisa menyelesaikan tugas tersebut tepat pada waktunya. Kami berdua juga merasa sedih melihat orang-orang yang selama ini kita kenal, harus pergi dari perusahaan. Namun cara kami ’memutuskan’ yang mana yang terlebih dahulu diproses, itu yang berbeda. Itu yang membuat reaksi dan respon kami juga berbeda.
 
Seorang T bukan orang yang ’tidak berperasaan’. Hanya orang seperti ini memang sangat menghormati kebijakan, peraturan, undang-undang, prosedur dan batasan yang ada. Sehingga jika ada keputusan yang diambil, selama keputusan ini sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku, seorang T akan merasa nyaman. Barulah empatinya akan muncul setelah itu.
 
Sementara kebalikannya, seorang F akan selalu melihat unsur ’people’ dan apakah orang di sekitarnya bahagia jika dia memutuskan sesuatu. Dia cenderung untuk mendahulukan empatinya, setelah itu barulah dia akan mencocokkan keputusannya dengan peraturan yang berlaku. Namun seorang F bukanlah orang yang emosional dan cengeng. Saya banyak melihat orang F yang terlihat tegar seperti orang T.
 
Perbedaan karakter, jika bisa dikelola dengan baik, akan melahirkan sinergi yang sangat bagus.
 
Pahamilah bahwa kita tidak dapat memaksa orang menjadi seperti kita, demikian pula sebaliknya. Yang harus kita lakukan adalah mengoptimalkan apa yang ada pada diri kita. Maka terciptalah sebuah sinergi yang kuat dari perbedaan itu.
 
Kemanakah kecenderungan anda ? Thinking atau feeling ?
Apapun jawaban anda, ingatlah bahwa ini merupakan kecenderungan/preference yang kita ambil dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak ada yang salah ataupun benar.
Apapun jawaban anda, ingatlah bahwa mulai sekarang sedikit demi sedikit kita harus berusaha untuk mengubah cara kita memandang orang yang berperilaku ’tidak sama’ dengan kita. Mereka bukan mahluk aneh, mereka adalah mahluk unik, demikian juga dengan kita.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 22 : Gifts Differing – Sensing dan iNtuition (bagian 2)

Jika status anda saat ini adalah karyawan, pernahkah memperhatikan di dalam suatu pertemuan, yang sedang membahas Visi Misi perusahaan misalnya. Kita akan melihat ekspresi yang berbeda-beda dari para peserta. Ada yang tetap bersemangat menyumbangkan idenya. Ada yang memperhatikan dengan seksama walaupun tidak banyak bicara. Ada yang menguap, ngantuk, malah tidur. Ada yang memilih untuk bermain-main dengan kertas atau gadget yang dibawanya. Ada yang terus menerus menanyakan ”contohnya apa ? implementasinya bagaimana?”.
 
Pernah suatu saat saya mengadakan meeting tahunan dengan 3 orang staff saya. Saya membuka sesi dengan menjelaskan mengenai visi, misi yang akan saya jalankan untuk sanggar saya. Saya kemudian melanjutkan dengan konsep pengembangan beberapa tahun mendatang. Tidak ada respon, namun saat saya lebih teliti memperhatikan ekspresi mereka, oops … , ekspresi yang saya lihat adalah ekspresi bingung dan kosong. Saya panik, what did I do wrong ?
 
Apakah ekspresi yang timbul adalah sebagai bagian sebab-akibat karena fasilitator pertemuan kurang menarik ? Atau memang sebagian peserta terlalu lelah untuk mengikuti pertemuan tersebut sehingga terlihat mengantuk dan bosan ? Jawabannya : mungkin saja.
 
Namun teori MBTI melihatnya dari sisi yang sedikit berbeda. Kecenderungan sebagai S dan N menunjukkan fungsi bagaimana kita mengumpulkan informasi. Menunjukkan bagaimana kita menggambarkan dan menginterpretasikan data dan informasi yang kita terima.Seseorang yang cenderung sensing biasanya akan lebih suka dengan informasi yang bisa diterima dan dicerna oleh panca indera : dilihat, dirasakan, dicium, didengar dan diraba. Seseorang yang cenderung intuition akan lebih bisa menerima data atau informasi yang lebih abstrak atau teoritikal yang bisa dihubungkan dengan informasi lain yang sudah ada.
 
Mari kita lihat lagi perbedaan yang saya alami sendiri. Jika kami membeli sebuah alat elektronik baru atau mainan elektronik baru, akan menjadi sebuah pemandangan yang unik dan lucu, jika diperhatikan. Saya dan suami akan membongkar kardus pembungkus, dan kemudian akan terjadi pergerakan kegiatan ke dua arah yang berlawanan. Suami saya akan langsung memasang alat elektronik tersebut dan mencoba semua tombol yang ada atau remote yang disediakan. Sementara saya akan mengaduk-aduk kardus untuk mencari buku manual dan membacanya. Sampai sekarang kami akan selalu tertawa jika berulangkali mengalami hal yang sama setelah membeli sebuah barang. Karena saya menjelaskan kepada suami saya, demikianlah cara kita mengumpulkan informasi.
 
