INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 21 : Gifts Differing – Extraversion dan Introversion (bagian 1)

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya mengambil sertifikasi sebagai practitioner untuk sebuah teori kepribadian yang unik yang dikenal dengan teori MBTI (Myers-Briggs Type Indicator). Di luar Indonesia, teori ini sudah banyak dipakai untuk berbagai kalangan sebagai alat untuk memberikan gambaran mengenai inner character seseorang. Teori ini tergolong unik karena sertifikasi untuk practitioner bisa diambil oleh orang yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang psikologi. Sehingga saat saya mengikuti program sertifikasinya, saya melihat rekan satu angkatan saya adalah campuran antara para professional yang memang membutuhkan sertifikasi ini untuk pekerjaannya, para ibu rumah tangga, para guru, para professional (sudah manajer lho …) dan bahkan ada seorang laki-laki yang berusia cukup muda bercerita dia sudah mengikuti program sertifikasi itu untuk kedua kalinya karena dia tidak mengejar sertifikasinya tetapi dia memilih untuk selalu me-refresh pengetahuannya tentang MBTI.
 
Selama seminggu saya mengikuti program ini di negeri orang, saya tidak merasa terbeban, karena ternyata banyak sekali yang saya dapatkan dari teori ini. Dari penjelasan mengenai landasan teori, sharing antar peserta, berbagai simulasi yang kita lakukan, telah membuat saya takjub betapa indah dunia ini dengan segala keberagaman yang sudah dibuat oleh Tuhan.
 
Pada hari ke-14, saya pernah menulis mengenai sebuah buku yang ditulis oleh penggagas teori ini, yaitu GIFTS DIFFERING. Namun setelah itu saya berpikir, mengapa saya tidak membagikan pengetahuan dengan anda mengenai teori ini, dengan harapan agar anda pun bisa merasakan hal yang sama dengan saya, bahwa keragaman karakter adalah sebuah anugrah, bukan bencana.
 
Secara singkat bisa dijelaskan bahwa berawal dari kolaborasi ibu dan puterinya, yaitu Katherine Briggs dan Isabel Briggs Myers, lahirlah teori MBTI yang sebenarnya memakai landasan berpikir dari Carl Jung, tokoh dalam dunia psikologi yang sangat dikenal orang. Katherine dan Isabel membuat sebuah kuesioner yang akhirnya berkembang menjadi teori MBTI, yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1962. Fokus MBTI adalah populasi normal. (Sumber : Wikipedia – Myers-Briggs Type Indicator)
 
Namun untuk bisa memahami implementasinya, kita harus memahami dulu teori dasarnya. Yang paling mudah dimengerti oleh awam adalah bahwa dalam MBTI dikenal ada 4 pasang preferences (kecenderungan) yang saling berlawanan, yang biasanya dikenal dengan istilah dichotomy. Pada akhirnya akan menuju menjadi 16 tipe kepribadian, yang seluruhnya tidak ada yang jelek atau bagus, tidak ada yang salah atau benar. Semuanya adalah kecenderungan kita berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
 
Ke-4 dichotomy itu adalah :
 
Extraversion (E) dan Introversion (I)
Sensing (S) dan iNtuition (N)
Thinking (T) dan Feeling (F)
Judging (J) dan Perceiving (P)
 
Agar tidak membingungkan, saya akan mencoba membahas satu dichotomy dalam satu tulisan. Dan tulisan yang pertama ini akan membahas tentang Extraversion (E) dan Introversion (I).
 
Kecenderungan sebagai E dan I biasanya disebut sebagai attitude/perilaku. Seseorang yang cenderung extraversion akan menyalurkan energinya melalui action. Kebalikannya, seseorang yang cenderung introversion akan lebih banyak melakukan refleksi, baru kemudian melakukan action dan setelah itu melakukan refleksi lagi.
 
Saya akan mencoba memberikan beberapa contoh yang semoga bisa membantu kita memahami perbedaannya.
 
Sewaktu saya masih bekerja, ada saat-saat dimana kita kedatangan tamu dari kantor pusat atau regional. Sehingga sudah pasti akan diselenggarakan acara makan malam bersama. Biasanya kalau saya sudah mendapat email tentang acara makan malam, respon awal saya adalah : “Oh tidak …”. Karena saya adalah seorang Introversion, maka saya sudah mengenal diri saya, bahwa dalam acara seperti itu, saya tidak sepenuhnya merasa nyaman karena disekeliling saya biasanya banyak unsur orang-orang baru yang belum saya kenal dengan baik. Saya selalu dapat menjalani dan melewati acara makan malam tersebut dengan baik, tetapi sesampainya saya di rumah, saya akan merasa ‘exhausted/kelelahan’. Karena seorang I tidak terbiasa menggunakan energinya langsung ke dalam bentuk action. Tapi kami bisa melakukan itu, jika memang lingkungan di sekitar memberikan stimulasi atau menuntut hal tersebut.
 
