INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 18 : Budaya Ngaret

Tepat di hari ini, saya mengikuti Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) di kelurahan tempat saya tinggal. Kelurahan yang cukup besar karena berdasarkan pidato dari Ketua Panitia Pilkades, tercatat ada sekitar 13.000 orang yang terdaftar sebagai Pemilih Tetap, berarti sudah memiliki KTP lokal.

Karena di surat undangan pemilihan dicantumkan waktu pemilihan dimulai dari jam 07.30 pagi, maka berangkatlah saya dan suami ke kelurahan, agar tidak terlalu lama mengantri.

Sekilas melihat pengaturan area pencoblosan, saya kagum, karena awalnya saya sempat kaget sebab penduduk di kampung sekitar ternyata sudah berdesakan antri. Tapi setelah diamati, panitia sudah membuat surat undangan dengan 3 warna berdasarkan pengelompokan dusun. Kemudian masih dibagi lagi berdasarkan pengelompokan RW. Maka jadilah kami mengantri di pintu yang tidak terlalu panjang antriannya. Dan kami yakin bahwa proses pencoblosan akan berlangsung tepat waktu dan cepat.

Saat kami datang, acara sedang dalam tahap sambutan yang dilakukan entah oleh siapa, namun berseragam Panitia. Kami mengikuti acara yang ada sambil berdiri karena memang saat itu masih belum jam 07.30.

Namun matahari semakin tinggi, masyarakat mulai kepanasan, termasuk kami juga. Sementara sampai jam 07.30, sang Ketua Panitia masih asyik memberikan kata sambutan dengan isi yang mungkin tidak dimengerti oleh para penduduk dari dusun di sekitar.

Saya ingat pidato berakhir jam 07.40. Saya sudah lega karena saya pikir pemilihan akan segera dimulai. Namun kembali lemas karena ternyata masih dilakukan pemeriksaan kotak suara, pemeriksaan bilik pencoblosan, dan lebih anehnya lagi pengambilan 2 kotak suara yang tertinggal di gudang. Kesan saya yang pertama timbul adalah, sungguh aneh, mengapa bisa ada kotak suara yang masih harus diambil di gudang.

Kemudian masih dilanjutkan lagi dengan sang Ketua Panitia bercerita tentang surat suara. Padahal masyarakat yang kebanyakan terdiri dari kaum ibu yang membawa anak-anak kecil, sudah mulai berteriak : “Panas, panas, buruan !”. Malah beberapa orang saya lihat meninggalkan tempat karena mereka memang harus bekerja. Maklum, kami tinggal di area yang sangat dekat dengan kawasan industri besar.

Akhirnya baru jam 08.00 pintu dibuka. Itupun terjadi sedikit kehebohan karena orang berdesak-desakan mengambil surat suara, sementara petugas yang membagikan hanya satu orang.

Rekan menulis saya di project ini, mbak Judith (@LetsShareABook) pernah menulis tentang “Budaya (Tidak) Ngantri”. Saya juga pernah menulis tentang “Budaya Semau Gue”. Hari ini, dengan berat hati, saya ingin menulis mengenai “Budaya Ngaret”. Berat hati, karena seolah budaya yang melekat pada kita, rakyat Indonesia, adalah budaya yang tidak baik.

Contoh diatas merupakan sebuah studi kasus yang sangat baik mengenai budaya yang masih dianut oleh banyak orang di Indonesia, yaitu ngaret. Bagi yang belum pernah mendengar kata atau istilah ini, ngaret adalah satu kebiasaan untuk hadir atau memulai sebuah kegiatan atau sesuatu dengan tidak tepat waktu, apakah karena perencanaan yang tidak baik atau karena memang sudah terbiasa tidak menghargai waktu.

Contoh kegiatan yang selalu tepat waktu biasanya adalah pelaksanaan jam sekolah, pelaksanaan ibadah (di masjid, gereja, pura, kuil), pelaksanaan jam kerja di kantor maupun di pabrik.

Lalu dimana budaya ngaret itu terjadi ? Terjadi pada diri pribadi orang-orang yang memang tidak bisa atau belum bisa menghargai waktu. Di sekolah, pasti ada saja siswa yang datang terlambat. Mengapa ? Karena kesiangan bangun atau makannya lama. Mengapa bisa terjadi demikian ? Besar kemungkinan sang orang tua tidak atau belum pernah mengajarkan kepada sang anak bahwa menghargai waktu pelajaran sekolah adalah penting, karena itu berarti sang anak menghargai dirinya sendiri dengan datang tepat waktu sehingga pelajarannya tidak terganggu, karena toh bersekolah harusnya demi kepentingan sang anak, bukan untuk kepentingan orang tua.

Di perkantoran, baik itu di perkantoran pemerintah ataupun swasta, pasti masih sering terjadi karyawan yang datang terlambat. Mengapa ? Wah, kalau ditanya alasannya pasti bermacam-macam. Ada yang bilang kesiangan bangun, macet di jalan, motor rusak, mobil mogok dan lain-lain. Tapi saya yakin sebagian besar dari alasan itu adalah bentuk dari budaya tidak menghargai waktu. Saya rasa semua hal tersebut bisa dihindari jika kita bisa mengatur waktu dengan baik, sehingga tidak terlambat sampai di kantor. Kecuali ada hal-hal yang diluar kendali kita, seperti ban pecah, padahal kita sudah berangkat pagi sekali dari rumah. Tapi sebagian orang masih tidak segan menggunakan alasan yang bermacam-macam untuk menutupi kebiasaan ngaretnya. Mereka tidak bisa menghargai waktu yang sudah diberikan oleh management dan kesempatan untuk bekerja. Dengan ngaret, mereka telah menambahkan reputasi yang kurang baik kepada perusahaan. Dengan ngaret, mereka telah menghambat kerja rekan-rekannya atau malah beberapa perusahaan lain yang perlu bertemu dengan orang tersebut untuk menyelesaikan urusan pekerjaan. Dengan ngaret, berarti mereka memulai kerja lebih lambat dari rekan-rekannya, dan bisa dipastikan di akhir hari kerja masih akan ada tumpukan tugas yang tidak terselesaikan.

Marilah kita mulai dengan diri kita sendiri, untuk bisa menghargai waktu dengan datang tepat waktu. Karena dengan tidak ngaret, berarti kita menghargai rekan kerja kita, menghargai orang-orang yang sudah bersusah payah memberikan pekerjaan kepada kita atau menyiapkan sebuah kegiatan untuk kita. Atau seperti contoh pilkades hari ini, dengan tidak ngaret, panitia berarti menghargai kemauan masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam pemilihan ini.

Sebuah kegiatan yang dilakukan secara rutin dan terus menerus, akan menjadi suatu kebiasaan atau habit. Good habit is contagious – kebiasaan baik akan menular. Budayakan kebiasaan tepat waktu, hilangkan kebiasaan ngaret. Sebarkan habitus baru dalam bentuk tepat waktu, maka akan terasa bahwa hidup kita akan lebih teratur dan kita pun menjalaninya dengan tenang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s