INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 21 : Gifts Differing – Extraversion dan Introversion (bagian 1)

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya mengambil sertifikasi sebagai practitioner untuk sebuah teori kepribadian yang unik yang dikenal dengan teori MBTI (Myers-Briggs Type Indicator). Di luar Indonesia, teori ini sudah banyak dipakai untuk berbagai kalangan sebagai alat untuk memberikan gambaran mengenai inner character seseorang. Teori ini tergolong unik karena sertifikasi untuk practitioner bisa diambil oleh orang yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang psikologi. Sehingga saat saya mengikuti program sertifikasinya, saya melihat rekan satu angkatan saya adalah campuran antara para professional yang memang membutuhkan sertifikasi ini untuk pekerjaannya, para ibu rumah tangga, para guru, para professional (sudah manajer lho …) dan bahkan ada seorang laki-laki yang berusia cukup muda bercerita dia sudah mengikuti program sertifikasi itu untuk kedua kalinya karena dia tidak mengejar sertifikasinya tetapi dia memilih untuk selalu me-refresh pengetahuannya tentang MBTI.
 
Selama seminggu saya mengikuti program ini di negeri orang, saya tidak merasa terbeban, karena ternyata banyak sekali yang saya dapatkan dari teori ini. Dari penjelasan mengenai landasan teori, sharing antar peserta, berbagai simulasi yang kita lakukan, telah membuat saya takjub betapa indah dunia ini dengan segala keberagaman yang sudah dibuat oleh Tuhan.
 
Pada hari ke-14, saya pernah menulis mengenai sebuah buku yang ditulis oleh penggagas teori ini, yaitu GIFTS DIFFERING. Namun setelah itu saya berpikir, mengapa saya tidak membagikan pengetahuan dengan anda mengenai teori ini, dengan harapan agar anda pun bisa merasakan hal yang sama dengan saya, bahwa keragaman karakter adalah sebuah anugrah, bukan bencana.
 
Secara singkat bisa dijelaskan bahwa berawal dari kolaborasi ibu dan puterinya, yaitu Katherine Briggs dan Isabel Briggs Myers, lahirlah teori MBTI yang sebenarnya memakai landasan berpikir dari Carl Jung, tokoh dalam dunia psikologi yang sangat dikenal orang. Katherine dan Isabel membuat sebuah kuesioner yang akhirnya berkembang menjadi teori MBTI, yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1962. Fokus MBTI adalah populasi normal. (Sumber : Wikipedia – Myers-Briggs Type Indicator)
 
Namun untuk bisa memahami implementasinya, kita harus memahami dulu teori dasarnya. Yang paling mudah dimengerti oleh awam adalah bahwa dalam MBTI dikenal ada 4 pasang preferences (kecenderungan) yang saling berlawanan, yang biasanya dikenal dengan istilah dichotomy. Pada akhirnya akan menuju menjadi 16 tipe kepribadian, yang seluruhnya tidak ada yang jelek atau bagus, tidak ada yang salah atau benar. Semuanya adalah kecenderungan kita berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
 
Ke-4 dichotomy itu adalah :
 
Extraversion (E) dan Introversion (I)
Sensing (S) dan iNtuition (N)
Thinking (T) dan Feeling (F)
Judging (J) dan Perceiving (P)
 
Agar tidak membingungkan, saya akan mencoba membahas satu dichotomy dalam satu tulisan. Dan tulisan yang pertama ini akan membahas tentang Extraversion (E) dan Introversion (I).
 
Kecenderungan sebagai E dan I biasanya disebut sebagai attitude/perilaku. Seseorang yang cenderung extraversion akan menyalurkan energinya melalui action. Kebalikannya, seseorang yang cenderung introversion akan lebih banyak melakukan refleksi, baru kemudian melakukan action dan setelah itu melakukan refleksi lagi.
 
Saya akan mencoba memberikan beberapa contoh yang semoga bisa membantu kita memahami perbedaannya.
 
Sewaktu saya masih bekerja, ada saat-saat dimana kita kedatangan tamu dari kantor pusat atau regional. Sehingga sudah pasti akan diselenggarakan acara makan malam bersama. Biasanya kalau saya sudah mendapat email tentang acara makan malam, respon awal saya adalah : “Oh tidak …”. Karena saya adalah seorang Introversion, maka saya sudah mengenal diri saya, bahwa dalam acara seperti itu, saya tidak sepenuhnya merasa nyaman karena disekeliling saya biasanya banyak unsur orang-orang baru yang belum saya kenal dengan baik. Saya selalu dapat menjalani dan melewati acara makan malam tersebut dengan baik, tetapi sesampainya saya di rumah, saya akan merasa ‘exhausted/kelelahan’. Karena seorang I tidak terbiasa menggunakan energinya langsung ke dalam bentuk action. Tapi kami bisa melakukan itu, jika memang lingkungan di sekitar memberikan stimulasi atau menuntut hal tersebut.
 
Sementara saya tahu dengan pasti, seorang rekan kerja saya yang berasal dari Inggris, adalah seorang Extroversion. Jika ada acara seperti itu, dia akan bersemangat karena seorang E akan senang bertemu dengan banyak orang walaupun tidak terlalu mengenal mereka dengan baik. Malah terkadang, seusai makan malam pun, dia masih melanjutkan minum dengan beberapa orang sambil ngobrol. Dan keesokan paginya, dia sudah muncul lagi di kantor dengan semangat yang tidak berbeda jauh dengan semalam.
 
Kemanakah kecenderungan anda ? Extroversion atau Introversion ?
 
Saya seorang I, dan saya lebih senang dengan tipe pekerjaan di belakang meja, yang tidak mengharuskan saya untuk banyak bertemu dengan orang. Walaupun jika saya harus melakukan itu, saya akan mampu melakukannya dengan baik. Dulu saat saya masih bersekolah sampai selesai kuliah, saya termasuk orang yang sangat pendiam dan pemalu. Jika ada kegiatan atau kepanitiaan, saya akan ikut serta tetapi akan lebih memilih sebagai orang yang bekerja di balik layar, bukan sebagai penampil. Namun saat saya bekerja, apalagi dengan profesi saya sebagai praktisi HR, saya ’dipaksa’ oleh lingkungan kerja untuk bisa menjadi penampil, karena saya harus banyak bertemu orang, saya harus bisa membawakan presentasi, saya harus bisa melakukan persuasion kepada orang, dan lain-lain.
 
Teman baik saya yang sekaligus rekan kerja saya, adalah seorang E. Dia lebih senang dengan pekerjaan lapangan, aktifitas gerak yang banyak dan tidak berlama-lama duduk di belakang meja. Dia lebih senang melakukan kontak langsung dengan orang-orang daripada berbicara di telpon. Dalam setiap pertemuan, jika atasan menanyakan sesuatu hal yang baru, dia akan bisa merespon dengan cepat, tanpa melihat jawaban tersebut salah atau benar. Tetapi saya, akan memerlukan waktu beberapa detik lebih lama untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saya malah sempat merasa apakah saya ini termasuk orang yang ’bolot’ ?
 
Kemanakah kecenderungan anda ? Extroversion atau Introversion ?
 
Pada dasarnya, seorang E akan secara mudah terlihat sebagai orang yang supel, bisa bergaul dengan siapa saja, tidak pernah ragu untuk masuk ke dalam suatu ruangan yang penuh dengan orang asing, lebih senang melakukan pertemuan face-to-face daripada berbicara di telepon, senang mengadakan acara yang memungkinkan mereka banyak bergerak. Karena itulah cara mereka menyalurkan energinya, keluar dari dirinya dan diterjemahkan dalam bentuk action.
 
Sementara seorang I, akan secara mudah terlihat sebagai orang pendiam, banyak berpikir, tidak terlalu suka berkumpul untuk mengobrol. Jika diminta pendapatnya, dia tidak akan langsung memberikan respon. Sehingga terkesan seorang I adalah orang yang tidak menyenangkan untuk diajak berteman dan ’telmi’ karena jika ditanya pasti akan lambat menjawabnya. Namun jangan terlalu terpaku pada semuanya itu. Banyak orang yang kita duga adalah E, ternyata adalah seorang I. Itu bisa terjadi karena kematangan usia dan pribadi, serta dorongan/stimulasi dari lingkungan sekitar yang mengharuskan dia seperti itu. Seorang I juga bisa menjadi teman ngobrol dan kawan yang menyenangkan untuk diajak jalan, jika dia ditempatkan di tengah kerumunan orang yang sudah dikenalnya dengan baik.
 
Namun saya dengan rekan kerja saya yang berasal dari Inggris, ataupun dengan teman saya, bisa melakukan kerja sama dengan baik. Malah saya merasa semua project yang pernah saya kerjakan bersama mereka adalah project terbaik yang pernah saya alami semasa saya masih bekerja.
 
