INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 22 : Gifts Differing – Sensing dan iNtuition (bagian 2)

Jika status anda saat ini adalah karyawan, pernahkah memperhatikan di dalam suatu pertemuan, yang sedang membahas Visi Misi perusahaan misalnya. Kita akan melihat ekspresi yang berbeda-beda dari para peserta. Ada yang tetap bersemangat menyumbangkan idenya. Ada yang memperhatikan dengan seksama walaupun tidak banyak bicara. Ada yang menguap, ngantuk, malah tidur. Ada yang memilih untuk bermain-main dengan kertas atau gadget yang dibawanya. Ada yang terus menerus menanyakan ”contohnya apa ? implementasinya bagaimana?”.
 
Pernah suatu saat saya mengadakan meeting tahunan dengan 3 orang staff saya. Saya membuka sesi dengan menjelaskan mengenai visi, misi yang akan saya jalankan untuk sanggar saya. Saya kemudian melanjutkan dengan konsep pengembangan beberapa tahun mendatang. Tidak ada respon, namun saat saya lebih teliti memperhatikan ekspresi mereka, oops … , ekspresi yang saya lihat adalah ekspresi bingung dan kosong. Saya panik, what did I do wrong ?
 
Apakah ekspresi yang timbul adalah sebagai bagian sebab-akibat karena fasilitator pertemuan kurang menarik ? Atau memang sebagian peserta terlalu lelah untuk mengikuti pertemuan tersebut sehingga terlihat mengantuk dan bosan ? Jawabannya : mungkin saja.
 
Namun teori MBTI melihatnya dari sisi yang sedikit berbeda. Kecenderungan sebagai S dan N menunjukkan fungsi bagaimana kita mengumpulkan informasi. Menunjukkan bagaimana kita menggambarkan dan menginterpretasikan data dan informasi yang kita terima.Seseorang yang cenderung sensing biasanya akan lebih suka dengan informasi yang bisa diterima dan dicerna oleh panca indera : dilihat, dirasakan, dicium, didengar dan diraba. Seseorang yang cenderung intuition akan lebih bisa menerima data atau informasi yang lebih abstrak atau teoritikal yang bisa dihubungkan dengan informasi lain yang sudah ada.
 
Mari kita lihat lagi perbedaan yang saya alami sendiri. Jika kami membeli sebuah alat elektronik baru atau mainan elektronik baru, akan menjadi sebuah pemandangan yang unik dan lucu, jika diperhatikan. Saya dan suami akan membongkar kardus pembungkus, dan kemudian akan terjadi pergerakan kegiatan ke dua arah yang berlawanan. Suami saya akan langsung memasang alat elektronik tersebut dan mencoba semua tombol yang ada atau remote yang disediakan. Sementara saya akan mengaduk-aduk kardus untuk mencari buku manual dan membacanya. Sampai sekarang kami akan selalu tertawa jika berulangkali mengalami hal yang sama setelah membeli sebuah barang. Karena saya menjelaskan kepada suami saya, demikianlah cara kita mengumpulkan informasi.
 
Suami saya seorang dengan kecenderungan S, dia lebih suka langsung meraba, melihat dan mencoba benda tersebut dengan tujuan agar dapat menggunakan benda tersebut dengan baik. Semnetara saya adalah seorang N, yang lebih senang membaca buku manual dimulai dari fungsi tombol sampai troubleshooting, karena saya bisa menghubungkan semua informasi tersebut tanpa harus melihat benda aslinya. Setelah itu baru saya akan mencoba mencocokkan informasi tersebut dengan benda aslinya. Tujuannya sama, agar saya dapat menggunakan benda tersebut dengan baik.
 
Kerjasama yang baik, bisa timbul dari dua kegiatan sederhana tersebut. Disaat ada sedikit masalah dengan benda elektronik tersebut, jika saya tidak bisa menemukan di buku manual, saya akan meminta suami saya untuk mencoba-coba langsung, dan biasanya berhasil. Jika suami saya tidak dapat menemukan mengapa ada sesuatu yang tidak berfungsi di benda tersebut, biasanya dia akan meminta saya untuk membantu membaca di buku manual.
 
Ada lagi seorang teman baik saya yang memiliki ketrampilan unik. Apapun benda yang diberikan kepada dia, apakah itu sebuah kamera, CD player, televisi, dalam berbagai tipe dan kecanggihannya, hanya dalam waktu satu hari, dia bisa menjalankannya dengan baik. Hanya dengan mencoba langsung, memegang benda, merasakan dan melihat langsung hasilnya.
 