Suami saya seorang dengan kecenderungan S, dia lebih suka langsung meraba, melihat dan mencoba benda tersebut dengan tujuan agar dapat menggunakan benda tersebut dengan baik. Semnetara saya adalah seorang N, yang lebih senang membaca buku manual dimulai dari fungsi tombol sampai troubleshooting, karena saya bisa menghubungkan semua informasi tersebut tanpa harus melihat benda aslinya. Setelah itu baru saya akan mencoba mencocokkan informasi tersebut dengan benda aslinya. Tujuannya sama, agar saya dapat menggunakan benda tersebut dengan baik.
 
Kerjasama yang baik, bisa timbul dari dua kegiatan sederhana tersebut. Disaat ada sedikit masalah dengan benda elektronik tersebut, jika saya tidak bisa menemukan di buku manual, saya akan meminta suami saya untuk mencoba-coba langsung, dan biasanya berhasil. Jika suami saya tidak dapat menemukan mengapa ada sesuatu yang tidak berfungsi di benda tersebut, biasanya dia akan meminta saya untuk membantu membaca di buku manual.
 
Ada lagi seorang teman baik saya yang memiliki ketrampilan unik. Apapun benda yang diberikan kepada dia, apakah itu sebuah kamera, CD player, televisi, dalam berbagai tipe dan kecanggihannya, hanya dalam waktu satu hari, dia bisa menjalankannya dengan baik. Hanya dengan mencoba langsung, memegang benda, merasakan dan melihat langsung hasilnya.
 
Namun saya juga pernah mempunyai atasan yang memiliki pandangan ke masa depan yang sungguh mengagumkan. Saya bisa tercengang mendengar penuturannya tentang konsep pelatihan yang ingin dia kembangkan, atau konsep tentang sebuah sistem baru yang ingin dia terapkan. Dan semuanya bisa langsung dia tuangkan dalam bentuk diagram. Namun jika kita perhatikan, semua konsep tersebut memang didukung oleh informasi yang saat itu terdapat di sekeliling saya.
 
Bingung ? Sebenarnya tidak perlu bingung. Karena seorang S akan lebih mengandalkan panca inderanya saat dia mengumpulkan informasi atau belajar sesuatu. Dia harus melihat, meraba, mencium, merasakan dan mendengar sendiri. Karena itu seorang S akan mudah dilihat sebagai orang yang praktikal, karena untuk dia akan lebih mudah memproses informasi lewat kejadian langsung. Karena itu juga, seorang S biasanya adalah orang yang memperhatikan detil pekerjaan dan lebih nyaman bekerja jika semua batasan, prosedur, aturan sudah ada.
 
Sementara seorang N biasanya akan terlihat sebagai orang yang senang berbicara tentang konsep, visi, sesuatu yang abstrak dan teoritis. Sebab seorang N bisa mengkaitkan pemikiran abstraknya dengan informasi yang saat ini ada. Seorang N dengan konsepnya, akan memiliki cara berpikir yang global, memandang semuanya dari gambaran besarnya. Biasanya untuk pelaksanaan detilnya, mereka tidak terlalu nyaman mengerjakannya.
 
Maka seorang N bisa membuat sesuatu yang belum ada menjadi ada. Dan seorang S akan menjalankan sesuatu yang sudah ada tersebut dengan baik, malah bisa membantu pengembangannya dengan kemampuannya untuk melihat hal yang detil.
 
Karena itu, jangan paksa seorang S untuk duduk tenang mendengarkan sebuah konsep dipaparkan. Itu akan menjadi hal yang sangat berat untuk mereka, karena mereka tidak akan bisa memberikan kontribusi dengan optimal.
 
Namun jangan paksa seorang N untuk terus melakukan hal yang sudah ada dan rutin dilakukan. Karena seorang N akan lebih bisa memberikan kontribusi jika dia dikondisikan pada kegiatan untuk membantu mencari sebuah bentuk prosedur, aturan dan lain-lain.
 
Seorang arsitek bisa merupakan seorang S atau N. Seorang arsitek yang menerima pekerjaan untuk membuat desain rumah tinggal, mungkin saja seorang S, karena dia telah menjalani selama bertahun-tahun pekerjaan mendesain serta melihat banyak rumah tinggal dengan konsep arsitektur yang terus berkembang. Namun seorang arsitek yang bisa melahirkan desain yang spektakuler, seperti sebuah hotel mewah di Dubai, adalah seorang N, yang bisa menggabungkan informasi yang ada, yaitu pengetahuan yang dimiliki untuk mendesain gedung atau bangunan, dengan keunikan bentuk yang tidak terpikirkan oleh orang sebelumnya.
 
Kembali kepada keinginan mendasar dari teori MBTI, bahwa perbedaan karakter, jika bisa dikelola dengan baik, akan melahirkan sinergi yang sangat bagus.
 
Pahamilah bahwa kita tidak dapat memaksa orang menjadi seperti kita, demikian pula sebaliknya. Yang harus kita lakukan adalah mengoptimalkan apa yang ada pada diri kita. Maka terciptalah sebuah sinergi yang kuat dari perbedaan itu.
 
Kemanakah kecenderungan anda ? Sensing atau Intuition ?
Apapun jawaban anda, ingatlah bahwa ini merupakan kecenderungan/preference yang kita ambil dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak ada yang salah ataupun benar.
Apapun jawaban anda, ingatlah bahwa mulai sekarang sedikit demi sedikit kita harus berusaha untuk mengubah cara kita memandang orang yang berperilaku ’tidak sama’ dengan kita. Mereka bukan mahluk aneh, mereka adalah mahluk unik, demikian juga dengan kita.