REFLEKSI PESTA DEMOKRASI DI INDONESIA

Hari ini seluruh rakyat Indonesia yang sudah memenuhi persyaratan untuk ikut serta dalam pemilihan Presiden, dengan sangat antusias berbondong-bondong datang ke TPS yang telah ditentukan, untuk menggunakan hak pilihnya mencoblos calon pemimpin bangsa untuk 5 tahun mendatang.

Dari laporan pandangan mata selama seharian ini, banyak orang yang tidak mau menyerah begitu saja jika namanya tidak tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap. Yang sudah terdaftar dan bisa menjalankan hak pilihnya dengan baik, langsung merasa senang karena berharap Presiden terpilih ini akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Sungguh luar biasa bahwa dalam waktu 2 jam sejak ditutupnya Pemilu, ada 5 lembaga survei di beberapa stasiun televisi lokal yang sudah menayangkan hasil dari sekitar 92% sampel suara. Namun yang mengagetkan adalah bahwa tidak lama kemudian ke dua kubu langsung mendeklarasikan kemenangan mereka. Walaupun tetap di ujungnya mereka menyatakan bahwa mereka tetap menunggu real count dari KPU di tanggal 22 Juli nanti.

Banyak komentar di sosial media bahwa capres kali ini, keduanya tidak siap menang atau kalah.

Tapi menurut pendapat saya, memang orang boleh berbeda pendapat. Namun pernyataan mas Anies di televisi merupakan analogi yang sangat bagus. Mas Anies menjelaskan tentang perbedaan lawan dan musuh. Dalam setiap kompetisi, kita pasti punya lawan. Misalnya dalam bulutangkis, wajar kalau lawan melakukan smash. Tapi setelah pertandingan selesai, sang lawan akan kembali menjadi kawan. Tapi kalau sang lawan tiba-tiba melempar raketnya ke kita, itu namanya black campaign.

Maka setelah hari ini dibuka dengan menjadi pemilih pertama di TPS saya (karena saya menghindari antri), lalu sampai sekitar jam 3 sore dag dig dug melihat hasil quick count, dan sekarang masih melihat berita tentang kedua capres yang sedang berkumpul dengan para pendukungnya, saya mencoba berefleksi tentang pilpres kali ini.

1. Jangan pernah under estimate atau merendahkan rakyat. Rakyat kita tidak bodoh. Walaupun mungkin pengetahuan politiknya minim, termasuk saya juga seperti itu, tapi kami selalu berusaha melihat dan menggunakan hati nurani kami dengan cerdas, dalam menentukan pilihan.

2. Ternyata kaum elite politik di Indonesia belum matang. Saat kedua kubu saling memberikan deklarasi kemenangan, hal tersebut membuat rakyat bingung. Saya malah geleng-geleng melihat komentar seorang host talk show di sebuah stasiun televisi yang sedikit menyindir : apakah calon nomor 2 yang menang atau kita punya 2 presiden.
Lalu agak malam, mulai ada yang ‘mencolek-colek’ Ahok, katanya Ahok memprediksi Jokowi menang. Lho, Ahok sudah menyatakan itu dengan terus terang koq. Dan itu hak beliau walaupun beliau memilih nomor 1.

3. Indonesia yang sudah dikenal dengan kedewasaannya dalam pemilu yang LANGSUNG, UMUM, BEBAS, RAHASIA – sedikit ternoda dengan adanya perbedaan hasil dari 7 lembaga survei yang muncul di berbagai stasiun televisi. Dua asosiasi yang menaungi lembaga survei di Indonesia sudah memberikan pernyataan tentang hal tersebut. PERSEPI (Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia) menyatakan akan melakukan audit tentang metodologi yang dipakai. Sementara dari Asosiasi Survei Indonesia menyatakan bahwa kesalahan perhitungan itu wajar dan berkaitan dengan kapabilitas/kemampuan periset – namun kebohongan tentang data berkaitan dengan integritas periset. Saya yakin orang-orang yang bekerja dalam lembaga-lembaga survei tersebut adalah orang berpendidikan. Saya hanya berharap agar tidak ada kebohongan dalam pelaksanaan quick count.

4. Saking uniknya capres tahun ini, terus terang saya salut dengan tingkat antusiasme yang sangat tinggi dari WNI yang tinggal di luar Indonesia untuk menggunakan hak pilihnya. Dan saking hebohnya dan uniknya pilpres tahun ini, membuat kedua anak saya yang baru menginjak remaja, menjadi tertarik untuk bertanya dan mengikuti perkembangan quick count hari ini.

Sebagai penutup, saya bangga menjadi rakyat Indonesia. Karena rakyat Indonesia adalah rakyat yang punya hati nurani cerdas karena mau menggunakan hak pilihnya demi kemajuan bangsa. Saya bangga karena rakyat Indonesia sebenarnya sangat menjunjung tinggi demokrasi karena terbukti berhasil melakukan ‘pemilu langsung’ selama ini.

Hendaknya sekian ratus juta rakyat Indonesia, termasuk saya, dihargai keberadaannya oleh para elite politik Indonesia. Kami tidak perlu tanda jasa. Kami hanya perlu mereka meletakkan negara diatas kepentingan pribadi, sehingga tidak ada lagi korupsi, semua bekerja bersama untuk memajukan kesejahteraan bangsa.