Namun saya juga pernah mempunyai atasan yang memiliki pandangan ke masa depan yang sungguh mengagumkan. Saya bisa tercengang mendengar penuturannya tentang konsep pelatihan yang ingin dia kembangkan, atau konsep tentang sebuah sistem baru yang ingin dia terapkan. Dan semuanya bisa langsung dia tuangkan dalam bentuk diagram. Namun jika kita perhatikan, semua konsep tersebut memang didukung oleh informasi yang saat itu terdapat di sekeliling saya.
 
Bingung ? Sebenarnya tidak perlu bingung. Karena seorang S akan lebih mengandalkan panca inderanya saat dia mengumpulkan informasi atau belajar sesuatu. Dia harus melihat, meraba, mencium, merasakan dan mendengar sendiri. Karena itu seorang S akan mudah dilihat sebagai orang yang praktikal, karena untuk dia akan lebih mudah memproses informasi lewat kejadian langsung. Karena itu juga, seorang S biasanya adalah orang yang memperhatikan detil pekerjaan dan lebih nyaman bekerja jika semua batasan, prosedur, aturan sudah ada.
 
Sementara seorang N biasanya akan terlihat sebagai orang yang senang berbicara tentang konsep, visi, sesuatu yang abstrak dan teoritis. Sebab seorang N bisa mengkaitkan pemikiran abstraknya dengan informasi yang saat ini ada. Seorang N dengan konsepnya, akan memiliki cara berpikir yang global, memandang semuanya dari gambaran besarnya. Biasanya untuk pelaksanaan detilnya, mereka tidak terlalu nyaman mengerjakannya.
 
Maka seorang N bisa membuat sesuatu yang belum ada menjadi ada. Dan seorang S akan menjalankan sesuatu yang sudah ada tersebut dengan baik, malah bisa membantu pengembangannya dengan kemampuannya untuk melihat hal yang detil.
 
Karena itu, jangan paksa seorang S untuk duduk tenang mendengarkan sebuah konsep dipaparkan. Itu akan menjadi hal yang sangat berat untuk mereka, karena mereka tidak akan bisa memberikan kontribusi dengan optimal.
 
Namun jangan paksa seorang N untuk terus melakukan hal yang sudah ada dan rutin dilakukan. Karena seorang N akan lebih bisa memberikan kontribusi jika dia dikondisikan pada kegiatan untuk membantu mencari sebuah bentuk prosedur, aturan dan lain-lain.
 
Seorang arsitek bisa merupakan seorang S atau N. Seorang arsitek yang menerima pekerjaan untuk membuat desain rumah tinggal, mungkin saja seorang S, karena dia telah menjalani selama bertahun-tahun pekerjaan mendesain serta melihat banyak rumah tinggal dengan konsep arsitektur yang terus berkembang. Namun seorang arsitek yang bisa melahirkan desain yang spektakuler, seperti sebuah hotel mewah di Dubai, adalah seorang N, yang bisa menggabungkan informasi yang ada, yaitu pengetahuan yang dimiliki untuk mendesain gedung atau bangunan, dengan keunikan bentuk yang tidak terpikirkan oleh orang sebelumnya.
 
Kembali kepada keinginan mendasar dari teori MBTI, bahwa perbedaan karakter, jika bisa dikelola dengan baik, akan melahirkan sinergi yang sangat bagus.
 
Pahamilah bahwa kita tidak dapat memaksa orang menjadi seperti kita, demikian pula sebaliknya. Yang harus kita lakukan adalah mengoptimalkan apa yang ada pada diri kita. Maka terciptalah sebuah sinergi yang kuat dari perbedaan itu.
 
Kemanakah kecenderungan anda ? Sensing atau Intuition ?
Apapun jawaban anda, ingatlah bahwa ini merupakan kecenderungan/preference yang kita ambil dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak ada yang salah ataupun benar.
Apapun jawaban anda, ingatlah bahwa mulai sekarang sedikit demi sedikit kita harus berusaha untuk mengubah cara kita memandang orang yang berperilaku ’tidak sama’ dengan kita. Mereka bukan mahluk aneh, mereka adalah mahluk unik, demikian juga dengan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s