The Millenium Parenthood – Day 05 : KOMUNIKASI – Berbicara Tentang Seks Dengan Remaja (Bagian 1)

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

Saat kita memasuki masa puber, pernahkah orang tua kita melakukan ‘Sex Talks’ atau berbincang-bincang mengenai seks ? Mungkin hanya sedikit yang pernah mengalami hal tersebut, karena pada saat itu (sekitar 25-35 tahun yang lalu), tidaklah lazim untuk membicarakan seks secara terbuka dengan anak-anak.

Tetapi anak remaja era Milenium sudah berbeda. Mereka sudah terpapar dengan segala kemajuan teknologi sehingga begitu mudah mengakses berbagai macam informasi dalam bentuk video, tulisan, gambar. Ditambah dengan televisi yang menyuguhkan beragam acara yang selayaknya hanya boleh ditonton orang dewasa, tapi diputar di sore hari saat anak-anak masih beraktifitas.

Seluruh media tersebut mempercepat pengetahuan remaja tentang hal-hal yang berkaitan dengan hubungan pria dan wanita, pacaran, menikah dan lain-lain. Sehingga tidak heran jika mereka mudah masuk dalam pergaulan yang ‘terlalu bebas’.

Sebuah tulisan tentang free sex di Bandung (dapat dilihat di http://deep.dragonadopters.com) mengungkapkan di tahun 2002 tercatat ada 104 kasus hubungan seks pra-nikah, dan setiap tahunnya terus meningkat. Alasan yang dilontarkan adalah : upaya menyalurkan dorongan seks (58% dari responden), tanda ungkapan cinta (38%), dipaksa pacar (27%), supaya dianggap modern (21%).

Itu hanya data sekilas kondisi di Bandung, padahal kasus seks pra nikah terjadi di berbagai tempat. Misalnya di Cikarang, yang merupakan komunitas pekerja yang merantau dari berbagai daerah, pasti banyak kasus hubungan seks pra nikah, belum lagi para remaja SMP dan SMA saat ini yang sudah bisa menukar diri dengan setumpuk uang untuk pulsa atau handphone.

Tentu saja tidak pernah sedikitpun kita berharap bahwa anak remaja kita termasuk dari salah satu orang seperti itu. Namun apa tindakan preventif yang sudah kita buat ? Apakah kita sudah mengesampingkan rasa tabu dan malu untuk bicara tentang seks dengan anak remaja kita ? Apakah kita sudah meluangkan waktu untuk menjelaskan mengenai seks kepada anak remaja kita ?

Sebenarnya apa sih yang disebut dengan ‘Sex Talks’ atau pembicaraan mengenai seks ? Inti pembicaraan seharusnya tidak jauh dari penjelasan mengenai masa puber dan apa yang akan mereka hadapi setelah melewati masa puber.

Maka ada beberapa yang bisa kita ambil dari tulisan Denise Witmer (http://www.parentingteens.about.com) mengenai apa saja yang perlu diberitahukan kepada anak remaja kita tentang seks :

1. Remaja perlu belajar tentang tubuh dan organ seksual. Bukan seperti mata pelajaran biologi di sekolah, tetapi menjelaskan dengan bahasa sehari-hari mengenai fungsi dan perubahan yang terjadi. Banyak blog ataupun website yang saat ini menyediakan informasi mengenai hal tersebut.
2. Remaja perlu menyadari mengenai seksualitasnya dengan body imagenya. Mereka perlu tahu bahwa orang akan melihat mereka ‘menarik’ jika memiliki tubuh yang sehat dan bugar, bukan tubuh yang kurus namun hasil dari penyakit bulimia/anoreksia.
3. Remaja perlu mengetahui bahwa tidak salah jika memiliki perasaan ‘cinta’ terhadap lawan jenis karena memang hal tersebut normal. Sekaligus menjelaskan bahwa ada beberapa tindakan fisik yang memang bisa menyatakan perasaan tersebut, tentunya dalam batas-batas yang sesuai dengan usia dan kematangan remaja.
4. Remaja perlu diberitahu dengan jelas bagaimana seorang wanita bisa hamil, dan merupakan hasil hubungan antara pria dan wanita yang sudah terikat dalam sebuah ikatan pernikahan.
5. Remaja perlu diberitahu apa hubungannya antara hubungan seks dengan hubungan antara pria dan wanita yang dijalankan dengan komitmen dan keseriusan. Sekaligus dijelaskan mengenai resiko hamil muda dan penyakit akibat hubungan seksual jika melakukan hubungan seks pra-nikah.
6. Remaja perlu ditingkatkan kesadaran dirinya agar tidak menjadi korban pelecehan seksual oleh teman maupun orang dewasa di sekelilingnya.

