INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 24 : Gifts Differing – Judging dan Perceiving (bagian 4)

Dichotomy terakhir adalah Judging dan Perceiving. Kecenderungan sebagai J dan P menunjukkan lifestyle atau gaya hidup kita sehari-hari. Seseorang yang cenderung judging biasanya akan lebih suka menjalani hidupnya dengan rencana yang pasti. Seseorang yang cenderung perceiving akan lebih suka menjalani hidupnya dengan mengikuti apa yang ada.
 
Kita pasti sering mendengar bahwa sebuah pernikahan sebetulnya adalah sebuah pilihan hidup yang harus dijalani dengan kompromi, yang satu mengalah di sisi sebelah kiri dan yang satunya lagi mengalah di sisi sebelah kanan. Kalau bisa mengarah ke win-win solution. Itu juga yang terjadi pada saya. Semua perbedaan dan cara pandang kita dan pasangan, biasanya baru akan terungkap satu persatu setelah menikah. Setelah kita menghabiskan waktu bersama pasangan, tidak bisa sembunyi saat marah, selalu bertemu kemanapun kita pergi karena berada dalam satu lokasi.
 
Perbedaan tentang J dan P ini baru terasa saat anak pertama kami lahir. Setelah berusia beberapa bulan, dan sang bayi sudah bisa dibawa keluar rumah, kami memutuskan bahwa sudah saatnya membawanya ke rumah orang tua di daerah Depok. Maklum karena anak pertama, saya belum ada pengalaman, tentunya persiapan di malam harinya memakan waktu cukup lama. Karena khawatir ada yang ketinggalan, rasanya hampir semuanya saya bawa. Pada akhirnya, sepulang dari rumah orang tua, saya kelelahan sebab memerlukan waktu yang panjang untuk bersiap-siap maupun membereskan semuanya. Namun saya senang karena semuanya berjalan sesuai dengan ‘rencana’.
 
Setelah beberapa kali seperti itu, saya mulai terbiasa dengan kegiatan tersebut. Tiba-tiba suatu saat, tanpa diduga, di hari Minggu pagi, suami saya berkata : “Ayo, kita pergi”. Saya kaget bukan kepalang, karena itu tidak termasuk dalam ‘rencana’ saya di hari Minggu. Saya protes mengapa harus mendadak, sementara suami saya bertanya mengapa hal seperti ini harus diributkan, bawa saja seadanya. Yang saya ingat saat itu saya murung, karena merasa ada sesuatu yang berjalan diluar rencana dan seolah ada yang memporakporandakan hidup saya. Malah terkadang yang terjadi adalah kebalikannya, saya sudah bersiap-siap, namun di hari Minggu pagi, suami saya memberitahu tidak jadi pergi karena dia kecapean.
 
Kejadian ini berlangsung selama berbulan-bulan, sampai saya memahami tentang J dan P. Saya menyadari bahwa sebenarnya gaya hidup kami yang memang berbeda. Pilihannya hanya dua, menjalani apa adanya namun mungkin ada pihak yang tidak nyaman, atau melakukan sebuah kompromi dari hasil pembelajaran selama berbulan-bulan.
 
Akhirnya yang terjadi adalah sebuah kompromi dalam hidup kami. Saya belajar untuk memahami mengapa suami saya demikian, dan sudah tidak kaget lagi jika tiba-tiba ada sesuatu yang mendadak yang terlintas dalam pikiran suami saya. Suami pun ternyata belajar bahwa terkadang hidup ini juga harus dijalani dengan rencana yang baik, sehingga dia mulai belajar untuk menghargai dan menjalankan rencana yang sudah dibuat untuk keluarga.

Menjadi orang yang terlalu J, selalu penuh dengan perencanaan, tidak boleh lewat sedetikpun dari rencananya, tentunya juga tidak akan menyenangkan. Saya mencoba untuk bisa mengapresiasi bahwa terkadang kita butuh spontanitas untuk bisa membuat pikiran kita terbuka. Menjadi orang yang terlalu P juga bukan hal yang sempurna, karena di satu titik, orang harus berpikir dan merencanakan bagaimana dia mau menghabiskan sisa hidupnya di dunia ini.
 
Lalu apa yang terjadi dengan kombinasi seluruh dichotomy tersebut ? 16 tipe kepribadian menurut MBTI. Tapi menurut saya, hal tersebut bukan hal yang esensial untuk kita. Adalah hal yang esensial untuk melihat bahwa teori ini memberikan pencerahan kepada kita tentang bagaimana kita memandang diri kita dan sesama.

Pertama, kita diajak untuk tidak melihat sesama hanya dari penampilan lahiriah saja. Bahwa masih ada kepribadian yang lebih mendalam yang bisa kita lihat, bukan sebagai suatu keanehan atau ancaman, tetapi sebagai suatu anugrah. Bahwa orang-orang yang dinilai ‘berbeda’ dengan kita, sebenarnya bisa saling melengkapi dalam hidup bermasyarakat.

Kedua, kita diajak untuk mengenal diri sendiri dan meningkatkan self-awareness atau mawas diri terhadap pertanyaan “aku ini berkepribadian seperti apa ?”. Dan lebih aware terhadap sesama manusia yang berada di sekeliling kita. Dan mulai belajar untuk bisa menghormati mereka.

Ketiga, kita diajak untuk melihat bahwa manusia adalah mahluk yang unik, setiap individunya. Sehingga jika kita melihat ke 16 tipe kepribadian tersebut secara bersamaan, tidak ada yang jelek atau terbaik, tidak ada yang benar ataupun salah.

Keempat, MBTI hanya membantu kita menemukan ‘preference/kecenderungan’ cara kita berperilaku dan lain-lain. Masih banyak faktor lain yang tidak bisa kita kendalikan, yang terkadang membuat beberapa orang mungkin terlihat ‘berbeda’ dari yang lain. Karena itu gunakan pengetahuan kita tentang teori ini sebagai alat untuk membuka wawasan lebih luas, bukan untuk menilai atau memberikan predikat tertentu kepada orang lain.

Semoga dengan sharing sekilas mengenai ke-4 dichotomy dalam teori MBTI, dapat membuka wawasan dan cara berpikir kita dalam melihat diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Perbedaan dan keragaman adalah sebuah anugrah, bukan sebuah ancaman atau bencana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s