INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 20 : Mengapa Harus Berbeda ?

Beberapa minggu belakangan ini, saya mendengar pengalaman hidup beberapa teman saya. Dan tanpa direncanakan, ternyata semua kisah yang saya dengar bukanlah kisah yang bahagia.
 
Ada teman saya yang sedang bingung karena adiknya baru saja bercerai dengan istrinya, yang ternyata memiliki pekerjaan tidak halal. Lalu putra mereka yang masih kecil ternyata juga sudah sering dibawa sang ibu pergi dengan teman pria sang ibu yang selalu berganti-ganti. Suatu saat, entah bagaimana ceritanya, sang ibu datang ke sekolah anaknya untuk mengambil rapot, dengan penampilan yang menyolok. Alhasil orang tua lain di sekolah bergosip ria membicarakan hal ini. Sang ayah marah kemudian memindahkan anaknya dari sekolah tersebut. Yang mana hal tersebut sama sekali tidak menyelesaikan masalah.
 
Setelah bercerita lebih lanjut, ternyata memang adik dari teman saya ini memiliki pandangan bahwa memiliki seorang istri harus yang berpenampilan lahiriah bagus. Tanpa melihat penampilan batinnya. Sementara saya tahu bahwa teman saya sebagai anak sulung dalam keluarga, memiliki nilai-nilai hidup yang bagus sehingga bisa dikatakan sukses dalam karirnya, bisa merawat istri dan ketiga anaknya dengan layak. Maka terlihatlah perbedaan implementasi nilai antara kakak beradik.
 
Lalu seorang teman saya yang lain, yang sudah lama sekali tidak bertemu, menceritakan sebagian kisah hidupnya yang membuat saya tercengang. Rumah tangganya yang sudah berjalan belasan tahun dan selama ini saya pikir berjalan dengan baik, ternyata hanya merupakan sebuah ikatan legal perkawinan yang dipertahankan teman saya demi putra tunggalnya. Selama lebih dari sepuluh tahun, ternyata sang suami sudah melakukan hal-hal yang tidak masuk di akal seperti memiliki hubungan dengan wanita lain, ikut proyek yang tidak jelas dan akhirnya tertipu, dan lain-lain. Sampai belakangan teman saya sempat sakit berat, walaupun sekarang sudah kembali sehat. Ibu dari teman saya sudah berkali-kali marah dan menganjurkan untuk berpisah, tetapi teman saya masih bertahan demi anaknya. Sementara sang suami sampai saat ini tidak mau diajak untuk datang ke psikolog untuk konseling bersama karena sang suami merasa dia tidak bermasalah. Maka terlihat terjadi pergeseran nilai hidup dari sang ibu namun teman saya memiliki nilai hidup yang berbeda saat ini.
 
Kemudian ada juga teman saya yang baru saja bercerita tentang adiknya yang sudah berusia di atas 30 tahun, namun masih belum punya pekerjaan dan penghasilan tetap. Di saat orang tuanya sedang sakit, sang adik belum sekalipun menengok walaupun teman saya sudah mencoba untuk menjelaskan bahwa orang tua tetap butuh kehadiran anaknya. Dan suatu saat sang adik menelpon hanya untuk meminta kakaknya memberitahu ibunya bahwa dia mencoba menelpon ke handphone tetapi tidak bisa masuk. Teman saya merasa kecewa karena selain sudah sekian lama adiknya tidak menengok orang tuanya, walaupun adiknya sering menelpon sang ibu, kemudian saat menelpon ke rumah kakaknya, sama sekali tidak ada basa basi, seolah nomor telpon yang dia telpon adalah nomor kantor, bukan nomor rumah sang kakak. Kembali terlihat perbedaan cara pandang terhadap nilai hidup antara kakak beradik tersebut.
 
Kisah diatas mungkin sekilas seperti yang ditulis di majalah-majalah wanita seperti artikel “Oh Mama … Oh Papa …” dan lain-lain. Namun harus diakui bahwa hal-hal seperti itu memang terjadi dalam kehidupan nyata.
 
Ada satu benang merah yang menghubungkan ketiga kisah diatas. Yaitu terjadinya perbedaan cara pandang terhadap nilai-nilai kehidupan didalam sebuah keluarga.
 
