INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 26 : Bahasa Tubuh

Semalam saya dan beberapa teman baik, berkumpul untuk sebuah acara perpisahan sederhana di sebuah rumah makan, karena salah satu teman kami harus pindah bekerja di Jakarta. Awalnya acara makan malam berlangsung tenang dan obrolan ringan pun mengalir dalam suasana tenang sambil menikmati hidangan yang tersedia.

Kebetulan ruangan yang kami pakai adalah sebuah ruang tertutup yang dilengkapi dengan fasilitas karaoke. Ketika seorang teman saya sudah selesai makan, mulailah dia mencari-cari lagu karaoke. Setelah itu suasana pun perlahan-lahan berubah menjadi suasana yang penuh tawa dan canda. Karena ada yang menyanyi dengan nada yang tidak sesuai dengan lagu aslinya, malah ada teman yang tidak pernah mau menyanyi di depan umum, akhirnya berhasil kami bujuk dan dia malah bisa menyanyikan sampai tiga buah lagu.

Suasana yang sangat menyenangkan dan tentunya mengesankan terutama bagi teman kami yang akan pindah. Namun ada hal lain yang menarik perhatian saya dengan memperhatikan teman-teman yang ada dalam ruangan tersebut.

Mayoritas adalah para laki-laki yang sebagian besar sudah berkeluarga, dan hanya ada tiga perempuan termasuk saya. Dalam kesehariannya, saya mengenal mereka sebagai orang yang tenang, ada juga yang senang berpikir dan mengutarakan gagasannya dengan hati-hati, sebagian ada yang selalu berpikir cepat dan reaktif, ada juga yang terkesan galak, ada yang terkesan sangat cuek dengan orang dan malahan ada yang dalam kesehariannya memang senang bercanda.

Namun semalam saya melihat hal yang berbeda dari mereka. Semuanya berbaur menjadi satu menjadi kumpulan pribadi yang tidak malu untuk bernyanyi, tidak malu untuk tertawa terbahak-bahak dan tidak malu untuk ikut berjoget mengikuti alunan musik yang enak.

Faktor apa sih yang membuat hal itu bisa terjadi ? Jawabannya adalah BODY LANGUAGE atau BAHASA TUBUH.

Menurut Wikipedia, body language/bahasa tubuh adalah sebuah bentuk berkomunikasi secara non-verbal, yang terdiri dari postur tubuh, gesture, ekspresi muka dan pergerakan mata. Bahasa tubuh juga bisa memberikan petunjuk mengenai perilaku atau cara berpikir seseorang. Misalnya, dapat mengindikasikan seseorang yang agresif, atau penuh perhatian, atau sedang bosan/jenuh, atau sedang dalam keadaan bahagia, dan lain-lain.

Dan biasanya bahasa tubuh kita akan berkaitan erat dengan kondisi dan situasi dimana kita berada. Misalnya kita akan memberikan bahasa tubuh yang agak menunduk dan tidak mau terlihat, jika kita dalam keadaan tidak mau ditanya oleh orang. Atau kita akan memberikan bahasa tubuh yang berjalan dengan tegap, muka tersenyum, jika kita berada dalam kondisi sedang menuju sebuah panggung untuk menerima penghargaan.

Demikian juga dengan teman-teman saya. Saya jadi memahami bahwa jika keseharian mereka adalah orang-orang yang serius, tekun bekerja dan terlihat berhati-hati dalam berbicara, kemungkinan besar semua itu karena kondisi pekerjaan yang menuntut mereka memberikan bahasa tubuh yang tenang, tampak serius dan berpikir. Saya jadi memahami bahwa jika teman saya adalah orang yang terus menerus tersenyum atau bercanda, kemungkinan besar hal tersebut dilakukan sebagai bahasa tubuh mereka dalam menghadapi tekanan pekerjaan yang cukup tinggi.

Namun dalam kondisi yang berbeda, dimana tidak ada tekanan pekerjaan, dimana hanya ada sekumpulan teman yang sedang bersama-sama berkumpul, maka bahasa tubuh mereka pun menjadi berbeda. Saya melihat mereka lebih eskpresif, lebih banyak tersenyum, malah mau membantu teman yang tidak mau bernyanyi untuk bisa bernyanyi dengan benar.

Saya juga bisa melihat dan merasakan bahwa mereka benar-benar gembira, lewat bahasa tubuh yang ditunjukkan. Pengamatan dan pengalaman hidup saya selama ini mengajarkan bahwa orang bisa berbohong dengan kata-kata, tapi orang tidak bisa berbohong dengan bahasa tubuh. Itu akan terlihat jelas. Seseorang yang berusaha memberikan ekspresi muka gembira namun dirinya merasa tidak nyaman dengan situasi disekitarnya, akan terlihat dengan sangat jelas. Sebab dia akan tersenyum dengan terpaksa, tertawapun tidak akan lepas.

Namun ada kalanya dengan mengatasnamakan sopan santun, kita mesti memberikan bahasa tubuh yang mungkin berlawanan dengan hati kita. Misalnya di saat anda sekeluarga hendak pergi keluar rumah, tiba-tiba datang tetangga, seorang ibu yang sudah lanjut usia, bermaksud untuk menitipkan kunci rumahnya. Namun sang ibu malah bercerita tentang cucunya. Tentunya tidak sopan jika kita memberikan raut muka cemberut atau tidak mendengarkan ceritanya tetapi langsung mengambil kuncinya. Setidaknya kita berusaha untuk memberikan ekspresi wajah yang tersenyum, untuk kemudian setelah beberapa saat, menjelaskan kepada sang ibu bahwa anda ada keperluan keluar.

Bahasa tubuh bisa memberikan gambaran mengenai cara berpikir anda saat itu. Gunakanlah bahasa tubuh yang sesuai dengan hati kita. Karena orang akan bisa melihat ketidaksesuaian antara suasana hati dan bahsa tubuh jika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s