Movie Review – Bollywood : TAMASHA

Film Bollywood yang unik. Dibintangi oleh Ranbir Kapoor dan Deepika Padukone. Dua aktor yang sedang di puncak kariernya, namun setelah meihat filmnya, tidak heran mereka memang sedang menjadi incaran sutradara dan produser. 

Intinya adalah love story, dengan pesan moral bahwa menemukan diri sendiri adalah kunci kebahagiaan hidup. Sederhana namun mendalam. Baru kali ini saya menonton film yang dibintangi oleh Ranbir Kapoor dan disutradarai oleh Imtiaz Ali. Deepika Padukone sudah pernah saya tonton di beberapa film sebelumnya dan memang kualitas aktingnya diatas rata-rata.

 

Imtiaz Ali sering saya dengar namanya sebagai seorang sutradara yang brilian dengan hasil karyanya yang selalu mendapat pujian dari kritisi. Apakah berhasil menjadi box office atau flop di peredaran, saya tidak mengetahui dengan jelas. Namun beberapa filmnya sudah ‘melegenda’ di dunia perfilman Bollywood.

 

Sebut saja misalnya Jab We Met, Highway, Rockstar, beberapa filmnya yang sudah pasti diketahui oleh masyarakat pencinta film India. Namun lewat film Tamasha, saya mengakui bahwa Imtiaz memiliki metode penyutradaraan yang unik, dengan jalinan kisah yang unik pula.

 

Sementara ini kali pertama juga saya melihat penampilan akting Ranbir Kapoor, yang diakui oleh dunia perfilman Bollywood untuk kemampuan aktingnya. Ternyata benar, rentang emosi yang ditampilkan oleh Ved yang diperankan Ranbir Kapoor, luar biasa. Kita bisa merasakan roller coaster perjalanan jiwa Ved dari seorang yang free spirit menjadi seorang yang bertingkah laku seperti mesin karena tuntutan keluarga dan akhirnya berhasil menemukan dirinya sendiri, dengan bantuan Tara, kekasihnya.

 

Tamasha, yang berarti pertunjukan, memberikan sebuah pesan moral yang sangat penting. Bahwa bagaimanapun tradisi keluarga akan tetap lekat, dimanapun kita berada. Kisah leluhur yang hidup susah kemudian berhasil, bisa jadi akan membebani hidup kita di masa depan, karena adanya ‘tuntutan’ untuk bisa menjadi pahlawan bagi keluarga. Sama dengan yang dialami oleh Ved, yang dituntut untuk bisa menjadi orang yang bekerja di kantor dengan dasi dan jas, memiliki reputasi yang baik, sopan dan penurut. Walaupun didalamnya sebenarnya Ved adalah seorang ‘artis’ yang mendapatkan kepuasan batin dengan menjadi seorang ‘story teller’.

 

Sebuah cara pandang yang umum, bahwa masih banyak profesi yang berkaitan dengan ‘performing art’ dinilai sebagai profesi yang tidak menjanjikan kehidupan. Penyanyi, story teller, aktor aktris yang biasa bermain di teater, dan masih banyak lagi lainnya, yang dianggap tidak layak untuk dijadikan profesi.

 

Apakah kita memerlukan seorang Mona Darling atau Tara, untuk bisa memiliki keberanian menemukan diri kita yang sebenarnya, dan berani untuk mengungkapkan hal tersebut di depan keluarga kita ? Film ini tidak menitikberatkan pada kekuatan seorang kekasih, tapi lebih menitikberatkan pada keberanian diri kita untuk bisa menentukan kemana arah kisah hidup kita mau dibawa. Mengikuti tuntutan lingkungan namun tidak bahagia, atau berani untuk mengungkapkan ‘siapa saya sebenarnya’ dan memperoleh kebahagiaan batin.

 

Seperti umumnya film Bollywood, Tamasha mengambil setting di beberapa tempat. Di Corsica sebagai tempat pertemuan Ved dan Tara. Lalu pindah ke Simla, India, tempat masa kecil Ved. Berpindah lagi ke Kolkata tempat tinggal Tara. Kembali ke Delhi sebagai tempat pertemuan Ved dan Tara setelah 4 tahun berpisah. Dan ditutup dengan pertemuan akhir mereka di Tokyo.

 

Ada dua hal unik dalam film ini. Pertama, film dibuka dengan adegan di panggung antara robot dan badut. Ranbir menjadi robot dan Deepika menjadi badut. Mereka melakukan monolog sebagai pengantar sebelum kita dibawa masuk kedalam masa kecil Ved.