Sebuah rangkaian syair yang indah dalam lagu ‘Indonesia Pusaka’ yang merupakan refleksi hati rakyat Indonesia :

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai, dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata …

Me-time

Wanita diciptakan Tuhan untuk menjadi mahluk yang multi tasking, dalam berbagai wujud. Tanpa melihat motivasi, latar belakang dan kualitas dari hasilnya, wanita itu memang luar biasa.

Bayangkan, ada wanita yang karirnya sangat hebat. Tapi biar bagaimanapun dia masih berusaha untuk mengasuh anaknya dan menemani suaminya. Atau ada ibu rumah tangga yang full time membereskan pekerjaan rumah, mengasuh anak, memasak untuk keluarga, tapi masih sempat berjualan makanan. Kalau kita lihat para pengemis di jalanan, walaupun mungkin yang digendong bukan anaknya, tapi dia tetap multi tasking. Mengemis (karena dikejar setoran oleh boss premannya), sekaligus mengasuh anak yang dipinjamnya.

Saya sendiri seorang wanita, yang merasakan bahwa secara tidak tertulis, saya memang dituntut dan dibentuk oleh hidup saya untuk bisa melakukan berbagai hal dalam waktu yang bersamaan. Dan saya bisa bilang bahwa hal tersebut todak mudah. Butuh latihan bertahun-tahun dan kesabaran yang sangat besar. Saya sendiri masih kurang sabar koq, tapi saya menyadari bahwa kodrat kita adalah ‘bertangan banyak’.

Tapi hari ini, di saat saya harus menyiapkan segala keperluan di rumah, lalu siang langsung buru-buru pergi karena harus mengantar anak saya ke Jakarta, saya menyadari satu hal yang mungkin selama ini saya anggap sepele.

Kebetulan anak saya harus latihan tari yang memakan waktu sekitar 2 jam. Setelah mengantar anak saya ke studio tari, saya minta kepada sang ‘sutem’ (supir tembak – baca : supir sewaan) untuk mengantar saya ke sebuah mall besar yang tidak jauh dari studio tari. Disana saya mencari tempat yang enak, tenang dan bersih. Saya duduk di pojokan, memesan minuman dan mulai bekerja. Saya merasa waktu berlalu dengan sangat efektif. Saya berhasil mengerjakan beberapa pekerjaan, bahkan sempat menulis satu artikel untuk blog saya dan masih sempat pula chatting dengan rekan kerja karena ada yang harus diselesaikan.

Setelah dua jam berlalu, saat saya sedang berjalan ke lobby mall tersebut, tiba-tiba saya sadar bahwa ada yang berubah di dalam diri saya. Rasanya hati menjadi ceria, badan menjadi segar, dan tidak ada rasa lelah sama sekali. Dalam perjalanan pulang ke Cikarang, saya berpikir apa yang bisa membuat saya seperti itu. Dan jawabannya ternyata sangat sederhana. Saya perlu ME-TIME. Time for myself, just thinking about what I want to do not what I have to do.

Me-time, dimana saya berada dalam sebuah tempat yang baru, dimana saya bisa memperhatikan hal-hal yang baru namun sekaligus bisa menjadi diri sendiri tanpa khawatir ada teman atau relasi yang memperhatikan.

Frekuensi saya mengunjungi mall di Jakarta adalah jarang. Karena itu efeknya cukup signifikan. Namun esensi dari sedikit pengalaman saya tersebut adalah : percayalah pada orang/majalah/film yang mengatakan bahwa kita harus menghargai diri sendiri, yang sudah melakukan yang terbaik (menurut versi masing-masing) untuk keluarga. Jadi boleh dong kita memberikan hadiah untuk diri kita sendiri dengan ME-TIME.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menikmati ME-TIME. Namun saya merasa dua jam ME -TIME saya hari ini telah memberikan energi baru dalam diri saya. Seperti layaknya handphone yang baru di-charge.

Jangan pernah merasa bersalah untuk meluangkan waktu agar dapat menikmati ME-TIME.

We deserve it ….

MFM-CP

HIDUP DAN RODA

Orang bilang, hidup itu seperti roda. Kadang kita diatas, kadang kita dibawah. Kadang kita berjaya, kadang kita ditimpa banyak masalah.

Kalau kita sedang berjaya, rasanya dunia ini milik kita. Semua orang menjadi teman kita. Segala sesuatu terasa lebih mudah didapat. Tapi sangat terbuka kemungkinan kita akan lupa untuk berterimakasih dan terus mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kalau kita sedang ditimpa banyak masalah, kita cenderung mencoba memecahkan masalah itu dengan kekuatan kita sendiri. Atau dengan kekuatan orang lain. Kalaupun kita ingat Tuhan, kita cenderung marah dan protes, mengapa kita jadi susah.

Orang bilang, hidup itu seperti roda. Baik diatas maupun dibawah, hanya satu yang patut disyukuri. Bahwa Tuhan masih sayang pada kita, sehingga kita masih diberi kesempatan untuk bisa menjadi dewasa secara iman dan kepribadian, lewat pengalaman hidup yang menyenangkan dan menyedihkan.

Kalau Tuhan saja tidak pernah habis menyayangi kita, apakah kita tidak punya keinginan untuk balas menyayangi Dia? Kita hanya perlu selalu ingat Tuhan dalam setiap peristiwa kehidupan kita. Selalu bersandar pada Dia jika kita sedang dalam keadaan sedih, marah, putus asa, tertekan.

