INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 14 : Gifts Differing

Judul di atas adalah judul sebuah buku tentang sebuah teori Personality Type yang dikenal dengan nama MBTI (Myers-Briggs Type Indicator). Saya sudah membaca buku ini karena memang ini merupakan buku yang wajib dipahami bagi semua orang yang mengambil sertifikasi untuk menjadi praktisi MBTI.

Tetapi saya tidak ingin membahas dan mengupas isi buku ini. Saya lebih tertarik pada latar belakang terbentuknya teori MBTI ini dan apa yang ingin disampaikan oleh sang penulis melalui buku ini.

Deangan tetap berlandaskan pada teori psikologi yang ada, MBTI telah berkembang menjadi sebuah teori dan tools yang banyak digunakan di dunia untuk mengetahui tipe kepribadian manusia. Dan yang unik dari teori ini adalah para praktisi bisa berasal dari kalangan psikolog maupun non psikolog.

Saya bukan seorang psikolog, tapi saya senang mengamati perilaku dan sikap orang-orang di sekitar saya dan mencoba memahami mengapa mereka bertingkah laku seperti itu. Mempelajari MBTI telah membantu membuka wawasan saya mengenai manusia.

Sebuah teori yang berlandaskan teori Carl Jung, seorang ibu yang bernama Katherine Briggs mengembangkan teori MBTI bersama dengan putrinya yang bernama Isabel Briggs-Myers. Sebuah kolaborasi yang mengagumkan yang bisa menjelaskan bahwa manusia sebenarnya bisa dilihat secara umum lewat 4 buah kutub yang berbeda.

Extroversion-Introversion : kutub pertama, yang menggambarkan bagaimana cara kita menyalurkan energi.

Sensing-iNtuition : kutub kedua, yang menggambarkan cara kita untuk menangkap informasi dan menginterpretasikannya.

Thinking-Feeling : kutub ketiga, yang menggambarkan proses decision-making seseorang.

Judgment-Perceiving : kutub terakhir, yang menggambarkan gaya hidup kita.

Banyak contoh yang bisa saya berikan untuk keempat kutub tersebut, tetapi inti dari teori ini yang selalu didengungkan oleh ibu dan anak ini adalah : INDIVIDUAL IS UNIQUE dan perbedaan yang ada diantara kita adalah sebuah karunia dari Tuhan.

Saat saya membaca kalimat tersebut, saya tersentak. Karena kalimat tersebut mempunyai makna yang sangat mendalam, terutama bagi diri saya. Sebelumnya saya selalu melihat bahwa orang-orang yang tidak bisa mengerti jalan pikiran saya ataupun yang berperilaku tidak sesuai dengan standar saya, adalah kumpulan orang aneh. Tapi mencoba memahami mereka, dengan teori psikologi apapun yang tersedia didunia ini, dan benar-benar mencoba memahami, maka mata hati kita akan seperti dibukakan, bahwa kita tidak bisa mengharapkan atau mengubah orang sesuai dengan standar kita. Manusia memang diciptakan sebagai mahluk yang unik dan tidak ada kembaran identiknya di dunia ini. Mulai dari penampilan fisik sampai dengan perilaku, kepribadian dan cara berpikirnya.

Perbedaan yang ada di antara kita, seharusnya bukan menjadi sesuatu hal yang dikutuk. Justru harusnya menjadi sesuatu hal yang patut disyukuri karena saya yakin rencana Tuhan adalah agar kita saling melengkapi.

Karena itu saya heran, mengapa saat ini, bahkan di negara saya sendiri, perbedaan yang ada baik itu dalam bentuk agama, keyakinan, kebijakan perusahaan, suku dan ras, semuanya dibuat sebagai alasan dan dasar untuk menciptakan keributan.

Coba kita lihat demo buruh besar-besaran beberapa bulan lalu yang sempat membuat lumpuh jalan tol Cikampek-Jakarta. Lalu berbagai macam kerusuhan yang terjadi dengan beralasan adanya perbedaan dalam berbagai hal. Kampanye dalam proses pilkada yang saling menyudutkan karena perbedaan yang ada. Belum lagi adanya pihak-pihak yang memanfaatkan hal tersebut untuk membuat berbagai macam keributan dalam berbagai bentuk, seperti teror bom, perkelahian antar desa dan lain-lain.

Saya rasa semua agama pasti akan mengajarkan hal yang baik dan pasti akan menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan diberikan akal budi. Akal budi – sesuatu yang hanya diberikan kepada manusia dan bukan mahluk hidup lainnya. Akal budi yang memampukan kita untuk menganalisa dan bertindak bijak. Akal budi yang seharusnya juga memampukan kita untuk bisa mengerti mengapa kita semua berbeda satu sama lain.

Nah, kalau ternyata saat ini akal budi kita malah dipakai untuk memikirkan bagaimana cara menghancurkan atau menyakiti sesama kita, apakah itu bukan berarti kita menyia-nyiakan karunia Tuhan ?

Kalau sebuah kalimat sederhana bisa membuat sekian banyak manusia menerima teori MBTI bahwa perbedaan diantara kita adalah anugerah, maka kitapun seharusnya bisa memahami hal tersebut.

Mari kita bersama-sama membayangkan betapa indahnya hidup kita jika perbedaan yang ada justru memperkaya kita. Apalagi Indonesia dikenal sebagai negara yang bisa membuat rakyatnya hidup berdampingan dengan baik dengan semboyannya Bhineka Tunggal Ika.

Atau haruskah para aparat pemerintah dibuatkan workshop mengenai MBTI agar mereka bisa melihat dan memanfaatkan perbedaan yang ada diantara mereka untuk bersinergi mensejahterakan rakyat, dan bukan saling memusnahkan demi kepentingan sendiri.

Marilah kita mulai ajarkan kepada anak-anak kita, kepada generasi muda kita, sebuah kalimat sederhana yang diyakini oleh sepasang ibu dan anak, Katherine dan Isabel, yaitu : GIFTS DIFFERING – perbedaan yang ada diantara kita adalah anugerah dari Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s