Karena memang seperti itulah yang ingin dibagikan oleh Katherine dan Isabel. Bahwa perbedaan karakter, jika bisa dikelola dengan baik, akan melahirkan sinergi yang sangat bagus. Bagaimana hal itu bisa terjadi ?
 
Mudah sekali, pahamilah bahwa kita tidak dapat memaksa orang menjadi seperti kita, demikian pula sebaliknya. Yang harus kita lakukan adalah mengoptimalkan apa yang ada pada diri kita. Untuk mengerjakan hal-hal yang dibelakang meja, saya dengan senang hati akan melakukannya. Untuk melakukan hal-hal di lapangan, rekan saya akan senang hati melakukannya. Maka terciptalah sebuah sinergi yang kuat dari perbedaan itu.
 
Kemanakah kecenderungan anda ? Extroversion atau Introversion ?
Apapun jawaban anda, ingatlah bahwa ini merupakan kecenderungan/preference yang kita ambil dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak ada yang salah ataupun benar.
Apapun jawaban anda, ingatlah bahwa mulai sekarang sedikit demi sedikit kita harus berusaha untuk mengubah cara kita memandang orang yang berperilaku ’tidak sama’ dengan kita. Mereka bukan mahluk aneh, mereka adalah mahluk unik, demikian juga dengan kita.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 20 : Mengapa Harus Berbeda ?

Beberapa minggu belakangan ini, saya mendengar pengalaman hidup beberapa teman saya. Dan tanpa direncanakan, ternyata semua kisah yang saya dengar bukanlah kisah yang bahagia.
 
Ada teman saya yang sedang bingung karena adiknya baru saja bercerai dengan istrinya, yang ternyata memiliki pekerjaan tidak halal. Lalu putra mereka yang masih kecil ternyata juga sudah sering dibawa sang ibu pergi dengan teman pria sang ibu yang selalu berganti-ganti. Suatu saat, entah bagaimana ceritanya, sang ibu datang ke sekolah anaknya untuk mengambil rapot, dengan penampilan yang menyolok. Alhasil orang tua lain di sekolah bergosip ria membicarakan hal ini. Sang ayah marah kemudian memindahkan anaknya dari sekolah tersebut. Yang mana hal tersebut sama sekali tidak menyelesaikan masalah.
 
Setelah bercerita lebih lanjut, ternyata memang adik dari teman saya ini memiliki pandangan bahwa memiliki seorang istri harus yang berpenampilan lahiriah bagus. Tanpa melihat penampilan batinnya. Sementara saya tahu bahwa teman saya sebagai anak sulung dalam keluarga, memiliki nilai-nilai hidup yang bagus sehingga bisa dikatakan sukses dalam karirnya, bisa merawat istri dan ketiga anaknya dengan layak. Maka terlihatlah perbedaan implementasi nilai antara kakak beradik.
 
Lalu seorang teman saya yang lain, yang sudah lama sekali tidak bertemu, menceritakan sebagian kisah hidupnya yang membuat saya tercengang. Rumah tangganya yang sudah berjalan belasan tahun dan selama ini saya pikir berjalan dengan baik, ternyata hanya merupakan sebuah ikatan legal perkawinan yang dipertahankan teman saya demi putra tunggalnya. Selama lebih dari sepuluh tahun, ternyata sang suami sudah melakukan hal-hal yang tidak masuk di akal seperti memiliki hubungan dengan wanita lain, ikut proyek yang tidak jelas dan akhirnya tertipu, dan lain-lain. Sampai belakangan teman saya sempat sakit berat, walaupun sekarang sudah kembali sehat. Ibu dari teman saya sudah berkali-kali marah dan menganjurkan untuk berpisah, tetapi teman saya masih bertahan demi anaknya. Sementara sang suami sampai saat ini tidak mau diajak untuk datang ke psikolog untuk konseling bersama karena sang suami merasa dia tidak bermasalah. Maka terlihat terjadi pergeseran nilai hidup dari sang ibu namun teman saya memiliki nilai hidup yang berbeda saat ini.
 
Kemudian ada juga teman saya yang baru saja bercerita tentang adiknya yang sudah berusia di atas 30 tahun, namun masih belum punya pekerjaan dan penghasilan tetap. Di saat orang tuanya sedang sakit, sang adik belum sekalipun menengok walaupun teman saya sudah mencoba untuk menjelaskan bahwa orang tua tetap butuh kehadiran anaknya. Dan suatu saat sang adik menelpon hanya untuk meminta kakaknya memberitahu ibunya bahwa dia mencoba menelpon ke handphone tetapi tidak bisa masuk. Teman saya merasa kecewa karena selain sudah sekian lama adiknya tidak menengok orang tuanya, walaupun adiknya sering menelpon sang ibu, kemudian saat menelpon ke rumah kakaknya, sama sekali tidak ada basa basi, seolah nomor telpon yang dia telpon adalah nomor kantor, bukan nomor rumah sang kakak. Kembali terlihat perbedaan cara pandang terhadap nilai hidup antara kakak beradik tersebut.
 
Kisah diatas mungkin sekilas seperti yang ditulis di majalah-majalah wanita seperti artikel “Oh Mama … Oh Papa …” dan lain-lain. Namun harus diakui bahwa hal-hal seperti itu memang terjadi dalam kehidupan nyata.
 
Ada satu benang merah yang menghubungkan ketiga kisah diatas. Yaitu terjadinya perbedaan cara pandang terhadap nilai-nilai kehidupan didalam sebuah keluarga.
 
Mengapa bisa terjadi di dalam keluarga, sang anak sulung bisa mempraktekkan nilai-nilai hidup yang baik, sementara sang adik yang lebih lama tinggal bersama orang tuanya malah terlihat gamang. Sama kejadiannya dengan teman saya yang kecewa dengan sikap adiknya, karena teman saya menjalankan nilai-nilai kehidupan yang baik dari orangtuanya diantaranya berusaha menanamkan rasa hormat kepada orang tua, namun sang adik ternyata masih sibuk dengan dunianya dan tidak menyempatkan diri untuk hadir secara fisik bagi orang tuanya. Padahal jarak yang memisahkan hanya perjalanan sekitar 2 jam saja.
 
Mengapa bisa terjadi teman saya memelihara beban tanpa bercerita kepada siapa-siapa hanya demi anaknya, sementara suaminya sama sekali tidak memikirkan perasaan istri dan anaknya. Malah ibu dari teman saya seolah sudah tidak mempedulikan lagi apa kata orang atau apakah nilai tersebut pantas atau tidak diberikan kepada anaknya, karena dipenuhi dengan dorongan melindungi anak dan cucunya, sang ibu sudah menyarankan berkali-kali untuk berpisah saja.
 
Sungguh ironis keadaan seperti ini. Saya sempat merenung lama, mengapa di dunia ini masih ditemukan kondisi seperti itu. Apakah orang tua yang tidak konsisten menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anaknya ? Apakah justru lingkungan sekitar yang membentuk kepribadian yang berlainan seperti itu ? Atau adalah salah penafsiran dari masing-masing anak terhadap nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua ? Malah jangan-jangan ada ekspetasi/harapan tersembunyi dari orang tua terhadap anak, yang pada akhirnya membuat anak merasa tertekan kemudian mengambil keputusan yang salah ?
 
Semuanya adalah kemungkinan yang bisa terjadi dan rasanya kita tidak akan pernah menemukan jawaban pastinya. Namun semua kejadian tersebut seharusnya bisa memberikan sebuah ”peringatan dini” kepada kita yang sedang menjalankan peran sebagai orang tua. Agar kita lebih waspada dengan lingkungan sekitar anak-anak bersekolah dan bergaul. Agar kita lebih berhati-hati dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan, agar bisa dimengerti dengan baik oleh anak-anak kita. Dan agar kita juga mawas diri untuk tidak membuat standar/harapan yang tidak masuk di akal untuk anak-anak kita.
 
Tetapi apakah jika kita melakukan semuanya itu, kemudian menjadi jaminan bahwa anak-anak kita akan bisa berkembang menjadi dewasa dan menjadi pribadi yang matang dan sempurna ? Nobody’s perfect, dan yang bisa kita lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin sambil berdoa. Karena dalam dunia ini, selalu ada faktor ”x” yang muncul dan tidak dapat kita kendalikan.
 
Sebenarnya apa sih nilai-nilai kehidupan yang dari tadi saya bicarakan ? Saya lebih melihat kepada nilai moral, yang akan membantu anak-anak kita untuk tetap berada di jalan yang benar saat dia mengalami rintangan dan tantangan dalam hidupnya. Beberapa nilai hidup yang baik adalah seperti :

– Kerendahan hati, bahwa ’diatas langit masih ada langit’, bahwa jangan pernah kita merasa sebagai orang yang paling pintar. Tetapi bersikaplah rendah hati, karena dengan demikian orang akan lebih mau mendengarkan kita.

