REFLEKSI PESTA DEMOKRASI DI INDONESIA

Hari ini seluruh rakyat Indonesia yang sudah memenuhi persyaratan untuk ikut serta dalam pemilihan Presiden, dengan sangat antusias berbondong-bondong datang ke TPS yang telah ditentukan, untuk menggunakan hak pilihnya mencoblos calon pemimpin bangsa untuk 5 tahun mendatang.

Dari laporan pandangan mata selama seharian ini, banyak orang yang tidak mau menyerah begitu saja jika namanya tidak tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap. Yang sudah terdaftar dan bisa menjalankan hak pilihnya dengan baik, langsung merasa senang karena berharap Presiden terpilih ini akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Sungguh luar biasa bahwa dalam waktu 2 jam sejak ditutupnya Pemilu, ada 5 lembaga survei di beberapa stasiun televisi lokal yang sudah menayangkan hasil dari sekitar 92% sampel suara. Namun yang mengagetkan adalah bahwa tidak lama kemudian ke dua kubu langsung mendeklarasikan kemenangan mereka. Walaupun tetap di ujungnya mereka menyatakan bahwa mereka tetap menunggu real count dari KPU di tanggal 22 Juli nanti.

Banyak komentar di sosial media bahwa capres kali ini, keduanya tidak siap menang atau kalah.

Tapi menurut pendapat saya, memang orang boleh berbeda pendapat. Namun pernyataan mas Anies di televisi merupakan analogi yang sangat bagus. Mas Anies menjelaskan tentang perbedaan lawan dan musuh. Dalam setiap kompetisi, kita pasti punya lawan. Misalnya dalam bulutangkis, wajar kalau lawan melakukan smash. Tapi setelah pertandingan selesai, sang lawan akan kembali menjadi kawan. Tapi kalau sang lawan tiba-tiba melempar raketnya ke kita, itu namanya black campaign.

Maka setelah hari ini dibuka dengan menjadi pemilih pertama di TPS saya (karena saya menghindari antri), lalu sampai sekitar jam 3 sore dag dig dug melihat hasil quick count, dan sekarang masih melihat berita tentang kedua capres yang sedang berkumpul dengan para pendukungnya, saya mencoba berefleksi tentang pilpres kali ini.

1. Jangan pernah under estimate atau merendahkan rakyat. Rakyat kita tidak bodoh. Walaupun mungkin pengetahuan politiknya minim, termasuk saya juga seperti itu, tapi kami selalu berusaha melihat dan menggunakan hati nurani kami dengan cerdas, dalam menentukan pilihan.

2. Ternyata kaum elite politik di Indonesia belum matang. Saat kedua kubu saling memberikan deklarasi kemenangan, hal tersebut membuat rakyat bingung. Saya malah geleng-geleng melihat komentar seorang host talk show di sebuah stasiun televisi yang sedikit menyindir : apakah calon nomor 2 yang menang atau kita punya 2 presiden.
Lalu agak malam, mulai ada yang ‘mencolek-colek’ Ahok, katanya Ahok memprediksi Jokowi menang. Lho, Ahok sudah menyatakan itu dengan terus terang koq. Dan itu hak beliau walaupun beliau memilih nomor 1.

3. Indonesia yang sudah dikenal dengan kedewasaannya dalam pemilu yang LANGSUNG, UMUM, BEBAS, RAHASIA – sedikit ternoda dengan adanya perbedaan hasil dari 7 lembaga survei yang muncul di berbagai stasiun televisi. Dua asosiasi yang menaungi lembaga survei di Indonesia sudah memberikan pernyataan tentang hal tersebut. PERSEPI (Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia) menyatakan akan melakukan audit tentang metodologi yang dipakai. Sementara dari Asosiasi Survei Indonesia menyatakan bahwa kesalahan perhitungan itu wajar dan berkaitan dengan kapabilitas/kemampuan periset – namun kebohongan tentang data berkaitan dengan integritas periset. Saya yakin orang-orang yang bekerja dalam lembaga-lembaga survei tersebut adalah orang berpendidikan. Saya hanya berharap agar tidak ada kebohongan dalam pelaksanaan quick count.

4. Saking uniknya capres tahun ini, terus terang saya salut dengan tingkat antusiasme yang sangat tinggi dari WNI yang tinggal di luar Indonesia untuk menggunakan hak pilihnya. Dan saking hebohnya dan uniknya pilpres tahun ini, membuat kedua anak saya yang baru menginjak remaja, menjadi tertarik untuk bertanya dan mengikuti perkembangan quick count hari ini.

Sebagai penutup, saya bangga menjadi rakyat Indonesia. Karena rakyat Indonesia adalah rakyat yang punya hati nurani cerdas karena mau menggunakan hak pilihnya demi kemajuan bangsa. Saya bangga karena rakyat Indonesia sebenarnya sangat menjunjung tinggi demokrasi karena terbukti berhasil melakukan ‘pemilu langsung’ selama ini.

Hendaknya sekian ratus juta rakyat Indonesia, termasuk saya, dihargai keberadaannya oleh para elite politik Indonesia. Kami tidak perlu tanda jasa. Kami hanya perlu mereka meletakkan negara diatas kepentingan pribadi, sehingga tidak ada lagi korupsi, semua bekerja bersama untuk memajukan kesejahteraan bangsa.

Sebuah rangkaian syair yang indah dalam lagu ‘Indonesia Pusaka’ yang merupakan refleksi hati rakyat Indonesia :

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai, dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s