Orang bilang, hidup itu seperti roda. Roda yang tidak pernah protes ketika ada di bawah, dan tetap bersatu dengan bagian lainnya saat berada diatas. Karena dia selalu menyatu dengan poros roda, yang merupakan sumber kekuatannya.

Orang bilang, hidup itu seperti roda. Tidak hanya selalu berganti posisi, tapi tetap menyatu dengan sang poros yang menjadi kekuatannya. Bisakah kita bersikap seperti roda?

Raditya Dika – sang blogger cerdas

Hari ini merupakan hari yang melelahkan bagi saya. Mulai dari mengurus perbaikan dokumen dan verifikasi data untuk pembuatan e-ktp, mendapat kabar bahwa anak saya terpeleset di sekolah sehingga pahanya luka dan memar, sampai ban mobil yang kempes karena tertusuk paku.

Namun di tengah hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, saya berusaha untuk mencari hal-hal baik yang terjadi di hari ini, yang masih membuat saya bersyukur bahwa saya masih diberi hidup.

Dan hari ini, hal yang menyenangkan dan patut disyukuri adalah keikutsertaan saya dalam sebuah acara talk show yang diselenggarakan oleh developer perumahan di tempat saya tinggal, dengan seorang blogger yang sudah sangat sering terdengar namanya : Raditya Dika.

Saya cukup kaget melihat partisipan yang hadir, semakin sore semakin memadati ruangan, dan mayoritas adalah kaum muda, baik mahasiswa maupun para karyawan. Selama ini saya hanya mengenal Raditya Dika sebagai seorang blogger yang ngetop karena bukunya yang berjudul “Kambing Jantan” dan “Manusia Setengah Salmon”. Lalu saya juga mendengar bahwa Raditya juga seorang stand up comedian, sebuah profesi yang baru saja nge-trend di Indonesia. Tapi saya tidak ingat bagaimana raut wajahnya dan selama ini belum merasa perlu untuk mengenalnya lebih jauh.

Namun begitu acara dimulai, saya memperhatikan cara Raditya berkomunikasi dengan audience. Memang topiknya bukan melulu blogging atau menulis, tapi menyinggung juga sedikit mengenai wirausaha. Konsentrasi dan perhatian saya terfokus pada cara Raditya melakukan komunikasi dua arah dengan MC maupun dengan audience.

Raditya Dika adalah seorang entertainer sejati. Dia pandai mengolah kata, selalu tersenyum dan berani melakukan kontak mata dengan audience, lontaran joke-nya tidak terkesan menghina – tetapi lebih terkesan cerdas. Saya belum pernah membaca bukunya, tetapi kalau dari berbicara saja dia sudah mampu membuat audience terbawa suasana, maka saya yakin tulisannya pun akan demikian.

Contoh yang sederhana adalah saat ada seorang mahasiswa bertanya, apakah isi buku pertamanya itu benar-benar kejadian dalam kehidupannya sehari-hari ? Raditya menjawab memang benar, walaupun ada beberapa bagian yang memang dia kembangkan sesuai dengan imajinasinya. Lalu dia memberikan contoh bercerita tentang kucingnya yang bernama Alfa, yang dicoba dijodohkan dengan kucing pilihan keluarga, tetapi malah jatuh cinta dengan kucing tetangga depan rumah. Pihak keluarga merasa sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Padahal kucing tetangga itu ngga oke banget, karena kerjaannya cuma berdiri di dekat tiang listrik. Tapi Alfa tetap backstreet dengan kucing tetangga ini dan malah sekarang sudah hamil diluar nikah. Saya sampai terbahak-bahak mendengar ceritanya itu, karena diceritakan dengan demikian lancarnya, dengan muka yang serius namun lucu, seolah-olah hal tersebut adalah perbuatan manusia. Padahal itu cuma cerita tentang seekor kucing, yang diolah pembawaan dan kata-katanya oleh Raditya dengan begitu baiknya.

Namun dari pengalaman pribadi yang dia share dengan audience, kemudian berbagai joke yang segar dan cerdas yang dia lontarkan, saya mendapatkan sebuah tambahan ‘ilmu’ dari Raditya tentang menulis :

1. Berangkatlah dari kegelisahan pribadi atau kejadian sehari-hari, contohnya tentang kucing tersebut. Sebuah hal kecil, namun bisa dikembangkan menjadi sebuah cerita yang unik dan lucu.

2. Kreatif dalam menulis dengan menggabungkan pengamatan dan cara penyampaian cerita. Itulah yang membuat sebuah kisah bisa menjadi menarik.

3. Kita patut untuk mencoba dan berjuang untuk sesuatu yang kita senangi. Contohnya bahwa bukan penerbit yang mendatangi Raditya untuk menerbitkan buku pertamanya, tapi Raditya yang mendatangi dan memaksa sang editor untuk langsung membaca naskah tulisannya saat itu juga.

Memang tidak menjadi jaminan bahwa jika kita bisa melakukan semua hal tersebut, lalu kita akan menjadi terkenal seperti Raditya. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana Raditya bisa sampai kepada pemikiran seperti itu, pemikiran yang telah membuatnya dikenal banyak orang.

Memperhatikan bagaimana Raditya membagi pengalamannya tentang menulis dan menjawab pertanyaan para orang muda tentang bagaimana menjaga semangat menulis dan lain-lain, saya merasa Raditya adalah orang yang gemar membaca, sebab dia bisa menjawab semua pertanyaan teknis yang ada. Dan itu tidak akan terjadi jika dia tidak mempelajarinya dari buku atau internet.