– Sopan santun dan etika bergaul. Dimulai dari hal sederhana seperti mencium tangan jika bertemu dengan orang yang lebih tua, memberi salam jika bertamu ke rumah orang atau bertemu dengan orang yang dikenal di jalan. Budaya barat tidak selalu cocok diterapkan di Indonesia. Hindari membiasakan anak-anak memanggil kakaknya hanya dengan nama, atau memanggil orang yang lebih tua hanya dengan nama, atau malah tidak memberi salam jika bertandang ke tempat lain.

– Menghargai orang lain. Tumbuhkan empati dalam diri anak, bahwa semua manusia patut diperlakukan dengan hormat walaupun mereka adalah pemulung, pengemis atau tukang becak.

– Kegigihan dalam berusaha. Jangan berkata TIDAK BISA sebelum anda mencoba untuk melakukannya.

Dan masih banyak nilai moral yang bisa ditanamkan kepada anak lewat tindakan kita sehari-hari ditambah dengan penjelasan dari orang tua mengapa harus seperti itu.
 
Seharusnya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai orang tua, dengan harapan agar anak-anak kita bisa berkembang menjadi pribadi yang dewasa dan matang, yaitu :

1. Sedari kecil, anak tidak boleh jauh dari Tuhan, dan saya yakin semua agama dan keyakinan mengajarkan hal seperti itu. Karena Tuhan yang menciptakan manusia, dan hanya kepada Tuhan saja manusia bisa berpegang. Binalah iman anak-anak kita agar mereka selalu kembali kepada jalan Tuhan seberapa beratnya pun masalah yang dihadapi atau betapa bahagia dan senangnya hidupnya.

2. Sebagai orang tua, rajinlah berdoa untuk anak-anak kita. Berdoa untuk hal yang baik, bukan berdoa untuk hal-hal yang tidak masuk di akal, misalnya berdoa agar anak akan menjadi orang kaya di kemudian hari, mendapat suami/istri  yang berkelimpahan dan lain-lain. Namun berdoalah agar anak-anak kita selalu ingat akan Tuhan, selalu berjalan di jalan yang benar, mohon agar kita sebagai orang tua diberi kebijaksanaan untuk bisa mendidik anak-anak dengan nilai-nilai kehidupan yang baik dan luhur.

3. Sebelum menyekolahkan anak atau mengirim anak ke sebuah boarding school/sekolah berasrama atau menitipkan anak kepada teman/keluarga atau menyekolahkan anak di luar kota dengan kondisi anak tersebut harus kost, pastikan bahwa kita mengenal dengan baik lingkungan sekitarnya, bagaimana metode belajar yang diterapkan, fasilitas apa saja yang di lingkungan sekitar. Contohnya jika di sebelah tempat kost adalah tempat penyewaan play station untuk bermain games, mungkin harus dipikir ulang karena tentunya kita tidak mau anak kita malah menghabiskan waktunya untuk bermain games daripada belajar. Jika metode pembelajaran di sekolah sudah terlihat terlalu berat untuk anak, janganlah memaksakan anak untuk bersekolah disitu, karena seharusnya anak bisa bersekolah dengan beban yang sanggup ditanganinya sehingga dia bisa menjalani hari-hari sekolahnya dengan senang.

4. Berhati-hatilah dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan pada anak. Saya belajar dari Ibu saya yang telah menanamkan nilai-nilai yang baik bukan dari omelan, namun dari perbuatan beliau. Cara seperti itu akan lebih bijaksana, namun suatu saat perlu juga disampaikan saat orang tua sedang berbincang santai dengan anak-anaknya. Semakin usia anak bertambah, semakin bertambah pula kemampuannya untuk berpikir logis mengenai nilai-nilai yang ada. Pastikan bahwa kita menjelaskan manfaat dari nilai-nilai kehidupan tersebut dengan jelas, dan tidak lagi menggunakan kata-kata ”pokoknya kamu harus …” atau ”jangan melakukan … karena pamali” dan berbagai macam kalimat yang tidak akan dimengerti oleh anak-anak.

5. Ada saatnya orang tua harus berani ’melepas’ anak ke dunia nyata. Tidak terlalu melindungi, karena anak perlu dihadapkan pada kenyataan hidup bahwa tidak semua temannya bisa menyenangkan, bahwa tidak semua gurunya adalah guru yang ramah. Bahwa kehidupan manusia bisa berputar seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Jika kita memang tidak memiliki uang untuk membeli mainan favoritnya, anak perlu diberi pengertian bahwa dia memang tidak bisa membeli mainan saat itu. Jika kita tidak memiliki dana untuk pergi berlibur ke Bali misalnya, jangan memaksakan diri untuk berhutang hanya supaya anak kita senang. Jika suatu saat kita perlu melepas anak untuk sekolah atau kuliah di luar kota, kalau memang anak kita terlihat siap atau dirasa bahwa situasi seperti itu justru akan membantu anak untuk menjadi pribadi yang matang, mengapa tidak ?

6. Berusahalah untuk tidak membuat ekspetasi/harapan yang terlalu tinggi untuk sang anak. Caranya adalah dengan berusaha meluangkan waktu untuk berbicara dengan anak-anak. Anak-anak di jaman sekarang adalah anak-anak yang kritis, yang sudah memiliki pandangan sendiri mengenai kehidupannya, yang sudah bisa memberikan pendapatnya tentang sesuatu, dan sudah bisa memprotes jika orang tua terlalu otoriter. Dengan berbincang-bincang, kita dapat mengetahui cara berpikir mereka dan mencoba mencocokkan dengan harapan yang tadinya ingin kita buat untuk mereka.
 
Hanya itulah yang bisa kita perbuat. Karena manusia boleh berencana, tetapi tentunya hanya rencana Tuhan yang menciptakan kita, yang bisa terjadi.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 19 : Michelle Obama dan Nilai Kehidupan

September 2012, diawali dengan adanya pidato yang dibawakan oleh Michelle Obama, first lady Amerika, dalam Democratic National Convention. Sebuah pidato yang dibawakan beberapa hari sebelum sang suami, Barack Obama menyampaikan pidato menerima pencalonan dirinya kembali sebagai kandidat Presiden Amerika dari Partai Demokrat.

Menyimak pidato Michelle Obama, sama seperti melihat sebuah film. Saya ikut menangis di saat dia bercerita tentang bagaimana dia dan Barack dibesarkan. Saya ikut tersenyum saat dia bercerita mengenai sosok Barack yang dia cintai. Saya ikut bersemangat mendengar dia menceritakan bagaimana besar perhatian mereka kepada generasi muda dan keyakinannya yang kuat bahwa suaminya akan bisa membantu rakyat Amerika.

Tanpa melihat aspek kampanye yang sedang dilakukan, atau melihat fakta bahwa ada tim tersendiri yang menyiapkan naskah pidato, bahkan tidak melihat bahwa itu sebenarnya adalah pandangan hidup orang Amerika, jika kita menyimak kembali isi pidato Michelle Obama, ada sebagian kecil yang sangat menyentuh hati saya. Saat dia berkata tentang hal-hal yang mereka dapatkan lewat asuhan orang tua mereka.

We learned about dignity and decency. That how hard you work matters more than how much you make. That helping others means more than just getting ahead yourself.
Kami belajar tentang harga diri dan kelayakan. Bahwa betapa kerasnya anda bekerja, lebih berarti daripada berapa besarnya yang anda hasilkan.

We learned about honesty and integrity. That the truth matters.
Kami belajar tentang kejujuran dan integritas. Bahwa kebenaran adalah hal yang berarti.

And succes don’t count unless you earn it fair and square.
Dan tidak bisa dihitung sebagai kesuksesan kecuali anda mendapatkannya dengan adil.

We learned about gratitude and humility. That so many people had a hand in our success from the teachers who inspired us to the janitors who kept our school clean.
Kami belajar tentang rasa terima kasih dan kerendahan hati. Bahwa sedemikian banyak orang yang telah memberikan sumbangsih dalam kesuksesan kita, dari para guru yang menginspirasi kita sampai pada petugas kebersihan yang menjaga sekolah kita bersih.

And we were taught to value everyone’s contribution and treat everyone with respect. Those are the values that Barack and I and so many of you are trying to pass on to our own children.
Dan kami diajarkan untuk menghargai kontribusi setiap orang dan memperlakukan setiap orang dengan hormat. Semua itu adalah nilai-nilai yang Barack dan saya dan banyak diantar anda berusaha untuk meneruskannya kepada anak-anak kita.

Saya terharu saat mendengar bagian ini. Bagi saya, Michelle telah memberikan inspirasi kepada kita semua, kaum wanita dalam perannya sebagai orang tua, untuk merenungkan bagaimana cara kita membesarkan dan memberikan values of life atau nilai-nilai kehidupan yang positif pada anak-anak kita.

