The Millenium Parenthood – Day 04 : Komunikasi – (TIDAK) SULIT JADI REMAJA

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

Saat mempunyai ide untuk menulis tentang sulitnya jadi remaja, saya terpikir untuk mencoba menanyakan kepada beberapa remaja yang saya kenal tentang bagaimana rasanya jadi remaja. Memang karena waktu yang sempit, saya menanyakan via sms, belum bisa bertemu langsung.

Dari 10 remaja dengan rentang usia 12-17 tahun, 2 remaja diantaranya tidak merespond. Dua remaja lainnya menjawab tidak ada kesulitan, dijalani dengan enjoy. Dua remaja menjawab kesulitannya adalah tanggung jawab lebih besar yang diberikan orang. Dua remaja menjawab banyak pengalaman dan kegiatan baru, serta belajar untuk lebih serius dalam disiplin. Satu remaja berkata bahwa tantangannya adalah belajar bersabar dan banyak dikritik serta mood yang berubah-ubah.

Dari hasil survey tersebut, saya melihat bahwa sebagian remaja sudah mampu mengekspresikan perasaannya, tetapi masih ada yang belum mampu mengekspresikannya.

Dilihat dari usianya, masa remaja adalah masa yang membingungkan. Karena dari segi usia, remaja belum bisa dikatakan matang seperti orang dewasa. Namun dari segi fisik, mereka mulai mengalami perubahan menuju bentuk tubuh orang dewasa.

Seperti yang ditulis oleh Tsh Oxenreider di blognya (Simple Mom), begitu anak kita memasuki usia remaja, orang tua langsung memasang harapan yang berbeda. Tiba-tiba si remaja dibebani harapan dari orang tua dalam hal pergaulan, perawatan tubuh, akademis pelajaran di sekolah, tanggung jawab membantu orang tua dan lain-lain.

Sementara secara psikis, mereka dalam keadaan ‘bingung’. Mari kita ingat-ingat lagi saat kita memasuki usia puber dahulu. Rasa malu saat mendapat haid pertama, sudah tumbuh kumis, suara yang berubah, munculnya jakun di leher, perkembangan tubuh remaja putri dengan adanya payudara sampai masalah mimpi basah pada remaja putra. Masih ditambah lagi dengan kondisi hormon dalam badan yang belum stabil, membuat remaja mudah berjerawat ataupun bau badan. Dengan keadaan seperti itu, sangat mendukung remaja untuk memiliki mood yang bisa berayun-ayun seperti roller coaster, sebentar tertawa, sebentar menangis, sebentar marah.

Malah ada sebuah tulisan dari Dennis E. Coates, Ph.D., yang mengatakan bahwa bagian otak remaja yang melakukan tugas untuk berpikir sebab-akibat, planning, pengambilan keputusan, penilaian secara moral, konseptual – bagian otak yang membuktikan bahwa manusia saat dewasa merupakan mahluk yang lebih pandai dari mahluk hidup lainnya – justru sedang berada dalam kondisi ‘under construction/sedang dalam proses’ untuk selama beberapa tahun. Hal inilah yang menyebabkan remaja melakukan hal-hal yang ‘irasional’.

Maka jika ada orang tua yang berkata bahwa anak remajanya baik-baik saja, selalu ceria, tidak ada masalah – biasanya saya terdiam dan berpikir apakah benar seideal itu ?

Kalau kita analisa seluruh perkembangan yang terjadi secara bersamaan pada remaja, maka justru kita jangan heran kalau para remaja sering bertingkah laku yang menurut kita ‘tidak masuk akal’. Justru hal tersebut yang menunjukkan bahwa perkembangan mereka normal.

Marah karena hal sepele, tertawa untuk hal yang rasanya biasa saja, mulai berani untuk berargumentasi dengan orang tua, mengurangi makan dengan alasan takut gemuk, dan berbagai macam hal-hal yang menurut kita adalah ‘unbelievable things’, justru merupakan hal yang wajar yang memang semestinya terjadi pada remaja.

Tugas kita sebagai orang tua selain membesarkan mereka, adalah belajar untuk memahami bahwa memasuki dunia remaja adalah tidak mudah. Fisik, psikis, emosi dan otak sedang bertransformasi agar beberapa tahun kemudian mereka bisa menjadi manusia dewasa.

Disitulah peran kita sebagai orang tua sangat besar. Menjadi teman saat mereka ingin bercerita. Menjadi orang tua saat mereka memerlukan rasa aman. Menjadi orang dewasa yang bisa berbagi pengalaman dan nilai hidup saat mereka mulai bimbang. Menjadi pendamping untuk meletakkan dasar-dasar iman yang kuat agar mereka bisa membedakan dengan jelas mana yang baik dan tidak baik. Saya menyebutnya dengan istilah ‘situational parents’.

Saya selalu ingin berbagai pengalaman saya sebagai orang tua. Saya bukan ‘Super Mother’. Saya sendiri masih terus belajar dan belajar untuk bisa menjadi ‘situational mother’ yang bisa berganti peran sesuai dengan kebutuhan anak remaja saya. Yang saya tahu dengan pasti adalah : it’s not easy but it’s possible, lakukan semuanya untuk anak remaja kita tercinta.

Kalau kita bisa menjadi ‘situational parents’, maka saya mengacungkan kedua jempol tinggi-tinggi kepada Anda. Karena Anda telah membantu anak remaja anda untuk mengatakan : Tidak sulit menjadi remaja.

Slide presentasi dari posting ini dapat dilihat dan diunduh pada : http://goo.gl/W4eeD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s