Movie Review – Bollywood : KAPOOR & SONS (Since 1921)

Salah satu film Bollywood yang unik. Plot cerita tidak seperti yang diduga. Banyak issue yang ditimbulkan oleh penulis cerita, namun sengaja tidak digali lebih dalam. Saya menduga bahwa hal tersebut memang ditulis untuk menggambarkan kebohongan dan kekacauan yang terjadi dalam sebuah keluarga, yang dibungkus dengan motivasi kasih sayang. 

Film ini dimulai dengan kehidupan keluarga Kapoor yang tidak dijelaskan tinggal dimana dan apa yang dikerjakan oleh sang ayah. Yang digambarkan adalah Dadu (kakek) yang sudah berusia 90 tahun, yang sering berlatih mati mendadak. Hingga akhirnya suatu hari, sang kakek benar-benar terkena serangan jantung sehingga harus dirawat di rumah sakit. 

Hal inilah yang membuat kedua cucunya yang tinggal di Inggris untuk kembali ke India. Yang pertama bernama Rahul Kapoor yang berprofesi sebagai penulis dan memiliki kehidupan yang nyaman di London. Penampilannya sangat rapi dan cenderung kelimis, namun sangat menyayangi ibunya. Sang ibu selalu menjuluki Rahul sebagai ‘the perfect son’. Yang kedua bernama Arjun Kapoor, dengan kepribadian yang cenderung ‘free-spirit’, tinggal di Inggris namun selalu berganti profesi. 

Sepanjang film digambarkan bahwa keluarga ini ternyata tidak pernah bisa duduk dengan tenag dan damai. Sang ibu selalu memancing pertengkaran dengan sang ayah, mulai dari urusan membetulkan pipa air sampai tuduhan bahwa sang ayah berselingkuh. Sementara sang ayah selalu mengeluarkan perkataan yang cenderung menyakiti hati istrinya. Rahul selalu berada dalam posisi sebagai penengah untuk seluruh perselisihan yang ada. Arjun selalu dianggap sebagai anak yang tidak pernah serius dalam segala hal.

Hingga suatu saat tanpa disengaja, kedua kakak beradik ini bertemu dengan Tia, seorang gadis cantik yang memiliki bungalow besar, warisan dari kakeknya, yang akan dijual. Tia seorang gadis yang terlihat ceria, spontan, dan agak nekad, namun ternyata dibalik semua itu dia menyimpan sebuah trauma mengenai kematian kedua orangtuanya. 

Alur cerita kemudian diarahkan dengan permintaan Dadu yang disampaikan kepada Rahul. Pertama, jika dia meninggal dia minta dikuburkan, bukan dibakar. Yang berarti tidak sesuai dengan adat Hindu.

Kedua, sebelum meninggal, Dadu ingin punya foto keluarga yang ingin digantung di dinding dengan tulisan “Kapoor & Sons Since 1921’. Sebuah keinginan yang sederhana, namun menjadi poros dari segala peristiwa yang terjadi setelahnya. 

Ada beberapa hal yang menarik dari film ini :

1. Tidak ada lagu yang mengiringi tarian, yang biasa kita jumpai dalam film Bollywood. Kalaupun ada, itu hanya sekedar menunjukkan betapa kepribadian Tia dan Arjun sangat mirip sehingga mereka menikmati saat-saat bersama. Dan betapa sebenarnya keceriaan dalam keluarga yang sudah lama hilang, masih dirindukan oleh keluarga.

2. Jika dilihat sampai akhir, maka sebenarnya alur cerita baru bergerak dengan cepat setelah Dadu mengutarakan keinginannya untuk merayakan ulangtahunnya yang ke-90 di rumah. Mulai dari kenyataan tentang perselingkuhan sang ayah, bahwa Tia tidak sengaja pernah mencium Rahul dan saat hal itu diceritakan kepada Arjun – malah membuat hubungan Tia dan Arjun menjadi renggang. Masih ditambah dengan kenyataan bahwa Rahul adalah gay dan sang ibu ternyata berperan besar dalam membuat Arjun percaya bahwa dirinya tidak berguna dengan cara memberikan novel pertama Arjun kepada Rahul, yang ternyata menjadi best seller dan mendatangkan kemasyuran bagi Rahul.