Kalau ada yang berkata bahwa kita harus memperlakukan anak-anak dengan sabar, tidak boleh dimarahi dan lain-lain, bagi saya hal itu tidak bisa diserap dan dibenarkan 100%. Bagi saya, generasi muda harus dipersiapkan dan diajak untuk melihat bahwa dunia ini dipenuhi dengan berbagai macam karakter manusia, beragam peristiwa yang tidak hanya berisi kelemahlembutan dan kebahagiaan belaka, tapi kelak mereka akan menemui kemarahan, kebencian dan segala ketidakbahagiaan yang bisa saja terjadi di sekeliling mereka. Dan mereka harus bisa berjuang melewati semuanya.

Michelle Obama telah menunjukkan kepada kita betapa dalam dan betapa besar pengaruh yang diberikan oleh orang tua atau siapapun yang membesarkan kita. Nah, dengan segala kesibukan kita bekerja, dan dengan dalih bahwa kita bekerja agar anak-anak bisa mendapatkan pendidikan yang layak, pernahkah kita merenungkan berapa banyak waktu yang kita sisihkan untuk mewariskan nilai-nilai kehidupan pada anak-anak kita ?

Nilai kehidupan bisa diberikan kepada anak-anak lewat cara hidup kita, lewat pembicaraan antara orang tua dan anak, lewat sekolah dan lingkungannya, dan lewat kedekatan keluarga dengan Tuhan, apapun agama dan keyakinannya.

Apa yang menjadi nilai-nilai kehidupan Michelle Obama, adalah hal-hal yang bisa kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Dignity/harga diri, decency/kelayakan, honesty/kejujuran, integrity/integritas, gratitude/rasa terima kasih, humility/kerendahan hati, value other people and respect other people/menghargai orang lain dan menghormati orang lain.

Dan itu adalah contoh nilai kehidupan yang bisa kita berikan sebagai sebuah hadiah yang tak ternilai harganya bagi anak kita, Lebih berharga daripada tumpukan uang yang kita tabung untuk biaya kuliah mereka. Lebih berharga dari rumah mewah dan mobil bagus yang kita bangun dan beli agar mereka tidak hidup susah.

Dunia dengan kemajuan teknologinya saat ini, telah turut memberikan kontribusi terhadap pergeseran nilai kehidupan generasi muda kita. Contoh yang sederhana adalah saat saya sedang bercerita kepada kedua anak saya tentang betapa saya mengagumi 2 orang First Lady Amerika karena kecerdasannya, saya bercerita tentang Hillary Clinton dan Michelle Obama. Mungkin saya terlalu bersemangat menyampaikan cerita saya sehingga saya tidak menyadari bahwa anak saya sedang asyik browsing di handphonenya dan anak saya yang satunya sedang asyik bermain game anak-anak.

Kita bisa melihat pergeseran nilai hidup generasi muda saat ini. Mereka lebih senang dengan kehebohan yang ditimbulkan oleh girlband dan boyband saat ini, mulai dari SNSD, Suju, One Direction, SMASH, Cherrybelle, 7 Icons dan masih banyak lagi. Kita melihat bagaimana remaja putri sekarang lebih memperhatikan penampilan lahiriah dibandingkan dengan ‘inner beauty’ yang bisa terpancar dari diri kita, tidak peduli kita pendek atau tinggi, kurus atau gemuk, cantik atau biasa saja.

Apakah kita yakin mereka bisa menjadi pejuang tangguh saat menghadapi konflik dalam kerja, perbedaan pendapat dengan pasangan hidup, mengasuh dan membesarkan anak mereka dengan baik ?

Apakah kita memilih untuk bersusah payah membekali mereka agar menjadi pejuang kehidupan yang tangguh, atau kita memilih membiarkan mereka untuk ‘ketemu batunya’ dengan anggapan ‘toh nanti juga mereka akan belajar sendiri bagaimana mengatasinya’ ?

Saya akan memilih untuk mempersiapkan kedua putri saya menghadapi masa depan mereka. Mungkin saya harus beribu-ribu kali bercerita atau memberi contoh bagi nilai-nilai kehidupan yang ingin saya wariskan kepada mereka. Tapi merasakan bahwa semua itu akan terbayar jika saya bisa melihat kedua putri saya berhasil melalui semua tantangan hidup ini dengan tangguh, saya tidak ragu untuk menghabiskan waktu, energi dan pikiran saya untuk itu.

Maka dignity/harga diri, decency/kelayakan, honesty/kejujuran, integrity/integritas, gratitude/rasa terima kasih, humility/kerendahan hati, value other people and respect other people/menghargai orang lain dan menghormati orang lain ; akan menjadi sebagian nilai-nilai kehidupan yang bisa kita berikan dan wariskan kepada generasi muda kita.

Pada akhirnya, di saat kita mati, tidak perlu menghitung berapa banyak harta yang kita tinggalkan sebagai warisan.

Tapi berbanggalah jika kita berhasil meninggalkan warisan berupa nilai-nilai kehidupan yang bisa membekali mereka menjalani kehidupan ini dan keluar sebagai pejuang yang tangguh.

Berbanggalah jika anak-anak kita dengan bangga dan mantap berkata bahwa mereka bisa hidup sampai saat ini karena orang tua mereka yang mengajarkan bagaimana caranya berjuang menjalani hidup ini.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 18 : Budaya Ngaret

Tepat di hari ini, saya mengikuti Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) di kelurahan tempat saya tinggal. Kelurahan yang cukup besar karena berdasarkan pidato dari Ketua Panitia Pilkades, tercatat ada sekitar 13.000 orang yang terdaftar sebagai Pemilih Tetap, berarti sudah memiliki KTP lokal.

Karena di surat undangan pemilihan dicantumkan waktu pemilihan dimulai dari jam 07.30 pagi, maka berangkatlah saya dan suami ke kelurahan, agar tidak terlalu lama mengantri.

Sekilas melihat pengaturan area pencoblosan, saya kagum, karena awalnya saya sempat kaget sebab penduduk di kampung sekitar ternyata sudah berdesakan antri. Tapi setelah diamati, panitia sudah membuat surat undangan dengan 3 warna berdasarkan pengelompokan dusun. Kemudian masih dibagi lagi berdasarkan pengelompokan RW. Maka jadilah kami mengantri di pintu yang tidak terlalu panjang antriannya. Dan kami yakin bahwa proses pencoblosan akan berlangsung tepat waktu dan cepat.

Saat kami datang, acara sedang dalam tahap sambutan yang dilakukan entah oleh siapa, namun berseragam Panitia. Kami mengikuti acara yang ada sambil berdiri karena memang saat itu masih belum jam 07.30.

Namun matahari semakin tinggi, masyarakat mulai kepanasan, termasuk kami juga. Sementara sampai jam 07.30, sang Ketua Panitia masih asyik memberikan kata sambutan dengan isi yang mungkin tidak dimengerti oleh para penduduk dari dusun di sekitar.

Saya ingat pidato berakhir jam 07.40. Saya sudah lega karena saya pikir pemilihan akan segera dimulai. Namun kembali lemas karena ternyata masih dilakukan pemeriksaan kotak suara, pemeriksaan bilik pencoblosan, dan lebih anehnya lagi pengambilan 2 kotak suara yang tertinggal di gudang. Kesan saya yang pertama timbul adalah, sungguh aneh, mengapa bisa ada kotak suara yang masih harus diambil di gudang.

Kemudian masih dilanjutkan lagi dengan sang Ketua Panitia bercerita tentang surat suara. Padahal masyarakat yang kebanyakan terdiri dari kaum ibu yang membawa anak-anak kecil, sudah mulai berteriak : “Panas, panas, buruan !”. Malah beberapa orang saya lihat meninggalkan tempat karena mereka memang harus bekerja. Maklum, kami tinggal di area yang sangat dekat dengan kawasan industri besar.

Akhirnya baru jam 08.00 pintu dibuka. Itupun terjadi sedikit kehebohan karena orang berdesak-desakan mengambil surat suara, sementara petugas yang membagikan hanya satu orang.

Rekan menulis saya di project ini, mbak Judith (@LetsShareABook) pernah menulis tentang “Budaya (Tidak) Ngantri”. Saya juga pernah menulis tentang “Budaya Semau Gue”. Hari ini, dengan berat hati, saya ingin menulis mengenai “Budaya Ngaret”. Berat hati, karena seolah budaya yang melekat pada kita, rakyat Indonesia, adalah budaya yang tidak baik.

Contoh diatas merupakan sebuah studi kasus yang sangat baik mengenai budaya yang masih dianut oleh banyak orang di Indonesia, yaitu ngaret. Bagi yang belum pernah mendengar kata atau istilah ini, ngaret adalah satu kebiasaan untuk hadir atau memulai sebuah kegiatan atau sesuatu dengan tidak tepat waktu, apakah karena perencanaan yang tidak baik atau karena memang sudah terbiasa tidak menghargai waktu.