Dia juga adalah orang yang berpikir sederhana dan pengamat yang baik, terlihat dari caranya menggoda peserta yang sedang bertanya, caranya melontarkan joke yang enak didengar namun tidak terkesan klise dan juga terlihat dari cuplikan cerita yang dia tulis di bukunya.

Tidak pernah sekalipun dia menggunakan kalimat dengan kosa kata yang ‘canggih’, semua kata-kata yang dipakai adalah kata-kata umum yang kita gunakan sehari-hari. Tidak pernah sekalipun dia menggunakan contoh saat sedang keluar negeri, dia lebih senang bercerita tentang pengalaman sehari-hari. Dan tidak pernah sekalipun dia lupa memberi semangat kepada para peserta yang bertanya, bahwa jangan putus asa, menulislah terus.

Sungguh sebuah pengalaman yang sangat mengesankan, bertemu dengan seorang pria muda dengan passion menulis yang sangat kuat, dengan pemikiran yang sederhana bahwa pengalaman hidup keseharian adalah hal yang bisa dijadikan bahan tulisan, dan bahwa kita harus bisa menghargai kemampuan diri kita sendiri walaupun itu cuma ‘menulis’.

Dalam perjalanan pulang, saya sempat melihat tweet terakhir yang dia kirim – kelihatannya terinspirasi dari acara tersebut, dia menulis :
SARAN PALING GAMPANG BUAT YANG MAU NULIS : JANGAN NGELUH. JANGAN NGELUH SUSAH, GAK KOMERSIL, GAK ADA WAKTU, TAKUT JELEK. SHUT UP AND WRITE.

Count Your Blessings

Pasti teman-teman sering mendengar kalimat bahwa hidup ini hanya sekali, hidup ini harus dinikmati, uang tidak berarti kalau kita sakit, kesehatan adalah segalanya. Percayalah, teman-teman, semuanya itu 1000% benar.

Saya berterima kasih kepada Tuhan karena saya telah diberi kesempatan untuk melihat dan mengalami betapa hidup ini perlu disyukuri apa adanya walaupun itu mungkin bisa merenggut kesehatan dan kebugaran kita saat kita masih muda.

Saya bisa menulis daftar yang panjang tentang bagaimana orang-orang di sekitar saya bereaksi menghadapi hidup mereka yang suatu saat terganggu dengan masalah kesehatan.

Beberapa contoh adalah :
1. Teman baik saya yang tinggal di Jakarta, beberapa tahun lalu menderita sebuah penyakit yang hampir saja merenggut nyawanya. Tapi dengan keuletannya untuk berjuang melawan penyakitnya ditambah dengan imannya yang kuat bahwa Tuhan Maha Pengasih, sekarang dia sudah sehat dan bisa beraktifitas seperti biasa.
2. Suami saya, yang tahun lalu benar-benar kesakitan dan ternyata ada masalah dengan jantungnya, setelah menjalani proses yang panjang untuk penyembuhan, dan dengan kemauannya untuk berhenti merokok dan benar-benar menjaga makanannya, saat ini sudah sehat, walaupun harus sedikit mengurangi aktifitas fisik di kantor.
3. Ibu saya yang baru saja diberitahu dokter mengidap hipertensi, sempat panik dan stress karena merasa mengidap sebuah penyakit yang mengerikan. Tapi dengan kemauannya yang kuat untuk bisa sembuh, beliau mematuhi semua petunjuk dokter dan hasilnya saat ini tekanan darahnya terkontrol dengan baik.
4. Namun ayah saya, yang baru saja terjatuh dua bulan yang lalu, sehingga mengakibatkan tulang panggulnya patah, sampai saat ini masih belum bisa berjalan normal karena tekadnya untuk sembuh terhalang oleh keinginannya untuk diperhatikan sebagai orang yang kurang sehat.
5. Baru saja dua hari yang lalu, saya mengetahui teman baik saya yang tinggal di Jakarta juga, ternyata beberapa bulan lalu dinyatakan menderita sesuatu di jantungnya. Dia belum bercerita banyak, tapi dia sudah memberikan pernyataan bahwa sekarang saatnya dia harus menjalani hidup dengan senang karena dia tidak mau penyakitnya datang lagi.
6. Keponakan dari teman saya yang menderita kanker di kakinya, mungkin karena usianya yang masih remaja, tekadnya untuk bisa melawan penyakit terkadang naik terkadang turun. Namun saat tekadnya untuk sembuh sedang tinggi, ternyata Tuhan memanggil dia untuk kembali ke pangkuanNya.
7. Kemarin saya baru mendapat kabar bahwa mantan tetangga saya juga terkena stroke yang mengakibatkan bagian memorinya terganggu dan bicaranyapun agak terganggu. Tadi saya baru saja menengoknya, terlihat bahwa sang istri sedang berjuang juga untuk membantu dan mendukung suaminya karena sang suami terlihat depressed dengan kondisinya saat ini.
8. Beberapa tahun lalu, anak dari teman saya yang berusia masih sangat kecil terkenan leukemia. Sewaktu saya menjenguknya, sang anak terlihat sudah kelelahan dengan rasa sakitnya. Dan beberapa minggu kemudian, saya mendapat kabar bahwa dia sudah pergi.
9. Beberapa teman saya di lingkungan gereja, yang saya tahu tidak dalam kondisi sehat walafiat, tapi tetap bertekad untuk sembuh dan tetap aktif dalam pelayanan kepada sesama, membuat saya salut dengan kegigihan hidup mereka.
10. Bahkan anak-anak saya pun terlihat berjuang mengatasi penyakitnya saat mereka sakit, walaupun mereka masih memerlukan dukungan orang tuanya 100%.

