INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 29 : Saya Adalah Seorang Ibu Rumah Tangga

Jika 8 tahun yang lalu, saya ditanya apa pekerjaan saya, maka saya pasti akan ragu sejenak dan sedikit merasa malu untuk menjawab bahwa saya sekarang adalah ibu rumah tangga. Itu terjadi beberapa lama setelah saya memutuskan berhenti bekerja.

Namun jika saat ini saya diberikan pertanyaan yang sama, saya akan langsung menjawab bahwa saya adalah ibu rumah tangga, tanpa ada ragu sedikitpun.

Saya tidak ingin membandingkan kehebatan seorang ibu yang bekerja dengan seorang ibu rumah tangga. Saya hanya ingin berbagi pengalaman selama 8 tahun saya menjalani hidup dengan cara yang sangat berbeda.

Awalnya tentu saja saya merasa khawatir tidak punya kegiatan, karena sudah terbiasa dengan tingkat kesibukan kerja di kantor. Namun ternyata kekhawatiran saya tidak beralasan. Ternyata kegiatan sebagai ibu rumah tangga sudah dimulai dari subuh, sejak menyiapkan anak-anak untuk sekolah, dan tidak pernah berhenti sampai malam menjelang.

Mulai dari memikirkan harus masak apa hari ini, harus belanja bulanan, harus membeli sayur mayur ke pasar, belum lagi urusan sekolah anak-anak, mengurus pembayaran listrik/air/telpon, membersihkan rumah atau setidak memonitor pekerjaan Asisten Rumah Tangga dalam membersihkan rumah, dan masih banyak kegiatan lainnya.

Mengalami semua itu, ada satu hal yang paling esensial yang saya rasakan selama saya tinggal di rumah. Dahulu saat saya bekerja, saya hanya ‘mendengar’ dari pengasuh anak bahwa anak saya sudah bisa bernyanyi, sudah bisa berlari, sudah bisa melipat kertas dan lain-lain. Lalu panik jika ada telpon dari pengasuh anak bahwa anak saya demam, muntah-muntah dan lain sebagainya. Hanya mendengar, mendengar dan mendengar.

Namun setelah saya di rumah, saya punya porsi waktu yang cukup banyak untuk bertemu dengan anak-anak saya. Saya tidak hanya ‘mendengar’ tetapi saya juga ‘melihat dan menyaksikan’ perkembangan anak-anak. Bagaimana cerita mereka tentang teman-teman, guru dan sekolahnya. Bagaimana mereka tumbuh menjadi tinggi, malahan anak sulung saya sudah masuk masa pubertas dan saya ada di sampingnya saat semua itu terjadi.

Maka tak heran jika di Jepang, negara yang sangat maju dengan teknologi dan kepandaian orang-orangnya, ternyata dengan segala tuntutan sekolah yang tinggi, telah membuat sebuah pergeseran pemikiran dimana para wanita Jepang yang sudah memiliki anak akan memutuskan tinggal di rumah menjadi kyoiku mama (ibu pendidikan) bagi anaknya.

Bahkan di belahan dunia Barat pun, banyak para wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, namun masih sempat untuk berkarya lewat menulis di blog.

Tsh (dibaca : Tish) Oxenreider, adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak yang masih kecil. Tinggal di Bend, Oregon. Di sela-sela kehebohan rumah tangganya, dia masih menyempatkan diri untuk menulis buku dan mengelola 5 buah blog miliknya, dimana seluruhnya berbicara tentang ibu, anak dan rumah tangga.

Contoh-contoh tersebut menggambarkan kepada kita bahwa profesi ibu rumah tangga pun tidak menghalangi kita untuk berkarya atau berekspresi. Apakah kita mau menulis, melukis, membuat lagu, apapun kegiatannya, selama kita menjalankannya dengan senang hati, pasti akan bisa dilalui dengan baik walaupun dikerjakan sambil mengurus rumah tangga.

Being a housewife – menjadi ibu rumah tangga, bukanlah sebuah kondisi yang menakutkan. Justru merupakan sebuah kesempatan yang sangat baik bagi kita untuk belajar sesuatu hal yang baru, bertemu dengan orang-orang baru, mempelajari teknologi yang ada dan memanfaatkannya untuk keperluan rumah tangga dan pribadi. Bahkan kita harus pandai mencari waktu untuk “me time”, waktu untuk diri kita sendiri. Apakah kita perlu jalan-jalan sendiri, atau membaca buku di kamar sendiri, atau menonton di bioskop bersama teman-teman dekat. Dan ibu rumah tangga dimampukan untuk melakukan semuanya itu.

Bagi sebagian wanita, keadaan lingkungan sekitar sangat mendukung bagi sang ibu untuk tetap bekerja. Misalnya ibu harus membantu ekonomi keluarga, ibu dengan anak-anak yang sudah beranjak dewasa sehingga sudah tidak terlalu banyak yang harus dilakukan, dan lain-lain.

Namun bagi sebagian lainnya, terkadang pada suatu titik kita memang harus memilih untuk tidak bekerja dan tinggal di rumah karena diawali dengan kondisi lingkungan sekitar sebagai pemicunya. Misalnya jarak kerja yang terlalu jauh sehingga mempengaruhi kesehatan, kondisi kesehatan anak yang kurang baik dan memerlukan perhatian penuh dari ibu, dan lain-lain.

Namun bersyukurlah jika jalan hidup kita adalah menjadi ibu rumah tangga, karena kita bisa melihat dan menyaksikan perkembangan anak-anak dari hari ke hari.

Bersyukurlah jika kita menjadi ibu rumah tangga, karena kita mempunyai lebih banyak waktu untuk memahami keadaan di sekeliling kita dan melatih mata batin kita untuk lebih peka terhadap sesama.

Tetaplah berkarya, gunakan talenta yang ada pada kita, jangan berhenti di tempat. Otak kita harus terus distimulasi dengan berbagai kegiatan yang kita senangi. Apakah melanjutkan hobi menyulam kita yang sudah lama ditinggalkan atau malah mulai memberanikan diri untuk menulis sebuah cerita.

Banyaklah belajar lewat buku, musik, film, social media dan internet tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah tangga, pendidikan anak-anak, parenting skill dan dunia kewanitaan. Pengetahuan baru akan menambah rasa percaya diri kita dan menambah semangat untuk bisa mengurus keluarga dengan lebih anak.

Last but not least, enjoy the moments. Karena momen-momen yang kita lalui sehari-hari bersama suami dan anak-anak tidak akan bisa diputar ulang.

Saya adalah seorang ibu rumah tangga ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s