Contoh kegiatan yang selalu tepat waktu biasanya adalah pelaksanaan jam sekolah, pelaksanaan ibadah (di masjid, gereja, pura, kuil), pelaksanaan jam kerja di kantor maupun di pabrik.

Lalu dimana budaya ngaret itu terjadi ? Terjadi pada diri pribadi orang-orang yang memang tidak bisa atau belum bisa menghargai waktu. Di sekolah, pasti ada saja siswa yang datang terlambat. Mengapa ? Karena kesiangan bangun atau makannya lama. Mengapa bisa terjadi demikian ? Besar kemungkinan sang orang tua tidak atau belum pernah mengajarkan kepada sang anak bahwa menghargai waktu pelajaran sekolah adalah penting, karena itu berarti sang anak menghargai dirinya sendiri dengan datang tepat waktu sehingga pelajarannya tidak terganggu, karena toh bersekolah harusnya demi kepentingan sang anak, bukan untuk kepentingan orang tua.

Di perkantoran, baik itu di perkantoran pemerintah ataupun swasta, pasti masih sering terjadi karyawan yang datang terlambat. Mengapa ? Wah, kalau ditanya alasannya pasti bermacam-macam. Ada yang bilang kesiangan bangun, macet di jalan, motor rusak, mobil mogok dan lain-lain. Tapi saya yakin sebagian besar dari alasan itu adalah bentuk dari budaya tidak menghargai waktu. Saya rasa semua hal tersebut bisa dihindari jika kita bisa mengatur waktu dengan baik, sehingga tidak terlambat sampai di kantor. Kecuali ada hal-hal yang diluar kendali kita, seperti ban pecah, padahal kita sudah berangkat pagi sekali dari rumah. Tapi sebagian orang masih tidak segan menggunakan alasan yang bermacam-macam untuk menutupi kebiasaan ngaretnya. Mereka tidak bisa menghargai waktu yang sudah diberikan oleh management dan kesempatan untuk bekerja. Dengan ngaret, mereka telah menambahkan reputasi yang kurang baik kepada perusahaan. Dengan ngaret, mereka telah menghambat kerja rekan-rekannya atau malah beberapa perusahaan lain yang perlu bertemu dengan orang tersebut untuk menyelesaikan urusan pekerjaan. Dengan ngaret, berarti mereka memulai kerja lebih lambat dari rekan-rekannya, dan bisa dipastikan di akhir hari kerja masih akan ada tumpukan tugas yang tidak terselesaikan.

Marilah kita mulai dengan diri kita sendiri, untuk bisa menghargai waktu dengan datang tepat waktu. Karena dengan tidak ngaret, berarti kita menghargai rekan kerja kita, menghargai orang-orang yang sudah bersusah payah memberikan pekerjaan kepada kita atau menyiapkan sebuah kegiatan untuk kita. Atau seperti contoh pilkades hari ini, dengan tidak ngaret, panitia berarti menghargai kemauan masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam pemilihan ini.

Sebuah kegiatan yang dilakukan secara rutin dan terus menerus, akan menjadi suatu kebiasaan atau habit. Good habit is contagious – kebiasaan baik akan menular. Budayakan kebiasaan tepat waktu, hilangkan kebiasaan ngaret. Sebarkan habitus baru dalam bentuk tepat waktu, maka akan terasa bahwa hidup kita akan lebih teratur dan kita pun menjalaninya dengan tenang.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 17 : Kekuatan Senyum

Smile though your heart is aching
Smile even though it’s breaking
When there are clouds in the sky, you’ll get by
If you smile through your fear and sorrow
Smile and maybe tomorrow
You’ll see the sun come shining through for you

Light up your face with gladness
Hide every trace of sadness
Although a tear maybe ever so near
That’s the time you must keep on trying
Smile, what’s the use of crying ?
You’ll find that life is still worthwhile
If you just smile

Ini adalah salah satu lagu kesukaan saya, yang selalu membuat mata saya berkaca-kaca setiap mendengar liriknya. Lagu oldies, dinyanyikan oleh Nat King Cole dan dipakai sebagai soundtrack film “Charlie Chaplin”. Walaupun dinyanyikan dengan melodi yang melankolis, namun liriknya sungguh mengandung sebuah semangat dan motivasi untuk tetap optimis menghadapi hari demi hari hanya lewat sebuah senyuman.

Saya teringat dengan guru agama saya sewaktu di SMP dan SMA. Beliau tidak pernah berhenti mengatakan bahwa hal pertama yang harus dilakukan setelah kita bangun tidur di pagi hari adalah : menyisir rambut, tersenyum dan berdoa. Dulu saya tidak pernah memikirkan makna dari perkataan beliau. Saya mengingatnya karena menurut saya itu sebuah statement yang lucu karena hal pertama yang dilakukan adalah menyisir.

Namun setelah saya bekerja, menikah dan punya dua anak, dengan segala kehebohan yang terjadi setiap pagi, dengan seluruh masalah yang ada, saya kerapkali lupa untuk tersenyum. Hal pertama yang dilakukan di pagi hari adalah memasang muka serius dan langsung memikirkan mengenai hal-hal yang harus dikerjakan dan dicapai hari itu.

Dengan semakin bertambahnya usia, setiap selesai melakukan kegiatan di pagi hari, menyiapkan anak-anak untuk sekolah dan suami sudah pergi bekerja, lalu saya duduk dan beristirahat sejenak sebelum lanjut dengan kegiatan lainnya. Belakangan saya memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan flashback ke peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup saya.

Dan suatu saat, saya menyadari bahwa ada perbedaan yang besar saat saya memulai hari saya dengan tersenyum atau dengan cemberut.

Sebelumnya, saya ingin mengajak anda membaca sedikit ulasan yang saya peroleh dari detikhealth mengenai senyum :
… dibutuhkan lebih sedikit otot wajah untuk membuat seseorang tersenyum dibanding cemberut. Beberapa ahli menyatakan dibutuhkan 43 otot untuk cemberut dan hanya 17 otot untuk tersenyum.

Lalu disebutkan juga manfaat dari tersenyum : bisa mengubah suasana hati menjadi bahagia dan akhirnya membantu kita untuk berpikir positif, menular ke orang-orang di sekeliling kita, bisa meredakan stress karena mengubah suasana hati menjadi tenang, menurunkan tekanan darah, senyum bisa melepaskan endorfin (senyawa yang bisa mengurangi rasa sakit secara alami) dan serotonin yang bisa menimbulkan perasaan senang.

Para peneliti saja sampai tertarik untuk mengamati tentang senyum. Apalagi manusia, yang memang dibri kemampuan untuk tersenyum, tanpa bayar alias gratis.

Cobalah rasakan perbedaannya. Jika di pagi hari anda bangun terlambat sementara ada meeting penting yang harus dihadiri, boro-boro tersenyum, anda mungkin tidak sempat sarapan. Lalu bagaimana dengan sisa hari anda ? Ada kemungkinan anda akan mengalami hari yang mengesalkan karena terlambat datang ke meeting, ditegur oleh atasan, akhirnya mood bekerja menjadi tidak baik, dan segala sesuatunya lalu menjadi serba salah.

Nah, coba lakukan yang sebaliknya. Anda bangun, duduk di tempat tidur dan tersenyumlah selama 3 detik. Penuhi pikiran kita dengan rasa terima kasih sebab hari ini anda masih bisa bernapas dan hidup. Walaupun tugas menumpuk menanti anda, kemungkinan besar anda akan bisa melewatinya dengan tenang karena anda akan memulai hari anda dengan perasaan senang.

Tidak percaya ? Buktikan sendiri. Kegiatan yang sangat sederhana, gratis dan hanya memerlukan waktu 3 detik untuk melakukannya setiap pagi, namun sangat dahsyat efeknya.

You’ll find that life is still worthwhile
If you just smile …

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 16 : Kita Hidup Sekali, Matipun Hanya Sekali

Empat bulan belakangan ini saya membawa orang tua saya untuk tinggal bersama, karena ayah saya mengalami patah tulang sehingga tidak memungkinkan mereka hidup berdua di Bandung sementara saya tinggal di Cikarang.
 
Saya banyak belajar dari hal-hal kecil yang saya lihat sehari-hari, setelah saya tinggal satu atap lagi dengan mereka – karena setelah selesai SMA, saya meneruskan kuliah di luar Bandung dan tidak pernah tinggal bersama mereka lagi, sampai saat ini.
 
Semuanya sudah berubah total. Saya pasti sudah banyak berubah karena sekarang saya sudah memiliki tanggung jawab untuk mengurus suami dan dua anak saya. Mereka pun sudah berubah seiring dengan pertambahan usia mereka yang memasuki 70 tahun.
 