Kalau ditulis satu per satu, tidak akan ada habisnya. Tapi ada beberapa poin penting dan esensial yang saya bisa ambil dari semuanya itu.

Bahwa tekad untuk bisa sembuh atau melawan sakit yang kita derita itu, harus ditumbuhkan dari awal. Bukan di tengah, bukan di akhir. Sama seperti orang yang ingin berhenti merokok atau minum minuman keras, tekad untuk bisa bangkit lagi baru bisa berkembang jika dimulai dari diri kita sendiri, bukan dari orang lain. Jika anda tidak menyayangi diri sendiri, maka bertekadlah untuk sembuh demi orang-orang yang anda cintai, terutama keluarga.

Dan keluarga adalah pihak yang paling dekat yang bisa menjadi booster bagi kita untuk bisa bangkit dari sakit penyakit. Menjadi tidak berdaya memang merupakan cobaan yang berat, tapi jika semua dilalui bersama-sama, hand-in-hand dengan pasangan dan anak-anak, disertai dengan doa, maka saya selalu yakin semuanya akan bisa diatasi dengan baik.

Apa yang mau kita perbuat setelah kita berhasil melewati semuanya itu ? Bersyukurlah atas seluruh hidup yang sudah kita jalani, tanpa menilai apakah hidup itu dilalui dengan suka ataupun duka. Bersyukurlah bahwa ternyata Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk berada di dunia ini bersama-sama dengan keluarga tercinta. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah syukurilah rahmat tersebut dengan mengubah pola hidup menjadi pola hidup sehat dan bahagia.

Cobalah untuk memulai dan menutup hari dengan merenungkan betap banyak berkat yang kita dapatkan. Saya yakin setiap hari kita akan bangun dan beraktifitas dengan semangat dengan selalu berpikiran positif bahwa setiap detik yang ditambahkan dalam hidup kita adalah kesempatan kedua yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

Eksklusifitas – Perangkap yang Tidak Terlihat

Ada sebuah fenomena menarik yang saya lihat dari beberapa teman saya di kantor tempat mereka bekerja. Berawal dari kegemaran mereka untuk makan, mereka membentuk sebuah komunitas kecil dan berlanjut dengan memberi nama komunitas mereka. Setelah beberapa bulan saya amati, awalnya semuanya baik, karena mereka menjadi lebih solid dalam hal pertemanan, menyempatkan diri untuk sekedar makan malam bersama jika ada salah satu yang berulangtahun. Tapi lama kelamaan, komunitas kecil tersebut kemudian mulai menunjukkan eksistensinya dengan cara-cara sederhana, yang saya yakin tujuannya juga sebenarnya baik, yaitu misalnya berjanji memakai baju dengan dress code yang sama di hari tertentu, berfoto bersama saat istirahat dan lain-lain.

Apakah ada yang aneh dengan komunitas tersebut ? Saya cenderung tidak menyebutnya sebagai komunitas, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai kelompok. Karena mereka tidak menambah atau bahkan mencari member. Hanya sekian saja jumlah anggotanya.

Sebenarnya yang perlu diwaspadai adalah adanya sebuah perangkap yang tidak kita sadari. Kelompok kecil tersebut secara tidak sengaja telah menuju ke arah ‘eksklusifitas’. Dalam bahasa Indonesia, kata ‘eksklusif’ diterjemahkan sebagai sesuatu yang khusus atau bagian yang terpisah dari yang lain.

Dulu pernah ada teman saya yang sangat marah dikatakan bahwa kelompoknya adalah kelompok eksklusif. Karena ternyata pengertian teman saya adalah bahwa eksklusif itu adalah keadaan dimana sebuah kelompok terdiri dari orang-orang berduit.

Padahal dimanapun juga kita bisa menjadi eksklusif dengan cara menunjukkan jati diri kelompok atau komunitas dengan cara yang terlihat secara signifikan oleh umum.

Pernah satu saat sewaktu saya masih bekerja, saya diberi sebuah tim baru yang terdiri dari 3 orang staff dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, namun kami memiliki satu tugas yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu dan tidak ada negosiasi. Maka sebagai leader dari grup kecil tersebut, saya merasa bahwa hal terpenting adalah membawa grup saya melalui proses pembentukan tim yang baru dengan cepat, sehingga kami bisa bekerja sama dengan baik untuk tugas tersebut. Dan syukurlah team work dan bonding diantara kami berlangsung cukup cepat dengan memanfaatkan waktu luang disela-sela kerja untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi apa yang dilihat oleh boss saya? Saya dipanggil dan diberitahu bahwa adalah hal yang kurang baik saya membuat tim yang eksklusif.

Maka dari ketiga cerita diatas, terlihat nyata betapa kita mudah terbawa ke arah eksklusifitas dan betapa orang lain mudah menilai kelompok atau komunitas kita eksklusif atau tidak.

Mari kita coba lihat dari ketiga peristiwa tersebut :
Peristiwa 1 : kelompok kecil yang berawal dari kegemaran yang sama ternyata sekarang mulai menuju ke arah eksistensi kelompok dan mungkin orang akan menilai mereka menjadi eksklusif.
Peristiwa 2 : teman saya marah karena dikatakan eksklusif, sebab ternyata masih ada orang yang belum mengerti arti kata tersebut.
Peristiwa 3 : dengan tujuan menumbuhkan team work dan bonding di tim saya yang baru, ternyata orang lain melihat saya membentuk sebuah tim yang eksklusif.

