The Millenium Parenthood – Day 01 : Ora na azu nwa

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

Bulan Oktober 2012 ini menjadi awal baru bagi saya dan rekan menulis saya, mbak Judith (@LetsShareABook) untuk kembali menulis selama sebulan penuh. Kali ini kami ingin menulis sekitar dunia parenting dengan tujuan ingin berbagi dan bertukar pengetahuan dengan rekan-rekan pembaca.

Namun agar tulisan kami lebih mengena, maka mbak Judith akan fokus pada dunia parenting untuk anak usia sekolah karena anak perempuannya yang cantik memang baru akan berusia 5 tahun. Sementara saya akan mencoba fokus pada dunia parenting untuk pra-remaja/remaja karena putri sulung saya baru saja menginjakkan kakinya di dunia remaja.

Walaupun fokus range usia berbeda, namun tema setiap minggu akan sama. Minggu pertama akan kami isi dengan tema Komunikasi, dilanjutkan dengan tema Sosialisasi, Multiple Intelligence dan ditutup dengan Pendidikan. Karena kami merasa bahwa tema inilah yang memang layak untuk ditulis agar bisa berbagai dengan pembaca, karena masalah yang kita hadapi dalam membesarkan anak biasanya adalah masalah yang tipikal atau sudah pernah terjadi.

Tulisan kami bukan tulisan pakar yang ahli dalam dunia anak dan remaja, ataupun pakar psikologi yang ahli dalam parenting. Kami hanyalah dua orang ibu yang memiliki perhatian yang besar dalam dunia parenting.

Menjadi orang tua yang baik, membutuhkan seluruh hati, tenaga, pikiran dan usaha kita. Melelahkan namun akan menghasilkan buah yang manis setelah anak-anak sudah dewasa.

Menjadi orang tua yang baik, hanya bisa diperoleh lewat pengalaman. Tidak ada kursus atau sekolah atau seminar yang bisa meng-up grade kita seketika menjadi orang tua yang sempurna.

Apakah anak kita masih balita, atau sudah usia sekolah, atau sudah memasuki dunia remaja atau malah sudah kuliah, tugas kita sebagai orang tua masih berjalan.

Sayangnya, masih banyak dari kita yang menempatkan diri pada pola pikir tradisional, yaitu orang tua ‘berhak’ penuh atas anaknya. Padahal seharusnya kita mesti menempatkan diri sebagai ‘teman’ dan berfungsi sebagai ‘pendamping’, karena tugas kita di dunia ini adalah mendampingi mereka sampai satu saat mereka sudah bisa mandiri dalam segala hal termasuk menentukan sendiri jalan hidupnya.

Sampai saat ini, saya sendiri masih belajar dan belajar terus untuk bisa menjadi ‘pendamping’ dan bukan ‘instruktur’ untuk anak-anak saya. Tidak mudah tapi tidak mustahil.

Begitu pentingnya proses membesarkan anak, sehingga kami memilih sebuah proverb/pepatah Nigeria yang jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris memiliki arti yang mendalam yaitu : “It takes a village to raise a child.” Pepatah ini berasal dari suku Igbo yang secara harafiah berarti perlu sebuah komunitas untuk membesarkan seorang anak dan sudah ada berabad-abad lamanya di Afrika. Walaupun masih menjadi kontroversi apakah benar pepatah ini berasal dari budaya Afrika, namun ada beberapa pepatah dari benua Afrika yang memiliki pesan yang mirip dengan pepatah ini. Misalnya : dalam bahasa Lunyoro (Banyoro) ada pepatah mengatakan ‘Omwana takulila nju emoi,’ yang diterjemahkan menjadi ‘Seorang anak tumbuh tidak hanya dalam satu rumah.’ Dalam bahasa Kihaya (Bahaya) apa pepatah mengatakan, ‘Omwana taba womoi,’ yang diterjemahkan menjadi ‘Seorang anak bukanlah milik orang tua atau rumah.’ (Sumber : Wikipedia)

Kami tidaklah lebih pintar dari Anda. Kami hanya mau berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan Anda. Kami mau belajar bersama dengan Anda dan jika perlu, belajar dari Anda.

Mari kita bersama-sama membekali diri kita untuk menjadi Orangtua Milenium !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s