Mengapa bisa terjadi di dalam keluarga, sang anak sulung bisa mempraktekkan nilai-nilai hidup yang baik, sementara sang adik yang lebih lama tinggal bersama orang tuanya malah terlihat gamang. Sama kejadiannya dengan teman saya yang kecewa dengan sikap adiknya, karena teman saya menjalankan nilai-nilai kehidupan yang baik dari orangtuanya diantaranya berusaha menanamkan rasa hormat kepada orang tua, namun sang adik ternyata masih sibuk dengan dunianya dan tidak menyempatkan diri untuk hadir secara fisik bagi orang tuanya. Padahal jarak yang memisahkan hanya perjalanan sekitar 2 jam saja.
 
Mengapa bisa terjadi teman saya memelihara beban tanpa bercerita kepada siapa-siapa hanya demi anaknya, sementara suaminya sama sekali tidak memikirkan perasaan istri dan anaknya. Malah ibu dari teman saya seolah sudah tidak mempedulikan lagi apa kata orang atau apakah nilai tersebut pantas atau tidak diberikan kepada anaknya, karena dipenuhi dengan dorongan melindungi anak dan cucunya, sang ibu sudah menyarankan berkali-kali untuk berpisah saja.
 
Sungguh ironis keadaan seperti ini. Saya sempat merenung lama, mengapa di dunia ini masih ditemukan kondisi seperti itu. Apakah orang tua yang tidak konsisten menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anaknya ? Apakah justru lingkungan sekitar yang membentuk kepribadian yang berlainan seperti itu ? Atau adalah salah penafsiran dari masing-masing anak terhadap nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua ? Malah jangan-jangan ada ekspetasi/harapan tersembunyi dari orang tua terhadap anak, yang pada akhirnya membuat anak merasa tertekan kemudian mengambil keputusan yang salah ?
 
Semuanya adalah kemungkinan yang bisa terjadi dan rasanya kita tidak akan pernah menemukan jawaban pastinya. Namun semua kejadian tersebut seharusnya bisa memberikan sebuah ”peringatan dini” kepada kita yang sedang menjalankan peran sebagai orang tua. Agar kita lebih waspada dengan lingkungan sekitar anak-anak bersekolah dan bergaul. Agar kita lebih berhati-hati dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan, agar bisa dimengerti dengan baik oleh anak-anak kita. Dan agar kita juga mawas diri untuk tidak membuat standar/harapan yang tidak masuk di akal untuk anak-anak kita.
 
Tetapi apakah jika kita melakukan semuanya itu, kemudian menjadi jaminan bahwa anak-anak kita akan bisa berkembang menjadi dewasa dan menjadi pribadi yang matang dan sempurna ? Nobody’s perfect, dan yang bisa kita lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin sambil berdoa. Karena dalam dunia ini, selalu ada faktor ”x” yang muncul dan tidak dapat kita kendalikan.
 
Sebenarnya apa sih nilai-nilai kehidupan yang dari tadi saya bicarakan ? Saya lebih melihat kepada nilai moral, yang akan membantu anak-anak kita untuk tetap berada di jalan yang benar saat dia mengalami rintangan dan tantangan dalam hidupnya. Beberapa nilai hidup yang baik adalah seperti :

– Kerendahan hati, bahwa ’diatas langit masih ada langit’, bahwa jangan pernah kita merasa sebagai orang yang paling pintar. Tetapi bersikaplah rendah hati, karena dengan demikian orang akan lebih mau mendengarkan kita.

– Sopan santun dan etika bergaul. Dimulai dari hal sederhana seperti mencium tangan jika bertemu dengan orang yang lebih tua, memberi salam jika bertamu ke rumah orang atau bertemu dengan orang yang dikenal di jalan. Budaya barat tidak selalu cocok diterapkan di Indonesia. Hindari membiasakan anak-anak memanggil kakaknya hanya dengan nama, atau memanggil orang yang lebih tua hanya dengan nama, atau malah tidak memberi salam jika bertandang ke tempat lain.

– Menghargai orang lain. Tumbuhkan empati dalam diri anak, bahwa semua manusia patut diperlakukan dengan hormat walaupun mereka adalah pemulung, pengemis atau tukang becak.

– Kegigihan dalam berusaha. Jangan berkata TIDAK BISA sebelum anda mencoba untuk melakukannya.

Dan masih banyak nilai moral yang bisa ditanamkan kepada anak lewat tindakan kita sehari-hari ditambah dengan penjelasan dari orang tua mengapa harus seperti itu.
 