Nah, karena itu teman-teman, marilah kita bersama-sama merenungkan bahwa walaupun sebuah kelompok memerlukan jati diri, hendaklah kita tidak membuat sesuatu yang ‘eksklusif’, yang terpisah dari yang lain. Kita patut berempati dengan perasaan orang di sekeliling kita, bukan penilaian mereka, karena mungkin sebagian orang akan melihat kita menjadi anggota dari sebuah grup yang eksklusif dengan seragam yang berbeda atau sandi-sandi yang dipakai dalam berkomunikasi dan lain-lain. Mungkin kita yang berada dalam kelompok tersebut merasa nyaman dan senang. Tapi apakah kita pernah berpikir bahwa mungkin orang-orang di sekitar kita sebenarnya juga ingin berteman dan bergabung dengan kita ?

Eksklusifitas adalah perangkap yang tersedia dimana-mana. Untuk bisa membuat diri kita aware/mawas diri, tumbuhkanlah empati dalam diri sehingga kita akan selalu melihat orang di sekeliling kita. Kita memang tidak perlu dan tidak akan pernah bisa membuat semua orang senang. Tapi setidaknya, sebelum kita melakukan sesuatu, hendaklah mata kita seperti mercusuar yang melayangkan pandangan ke sekeliling kita. Jadikanlah kelompok atau komunitas anda inklusif, bisa bergaul dengan siapa saja. Hindari terperangkap dalam eksklusifitas. Jika ada orang yang memberi masukan bahwa kelompok anda eksklusif, jangan marah, tapi pikirkan dan renungkan. Mungkin bukan maksud anda untuk berbuat seperti itu, tapi ada baiknya untuk sedikit menahan diri agar tidak terlihat seperti itu oleh orang-orang di sekeliling kita.

So, be inclusive, stay away from exclusivity.

Tertekan Dalam Belajar

Suatu hari di sebuah kursus bahasa Inggris, semester baru dimulai dengan sang guru mengajak siswa untuk bersama-sama membuat Classroom Rules. Poin classroom rules tiba pada poin yang disetujui seluruh siswa yaitu : jika ada siswa yang merusak barang dalam kelas, maka siswa tersebut harus menggantinya.

Yang terjadi kemudian adalah hal yang tak terduga. Robert, sebutlah nama siswa tersebut, adalah siswa yang pendiam dan biasanya kooperatif. Tiba-tiba setelah poin tersebut disetujui, Robert langsung keluar kelas.

Sewaktu ditanya oleh sang guru tentang hal tersebut, Robert menjawab : “Aku capek, miss. Tadi habis les matematika, kepalaku pusing. Jadi aku tertekan….”

Robert adalah siswa kelas 4, namun sudah bisa mengekspresikan perasaannya dimana hidupnya penuh dengan berbagai macam les. Dengan satu kata yang mengherankan yaitu : TERTEKAN.

Padahal sewaktu tahun 80-an, jarang sekali anak SD yang penuh dengan berbagai macam les. Dan mungkin perasaan tertekan itu juga tidak kita rasakan.

Tetapi apakah salah orang tua sehingga anak harus mengikuti berbagai macam les ? Tidak juga, karena dasar pemikiran orang tua adalah agar berbagai macam les tersebut bisa menunjang si anak agar lebih mengerti materi yang diberikan di sekolah.

Lalu berarti kesalahan ada pada sekolah ? Tidak juga, karena sekolah memberikan materi sesuai dengan kurikulum pendidikan nasional dari Departemen Pendidikan Nasional.

Jadi berarti kesalahan ada pada Diknas ? Mungkin juga. Karena seharusnya materi yang diberikan kepada anak-anak harus sesuai dengan perkembangan dan kematangan pribadi anak.

Kalau kita perhatikan, materi yang diterima oleh anak-anak SD jauh lebih tinggi daripada sewaktu saya masih sekolah di SD. Apalagi yang sudah duduk di bangku SMP dan SMA.

Sebaiknya memang perlu dilakukan survey yang menyeluruh mengenai kurikulum yang saat ini dipakai di Indonesia. Apa tujuan akhir yang ingin dicapai ? Apakah memang tujuan tersebut sudah tercapai ? Apakah anak-anak di Indonesia memang mampu mengikuti kurikulum tersebut sesuai dengan usia mereka ? Jika mengadopsi kurikulum dari negara tetangga, apakah sudah benar-benar dipertimbangkan kelebihan dan kekurangannya ? Dan apakah dengan nilai akademis seorang anak bisa diukur kualitas dan keberhasilannya ?

Pertanyaan yang banyak dan memerlukan usaha yang banyak juga untuk menjawabnya.

Seorang manusia yang baik dan berguna bagi bangsa dan negaranya adalah manusia yang memiliki akhlak yang baik, kepribadian yang positif. Kemampuan akademis adalah hal formal yang diperlukan untuk melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan, tetapi bukan yang utama.

Apakah pernah dipertimbangkan bahwa tidak semua anak Indonesia disa diberi tekanan untuk ‘jago’ dalam matematika, fisika dan hal-hal eksakta lainnya ?

