INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 16 : Kita Hidup Sekali, Matipun Hanya Sekali

Empat bulan belakangan ini saya membawa orang tua saya untuk tinggal bersama, karena ayah saya mengalami patah tulang sehingga tidak memungkinkan mereka hidup berdua di Bandung sementara saya tinggal di Cikarang.
 
Saya banyak belajar dari hal-hal kecil yang saya lihat sehari-hari, setelah saya tinggal satu atap lagi dengan mereka – karena setelah selesai SMA, saya meneruskan kuliah di luar Bandung dan tidak pernah tinggal bersama mereka lagi, sampai saat ini.
 
Semuanya sudah berubah total. Saya pasti sudah banyak berubah karena sekarang saya sudah memiliki tanggung jawab untuk mengurus suami dan dua anak saya. Mereka pun sudah berubah seiring dengan pertambahan usia mereka yang memasuki 70 tahun.
 
Kita tahu bahwa semakin usia bertambah, biasanya akan terjadi penurunan kemampuan berpikir, mengingat, bernalar ataupun belajar hal-hal yang baru. Dan saya menyaksikan hal itu terjadi pada orang tua saya, terutama terlihat dari cara bernalar.
 
Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan dari sisi medis, tetapi saya mengamati dari sisi seorang awam dan dengan kapasitas sebagai anaknya, bahwa ayah saya mengalami penurunan kemampuan bernalar terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. Jika ada suatu peristiwa kecil yang terjadi, maka reaksi pertamanya hanya ada dua, yaitu tidak peduli – jika ternyata peristiwa tersebut tidak mengganggunya. Reaksi kedua adalah menghadapi dengan emosi – jika memang ada keinginannya yang tidak diikuti.
 
Awalnya saya cukup kewalahan menghadapi perubahan seperti ini. Tapi setelah beberapa lama hal ini terjadi, kembali saya melakukan proses seperti biasanya : merenung dan melakukan self-reflection.
 
Hal pertama yang saya pelajari adalah bahwa dilihat dari kemampuan berpikir, ayah saya sudah kembali pada kemampuan berpikir seorang anak berusia 6-7 tahun. Jika kita melihat dari sisi negatif, kita akan melihatnya sebagai orang yang self-centered, tidak pernah memikirkan orang lain dan hanya bertumpu pada kesejahteraan dirinya sendiri. Padahal saya tahu persis bahwa ayah saya bukanlah orang dengan perilaku seperti itu. Tapi jika dilihat dari sisi positif, demikianlah proses alami yang terjadi pada lansia.
 
Hal kedua yang saya coba renungkan, mengapa kemunduran tersebut terjadi lebih cepat pada ayah saya dibandingkan pada ibu saya. Saya bukan seorang psikolog, sehingga saya hanya menggunakan naluri saya sebagai seorang anak dan seorang ibu, dalam melihat hal ini. Saya memperhatikan di alam bawah sadarnya, ayah saya mungkin saja berpikiran bahwa sudah saatnya untuk beristirahat, sehingga ayah sangat membatasi kegiatan fisiknya dan lebih banyak duduk diam walaupun orang-orang disekelilingnya sudah menawarkan berbagai bacaan ataupun kegiatan. Karena tersirat ayah saya ingin menghabiskan waktunya untuk ‘bersantai’ daripada beraktifitas secara fisik. Sementara ibu saya sudah pernah berkata bahwa beliau tidak mau berhenti beraktifitas selama masih mampu karena takut cepat pikun. Karena itu ibu masih bisa beraktifitas fisik yang ringan, termasuk memasak yang memang menjadi hobinya. Maka kesimpulan sementara saya adalah aktifitas fisik di usia lanjut ternyata bisa memperlambat penurunan daya berpikir kita.
 
Kondisi berkurangnya aktifitas fisik ini juga ternyata ada kaitannya dengan kemampuan bernalar. Dengan berkurangnya kegiatan fisik secara drastis, tidak hanya membuat kemampuan otot berkurang tapi ternyata juga mempercepat menurunnya kemampuan berpikir. Terlihat dari perubahan sikap ayah yang sekarang tidak mau jauh dari ibu, tapi jika sekilas diperhatikan, lebih terlihat seperti ketergantungan seorang anak kecil terhadap ibunya.
 
Jadi kalau anak saya saat berusia 7 tahun menjadi semakin aktif namun masih memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap ibunya, maka ayah saya saat ini sudah mengalami kemampuan fisik yang menurun namun tingkat ketergantungan kepada ibu saya semakin tinggi.
 
