INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 11 : Arti “Pertemanan”

Sejak setahun yang lalu, saat anak saya duduk di kelas 6, dia selalu mempertanyakan mengenai arti dan definisi dari ‘sahabat’. Saya mencoba menjelaskan, tapi kelihatannya dia sedang mencoba untuk mencocokkan antara definisi ‘sahabat’ yang saya jelaskan dengan pengalaman pribadinya sendiri.

Hal tersebut sempat membuat saya merenungkan kembali tentang arti kata FRIENDSHIP, yang cakupannya lebih luas dari sahabat.

Sama seperti anak saya yang sangat menaruh perhatian besar pada arti ‘sahabat’, ternyata di Wikipedia saya temukan informasi bahwa memang FRIENDSHIP/PERTEMANAN bukan hal yang dianggap remeh. Topik bahasan tentang friendship sudah dimulai sejak jaman Aristoteles hidup, dimana dia menulis bahwa seorang teman adalah bagian dari diri seseorang. Di Timur Tengah, mereka menghargai kata tersebut dengan sangat serius dan jika perlu maka mereka rela berkorban secara pribadi untuk seorang teman. Di Russia, kita boleh memanggil seseorang dengan nama depan mereka kalau mereka sudah dianggap ‘teman’. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering mendengar istilah teman baik, teman dekat, sahabat, hanya teman biasa, teman tapi mesra, dan bermacam-macam jenis teman.

Namun untuk saya, hanya ada ‘teman’ dan ‘teman dekat ‘(close friend).

Definisi saya untuk ‘teman’ adalah orang yang saya kenal lewat dunia kerja, lingkungan sekitar rumah, lewat jejaring sosial atau lewat peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Kita tertarik untuk berkenalan dan saling menyapa jika bertemu. Tapi hanya sampai disitu saja. Tidak ada kebutuhan untuk bisa berkomunikasi secara intens.

Sementara definisi saya untuk ‘teman dekat’ adalah orang yang saya kenal lewat berbagai media/peristiwa dalam hidup saya, namun memiliki kelebihan di mata saya karena mereka merupakan teman yang asyik untuk diajak berdiskusi, saling berbagai pengalaman dan saling mendengarkan, tanpa melakukan penilaian/judgment apapun.

Saat ini, saya memilih untuk tidak menggunakan kata ‘sahabat’ karena konotasinya hanya terfokus pada satu orang saja. Sementara ‘teman dekat’ terasa lebih enak didengar karena tidak menyiratkan jumlahnya. Dan pengalaman pribadi saya menunjukkan bahwa semakin usia kita bertambah, semakin besar kebutuhan kita untuk mencari teman yang bisa diajak bicara untuk beberapa hal tertentu tanpa harus secara intens bertemu muka.

Kehidupan juga menunjukkan kepada saya bahwa teman baik bisa saya dapat di saat ini, tidak harus dimulai saat saya masih kuliah atau saat saya masih SD. Sebagai contoh : saya memiliki teman main yang sangat dekat sewaktu di SD, memiliki sekumpulan teman dekat di SMP, SMA, sewaktu kuliah dan saat kerja. Tapi mungkin karena kondisi, jarak dan lain-lain, saat ini hanya beberapa yang masih bisa saya hubungi. Selebihnya sudah tidak terdengar kabarnya lagi.

Namun secara tidak sengaja, saat ini saya memiliki 2 orang ‘teman baik’. Yang satu, bertemu dan berkenalan di sebuah kegiatan gereja, dan yang satunya bertemu lewat jejaring sosial. Keduanya telah menjadi ‘teman’ dalam berbicara banyak hal, mendengarkan dan berbagi bermacam-macam topik, dengan menggunakan teknologi yang ada (karena tempat tinggal yang berjauhan), namun dengan frekuensi yang cukup intens. Saya menikmati saat-saat ‘berbicara’ dengan mereka, karena kami bisa saling berbagi apapun, tanpa ada yang dinilai salah atau benar, dan menerima perbedaan pendapat dengan besar hati.

Keterbukaan mereka telah mengajarkan saya untuk bisa lebih terbuka menerima perbedaan. Perhatian dan empati mereka telah mengajarkan saya untuk lebih peka terhadap keadaan di sekeliling saya. Semangat mereka telah mengajarkan saya untuk tidak mudah berhenti di tengah sebuah pekerjaan. Support yang mereka berikan telah mengajarkan saya untuk terus menerus belajar untuk memandang segala sesuatu dari sisi positif dan siap membantu orang lain. Wawasan dan cara pandang mereka telah mengajarkan saya bahwa belajar tidak pernah mengenal usia, malah akan semakin memperkaya diri kita.

Itulah yang dinamakan ‘teman baik’, setidaknya menurut definisi saya. Namun esensi dari semua itu adalah bahwa lewat pertemanan/friendship, kedua belah pihak mendapatkan ‘keuntungan’ dalam bentuk pengayaan batin. Saya tidak pernah percaya bahwa pertemanan akan langgeng jika salah satu pihak memanfaatkan pihak lain atau hanya jika didasari saling menguntungkan secara materi. Tapi saya sangat percaya bahwa pertemanan akan langgeng jika kedua belah pihak saling memperhatikan, saling berbagi dan mampu membuat kita merasa nyaman untuk bercerita maupun mendengarkan.