 

Yang kedua, hal yang paling sering dibicarakan orang yaitu chemistry antara dua leading role dalam sebuah film. Saya sudah menonton film Deepika beberapa buah. Saya setuju dengan sebuah komentar orang di Instagram bahwa dalam 2 buah film, dimana Deepika berpasangan dengan Ranveer Singh, yang konon merupakan kekasihnya, chemistry diantara mereka bisa digolongkan ‘explosive’. Kita bisa merasakan dahsyatnya kekuatan cinta mereka dalam karakter yang diperankan, lewat mata dan ekspresi wajah. Saya juga pernah menonton film Deepika yang berpasangan dengan Shah Rukh Khan, seorang aktor Bollywood yang sudah mendunia dan melegenda. Chemistry yang terlihat memang indah, namun mungkin karena perbedaan usia yang cukup jauh, terasa dan terlihat biasa saja, tidak ada sesuatu yang istimewa.

 

Untuk Deepika dan Ranbir, ini adalah film ke-3 yang mereka mainkan bersama. Chemistry yang ada, sama seperti yang diungkapkan banyak orang, adalah luar biasa. Dalam film Tamasha, saya tidak melihat sepasang kekasih dengan gelora cinta yang dahsyat. Yang kita rasakan adalah bagaimana kita dibawa mengikuti perkembangan hati mereka.

 

Kita diajak untuk bisa merasakan awal pertemuan Ved dan Tara yang didasari iseng, menikmati kekonyolan mereka dalam waktu 7 hari di Corsica. Bagaimana beratnya perasaan Tara saat harus meninggalkan Ved, karena mereka telah berjanji untuk tidak bertemu lagi. Bagaimana kita menjadi ikut terharu melihat Tara melewatkan 4 tahun dengan kenangan tentang Ved yang tidak pernah lepas. Kita ikut deg-degan saat Tara berhasil menemukan Ved di Delhi, namun ikut merasakan frustasi bersama Tara melihat Ved dengan kepribadian yang berbeda.

 

Puncak emosi adalah saat Tara minta maaf karena sudah mengatakan kebenaran bahwa Ved yang dia kenal di Delhi berbeda dengan Ved yang dia kenal di Corsica. Namun kelihatannya saat itu Ved sudah dalam puncak krisis jati diri, sehingga dia begitu marah dan tidak mendengarkan Tara.

 

Adegan di dalam sebuah perpustakaan/restaurant unik antara Tara dan Ved, sungguh luar biasa. Tara dengan lantang menyatakan bahwa dia tidak bisa lepas dari Ved. Namun Ved merasa tersakiti karena dengan demikian berarti Tara melakukan kompromi, berkorban hanya untuk supaya tidak jauh dengan Ved. Penggambaran rasa sayang Tara diperlihatkan dengan adegan Tara dan Ved meletakkan kepala di meja. Bagaimana Tara ingin menyalurkan rasa cinta dan keprihatinannya lewat belaian tangannya di kepala Ved. Kita bisa merasakan hal tersebut, tanpa harus ada dialog.

 

Dan seluruh perjalanan hati Ved dan Tara ditutup dengan dibukanya kostum robot Ved dan tampillah Ved dengan jati diri yang sebenarnya, seorang story teller, dengan baju kasual, rambut digelung dan ikat kepala. Saat Ved memberikan isyarat terima kasih sampai dia menelungkup di atas panggung, kepada Tara, menunjukkan betapa besar kehadiran Tara telah mendorong Ved untuk bisa menemukan dirinya.

 

Adegan penutup di Tokyo, dengan tulisan ‘Don Returns’ ditutup dengan Ved dan Tara yang sedang menari masing-masing dengan headphone, merupakan sebuah adegan penutup yang manis, yang membuat kita tersenyum lega tanpa harus menyaksikan adegan peluk cium yang mesra dan lain-lain.

 

Positive vibe yang ingin dimunculkan dari Tara, berhasil dirasakan oleh kita. Imtiaz Ali berhasil memadukan pertunjukan teater, kehebatan seorang story teller dalam menyampaikan cerita yang bisa membuat orang terpana dengan kehidupan manusia yang umum kita jumpai, dimana kita masih menjalankan hidup karena tuntutan masyarakat.

 

Seperti pesan moral yang saya rasakan dalam sebuah film Hollywwod yang berjudul ‘Me Before You’, saya rasa film Tamasha juga memiliki pesan yang sama : You only get one life, it’s actually your duty to live it as fully as possible.

 

How? Depend on ourselves. Kita mau menjalani untuk memuaskan orang lain, atau kita mau menjalani agar kisah hidup kita adalah kisah yang nyata dengan diri kita yang sebenarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s