The Millenium Parenthood – Day 02 : Komunikasi – EMPATI

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

Beberapa hari yang lalu, ke dua anak saya baru saja pulang dari sekolah dan jam menunjukkan sudah pukul 15.20. Sementara sang kakak harus segera berangkat lagi pukul 16.00 untuk kerja kelompok. Saya langsung mengingatkan sang kakak untuk segera mandi dan makan. Tapi saat sang kakak hendak mandi, ternyata si adik sudah mendahului mandi plus keramas pula, alhasil baru selesai 10 menit kemudian dan sang kakak harus terburu-buru mandi. Padahal dari awal seisi rumah sudah sibuk mengingatkan kakak untuk bergegas mandi dan si adik masih tenang-tenang saja.

Atau pernahkah kita melihat anak-anak pulang sekolah sambil membawa jajanan, lalu dengan seenaknya melempar kantong plastik atau sampah makanan ke jalan atau pinggir jalan, padahal terkadang tersedia tempat sampah di dekatnya.

Atau yang lebih parah lagi adalah saat saya mendengar cerita di sebuah sekolah ada seorang anak SMP yang di-bully oleh teman-temannya saat istirahat makan siang, dimana bekal makan siangnya direbut dan dibuang isinya ke tanah.

Kejadian tersebut bisa kita lihat dari berbagai sisi, namun saya tertarik untuk melihatnya dari sisi EMPATI. Apa sih empati itu ? Menurut Kamus Bahasa Indonesia Online (www.kamusbahasaindonesia.org), empati didefinisikan sebagai keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Maka dengan contoh kasus dari yang sederhana sampai yang berat, terlihat bahwa anak-anak sekarang mulai berkurang atau bahkan tidak diajarkan untuk ber-empati kepada sesamanya.

Memang perkembangan emosi anak dan remaja akan mengalami perkembangan sesuai dengan usia dan perilaku lingkungan di sekitarnya. Namun ada beberapa hal penting yang patut kita sadari. Empati bukanlah sebuah sifat yang turun temurun. Kabar baiknya, empati adalah sebuah ketrampilan yang bisa dipelajari. Namun anak belum memiliki kemampuan untuk bisa mengetahui apa yang dimaksud dengan empati.

Sebagai orang tua yang sudah lebih dulu hidup di dunia ini dan memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dari anak kita, sudah sewajarnya menjadi tugas kita untuk bisa mengajarkan anak kita berempati, sesuai dengan perkembangan usianya.

Anak yang masih kecil dapat diajarkan berempati secara sederhana, yaitu dengan perlahan-lahan diajarkan untuk bisa berbagi mainan dengan temannya, untuk mau berbagi dengan sesama yang kekurangan misalnya dengan diajak mengunjungi panti asuhan.

Bagaimana dengan remaja ?

Dengan segala kompleksitas yang dialaminya saat memasuki usia puber, tidaklah heran jika sebagian besar remaja mungkin terlihat tidak memiliki empati terhadap sesama. Bukanlah merupakan kesalahan mereka jika mereka terlihat tidak bisa berempati, karena kemungkinan besar lingkungan di sekelilingnya tidak mendukung untuk si remaja mempelajari ketrampilan tersebut.

Kita bisa berempati karena memang sedari kecil kita dididik oleh orang tua kita untuk bisa berbela rasa terhadap sesama yang kurang beruntung. Maka wajarlah jika sekarang pun kita bisa mencontohkan tindakan-tindakan yang mencerminkan empati terhadap remaja kita.

Saya berusaha untuk tidak memarahi putri saya yang baru menginjak remaja, jika suatu saat dia bertindak tanpa berempati. Misalnya mentertawakan orang yang memiliki kelainan fisik. Tapi saya berusaha untuk menegur dan kemudian menjelaskan kepada dia mengapa hal tersebut tidak patut dilakukan.

Memiliki ketrampilan untuk berempati adalah memiliki ketrampilan untuk bisa menempatkan diri kita jika berada di tempat yang kurang beruntung. Misalnya, jika melihat orang yang suka gagap saat berbicara, cobalah bayangkan jika kita menjadi orang seperti itu, betapa tidak nyamannya karena kita harus berkonsentrasi dan berusaha keras hanya untuk bisa menyelesaikan sebuah kalimat. Jika kita mampu melakukan hal tersebut, maka kita tidak akan tertawa melihat keadaan orang tersebut, tapi mungkin akan mencoba membantu untuk memberikan jawaban yang jelas kepada si penanya. Dan kemampuan seperti itu harus dilatih terus menerus dengan pendampingan dari orang tua.

Anak dan remaja adalah peniru yang ulung. Dalam artian bahwa mereka akan melihat contoh tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa terdekat di lingkungan tempat tinggalnya. Maka jika remaja masih tinggal bersama orang tua, dia akan melihat dan mencontoh tindakan orang tuanya.

Maka sebagai orang tua, kita harus berusaha untuk bisa menyelaraskan antara penjelasan tentang empati kepada anak remaja kita, dengan tindakan nyata kita. Jangan sampai terjadi dimana kita selalu memberitahu bahwa kita harus berempati dengan orang-orang yang kurang beruntung dalam segi fisik, namun suatu saat di depan mereka, dengan seenaknya kita memberikan julukan ‘bego’ saat menemui orang yang tidak bisa menjawab pertanyaan kita.

Empati adalah sebuah ketrampilan yang bisa dipelajari. Dan guru yang paling tepat untuk mengajarkan hal tersebut sejak dini adalah orang tua, bukan sekolah, bukan lingkungan bermain. Remaja yang mampu berempati biasanya akan lebih mudah bersosialisasi dengan berbagai kalangan karena mereka bisa menempatkan diri (secara mental) dalam kondisi orang-orang yang ada di sekitar mereka. Mereka juga cenderung lebih matang dalam pengambilan keputusan kelak di kemudian hari, karena mereka akan mempertimbangkan dari berbagai sisi sebelum memutuskan sesuatu.

Presentasi untuk posting ini dapat dilihat di : http://goo.gl/FiYcr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s