Cukup banyak hal yang harus dijelaskan, dan yang pasti memerlukan persiapan penuh dari orang tua saat menjelaskan, karena kita harus membekali diri dengan pengetahuan yang memadai dan pertanyaan yang mungkin timbul dari mereka.

Namun ada beberapa tips praktis yang saya ambil dari SimpleMom.net dan digabungkan dengan pengalaman saya mengenai cara menyampaikan hal-hal tersebut kepada anak remaja kita :

1. Berikan fakta yang sebenarnya dengan bahasa yang seharusnya. Misalnya menggunakan kata ’penis’ dan bukan ’burung’, menggunakan kata ’vagina’, dan beberapa istilah dasar yang memang sudah seharusnya mereka ketahui. Jika kita tidak malu mengucapkannya, maka mereka juga akan belajar bahwa mereka juga tidak perlu malu menggunakan istilah-istilah tersebut untuk bertanya kepada kita.
2. Gunakan metode diskusi dan sharing, dikombinasikan dengan membagi pengetahuan. Terutama diskusi tentang pacaran, hubungan seks yang belum waktunya, kehamilan dan lain-lain. Perlu disinggung bahwa hubungan seks dan kehamilan bukan merupakan peristiwa yang menjijikkan jika dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan orang yang tepat, seperti suami/istri kita.
3. Berikan gambaran mengenai konsekuensi dari pergaulan bebas. Apa risiko hamil muda bagi sang ibu, bagaimana kehidupan rumah tangga jika dipaksa menikah karena kehamilan diluar nikah sementara usia masih SMA atau masih bersekolah.
4. Gunakan bahasa sederhana dan ciptakan suasana yang nyaman dan relaks. Suasana yang serius akan membuat anak remaja kita menjadi tegang, seolah-olah sedang diadili.
5. Yakinkan anak remaja kita bahwa orang tua adalah pihak yang paling tepat untuk bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seks dan ’pintu’ kita akan selalu terbuka untuk mereka. Hal ini paling penting disampaikan untuk mencegah mereka mencari orang luar untuk dimintai pendapat/nasehat yang mungkin akan menuntun mereka ke arah yang kurang baik.

Di bagian berikutnya, kita akan mencoba melihat beberapa ide sederhana dan menarik untuk menyampaikan mengenai seks kepada anak remaja kita.

Slide presentasi dari posting ini dapat dilihat dan diunduh pada : http://goo.gl/tmmc3

The Millenium Parenthood – Day 04 : Komunikasi – (TIDAK) SULIT JADI REMAJA

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

Saat mempunyai ide untuk menulis tentang sulitnya jadi remaja, saya terpikir untuk mencoba menanyakan kepada beberapa remaja yang saya kenal tentang bagaimana rasanya jadi remaja. Memang karena waktu yang sempit, saya menanyakan via sms, belum bisa bertemu langsung.

Dari 10 remaja dengan rentang usia 12-17 tahun, 2 remaja diantaranya tidak merespond. Dua remaja lainnya menjawab tidak ada kesulitan, dijalani dengan enjoy. Dua remaja menjawab kesulitannya adalah tanggung jawab lebih besar yang diberikan orang. Dua remaja menjawab banyak pengalaman dan kegiatan baru, serta belajar untuk lebih serius dalam disiplin. Satu remaja berkata bahwa tantangannya adalah belajar bersabar dan banyak dikritik serta mood yang berubah-ubah.

Dari hasil survey tersebut, saya melihat bahwa sebagian remaja sudah mampu mengekspresikan perasaannya, tetapi masih ada yang belum mampu mengekspresikannya.

Dilihat dari usianya, masa remaja adalah masa yang membingungkan. Karena dari segi usia, remaja belum bisa dikatakan matang seperti orang dewasa. Namun dari segi fisik, mereka mulai mengalami perubahan menuju bentuk tubuh orang dewasa.