Kita tahu bahwa semakin usia bertambah, biasanya akan terjadi penurunan kemampuan berpikir, mengingat, bernalar ataupun belajar hal-hal yang baru. Dan saya menyaksikan hal itu terjadi pada orang tua saya, terutama terlihat dari cara bernalar.
 
Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan dari sisi medis, tetapi saya mengamati dari sisi seorang awam dan dengan kapasitas sebagai anaknya, bahwa ayah saya mengalami penurunan kemampuan bernalar terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. Jika ada suatu peristiwa kecil yang terjadi, maka reaksi pertamanya hanya ada dua, yaitu tidak peduli – jika ternyata peristiwa tersebut tidak mengganggunya. Reaksi kedua adalah menghadapi dengan emosi – jika memang ada keinginannya yang tidak diikuti.
 
Awalnya saya cukup kewalahan menghadapi perubahan seperti ini. Tapi setelah beberapa lama hal ini terjadi, kembali saya melakukan proses seperti biasanya : merenung dan melakukan self-reflection.
 
Hal pertama yang saya pelajari adalah bahwa dilihat dari kemampuan berpikir, ayah saya sudah kembali pada kemampuan berpikir seorang anak berusia 6-7 tahun. Jika kita melihat dari sisi negatif, kita akan melihatnya sebagai orang yang self-centered, tidak pernah memikirkan orang lain dan hanya bertumpu pada kesejahteraan dirinya sendiri. Padahal saya tahu persis bahwa ayah saya bukanlah orang dengan perilaku seperti itu. Tapi jika dilihat dari sisi positif, demikianlah proses alami yang terjadi pada lansia.
 
Hal kedua yang saya coba renungkan, mengapa kemunduran tersebut terjadi lebih cepat pada ayah saya dibandingkan pada ibu saya. Saya bukan seorang psikolog, sehingga saya hanya menggunakan naluri saya sebagai seorang anak dan seorang ibu, dalam melihat hal ini. Saya memperhatikan di alam bawah sadarnya, ayah saya mungkin saja berpikiran bahwa sudah saatnya untuk beristirahat, sehingga ayah sangat membatasi kegiatan fisiknya dan lebih banyak duduk diam walaupun orang-orang disekelilingnya sudah menawarkan berbagai bacaan ataupun kegiatan. Karena tersirat ayah saya ingin menghabiskan waktunya untuk ‘bersantai’ daripada beraktifitas secara fisik. Sementara ibu saya sudah pernah berkata bahwa beliau tidak mau berhenti beraktifitas selama masih mampu karena takut cepat pikun. Karena itu ibu masih bisa beraktifitas fisik yang ringan, termasuk memasak yang memang menjadi hobinya. Maka kesimpulan sementara saya adalah aktifitas fisik di usia lanjut ternyata bisa memperlambat penurunan daya berpikir kita.
 
Kondisi berkurangnya aktifitas fisik ini juga ternyata ada kaitannya dengan kemampuan bernalar. Dengan berkurangnya kegiatan fisik secara drastis, tidak hanya membuat kemampuan otot berkurang tapi ternyata juga mempercepat menurunnya kemampuan berpikir. Terlihat dari perubahan sikap ayah yang sekarang tidak mau jauh dari ibu, tapi jika sekilas diperhatikan, lebih terlihat seperti ketergantungan seorang anak kecil terhadap ibunya.
 
Jadi kalau anak saya saat berusia 7 tahun menjadi semakin aktif namun masih memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap ibunya, maka ayah saya saat ini sudah mengalami kemampuan fisik yang menurun namun tingkat ketergantungan kepada ibu saya semakin tinggi.
 
Menangani hal seperti ini memerlukan kesabaran yang berlipat ganda, jauh lebih banyak dibandingkan dengan saat kita menangani anak kita saat masih berusia 6-7 tahun. Dan sampai saat ini saya masih terus belajar dan belajar untuk bisa bersabar dan bijak menanggapinya.
 
Hal ketiga yang saya pelajari adalah jangan mengulang kejadian yang sama untuk hidup saya, hidup suami saya dan hidup anak-anak saya, juga hidup anda. Karena itulah saya berani menuliskan pengamatan saya terhadap orang tua, karena saya ingin kita semua mulai menyadari beberapa hal penting dari pengalaman pribadi saya ini.
 
1. Tidak dapat disangkal bahwa kita hidup dan bekerja untuk mengumpulkan uang agar kita dan keluarga bisa hidup layak, terutama anak-anak kita bisa memperoleh pendidikan yang layak. Tapi di satu titik, kita harus berhenti untuk tetap ngoyo bekerja, karena kita harus bisa mengenali tubuh kita sendiri, mengenali keterbatasan kemampuan fisik kita dalam mengikuti ritme hidup yang ada.

2. Namun hal tersebut bukan berarti kita harus membiarkan diri kita duduk diam dan tidak beraktifitas sepanjang hari. Karena otot tubuh kita tetap perlu dilatih agar tidak mengecil dan tetap bugar. Karena syaraf-syaraf otak kita perlu terus menerus distimulasi, agar tidak terjadi penurunan kemampuan daya pikir dan nalar yang bisa terjadi lebih cepat, padahal secara fisik kita masih cukup bugar.

3. Bangkitkan motivasi dalam diri untuk terus belajar, belajar dan belajar, walaupun mungkin hal tersebut hanya hal kecil, misalnya menggunakan remote televisi, mencoba untuk menulis apapun atau melakukan hal-hal kecil lainnya. Jangan pernah berhenti untuk belajar dari hal-hal di sekeliling kita.

4. Semakin usia bertambah, akan semakin banyak peristiwa dalam hidup yang akan kita lihat dan kita alami. Ingatlah untuk selalu dekat dengan Tuhan, mengisi batin kita dengan iman yang kuat, agar kita tidak bingung dan goyah jika menghadapi peristiwa dalam usia lanjut terutama jika sakit atau ’ditinggal’ oleh suami/istri kita.

5. Stay positive – seperti dalam tulisan saya beberapa hari sebelumnya, it’s not easy but it’s possible. Mulailah berpikir positif dalam segala hal dari sekarang , agar di usia lanjut, kita bisa menghadapi proses menjadi tua ini dengan pikiran positif. Melihat segala sesuatunya sebagai hal yang natural dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur karena sudah diberi umur yang panjang. Start to count your blessings.

6. Suami/istri dan anak-anak adalah ‘keluarga inti’ – saya membaca dari buku pelajaran anak saya saat dia duduk di kelas 1 SD. Dan menurut saya, pemahaman seperti itu perlu kita tanamkan dalam diri kita dan keluarga. Suami/istri dan anak-anak adalah orang terdekat dalam hidup kita yang seharusnya akan selalu siap jika kita ’jatuh’ dan menerima kita apa adanya. Maka jika suatu saat saya harus tinggal dengan anak-anak saya, karena keterbatasan fisik, saya sudah bertekad bahwa saya akan mencoba menerima kenyataan tersebut dengan lapang dada dan mencoba menikmati  momen tersebut. Momen indah yang tidak semua orang bisa mendapatkannya di akhir masa hidupnya, karena bisa menghabiskan sisa hidup kita bersama keluarga tercinta. Apalagi bersama pasangan hidup kita yang sudah bersama-sama melewati berbagai macam permasalahan rumah tangga.

7. Last but not least, enjoy your life – karena hanya itu yang bisa kita lakukan untuk membalas semua kebaikan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.
 
Semua hal tersebut harus kita mulai dari SEKARANG, jangan menunggu sampai usia kita 50 tahun. Karena semua yang tertulis tadi adalah perubahan mindset atau cara berpikir.
 
Kita hidup hanya sekali, mati pun hanya sekali. Karena itu nikmatilah hidup kita dengan mensyukuri segala sesuatu yang kita miliki dan menjalaninya dengan hati lapang.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 15 : Stay Positive

Kalau anda sudah bersusah payah memasak sebuah resep istimewa untuk keluarga, lalu tidak ada tanggapan apapun dari mereka, bagaimana reaksi anda ?

Kalau anda sudah bersusah payah membereskan rumah untuk sebuah acara keluarga besar, tapi ternyata tamu yang datang hanya seperempat dari undangan yang disebar, bagaimana reaksi anda ?

Kalau anda sudah menghabiskan waktu, pikiran dan energi untuk membuat sebuah proposal kerja, tapi tidak ada tanggapan dari atasan anda, bagaimana reaksi anda ?

Kalau anda sudah bersusah-susah mencari dan menyiapkan sebuah hadiah ulang tahun untuk teman, namun belakangan anda tahu hadiah tersebut sudah diberikan teman anda kepada orang lain, bagaimana reaksi anda ?

