Me-time

Wanita diciptakan Tuhan untuk menjadi mahluk yang multi tasking, dalam berbagai wujud. Tanpa melihat motivasi, latar belakang dan kualitas dari hasilnya, wanita itu memang luar biasa.

Bayangkan, ada wanita yang karirnya sangat hebat. Tapi biar bagaimanapun dia masih berusaha untuk mengasuh anaknya dan menemani suaminya. Atau ada ibu rumah tangga yang full time membereskan pekerjaan rumah, mengasuh anak, memasak untuk keluarga, tapi masih sempat berjualan makanan. Kalau kita lihat para pengemis di jalanan, walaupun mungkin yang digendong bukan anaknya, tapi dia tetap multi tasking. Mengemis (karena dikejar setoran oleh boss premannya), sekaligus mengasuh anak yang dipinjamnya.

Saya sendiri seorang wanita, yang merasakan bahwa secara tidak tertulis, saya memang dituntut dan dibentuk oleh hidup saya untuk bisa melakukan berbagai hal dalam waktu yang bersamaan. Dan saya bisa bilang bahwa hal tersebut todak mudah. Butuh latihan bertahun-tahun dan kesabaran yang sangat besar. Saya sendiri masih kurang sabar koq, tapi saya menyadari bahwa kodrat kita adalah ‘bertangan banyak’.

Tapi hari ini, di saat saya harus menyiapkan segala keperluan di rumah, lalu siang langsung buru-buru pergi karena harus mengantar anak saya ke Jakarta, saya menyadari satu hal yang mungkin selama ini saya anggap sepele.

Kebetulan anak saya harus latihan tari yang memakan waktu sekitar 2 jam. Setelah mengantar anak saya ke studio tari, saya minta kepada sang ‘sutem’ (supir tembak – baca : supir sewaan) untuk mengantar saya ke sebuah mall besar yang tidak jauh dari studio tari. Disana saya mencari tempat yang enak, tenang dan bersih. Saya duduk di pojokan, memesan minuman dan mulai bekerja. Saya merasa waktu berlalu dengan sangat efektif. Saya berhasil mengerjakan beberapa pekerjaan, bahkan sempat menulis satu artikel untuk blog saya dan masih sempat pula chatting dengan rekan kerja karena ada yang harus diselesaikan.

Setelah dua jam berlalu, saat saya sedang berjalan ke lobby mall tersebut, tiba-tiba saya sadar bahwa ada yang berubah di dalam diri saya. Rasanya hati menjadi ceria, badan menjadi segar, dan tidak ada rasa lelah sama sekali. Dalam perjalanan pulang ke Cikarang, saya berpikir apa yang bisa membuat saya seperti itu. Dan jawabannya ternyata sangat sederhana. Saya perlu ME-TIME. Time for myself, just thinking about what I want to do not what I have to do.

Me-time, dimana saya berada dalam sebuah tempat yang baru, dimana saya bisa memperhatikan hal-hal yang baru namun sekaligus bisa menjadi diri sendiri tanpa khawatir ada teman atau relasi yang memperhatikan.

Frekuensi saya mengunjungi mall di Jakarta adalah jarang. Karena itu efeknya cukup signifikan. Namun esensi dari sedikit pengalaman saya tersebut adalah : percayalah pada orang/majalah/film yang mengatakan bahwa kita harus menghargai diri sendiri, yang sudah melakukan yang terbaik (menurut versi masing-masing) untuk keluarga. Jadi boleh dong kita memberikan hadiah untuk diri kita sendiri dengan ME-TIME.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menikmati ME-TIME. Namun saya merasa dua jam ME -TIME saya hari ini telah memberikan energi baru dalam diri saya. Seperti layaknya handphone yang baru di-charge.

Jangan pernah merasa bersalah untuk meluangkan waktu agar dapat menikmati ME-TIME.

We deserve it ….

MFM-CP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s