Seharusnya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai orang tua, dengan harapan agar anak-anak kita bisa berkembang menjadi pribadi yang dewasa dan matang, yaitu :

1. Sedari kecil, anak tidak boleh jauh dari Tuhan, dan saya yakin semua agama dan keyakinan mengajarkan hal seperti itu. Karena Tuhan yang menciptakan manusia, dan hanya kepada Tuhan saja manusia bisa berpegang. Binalah iman anak-anak kita agar mereka selalu kembali kepada jalan Tuhan seberapa beratnya pun masalah yang dihadapi atau betapa bahagia dan senangnya hidupnya.

2. Sebagai orang tua, rajinlah berdoa untuk anak-anak kita. Berdoa untuk hal yang baik, bukan berdoa untuk hal-hal yang tidak masuk di akal, misalnya berdoa agar anak akan menjadi orang kaya di kemudian hari, mendapat suami/istri  yang berkelimpahan dan lain-lain. Namun berdoalah agar anak-anak kita selalu ingat akan Tuhan, selalu berjalan di jalan yang benar, mohon agar kita sebagai orang tua diberi kebijaksanaan untuk bisa mendidik anak-anak dengan nilai-nilai kehidupan yang baik dan luhur.

3. Sebelum menyekolahkan anak atau mengirim anak ke sebuah boarding school/sekolah berasrama atau menitipkan anak kepada teman/keluarga atau menyekolahkan anak di luar kota dengan kondisi anak tersebut harus kost, pastikan bahwa kita mengenal dengan baik lingkungan sekitarnya, bagaimana metode belajar yang diterapkan, fasilitas apa saja yang di lingkungan sekitar. Contohnya jika di sebelah tempat kost adalah tempat penyewaan play station untuk bermain games, mungkin harus dipikir ulang karena tentunya kita tidak mau anak kita malah menghabiskan waktunya untuk bermain games daripada belajar. Jika metode pembelajaran di sekolah sudah terlihat terlalu berat untuk anak, janganlah memaksakan anak untuk bersekolah disitu, karena seharusnya anak bisa bersekolah dengan beban yang sanggup ditanganinya sehingga dia bisa menjalani hari-hari sekolahnya dengan senang.

4. Berhati-hatilah dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan pada anak. Saya belajar dari Ibu saya yang telah menanamkan nilai-nilai yang baik bukan dari omelan, namun dari perbuatan beliau. Cara seperti itu akan lebih bijaksana, namun suatu saat perlu juga disampaikan saat orang tua sedang berbincang santai dengan anak-anaknya. Semakin usia anak bertambah, semakin bertambah pula kemampuannya untuk berpikir logis mengenai nilai-nilai yang ada. Pastikan bahwa kita menjelaskan manfaat dari nilai-nilai kehidupan tersebut dengan jelas, dan tidak lagi menggunakan kata-kata ”pokoknya kamu harus …” atau ”jangan melakukan … karena pamali” dan berbagai macam kalimat yang tidak akan dimengerti oleh anak-anak.

5. Ada saatnya orang tua harus berani ’melepas’ anak ke dunia nyata. Tidak terlalu melindungi, karena anak perlu dihadapkan pada kenyataan hidup bahwa tidak semua temannya bisa menyenangkan, bahwa tidak semua gurunya adalah guru yang ramah. Bahwa kehidupan manusia bisa berputar seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Jika kita memang tidak memiliki uang untuk membeli mainan favoritnya, anak perlu diberi pengertian bahwa dia memang tidak bisa membeli mainan saat itu. Jika kita tidak memiliki dana untuk pergi berlibur ke Bali misalnya, jangan memaksakan diri untuk berhutang hanya supaya anak kita senang. Jika suatu saat kita perlu melepas anak untuk sekolah atau kuliah di luar kota, kalau memang anak kita terlihat siap atau dirasa bahwa situasi seperti itu justru akan membantu anak untuk menjadi pribadi yang matang, mengapa tidak ?

6. Berusahalah untuk tidak membuat ekspetasi/harapan yang terlalu tinggi untuk sang anak. Caranya adalah dengan berusaha meluangkan waktu untuk berbicara dengan anak-anak. Anak-anak di jaman sekarang adalah anak-anak yang kritis, yang sudah memiliki pandangan sendiri mengenai kehidupannya, yang sudah bisa memberikan pendapatnya tentang sesuatu, dan sudah bisa memprotes jika orang tua terlalu otoriter. Dengan berbincang-bincang, kita dapat mengetahui cara berpikir mereka dan mencoba mencocokkan dengan harapan yang tadinya ingin kita buat untuk mereka.
 
Hanya itulah yang bisa kita perbuat. Karena manusia boleh berencana, tetapi tentunya hanya rencana Tuhan yang menciptakan kita, yang bisa terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s