Pernahkan dipikirkan sesuai dengan teori Multiple Intelligence bahwa ada anak-anak yang memiliki intelegensia dalam hal linguistik/bahasa, seni, kemampuan motorik kasar/sport, dan lain-lain ?

Ayo, para orang tua, apakah ada opini atau pendapat mengenai hal ini ? Apakah kita sebagai orang tua bisa berbuat sesuatu agar tidak ada lagi anak-anak kita yang mengekspresikan keadaan dirinya dengan kata TERTEKAN. Belajar seharusnya merupakan pengalaman yang menyenangkan, bukan pengalaman yang menakutkan.

Empati Dalam Era Globalisasi

Tadi pagi saya bersama teman memutuskan untuk pergi ke tempat pijat refleksi langganan kami yang terletak di dalam kompleks perumahan kami. Karena kami adalah pelanggan pertama pada pagi hari itu, maka saya disodorkan remote control TV. Setelah pencet sana pencet sini, akhirnya jari saya berhenti di channel yang kebetulan saat itu memutar sebuah film science fiction yang sangat menarik. Karena tidak ada permintaan lagi, maka kami beramai-ramai nonton film tersebut selama refleksi.

Berselang setengah jam, datanglah seorang ibu yang mungkin middle aged, dengan selendang dan kacamata hitam. Dari sejak datang memang ibu tersebut sudah cukup heboh dan mungkin beliau habis terjatuh atau terkilir karena jalannya pincang.

Sambil duduk menunggu terapisnya datang, ibu ini melihat layar televisi. Pas pada saat itu adegan yang terjadi adalah adegan dimana ada sepasang kekasih sedang – maaf – berciuman. Tapi itu terjadi sangat singkat dan sudah berganti ke adegan pertempuran.

Tiba-tiba ibu itu berdiri dan dengan suaranya yang cukup lantang untuk didengar oleh kami semua dalam ruangan itu, dia meminta remote control TV dan berkata – entah ditujukan kepada siapa – bahwa : “kita ganti aja, ini filmnya terlalu ekstrim, kita cari yang ringan-ringan saja, musik saja lah …”

Dan tanpa ada kata-kata, beliau langsung mengganti channel. Tak lama kemudian karena tidak jadi dipijat, ibu tersebut langsung pulang.

Bagaimana reaksi semua orang yang ada dalam ruangan itu ? Hanya satu : bengong. Bagaimana dengan saya sendiri, sampai malam harinya saya masih terbayang-bayang dengan kejadian tersebut. Bukan karena saya marah sebab film yang menarik tersebut tidak bisa saya tonton selama beberapa menit. Tetapi saya lebih melihat dua hal penting dari kejadian tersebut.

Pertama, kita sebagai orang Timur, bukankah sangat menjunjung tinggi sopan santun dan etika berkomunikasi ? Dengan cara ibu ini langsung melakukan ‘sabotase kecil’ dengan remote control AC, menunjukkan bahwa beliau merasa tidak perlu bertanya apakah film tersebut sedang ditonton atau hanya salah pencet channel. Nah, kalau generasi middle-aged nya seperti itu, saya bertanya dalam hati, bagaimana dengan generasi muda di keluarga ibu ini. Bukankan anak-anak dan remaja selalu mencontoh segala tingkah laku dari orang tua mereka?

Yang kedua, sekarang adalah jaman globalisasi. Dari satu sisi, adegan seperti itu adalah bumbu sebuah film dan kebetulan film itu memang film untuk orang dewasa. Dari sisi lain, yang ada disitu semuanya orang dewasa, sudah menikah semua. Hanya karena ada scene yang beliau tidak berkenan, bukan berarti beliau punya hak untuk melakukan sensor dengan memindah channel.

Kalau kita gabungkan kedua hal tersebut, hal penting yang bisa ditarik sebagai kesimpulan adalah bahwa kita sebagai orang yang sudah ‘dewasa’ secara usia, sudah sewajarnyalah bisa beradaptasi dengan dunia dan teknologi saat ini. Memang kita mesti memberikan ‘pagar-pagar’ untuk anak kita, tapi bukan berarti kita memperlakukan anak seperti anak bayi. Dilihat dari cara ibu itu bertindak, dimana beliau langsung men-judge bahwa adegan tersebut ekstrim dan langsung mengambil kontrol dalan ruangan tersebut, maka bisa kita bayangkan bagaimana generasi muda di keluarga mereka akan bersikap. Tidak ada empati dengan lingkungan sekitar dan tidak bisa beradaptasi dengan teknologi dan globalisasi.

Hari gini kalau kita sebagai orang tua melarang anak-anak terlalu banyak, wah, mereka akan semakin penasaran dan akan menemukan cara untuk mencari tahu sendiri. Bukankah itu lebih berbahaya ?

Hari gini, kalau kita sebagai orang tua tidak bisa menumbuhkan empati anak-anak untuk bisa bersosialisasi dengan baik dengan semua orang, wah …. kasihan mereka nantinya kalau sudah masuk dunia kerja.

Jadi para orang tua, banyak-banyaklah membaca mengenai parenting skill. Banyaklah mengikuti ‘social media’ yang membahas mengenai parenting. Agar kita tidak terjebak ke dalam pola pengasuhan anak yang kolot dan tidak terbuka.

Anak adalah titipan Tuhan, jadi jangan mencoba membentuk anak sesuai dengan gambaran kita. Tugas kita di dunia ini hanyalah membimbing mereka agar tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar untuk diikuti.

