Movie Junkie

Pernah mendengar kata ‘junkie’ ? Definisi dalam Merriam-Webster Dictionary adalah pecandu obat. Konotasinya negatif ya. Namun seperti bahasa lainnya, seiring dengan berkembangnya jaman, terjadi pergeseran arti dalam penggunaan kata ‘junkie’. Kata ini tidak hanya digunakan untuk pecandu obat/drugs, tapi dipakai juga untuk beberapa padanan kata. Salah satunya yang saya suka adalah ‘movie junkie’.
 

Terjemahan bebasnya kira-kira adalah orang yang kecanduan nonton. Saya merasa saya bisa masuk dalam kategori tersebut, tapi boleh dong saya punya definisi sendiri. Movie junkie untuk saya pribadi adalah orang yang punya hobi nonton, baik itu di bioskop atau TV atau nonton DVD di rumah. Rela meluangkan waktu untuk nonton sebuah film yang biasanya berkisar antara 1,5-2 jam, yang untuk sebagian orang akan dirasa membuang waktu. Tidak berhenti sampai disitu, selesai nonton, biasanya otak kita tidak berhenti merenungkan dan menganalisa film yang tadi sudah membuat kita duduk selama itu.

 

Biasanya secara otomatis otak saya akan memproses film tersebut. Kalau tidak berkesan untuk saya, ya sudah saya lupakan saja. Kalau cukup berkesan, saya mencoba menganalisa film tersebut. Kira-kira apa yang menarik, pesan moral yang ingin disampaikan itu apa ya. Kalau film tersebut sangat berkesan, saya gelagapan sendiri saking terpesonanya dan biasanya 99,99% saya akan kembali ke bioskop menonton film yang sama, untuk memperhatikan (kalau bisa) seluruh aspek dalam film tersebut. Dari kualitas akting para aktornya, gaya penyutradaraannya, settingnya, original score dan soundtracknya, dialognya, jalan ceritanya dan detil-detil lainnya.

 

Apakah saya menuangkan analisa di otak saya dalam bentuk tulisan atau podcast ? Belum tentu. Karena biasanya saya memilih mengambil waktu untuk meresapi dan mencerna semua yang peroleh dari film tersebut. Di saat saya sudah puas, wah biasanya sudah tidak sempat menulis lagi karena adanya kesibukan yang lain. Namun kalaupun saya menulis, tentunya isinya tidak seperti para kritikus film yang bisa memandang dari sudut ilmu perfilman. Saya hanya menuliskan dari sisi saya sebagai penonton dan penikmat film, yang mengapresiasi karya seni dalam bentuk film.

 

Sejak kapan saya kecanduan nonton ? Kalau saya runut ulang hidup saya, rupanya tanpa disadari sejak kecil saya suka diajak orangtua saya untuk nonton. Jaman itu yang paling diminati adalah film silat dari Hongkong. Lalu setelah saya kuliah jauh dari rumah, saya punya kebebasan untuk bepergian sendiri dan kebetulan ada bioskop di dekat tempat kost saya. Suasana yang sangat mendukung hobi nonton. Apalagi saat itu tiket masih harganya Rp 2.500,- (sekitar tahun 1985) dan banyak sekali film bagus. Hobi ini berlanjut sampai sekarang.

 

Saya bukan movie freak, yang kalau anda tanya film A pemeran utamanya siapa dan tahun berapa dibuatnya, belum tentu saya hafal. Contekan ajaib saya adalah situs IMDb yang datanya sangat terpercaya. Kalau sudah ngintip sedikit disitu, memori saya langsung terbuka tentang film itu. Tapi kalau anda tanya kesan saya nonton sebuah film, biasanya saya masih ingat walaupun mungkin nontonnya sudah bertahun-tahun yang lalu.

 

Saya sangat menikmati saat-saat menonton. Sampai saat ini suami dan anak-anak saya masih suka menggoda saya kalau saya menangis saat menonton film. Tapi untuk saya, berarti keseluruhan aspek dalam film tersebut telah mencapai sasarannya, yaitu membawa saya ikut hanyut dalam emosi yang diciptakan.

 

Boleh percaya atau tidak, ada film-film yang menurut saya adalah film yang luar biasa, yang saya tonton lebih dari satu kali. Tapi saya rasa banyak juga orang yang melakukan hal tersebut. Film luar biasa – itu menurut definisi saya lho, karena belum tentu para kritikus film berpengalaman atau penonton lainnya setuju dengan pendapat saya. Tapi film yang saya nilai bagus, belum tentu jua akan saya tonton lebih dari satu kali walaupun pemeran utamanya idola saya.

 

Contohnya The Revenant, saya nge-fans banget dengan Leonardo di Caprio. Tapi cukup satu kali saya nonton film itu. Kesannya, capek dan ikut sakit melihat Leo hidupnya merana sepanjang film. Tapi film Titanic, saya nonton delapan kali. Saya kagum dengan Leo, kagum dengan Kate Winslet, kagum dengan setting kapal Titanic yang megah, ngeri melihat proses tenggelamnya kapal tersebut dan masih banyak kesan lainnya, termasuk lagunya.

 

Mengapa Titanic sih ? Mengapa bukan The Revenant, film yang menghantar Leo mendapat Oscarnya yang pertama ? Karena adanya harmonisasi dari seluruh aspek yang ada, yang melibatkan banyak orang, mencampuradukkan emosi kita melihat Jack dan Rose. Sementara dalam The Revenant, itu benar-benar film laki-laki, saat orang-orang pendatang berbuat seenaknya terhadap suku Indian yang biasanya kita sebut ‘Native American’.

 

Namun sekali lagi, penilaian seperti itu relatif. Adalah hak asasi manusia untuk menilai sebuah film itu layak atau tidak layak ditonton, atau bahkan wajib ditonton berulang kali.

 

Jika ada yang bertanya tentang sebuah film, kepada saya, dengan senang hati saya akan bercerita dari sudut pandang saya. Memang tidak semua orang bisa menerima pandangan saya, tapi ada kepuasan tersendiri bisa berbagi tentang apa yang saya rasakan.

 

Maka, saya bangga mengakui bahwa saya seorang ‘movie junkie’ yang walaupun kadar kemurniannya mungkin baru 80% saja, karena saya sering lupa tentang judul, pemeran utama, sutradara atau tahunnya, saya sangat menikmati dan mencintai seni dalam bentuk film.

 

Anda yang memiliki hobi sama seperti saya, bahkan mungkin sering nonton film yang sama berulang kali, tidak usah malu. Tapi alangkah baiknya kalau kita bisa menuangkan pendapat kita dalam bentuk tulisan ya. Saya sedang mencoba untuk mulai tekun menulis sehabis menonton film yang menurut saya layak tonton.

 

Bukan untuk menjadi kritikus film, karena saya tidak punya latar belakang itu, tapi sebagai record/catatan saya saja, yang bisa saya baca berkali-kali dan mengembalikan memori saya tentang sebuah film.

 

Ayo, para ‘movie junkie’, lanjutkan hobi nontonnya. Kalau ada yang ingin sharing, ayo kita diskusi via twitter or email or instagram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s