INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 25 : Cita-cita Seorang Anak Muda

Di dekat rumah saya, ada sebuah rumah makan yang menjual chinese food. Suatu pagi saya mampir kesitu untuk membeli mie ayam. Sambil menunggu pesanan datang, saya memperhatikan para karyawan bekerja dan perhatian saya tertuju pada satu orang karyawan pria yang masih cukup muda usianya.
 
Saya masih ingat dengan jelas, sekitar 4 tahun yang lalu, anak muda ini masuk bekerja di rumah makan tersebut sebagai karyawan yang membantu untuk cuci piring, melayani pesanan tamu, bisa dibilang sebagai pembantu umum. Sementara peran sebagai juru masak biasanya dilakukan oleh pemilik rumah makan dan masih ada satu karyawan yang sudah senior. Sampai suatu saat, karena ada sebuah insiden, maka juru masak yang lama ini dikeluarkan oleh sang pemilik.
 
Sempat beberapa lama saya melihat peran juru masak ditangani seluruhnya oleh sang pemilik. Namun beberapa bulan kemudian, saat saya membeli makanan disitu, ternyata anak muda ini sudah menjadi juru masak. Walaupun selama memasak, saya melihat sang pemilik mendampingi dan dia pula yang memberi bumbu. Saya sempat bertanya bagaimana prosesnya sampai anak muda ini bisa menjadi juru masak. Rupanya setelah juru masak yang terdahulu sudah keluar, maka anak muda ini memberanikan diri berbicara kepada sang pemilik, bahwa dia minta diberikan kesempatan untuk mencoba menjadi juru masak dan bersedia belajar.
 
Saya yakin sang pemilik sudah mempertimbangkan masak-masak sebelum mengiyakan permintaan anak muda ini, karena anak muda ini tidak punya pengalaman sebagai juru masak. Namun saat pagi itu saya memesan mie ayam, saya seperti diputarkan sebuah film yang mengulas kilas balik perjalanan anak muda ini dalam hal memasak.
 
Saya masih ingat diawal dia memasak, rasa masakan masih oke karena sang pemilik masih turun tangan memberi bumbu. Namun beberapa bulan kemudian, saat saya kembali membeli makanan, ternyata anak muda ini sudah diberi kepercayaan memberi bumbu sendiri dan menurut saya rasanya tidak cocok. Saya sempat mencoba beberapa kali, namun koq rasanya masih tidak cocok. Karena itu saya sempat tidak pernah membeli makanan disitu selama hampir setahun. Kalaupun saya membeli disitu, biasanya saya akan minta sang pemilik yang memasak.
 
Baru sekitar tahun lalu, karena saat itu saya tidak memasak di rumah, tiba-tiba saya kangen sekali ingin makan makanan disitu. Saya berpikir siapapun yang memasak tidak masalah, karena rasa kangen makan lebih kuat. Dan ternyata rasa masakannya cocok padahal yang memasak adalah anak muda tersebut.
 
Saya pikir ini hanya kebetulan. Kemudian beberapa minggu berikutnya, saya coba lagi. Ternyata rasa masakannya cocok lagi. Setelah beberapa kali membeli dan rasa masakannya konsisten dan enak, maka saya tidak pernah ragu lagi sampai sekarang, walaupun anak muda itu yang memasak.
 
Dari peristiwa yang sederhana tersebut, saya bisa belajar banyak dari anak muda ini. Empat tahun yang lalu saya melihat dia sebagai anak muda yang masih suka tertawa semaunya dan merokok saat tidak ada pembeli, dan sering ditegur sang pemilik karena suka ceroboh dalam bekerja. Saat ini saya melihat dia menjadi orang yang percaya diri, melakukan tugasnya dengan tenang, tidak pernah terlihat merokok, dan malah saya melihat dia menjadi orang kepercayaan sang pemilik.
 
Itulah pelajaran hidup yang dapat dari anak muda ini : kekuatan sebuah cita-cita yang dibarengi dengan tekad yang kuat untuk mewujudkannya.
 
Tidak banyak anak muda yang berani menyampaikan keinginan atau cita-citanya dengan terus terang. Tidak banyak anak muda yang mau menempuh jalan yang merepotkan untuk bisa mendapatkan sesuatu. Bayangkan, anak muda ini bekerja di sebuah rumah makan biasa, bukan restoran mewah di Jakarta. Tapi dia memiliki keinginan untuk menambah ilmunya dengan ketrampilan memasak. Padahal banyak anak muda lainnya yang lebih memilih bekerja di pabrik karena tidak perlu pusing dan mendapat UMR yang lumayan. Namun anak muda ini bisa melihat bahwa dia memiliki sebuah kesempatan dan tidak menyia-nyiakannya. Saya yakin sekali saat dia mengutarakan keinginannya, dia sudah siap dengan segala kemungkinan jawaban yang bisa diberikan sang pemilik. Namun setidaknya dia telah mencoba.
 
Setelah dia mendapatkan kesempatan tersebut, dia tidak membuang waktunya. Dia menjalaninya dengan tekun. Walaupun butuh waktu sampai sekitar empat tahun untuk bisa memasak dengan rasa yang enak dan konsisten, tapi hal tersebut telah menunjukkan bahwa anak muda ini tidak main-main dengan cita-citanya.
 
Jika dalam proses belajarnya, dia sempat membuat makanan dengan rasa yang tidak pas, itu hal yang wajar. Sama seperti anak kecil yang sedang belajar berjalan, pasti ada saat-saat dimana dia sering terjatuh.
 
Kalaupun suatu saat anak muda ini akan membuka rumah makan miliknya sendiri, saya tidak akan merasa heran, karena anak muda ini telah menunjukkan bahwa dia memiliki hasrat dan tekad dalam jumlah yang lebih dari cukup untuk mewujudkan mimpinya.
 
Ada yang mengatakan : cita-cita tanpa usaha untuk mewujudkannya adalah sebuah angan-angan belaka.
 
Ada seorang anak muda yang menunjukkan kepada saya bahwa cita-cita yang kelihatannya sederhana, jika dibarengi dengan tekad dan hasrat yang kuat untuk mewujudkannya, akan membuahkan hasil yang manis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s