Sayang Anak … Sayang Anak …

Dengan kodrat wanita sebagai ibu, mayoritas para ibu di berbagai belahan dunia pasti akan rela berkorban demi anaknya. Bahkan kalau perlu berkorban sampai mati. 

Tapi sampai dimana batasan seorang ibu disebut sayang atau tidak sayang terhadap anaknya. Apakah ada parameter untuk mengukur kadar sayang seorang ibu ? Bahkan lebih jauh lagi, jika seorang ibu dinilai kurang menyayangi anaknya, apakah layak dan wajar jika orang lain melakukan campur tangan untuk memastikan kadar sayang si ibu mencapai kadar yang layak (layak menurut siapa ??).

Saya tergelitik untuk menuangkan pemikiran saya dalam tulisan ini karena melihat banyak hal yang terjadi di sekeliling saya, yang membuat saya melakukan introspeksi seperti itu.
 
Misalnya dalam hal bekerjasama dengan sekolah untuk kepentingan anak kita, sudah lama saya melihat ada tiga tipe orangtua. Yang sangat dalam mengikuti kegiatan anak dan sekolah. Yang tidak terlalu banyak ikut turun dalam kegiatan anak, tapi tetap mengikuti. Dan yang tidak pernah ada ‘suaranya’ seolah sekolah adalah tempat penitipan anak. 

Saya secara pribadi yakin bahwa hampir semua ibu punya tujuan yang baik untuk anaknya. Hanya metodenya yang berbeda-beda. Dan itu harus dihargai.
Saya termasuk tipe ibu yang amat jarang beredar di sekolah kecuali saat memang harus hadir di pengambilan rapot, pertemuan orangtua atau pertemuan lainnya. Tapi saya selalu mencoba untuk mengikuti perkembangan anak saya lewat komunikasi dengan walikelas dan anak saya. Sudah ideal dan sempurna? Tentu saja tidak. 

Namun menurut saya, kurang elok juga jika kita mudah sekali untuk melayangkan keluhan kepada sekolah atau menegur anak karena hal-hal kecil. Walaupun saya salut dengan orangtua yang seperti itu, karena sebenarnya mereka benar-benar mengalokasikan waktu dan hatinya untuk memantau perkembangan anaknya. 

Namun seharusnya kita bisa memberikan ruang bagi sekolah untuk bisa berinteraksi dan mendidik anak. Saya hanya berpegang pada prinsip kami sebagai orangtua, bahwa pada saat kami memutuskan untuk menyekolahkan anak di sekolah tertentu, otomatis kami sudah mempercayakan sekolah untuk membantu membentuk anak dari sisi akademik, karakter dan sosialisasi. Walaupun dasar dari karakter dimulai pembentukannya dari rumah.  

Bayangkan kalau hanya karena mendengar cerita anak bahwa di kantin sekolah ada lalat, lalu orangtua bisa mencak-mencak. Mending kalau mencak-mencak ke pihak sekolah, terkadang justru cerita berbumbu yang beredar ke orang-orang, sementara pihak sekolah juga tidak pernah menerima keluhan. Padahal belum jelas ceritanya, apakah lalatnya banyak, apakah setiap saat selalu ada dan pihak kantin tidak melakukan apa-apa ? Capek deh kalau gara-gara cerita lalat, kita jadi emosi. Itu baru satu contoh kecil yang saya pernah lihat sendiri memang terjadi. 

Selain itu dalam hal mengembangkan bakat non akademis. Saya pengikut teori Multiple Intelligences dan percaya bahwa tidak semua anak punya tingkat intelegensia yang baik untuk akademik. Masih ada area lain yang patut diperhatikan. Namun perlu dipahami juga bahwa kemampuan anak dalam satu bidang, belum tentu sama dengan ‘passion’ anak untuk kehidupannya. Janganlah kita memcampurkan antara passion anak, kemampuan anak dengan mimpi kita. 

Kalau anak kita ingin ikut kursus tertentu yang ternyata sesuai dengan ‘keinginan’ kita, janganlah menganggap bahwa itu adalah passion sang anak. Siapa tahu sang anak sedang mengeksplor apakah memang passionnya disitu. Jadi harus siap menerima berita bahwa ternyata dia tidak mau menekuni bidang tersebut karena tidak menarik untuk dia. Fair enough. 

Yang paling penting, sebaiknya jangan sampai kemudian kita lalu mulai intervensi dan memaksakan kepada orang-orang di sekeliling anak kita, untuk mendukung dengan segala cara. Tanyakan dulu pada diri sendiri, kita melakukan itu untuk kebaikan semua orang atau untuk kepuasan diri kita ?

Kesimpulannya ? Sebaiknya kita tahu ruang lingkup kita bahwa kita adalah orangtua untuk anak kita, bukan untuk anak orang lain. Karena itu, cobalah untuk bisa menahan diri untuk tidak mengintervensi orangtua lain dan memberitahu tentang bagaimana seharusnya menangani anak. Belum tentu cara kita ‘menyayangi’ anak itu sudah sempurna dan tepat. Karena tidak ada cara menyayangi yang sempurna. Rasa sayang bisa diwujudkan dengan cara yang berbeda-beda. 

So, take time to reflect, do I do this for my child or for myself ? From now on, Let’s taking care of our children, not other people’s children. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s