Bagaimana dengan anda ?

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 10 : Budaya ‘Semau Gue’

Problem berulang yang selalu timbul setelah libur Lebaran adalah para Asisten Rumah Tangga (ART) yang tiba-tiba berubah status menjadi MIA (Missing in Action) alias ‘pergi dan tidak kembali lagi’. Hal tersebut terjadi juga di sanggar saya, dimana sang Office Girl juga meng-update statusnya menjadi MIA setelah mengambil upahnya in advance sebelum libur Lebaran.
 
Dari segi sumber daya manusia, itu merupakan hal yang lumrah, karena hukum alam sedang terjadi. Manusia selalu berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik, orang selalu berusaha mencari karyawan dengan mutu yang lebih baik.
 
Tapi dari segi etika dan cara berpikir, status MIA atau menghilang tanpa kabar adalah perilaku yang menunjukkan kemunduran cara berpikir. Missing in Action yang sedari tadi saya tulis adalah sebuah gambaran keadaan dimana orang merasa bisa berperilaku semaunya, tanpa memikirkan akibat dari perbuatannya itu untuk orang lain. Maka budaya berpikir seperti itulah yang bisa dikatakan budaya ‘Semau Gue’.
 
Manusia diciptakan dengan mulut dan pita suara. Gunanya untuk bisa berbicara dengan baik dan benar. Maka, kalau memang sudah tidak mau bekerja lagi di suatu tempat, gunakan mulut dan pita suara anda untuk mengatakan kepada sang atasan bahwa anda tidak akan bekerja lagi di tempat tersebut. Jangan melakukan tindakan ‘menghilang dari muka bumi’.
 
Budaya ‘Semau Gue’ ini tidak cuma terlihat dari menghilangnya para ART setelah libur Lebaran. Di kompleks perumahan tempat saya tinggal, setiap Minggu pagi dan Senin pagi, kita akan menemui tumpukan sampah plastik, sampah dari orang-orang yang nongkrong di taman pembatas jalan yang sebenarnya dimaksudkan sebagai jalur hijau. Dengan konsep berpikir ’Semua Gue’, mereka tidak mau bersusah payah mencari tempat sampah, tetapi langsung membuang sampah plastik begitu saja, karena merasa biar bagaimanapun besok pagi ada para petugas yang khusus memunguti sampah-sampah tersebut. Pertama, alangkah teganya mereka terhadap sesama manusia. Mereka yang menyampah, masakan orang lain yang memunguti sampahnya untuk dibuang ke tempat sampah. Kedua, apakah mereka tidak pernah tahu kalau sampah plastik adalah sampah yang paling berbahaya karena tidak bisa terurai ?
 
Ada lagi contoh budaya ’Semau Gue’ yang mengesalkan. Para perokok ! Rasanya seluruh dunia tahu bahwa menghisap asap rokok itu tidak sehat. Karena itu perusahaan rokok selalu mencantumkan juga bahwa merokok itu bisa membahayakan. Karena itu di tempat umum disediakan tempat khusus untuk merokok. Karena itu disediakan tempat sampah agar tidak membuang puntung rokok sembarangan. Karena itu di ruang ber-AC suka kita jumpai tulisan ’Dilarang Merokok di Ruangan Ber-AC’.
 
Tapi karena sudah terbiasa untuk berperilaku ’Semau Gue’, sebagian perokok ini tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Asyik merokok di ruang ber-AC, tetap merokok walaupun di sebelahnya ada ibu hamil atau anak kecil yang sedang terbatuk-batuk. Dari mobil yang bagus dan keren, tiba-tiba jendela terbuka dan twiinnggg …. meloncatlah puntung rokok ke jalanan.
 
Saya cuma bisa merasa miris dan geleng-geleng kepala kalau melihat betapa orang-orang sudah semakin seenaknya dan berperilaku sembarangan. Seharusnya kita bisa melihat kondisi negara tetangga yang warganya bisa hidup dengan rapi dan teratur, sehingga negaranyapun menjadi rapi dan teratur pula. Kalau mereka bisa, kita juga harus bisa.
 
Tidak usah memaki-maki dan menyalahkan pemerintah karena tidak bisa mengatur warganya untuk bisa hidup dengan rapi dan teratur. Budaya ’Semau Gue’ ini seharusnya bisa diminimalisasi. Mulailah untuk hidup teratur dan tidak seenaknya, dimulai dengan : DIRI KITA. Lalu tularkanlah kebiasaan ini kepada orang-orang dekat kita, seperti keluarga dan teman. Maka mereka juga akan menularkan kebiasaan ini kepada orang lainnya.
 
Apakah budaya ’Semau Gue’ bisa dihilangkan dengan cara ini ? Yuk, kita coba bersama-sama !