Teman saya berkata, selama kita masih menjadi manusia, wajar kalau kita mengalami rasa dongkol, marah, senang, sebel dan berbagai perasaan lainnya.

Mungkin mayoritas pembaca akan mengatakan reaksi awal adalah kecewa, marah, sedih dan berbagai eskpresi duka lainnya. Tapi saya juga yakin ada sebagian kecil dari pembaca yang bisa bereaksi dengan tenang.

Mengapa bisa demikian ? Jawabannya hanya satu : positive thinking. Kelihatannya sederhana, tapi pelaksanaannya tidak mudah.

Positive thinking adalah perilaku manusia dimana kita selalu memandang segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita ini dari sudut pandang yang positif.

Contohnya, jika kita sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyiapkan hidangan istimewa bagi keluarga, tapi tidak sepatah katapun keluar dari mulut suami dan anak-anak kita mengenai rasa masakan tersebut. Bagaimana kalau kita mencoba melihatnya dari sisi positif : mereka menghabiskan makanannya dengan tenang, berarti mereka menyukai rasa masakan tersebut.

Contoh kedua, jika setelah berhari-hari merencanakan dan mengubah lay out rumah untuk sebuah acara keluarga yang diduga bisa mengumpulkan sekitar 30 orang, namun kenyataannya banyak yang tidak bisa hadir, sehingga yang hadir hanya sekitar 10 orang. Yuk, kita melihat dari sisi positif : yang tidak datang memang karena mereka benar-benar tidak datang, dan lebih baik kita menjadi tuan rumah yang baik bagi 10 orang yang hadir saat itu. Bagaimana dengan makanan yang berlimpah dan berlebih ? Lihat lagi sisi positifnya : berarti kita bisa berbagai dengan sesama yang kurang mampu, misalnya para penjaga warung rokok dekat rumah, para petugas keamanan dan lain-lain.

Bagaimana dengan contoh lainnya, tentang ide-ide yang inovatif yang sudah dikemas dalam bentuk proposal yang rapi, namun tidak ada tanggapan sama sekali dari atasan kita. Sekali lagi, mari kita lihat sisi positifnya : barangkali sang atasan memang sedang sibuk sehingga belum sempat membaca proposal kita dan mungkin inilah saatnya kita bisa mencari jalan untuk mempresentasikan ide kita secara langsung tanpa menunggu sang atasan membaca proposal.

Sulit ? Sudah pasti. Mungkin dilakukan ? Sangat mungkin. Bagaimana caranya ? Berdamailah dengan diri sendiri, sehingga kita dimampukan untuk bisa melihat segala sesuatu dari sisi positifnya terlebih dahulu.

Membiasakan diri berpikir positif akan membantu kita mengikis rasa iri, cemburu, marah, benci. Sehingga yang tertinggal dalam hati hanyalah rasa senang, tenang dan rasa bersyukur.

Membiasakan diri berpikir positif juga akan membuat diri kita lebih tenang dalam menghadapi masalah hidup yang timbul karena bukan emosi yang kita manjakan.

Dan membiasakan diri berpikir positif akan membuat kita mensyukuri apa yang kita dapatkan selama ini dalam kehidupan kita.

Yuk, kita biasakan untuk berpikir positif. Dimulai dari diri kita sendiri, keluarga dan teman-teman, sampai ke orang di sekeliling kita.

Stay positive is not easy, but it’s possible !

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 14 : Gifts Differing

Judul di atas adalah judul sebuah buku tentang sebuah teori Personality Type yang dikenal dengan nama MBTI (Myers-Briggs Type Indicator). Saya sudah membaca buku ini karena memang ini merupakan buku yang wajib dipahami bagi semua orang yang mengambil sertifikasi untuk menjadi praktisi MBTI.

Tetapi saya tidak ingin membahas dan mengupas isi buku ini. Saya lebih tertarik pada latar belakang terbentuknya teori MBTI ini dan apa yang ingin disampaikan oleh sang penulis melalui buku ini.

Deangan tetap berlandaskan pada teori psikologi yang ada, MBTI telah berkembang menjadi sebuah teori dan tools yang banyak digunakan di dunia untuk mengetahui tipe kepribadian manusia. Dan yang unik dari teori ini adalah para praktisi bisa berasal dari kalangan psikolog maupun non psikolog.

Saya bukan seorang psikolog, tapi saya senang mengamati perilaku dan sikap orang-orang di sekitar saya dan mencoba memahami mengapa mereka bertingkah laku seperti itu. Mempelajari MBTI telah membantu membuka wawasan saya mengenai manusia.

Sebuah teori yang berlandaskan teori Carl Jung, seorang ibu yang bernama Katherine Briggs mengembangkan teori MBTI bersama dengan putrinya yang bernama Isabel Briggs-Myers. Sebuah kolaborasi yang mengagumkan yang bisa menjelaskan bahwa manusia sebenarnya bisa dilihat secara umum lewat 4 buah kutub yang berbeda.

Extroversion-Introversion : kutub pertama, yang menggambarkan bagaimana cara kita menyalurkan energi.

Sensing-iNtuition : kutub kedua, yang menggambarkan cara kita untuk menangkap informasi dan menginterpretasikannya.

Thinking-Feeling : kutub ketiga, yang menggambarkan proses decision-making seseorang.

Judgment-Perceiving : kutub terakhir, yang menggambarkan gaya hidup kita.

Banyak contoh yang bisa saya berikan untuk keempat kutub tersebut, tetapi inti dari teori ini yang selalu didengungkan oleh ibu dan anak ini adalah : INDIVIDUAL IS UNIQUE dan perbedaan yang ada diantara kita adalah sebuah karunia dari Tuhan.

Saat saya membaca kalimat tersebut, saya tersentak. Karena kalimat tersebut mempunyai makna yang sangat mendalam, terutama bagi diri saya. Sebelumnya saya selalu melihat bahwa orang-orang yang tidak bisa mengerti jalan pikiran saya ataupun yang berperilaku tidak sesuai dengan standar saya, adalah kumpulan orang aneh. Tapi mencoba memahami mereka, dengan teori psikologi apapun yang tersedia didunia ini, dan benar-benar mencoba memahami, maka mata hati kita akan seperti dibukakan, bahwa kita tidak bisa mengharapkan atau mengubah orang sesuai dengan standar kita. Manusia memang diciptakan sebagai mahluk yang unik dan tidak ada kembaran identiknya di dunia ini. Mulai dari penampilan fisik sampai dengan perilaku, kepribadian dan cara berpikirnya.

Perbedaan yang ada di antara kita, seharusnya bukan menjadi sesuatu hal yang dikutuk. Justru harusnya menjadi sesuatu hal yang patut disyukuri karena saya yakin rencana Tuhan adalah agar kita saling melengkapi.

Karena itu saya heran, mengapa saat ini, bahkan di negara saya sendiri, perbedaan yang ada baik itu dalam bentuk agama, keyakinan, kebijakan perusahaan, suku dan ras, semuanya dibuat sebagai alasan dan dasar untuk menciptakan keributan.

Coba kita lihat demo buruh besar-besaran beberapa bulan lalu yang sempat membuat lumpuh jalan tol Cikampek-Jakarta. Lalu berbagai macam kerusuhan yang terjadi dengan beralasan adanya perbedaan dalam berbagai hal. Kampanye dalam proses pilkada yang saling menyudutkan karena perbedaan yang ada. Belum lagi adanya pihak-pihak yang memanfaatkan hal tersebut untuk membuat berbagai macam keributan dalam berbagai bentuk, seperti teror bom, perkelahian antar desa dan lain-lain.

Saya rasa semua agama pasti akan mengajarkan hal yang baik dan pasti akan menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan diberikan akal budi. Akal budi – sesuatu yang hanya diberikan kepada manusia dan bukan mahluk hidup lainnya. Akal budi yang memampukan kita untuk menganalisa dan bertindak bijak. Akal budi yang seharusnya juga memampukan kita untuk bisa mengerti mengapa kita semua berbeda satu sama lain.

Nah, kalau ternyata saat ini akal budi kita malah dipakai untuk memikirkan bagaimana cara menghancurkan atau menyakiti sesama kita, apakah itu bukan berarti kita menyia-nyiakan karunia Tuhan ?

Kalau sebuah kalimat sederhana bisa membuat sekian banyak manusia menerima teori MBTI bahwa perbedaan diantara kita adalah anugerah, maka kitapun seharusnya bisa memahami hal tersebut.

Mari kita bersama-sama membayangkan betapa indahnya hidup kita jika perbedaan yang ada justru memperkaya kita. Apalagi Indonesia dikenal sebagai negara yang bisa membuat rakyatnya hidup berdampingan dengan baik dengan semboyannya Bhineka Tunggal Ika.

Atau haruskah para aparat pemerintah dibuatkan workshop mengenai MBTI agar mereka bisa melihat dan memanfaatkan perbedaan yang ada diantara mereka untuk bersinergi mensejahterakan rakyat, dan bukan saling memusnahkan demi kepentingan sendiri.

