INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 13 : Belajar, belajar dan belajar …

Baru beberapa hari yang lalu saya mendengar sebuah kisah tentang sebuah keluarga yang secara ekonomi bisa dibilang pas-pasan. Pihak orang tua kalang kabut mencari pinjaman uang untuk sang anak yang katanya dibulan September ini akan memulai kuliahnya di fakultas kedokteran di sebuah universitas swasta. Menurut mereka, keinginan sang anak sangat gigih sehingga tetap memaksa untuk masuk Kedokteran.

Kisah seperti itu sudah pernah saya dengar beberapa kali dengan dasar kasus yang sama, yaitu : menyekolahkan anak di jurusan favorit tetapi orang tua tidak siap dengan dananya.

Secara umum, kita melihat dua keganjilan disini. Yang pertama, mengapa masih ada orang tua yang tidak realistis, menyekolahkan anak di tempat yang berbiaya tinggi, tetapi tidak siap dengan dananya. Yang kedua, mengapa orang tua mengajukan dalih bahwa sudah tidak bisa lagi mengarahkan anaknya dalam hal memilih jurusan.

Sekilas terlihat seolah-olah semuanya adalah murni kesalahan orang tua : tidak ada perencanaan yang baik dan tidak mampu mengarahkan anak. Tapi ketidakmampuan mereka dalam kasus seperti ini adalah kontribusi dari latar belakang kehidupan mereka selama ini.

Mungkin latar belakang keluarga dan budaya orang tua seperti itu, contohnya mementingkan harga diri karena bisa sekolah di tempat yang ternama, tertanam pengertian bahwa jurusan-jurusan tertentu adalah jurusan yang wajib untuk dipilih, adanya indoktrinasi bahwa perencanaan keuangan bisa dilakukan belakangan tetapi yang terpenting adalah sang anak kuliah, walaupun orang tua harus hutang kemana-mana. Hal tersebut barangkali masih ditambah lagi dengan perilaku orang tua yang tidak mau membuka diri terhadap informasi yang ada, sehingga mereka hidup dengan pola pikir yang lama dan tidak mau belajar hal baru.

Saat ini, peran orang tua tidak hanya sebatas memberi makan, menyekolahkan dan mengajak anak untuk bermain. Tapi peran orang tua diharapkan lebih banyak lagi sebagai pendamping dan teman dalam berdiskusi di masa-masa sang anak sedang dalam proses menemukan jati dirinya.

Saat anak masih balita, mereka bergantung penuh pada orang tua. Tapi saat anak mulai remaja, kita harus belajar dan berusaha untuk menjadi teman mereka. Proses yang tidak mudah, karena saat mereka masih kecil, kita terbiasa memberikan instruksi kepada mereka.

Masa remaja adalah masa yang sulit, baik bagi orang tua maupun sang remaja. Jika kita berbicara dengan ‘instruksi’, mereka akan pergi. Jika kita berbicara sebagai teman, chances are mereka akan tertarik untuk mendengarkan. Masa remaja juga masa yang tepat untuk memberitahukan kepada anak mengenai kenyataan hidup.

Sama halnya dengan kasus dimana sang anak tetap ngotot untuk memilih jurusan yang mahal. Ketidakmampuan dan ketidaktahuan orang tua telah berkontribusi banyak sekali terhadap pola pikir sang anak. Saya pernah membaca seorang psikolog pernah berkata bahwa saat ini sebaiknya anak sejak dini mulai dikenalkan dengan konsep beasiswa, karena biaya pendidikan yang semakin lama semakin mahal.

Namun kembali lagi semuanya kepada kita sebagai orang tua, yang sebenarnya memiliki tugas yang berat yaitu mendampingi dan mengarahkan anak-anak kita agar bisa memilih jalan hidup yang baik.

Maka para orang tua, jangan lelah untuk terus belajar dan belajar, agar kita bisa mendampingi dan menemani anak-anak kita sampai mereka bisa mandiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s