3. Dengan banyaknya issue yang ditampilkan, banyak pula yang memang tidak ditampilkan untuk diselesaikan. Yang terlihat adalah bahwa pada akhir cerita, walaupun dalam keadaan yang sedih, semua saling memaafkan. Namun sayang sekali, depth/kedalaman dari plot tidak terasa.

4. Pesan moral yang sangat kuat terlihat dan terasa, setidaknya untuk saya pribadi, adalah sebuah kalimat yang selalu terkait dengan Karan Johar yang menjadi salah satu produser film ini : It’s all about loving your parents. Dari sikap Arjun yang selalu menyentuh ujung kaki Dadu saat dia datang dari Inggris. Bagaimana Arjun yang begitu kecewa dan marah pada ibunya, ternyata tidak bisa memungkiri rasa sayang pada ibunya. Rahul yang menyatakan kekecewaannya bahwa dia sudah lelah dianggap anak sempurna dan dia hanya minta ibunya untuk menerima dia apa adanya, ternyata tetap tidak bisa hidup tenang dengan kondisi sang ibu tidak mau berdamai dengan dia. In the end, these boys reconcile with their mother. And in the end, it’s all about loving your parents.

5. Setting yang digunakan sederhana namun indah. Tidak banyak lokasi karena memang alur cerita hanya berkisar di rumah. Namun bagi saya, sang sutradara rasanya mencoba menampilkan suasana ‘rumah’ yang sebenarnya. Rumah yang seharusnya bisa menjadi tempat berlindung bagi keluarga, yang bisa menghangatkan hati anggota keluarga. Bagaimana kemarahan dan kebencian dapat merusak hakikat dari ‘rumah’.

6. Tidak ada lonjakan emosi yang berarti. Namun emosi saya mulai terusik saat Tia bercerita mengenai traumanya setiap hari ulangtahunnya kepada Arjun. Bahwa setiap ulangtahunnya selalu mengingatkan dia telpon terakhir dari orangtuanya yang diterima Tia dengan kemarahan dan ucapan untuk tidak pernah kembali lagi. Dan ternyata pada hari itu juga pesawat yang ditumpangi orangtuanya mengalami kecelakaan. Lonjakan yang kedua, yang sedikit membuat saya terbawa adalah saat Dadu berbicara lewat Facetime kepada Rahul dan Arjun, memberitahu bahwa sang ibu yang terlihat kuat di pagi hari, ternyata setiap malam menangis karena rasa kehilangan luar biasa dari meatian suaminya dan kepergian kedua anaknya. Satu dialog yang sangat menyentuh, diucapkan Dadu saat meminta Rahul dan Arjun untuk pulang : I’m asking you for the one thing I don’t have, just a little TIME. Everyone makes mistakes, kids, but we don’t abandon our families. Consider this as an old man request, once, just once, come back.

7. Sejujurnya, dari segi akting, saya melihat akting yang ditampilkan Rishi Kapoor sebagai Dadu dan Ratna Pathak sebagai Sunita Kapoor (sang ibu) yang membuat alur cerita terasa memiliki jiwa. Kemunculan Tia yang diperankan oleh Alia Bhatt, tidak berperan banyak terhadap alur cerita. Alia masih memerankan karakter gadis yang ceria dan spontan. Fawad Khan sebagai Rahul Kapoor dan Sidharth Maholtra sebagai Arjun Kapoor, belum memberikan percikan chemistry yang terasa, sebagai kakak beradik. Chemistry mereka baru sedikit muncul ke permukaan di setiap adegan mereka sedang bersama Dadu. Kehadiran Dadu menjadi stimulan bagi chemistry Fawad Khan dan Sidharth Maholtra.

 

Secara keseluruhan, film ini berhasil menyampaikan pesan yang mendasar bahwa keluarga adalah keluarga. Everyone makes mistakes, but we don’t abandon our families.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s