Sementara saya tahu dengan pasti, seorang rekan kerja saya yang berasal dari Inggris, adalah seorang Extroversion. Jika ada acara seperti itu, dia akan bersemangat karena seorang E akan senang bertemu dengan banyak orang walaupun tidak terlalu mengenal mereka dengan baik. Malah terkadang, seusai makan malam pun, dia masih melanjutkan minum dengan beberapa orang sambil ngobrol. Dan keesokan paginya, dia sudah muncul lagi di kantor dengan semangat yang tidak berbeda jauh dengan semalam.
 
Kemanakah kecenderungan anda ? Extroversion atau Introversion ?
 
Saya seorang I, dan saya lebih senang dengan tipe pekerjaan di belakang meja, yang tidak mengharuskan saya untuk banyak bertemu dengan orang. Walaupun jika saya harus melakukan itu, saya akan mampu melakukannya dengan baik. Dulu saat saya masih bersekolah sampai selesai kuliah, saya termasuk orang yang sangat pendiam dan pemalu. Jika ada kegiatan atau kepanitiaan, saya akan ikut serta tetapi akan lebih memilih sebagai orang yang bekerja di balik layar, bukan sebagai penampil. Namun saat saya bekerja, apalagi dengan profesi saya sebagai praktisi HR, saya ’dipaksa’ oleh lingkungan kerja untuk bisa menjadi penampil, karena saya harus banyak bertemu orang, saya harus bisa membawakan presentasi, saya harus bisa melakukan persuasion kepada orang, dan lain-lain.
 
Teman baik saya yang sekaligus rekan kerja saya, adalah seorang E. Dia lebih senang dengan pekerjaan lapangan, aktifitas gerak yang banyak dan tidak berlama-lama duduk di belakang meja. Dia lebih senang melakukan kontak langsung dengan orang-orang daripada berbicara di telpon. Dalam setiap pertemuan, jika atasan menanyakan sesuatu hal yang baru, dia akan bisa merespon dengan cepat, tanpa melihat jawaban tersebut salah atau benar. Tetapi saya, akan memerlukan waktu beberapa detik lebih lama untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saya malah sempat merasa apakah saya ini termasuk orang yang ’bolot’ ?
 
Kemanakah kecenderungan anda ? Extroversion atau Introversion ?
 
Pada dasarnya, seorang E akan secara mudah terlihat sebagai orang yang supel, bisa bergaul dengan siapa saja, tidak pernah ragu untuk masuk ke dalam suatu ruangan yang penuh dengan orang asing, lebih senang melakukan pertemuan face-to-face daripada berbicara di telepon, senang mengadakan acara yang memungkinkan mereka banyak bergerak. Karena itulah cara mereka menyalurkan energinya, keluar dari dirinya dan diterjemahkan dalam bentuk action.
 
Sementara seorang I, akan secara mudah terlihat sebagai orang pendiam, banyak berpikir, tidak terlalu suka berkumpul untuk mengobrol. Jika diminta pendapatnya, dia tidak akan langsung memberikan respon. Sehingga terkesan seorang I adalah orang yang tidak menyenangkan untuk diajak berteman dan ’telmi’ karena jika ditanya pasti akan lambat menjawabnya. Namun jangan terlalu terpaku pada semuanya itu. Banyak orang yang kita duga adalah E, ternyata adalah seorang I. Itu bisa terjadi karena kematangan usia dan pribadi, serta dorongan/stimulasi dari lingkungan sekitar yang mengharuskan dia seperti itu. Seorang I juga bisa menjadi teman ngobrol dan kawan yang menyenangkan untuk diajak jalan, jika dia ditempatkan di tengah kerumunan orang yang sudah dikenalnya dengan baik.
 
Namun saya dengan rekan kerja saya yang berasal dari Inggris, ataupun dengan teman saya, bisa melakukan kerja sama dengan baik. Malah saya merasa semua project yang pernah saya kerjakan bersama mereka adalah project terbaik yang pernah saya alami semasa saya masih bekerja.
 
Karena memang seperti itulah yang ingin dibagikan oleh Katherine dan Isabel. Bahwa perbedaan karakter, jika bisa dikelola dengan baik, akan melahirkan sinergi yang sangat bagus. Bagaimana hal itu bisa terjadi ?
 
Mudah sekali, pahamilah bahwa kita tidak dapat memaksa orang menjadi seperti kita, demikian pula sebaliknya. Yang harus kita lakukan adalah mengoptimalkan apa yang ada pada diri kita. Untuk mengerjakan hal-hal yang dibelakang meja, saya dengan senang hati akan melakukannya. Untuk melakukan hal-hal di lapangan, rekan saya akan senang hati melakukannya. Maka terciptalah sebuah sinergi yang kuat dari perbedaan itu.
 
Kemanakah kecenderungan anda ? Extroversion atau Introversion ?
Apapun jawaban anda, ingatlah bahwa ini merupakan kecenderungan/preference yang kita ambil dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak ada yang salah ataupun benar.
Apapun jawaban anda, ingatlah bahwa mulai sekarang sedikit demi sedikit kita harus berusaha untuk mengubah cara kita memandang orang yang berperilaku ’tidak sama’ dengan kita. Mereka bukan mahluk aneh, mereka adalah mahluk unik, demikian juga dengan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s