Panta Rei – permenungan kecil seorang ibu

Sudah dua kali saya mengantar anak saya pulang ke asrama sekolahnya, sebuah SMA yang lokasinya di dekat Ambarawa, Jawa Tengah. Bukan mengantar dengan kendaraan pribadi, tapi menemani dia naik bis malam dan mengantar sampai ke tujuan. 

Saat ini saya sedang menunggu kereta api menuju Jakarta di Stasiun Tawang, Semarang. Daripada mengantuk karena saya menunggu sendirian, saya ingin menuliskan apa yang saya lihat dan saya rasakan dari perjalanan saya bersama dia kali ini. 

Saat di rumah, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan adiknya. Tapi saat berada di dalam bis, tidak putus ceritanya tentang kegiatannya, teman-temannya, gurunya. Pokoknya apapun diceritakan, seolah dia berpacu dengan waktu yang akan memisahkan kita beberapa bulan ke depan. 

Lalu di sela-sela bercerita, kita sempat ‘rehat bicara’. Lalu dua kali di dalam bis dia menangis. Saya sampai berulang-ulang bertanya, apakah ada sesuatu di sekolah atau asrama yang membuat dia tidak betah. Tapi dia meyakinkan saya bahwa dia senang sekolah disana. 

Karena tiba di Ambarawa sudah subuh, maka seperti biasa kami beristirahat dulu di sebuah penginapan sederhana di daerah Kerep, yang terletak di seberang terminal Ambarawa. 

Pagi hari tadi saat saya sedang membereskan tas, tiba-tiba dia menangis lagi. Saya peluk dia, saya tanyakan hal yang sama, dia pun menjawab sama. 

Terakhir, saat sudah sampai di asrama, dan saya pamit karena harus berangkat ke Semarang, terlihat dia sangat menahan diri untuk tidak menangis walaupun matanya sudah merah dan dia buru-buru menghilang ke dalam. 

Saat ini, sambil duduk menunggu di stasiun, saya merenungkan kembali perjalanan semalam. 

Ada air mata yang keluar karena merasakan cukup berat perjuangan batin yang dilalui oleh remaja seusia dia, melewati perpisahan seperti ini setiap kali habis pulang. Tapi ada rasa bangga karena dia sendiri yang memutuskan untuk mencoba bersekolah jauh dari rumah dan bisa tetap tegar walaupun hatinya sedih karena harus kembali berpisah dengan keluarganya, apalagi dia termasuk anak yang halus perasaannya. 

Terasa lelah sehabis mengantar dia. Lelah karena istirahat yang kurang dan lelah karena harus berpamitan dengan dia. Tapi kalau anakku saja tidak pernah merasa lelah melewati berjam-jam perjalanan untuk supaya bisa bertemu kami, mengapa saya harus menghitung tenaga untuk mengantarkan dia pulang. 

Waktu kita hidup di dunia ini tidak lama. Waktu kita bersama anak kita tidak lama. Lelah yang harus kita alami demi anak …. tidak perlu kita pandang sebagai hal yang merugikan. 

Nikmati saja … Jalani saja … Karena semuanya akan berlalu menjadi kenangan indah yang tidak akan pernah lepas dari ingatan kita. 

This too shall pass … Panta rei …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s