Menangani hal seperti ini memerlukan kesabaran yang berlipat ganda, jauh lebih banyak dibandingkan dengan saat kita menangani anak kita saat masih berusia 6-7 tahun. Dan sampai saat ini saya masih terus belajar dan belajar untuk bisa bersabar dan bijak menanggapinya.
 
Hal ketiga yang saya pelajari adalah jangan mengulang kejadian yang sama untuk hidup saya, hidup suami saya dan hidup anak-anak saya, juga hidup anda. Karena itulah saya berani menuliskan pengamatan saya terhadap orang tua, karena saya ingin kita semua mulai menyadari beberapa hal penting dari pengalaman pribadi saya ini.
 
1. Tidak dapat disangkal bahwa kita hidup dan bekerja untuk mengumpulkan uang agar kita dan keluarga bisa hidup layak, terutama anak-anak kita bisa memperoleh pendidikan yang layak. Tapi di satu titik, kita harus berhenti untuk tetap ngoyo bekerja, karena kita harus bisa mengenali tubuh kita sendiri, mengenali keterbatasan kemampuan fisik kita dalam mengikuti ritme hidup yang ada.

2. Namun hal tersebut bukan berarti kita harus membiarkan diri kita duduk diam dan tidak beraktifitas sepanjang hari. Karena otot tubuh kita tetap perlu dilatih agar tidak mengecil dan tetap bugar. Karena syaraf-syaraf otak kita perlu terus menerus distimulasi, agar tidak terjadi penurunan kemampuan daya pikir dan nalar yang bisa terjadi lebih cepat, padahal secara fisik kita masih cukup bugar.

3. Bangkitkan motivasi dalam diri untuk terus belajar, belajar dan belajar, walaupun mungkin hal tersebut hanya hal kecil, misalnya menggunakan remote televisi, mencoba untuk menulis apapun atau melakukan hal-hal kecil lainnya. Jangan pernah berhenti untuk belajar dari hal-hal di sekeliling kita.

4. Semakin usia bertambah, akan semakin banyak peristiwa dalam hidup yang akan kita lihat dan kita alami. Ingatlah untuk selalu dekat dengan Tuhan, mengisi batin kita dengan iman yang kuat, agar kita tidak bingung dan goyah jika menghadapi peristiwa dalam usia lanjut terutama jika sakit atau ’ditinggal’ oleh suami/istri kita.

5. Stay positive – seperti dalam tulisan saya beberapa hari sebelumnya, it’s not easy but it’s possible. Mulailah berpikir positif dalam segala hal dari sekarang , agar di usia lanjut, kita bisa menghadapi proses menjadi tua ini dengan pikiran positif. Melihat segala sesuatunya sebagai hal yang natural dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur karena sudah diberi umur yang panjang. Start to count your blessings.

6. Suami/istri dan anak-anak adalah ‘keluarga inti’ – saya membaca dari buku pelajaran anak saya saat dia duduk di kelas 1 SD. Dan menurut saya, pemahaman seperti itu perlu kita tanamkan dalam diri kita dan keluarga. Suami/istri dan anak-anak adalah orang terdekat dalam hidup kita yang seharusnya akan selalu siap jika kita ’jatuh’ dan menerima kita apa adanya. Maka jika suatu saat saya harus tinggal dengan anak-anak saya, karena keterbatasan fisik, saya sudah bertekad bahwa saya akan mencoba menerima kenyataan tersebut dengan lapang dada dan mencoba menikmati  momen tersebut. Momen indah yang tidak semua orang bisa mendapatkannya di akhir masa hidupnya, karena bisa menghabiskan sisa hidup kita bersama keluarga tercinta. Apalagi bersama pasangan hidup kita yang sudah bersama-sama melewati berbagai macam permasalahan rumah tangga.

7. Last but not least, enjoy your life – karena hanya itu yang bisa kita lakukan untuk membalas semua kebaikan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.
 
Semua hal tersebut harus kita mulai dari SEKARANG, jangan menunggu sampai usia kita 50 tahun. Karena semua yang tertulis tadi adalah perubahan mindset atau cara berpikir.
 
Kita hidup hanya sekali, mati pun hanya sekali. Karena itu nikmatilah hidup kita dengan mensyukuri segala sesuatu yang kita miliki dan menjalaninya dengan hati lapang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s