Marilah kita mulai ajarkan kepada anak-anak kita, kepada generasi muda kita, sebuah kalimat sederhana yang diyakini oleh sepasang ibu dan anak, Katherine dan Isabel, yaitu : GIFTS DIFFERING – perbedaan yang ada diantara kita adalah anugerah dari Tuhan.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 13 : Belajar, belajar dan belajar …

Baru beberapa hari yang lalu saya mendengar sebuah kisah tentang sebuah keluarga yang secara ekonomi bisa dibilang pas-pasan. Pihak orang tua kalang kabut mencari pinjaman uang untuk sang anak yang katanya dibulan September ini akan memulai kuliahnya di fakultas kedokteran di sebuah universitas swasta. Menurut mereka, keinginan sang anak sangat gigih sehingga tetap memaksa untuk masuk Kedokteran.

Kisah seperti itu sudah pernah saya dengar beberapa kali dengan dasar kasus yang sama, yaitu : menyekolahkan anak di jurusan favorit tetapi orang tua tidak siap dengan dananya.

Secara umum, kita melihat dua keganjilan disini. Yang pertama, mengapa masih ada orang tua yang tidak realistis, menyekolahkan anak di tempat yang berbiaya tinggi, tetapi tidak siap dengan dananya. Yang kedua, mengapa orang tua mengajukan dalih bahwa sudah tidak bisa lagi mengarahkan anaknya dalam hal memilih jurusan.

Sekilas terlihat seolah-olah semuanya adalah murni kesalahan orang tua : tidak ada perencanaan yang baik dan tidak mampu mengarahkan anak. Tapi ketidakmampuan mereka dalam kasus seperti ini adalah kontribusi dari latar belakang kehidupan mereka selama ini.

Mungkin latar belakang keluarga dan budaya orang tua seperti itu, contohnya mementingkan harga diri karena bisa sekolah di tempat yang ternama, tertanam pengertian bahwa jurusan-jurusan tertentu adalah jurusan yang wajib untuk dipilih, adanya indoktrinasi bahwa perencanaan keuangan bisa dilakukan belakangan tetapi yang terpenting adalah sang anak kuliah, walaupun orang tua harus hutang kemana-mana. Hal tersebut barangkali masih ditambah lagi dengan perilaku orang tua yang tidak mau membuka diri terhadap informasi yang ada, sehingga mereka hidup dengan pola pikir yang lama dan tidak mau belajar hal baru.

Saat ini, peran orang tua tidak hanya sebatas memberi makan, menyekolahkan dan mengajak anak untuk bermain. Tapi peran orang tua diharapkan lebih banyak lagi sebagai pendamping dan teman dalam berdiskusi di masa-masa sang anak sedang dalam proses menemukan jati dirinya.

Saat anak masih balita, mereka bergantung penuh pada orang tua. Tapi saat anak mulai remaja, kita harus belajar dan berusaha untuk menjadi teman mereka. Proses yang tidak mudah, karena saat mereka masih kecil, kita terbiasa memberikan instruksi kepada mereka.

Masa remaja adalah masa yang sulit, baik bagi orang tua maupun sang remaja. Jika kita berbicara dengan ‘instruksi’, mereka akan pergi. Jika kita berbicara sebagai teman, chances are mereka akan tertarik untuk mendengarkan. Masa remaja juga masa yang tepat untuk memberitahukan kepada anak mengenai kenyataan hidup.

Sama halnya dengan kasus dimana sang anak tetap ngotot untuk memilih jurusan yang mahal. Ketidakmampuan dan ketidaktahuan orang tua telah berkontribusi banyak sekali terhadap pola pikir sang anak. Saya pernah membaca seorang psikolog pernah berkata bahwa saat ini sebaiknya anak sejak dini mulai dikenalkan dengan konsep beasiswa, karena biaya pendidikan yang semakin lama semakin mahal.

Namun kembali lagi semuanya kepada kita sebagai orang tua, yang sebenarnya memiliki tugas yang berat yaitu mendampingi dan mengarahkan anak-anak kita agar bisa memilih jalan hidup yang baik.

Maka para orang tua, jangan lelah untuk terus belajar dan belajar, agar kita bisa mendampingi dan menemani anak-anak kita sampai mereka bisa mandiri.

INSPIRASI 30 HARI (Proyek Menulis 2 Ibu) – Day 12 : Ayah

Beberapa hari yang lalu saya mengantar ayah saya untuk kontrol ke dokter bedah tulang, sebab 3 bulan yang lalu beliau jatuh terserempet motor yang mengakibatkan tulang panggulnya patah. Suatu kondisi yang kurang menguntungkan mengingat usianya yang sudah memasuki 70 tahun.

Rasanya hari itu menjadi hari yang terpanjang dalam hidup, karena saya menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk kegiatan rontgen, konsultasi ke dokter bedah tulang, pengecekan oleh dokter rehab medik dan ditutup dengan fisioterapi. Ditambah dengan kondisi ayah yang belum boleh berjalan normal sehingga harus menggunakan kursi roda, namun sering harus buang air kecil karena ada masalah dengan prostatnya. Hari itu saya sempat beberapa kali ‘mengomel’ karena ‘kerewelan’ ayah saya.

Namun malam harinya saat sudah sempat beristirahat, ingatan saya terisi dengan rangkaian peristiwa di rumah sakit pada pagi harinya. Rasanya ada sesuatu yang membuat dada saya sesak.

Mengapa saya bisa sampai ‘sejahat’ itu ?

Saya langsung teringat ke masa kecil saya, saat ayah bekerja sampai malam hari sendirian menjilid buku nota pesanan, karena dulu beliau punya percetakan kecil. Betapa sayangnya beliau kepada saya karena dia menamakan percetakannya dengan mengambil nama depan saya. Saat ayah saya harus mengantar barang-barang cetakan kepada customer dengan motornya. Belum lagi ayah harus mengantar jemput ke-tiga anaknya saat masih kecil, karena sekolahnya cukup jauh dari rumah. Sementara itu kami belum memiliki rumah tinggal tetap, sehingga setiap 2-3 tahun kami harus mencari rumah kontrakan baru.

Setelah kami cukup besar, ayah saya menutup percetakannya dan kemudian beralih profesi menjadi sales alat masak dari Jerman. Saya masih ingat dengan jelas hampir setiap hari dari pagi sampai malam beliau pergi untuk mencari customer. Dan saat semua kerja kerasnya bisa mengantar beliau dan ibu saya untuk ikut rombongan jalan-jalan keluar negeri, sangat terlihat kebanggaan di wajahnya.

Dan kini di usia tuanya, dimana seluruh kejayaan masa mudanya sudah sirna dan digantikan oleh menurunnya fungsi tubuh satu persatu, tentunya beliau hanya bisa bergantung pada anak-anaknya.

Kalau rewel, sulit diberitahu, seharusnya saya bisa memahaminya. Karena memang siklus hidupnya sudah seperti anak kecil lagi. Sulit makan, suka ‘ngambek’ dan lain-lain, keadaan yang sama seperti saat anak saya masih berusia 5-6 tahun.

Kalau saya bisa melalui masa-masa balita dari anak saya, masakan saya tidak bisa melalui masa-masa tua ayah saya yang saat ini memang sudah seperti anak kecil. Kalau ayah saya dulu sama sekali tidak mengeluh dengan kerepotan yang ditimbulkan saat saya masih kecil, masakan saya tidak bisa menerima semua kerepotan yang ditimbulkan beliau saat ini. Sementara saya tidak akan pernah tahu sampai berapa lama saya masih bisa bersama-sama dengan ayah saya.

Bagi teman-teman pembaca yang saat ini orang tuanya masih dalam keadaan segar bugar, marilah kita selalu mengingat apa yang sudah mereka lakukan untuk kita selama ini. Jika di satu saat mereka terasa ‘merepotkan’, jangan mengeluh, karena itu adalah hal yang sangat alamiah. Kalau bukan kita yang mengurus, siapa lagi yang mengurus mereka. Mereka tidak pernah lelah menjaga kita, masakan kita tega merasa lelah mengurus mereka.

Orang tua adalah pemberian Tuhan yang tak ternilai harganya untuk kita. Merekalah yang sebenarnya patut disebut ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Mari kita nikmati saat-saat kita masih bersama orang tua kita. Saat-saat dimana kita masih bisa melihat senyum di wajah mereka. Seperti saat ayah saya bercerita dengan semangat yang terpancar di wajahnya tentang fisioterapinya, dimana beliau berhasil belajar menapakkan kakinya lagi dan sudah mencoba untuk berjalan. Karena suatu saat nanti, kita pasti akan merindukan momen-momen seperti itu.

Dedicated to my beloved father