Seperti yang ditulis oleh Tsh Oxenreider di blognya (Simple Mom), begitu anak kita memasuki usia remaja, orang tua langsung memasang harapan yang berbeda. Tiba-tiba si remaja dibebani harapan dari orang tua dalam hal pergaulan, perawatan tubuh, akademis pelajaran di sekolah, tanggung jawab membantu orang tua dan lain-lain.

Sementara secara psikis, mereka dalam keadaan ‘bingung’. Mari kita ingat-ingat lagi saat kita memasuki usia puber dahulu. Rasa malu saat mendapat haid pertama, sudah tumbuh kumis, suara yang berubah, munculnya jakun di leher, perkembangan tubuh remaja putri dengan adanya payudara sampai masalah mimpi basah pada remaja putra. Masih ditambah lagi dengan kondisi hormon dalam badan yang belum stabil, membuat remaja mudah berjerawat ataupun bau badan. Dengan keadaan seperti itu, sangat mendukung remaja untuk memiliki mood yang bisa berayun-ayun seperti roller coaster, sebentar tertawa, sebentar menangis, sebentar marah.

Malah ada sebuah tulisan dari Dennis E. Coates, Ph.D., yang mengatakan bahwa bagian otak remaja yang melakukan tugas untuk berpikir sebab-akibat, planning, pengambilan keputusan, penilaian secara moral, konseptual – bagian otak yang membuktikan bahwa manusia saat dewasa merupakan mahluk yang lebih pandai dari mahluk hidup lainnya – justru sedang berada dalam kondisi ‘under construction/sedang dalam proses’ untuk selama beberapa tahun. Hal inilah yang menyebabkan remaja melakukan hal-hal yang ‘irasional’.

Maka jika ada orang tua yang berkata bahwa anak remajanya baik-baik saja, selalu ceria, tidak ada masalah – biasanya saya terdiam dan berpikir apakah benar seideal itu ?

Kalau kita analisa seluruh perkembangan yang terjadi secara bersamaan pada remaja, maka justru kita jangan heran kalau para remaja sering bertingkah laku yang menurut kita ‘tidak masuk akal’. Justru hal tersebut yang menunjukkan bahwa perkembangan mereka normal.

Marah karena hal sepele, tertawa untuk hal yang rasanya biasa saja, mulai berani untuk berargumentasi dengan orang tua, mengurangi makan dengan alasan takut gemuk, dan berbagai macam hal-hal yang menurut kita adalah ‘unbelievable things’, justru merupakan hal yang wajar yang memang semestinya terjadi pada remaja.

Tugas kita sebagai orang tua selain membesarkan mereka, adalah belajar untuk memahami bahwa memasuki dunia remaja adalah tidak mudah. Fisik, psikis, emosi dan otak sedang bertransformasi agar beberapa tahun kemudian mereka bisa menjadi manusia dewasa.

Disitulah peran kita sebagai orang tua sangat besar. Menjadi teman saat mereka ingin bercerita. Menjadi orang tua saat mereka memerlukan rasa aman. Menjadi orang dewasa yang bisa berbagi pengalaman dan nilai hidup saat mereka mulai bimbang. Menjadi pendamping untuk meletakkan dasar-dasar iman yang kuat agar mereka bisa membedakan dengan jelas mana yang baik dan tidak baik. Saya menyebutnya dengan istilah ‘situational parents’.

Saya selalu ingin berbagai pengalaman saya sebagai orang tua. Saya bukan ‘Super Mother’. Saya sendiri masih terus belajar dan belajar untuk bisa menjadi ‘situational mother’ yang bisa berganti peran sesuai dengan kebutuhan anak remaja saya. Yang saya tahu dengan pasti adalah : it’s not easy but it’s possible, lakukan semuanya untuk anak remaja kita tercinta.

Kalau kita bisa menjadi ‘situational parents’, maka saya mengacungkan kedua jempol tinggi-tinggi kepada Anda. Karena Anda telah membantu anak remaja anda untuk mengatakan : Tidak sulit menjadi remaja.

Slide presentasi dari posting ini dapat dilihat dan diunduh pada : http://goo.gl/W4eeD