THINKING vs FEELING

Dalam sebuah teori mengenai kepribadian/personality, disebutkan bahwa manusia adalah mahluk yang unik, namun secara garis besar biasanya mereka memiliki kecenderungan/preference dalam hal menyalurkan energinya, cara memahami lingkungan sekitarnya, cara mengelola kehidupannya dan cara memecahkan permasalahan dalam hidupnya.

Saya baru saja mengalami sebuah diskusi dengan seseorang dimana terlihat sekali kecenderungan manusia dalam mencari solusi untuk permasalahannya. Secara garis besar, inti permasalahannya adalah Janitor/Office Girl yang bekerja di tempat kami sudah mengatakan akan mengundurkan diri setelah Lebaran tahun ini dengan alasan keluarga. Karena Lebaran sudah dekat, maka saya langsung memulai usaha untuk mencari orang pengganti agar tidak kelimpungan nantinya. Tanpa sengaja, lewat seorang teman saya mendapatkan kandidat pengganti. Namun saya ingin melihat dulu hasil kerjanya sebelum saya memutuskan akan memperkerjakan sang kandidat ini. Awalnya sang kandidat akan masuk di hari yang sama dengan Office Girl kami dimana kami akan meminta si karyawan lama untuk memberitahukan apa saja yang harus dikerjakan selama satu hari dan kami akan melihat hasil pekerjaannya sehingga bisa memutuskan apakah orang ini bisa bekerja dengan baik.

Namun sejalan dengan waktu, tadi siang saya berubah pikiran. Saya mempunyai ide untuk melakukan pendekatan yang sedikit berbeda. Saya tetap meminta kandidat ini untuk masuk dan mencoba bekerja selama setengah hari saja, namun karyawan lama tidak perlu masuk. Tapi saya akan meminta asisten saya yang baru, untuk mengajarkan orang baru ini sekaligus melihat hasil kerjanya bersama-sama, kemudian memutuskan bersama mengenai kelanjutannya.

Sebenarnya perubahan ide ini didasari dengan pertimbangan sederhana yang logis yaitu :
1. Memberi kesempatan kepada asisten saya yang baru, untuk ‘take in charge’ atas Office Girl yang baru karena memang hal tersebut merupakan bagian dari tanggung jawabnya.
2. Memberi gambaran kepada calon karyawan kepada siapa nantinya dia akan berkoordinasi.
3. Berusaha mencari pendekatan yang memungkinkan kami mengambil keputusan dengan obyektif tanpa adanya tambahan penilaian dari karyawan yang lama.
4. Manusia punya kecenderungan untuk merasa ‘dibutuhkan’, sehingga pasti ada rasa ‘tidak aman’ jika mengetahui sudah ada calon penggantinya walaupun dia masih bekerja sebulan lagi.
5. Saya selalu mempunyai prinsip bahwa masalah harus dicari solusinya secepat mungkin, apalagi jika menyangkut urusan sumber daya manusia.

Semua perubahan ide dan pertimbangan logis tersebut saya sampaikan kepada asisten saya yang sudah lama bekerja dengan saya, karena saya ingin melihat pertimbangan dan pemikirannya. Tanggapannya memang mengejutkan – bukan dalam arti tanggapannya aneh, tetapi dalam arti bahwa teori personality tersebut terbukti dari sebuah kasus kecil seperti ini. Tanggapan dari asisten saya yang senior ini sederhana koq : dia khawatir karyawan lama ini malah bertanya-tanya jika ada temannya yang bekerja di ruko sebelah kami melihat ada orang baru yang sedang membersihkan ruko kami.

Sebelum menganalisa perbedaan cara pandang tersebut, saya ingin berbagai mengenai teori tersebut dimana kecenderungan manusia untuk memecahkan masalah biasanya terbagi menjadi dua kutub yang melibatkan kombinasi antara empati dan logika, yaitu :

Kutub 1 : disebut tipe THINKING, dimana biasanya kita mendahulukan cara berpikir dengan logika untuk memecahkan masalah, setelah itu barulah dikombinasikan dengan unsur empati untuk mencari solusi yang terbaik

Kutub 2 : disebut tipe FEELING, dimana biasanya kita mendahulukan empati dan berkeinginan kuat untuk membuat lingkungan sekitar semuanya merasa senang dan nyaman, baru setelah itu memasukkan unsur logika untuk memutuskan

Jadi dari penjelasan tersebut, terlihat dengan jelas bahwa saya adalah orang dengan preference THINKING dimana saya selalu mendahulukan logika untuk memutuskan sesuatu. Sementara asisten senior saya adalah orang dengan preference FEELING dimana dia berkeinginan kuat memastikan agar semua pihak merasa tidak tersakiti dengan pendekatan yang ada. Apakah salah satu pemikiran tersebut ada yang salah ? Apakah saya adalah orang yang kejam karena tidak mau berempati dengan karyawan lama ? Apakah asisten senior saya adalah orang yang tidak berpikiran maju karena selalu mendahulukan perasaan orang sebelum memutuskan sesuatu.

Jawabannya adalah TIDAK ADA YANG SALAH. Justru keadaan seperti itu bisa dimanfaatkan dengan baik jika kita bisa mensinergikan perbedaan tersebut dan bisa dengan lapang dada menerima pemikiran dan cara pandang yang berbeda seperti itu. Cara pandang asisten senior saya juga telah membantu saya untuk bisa lebih berempati dengan karyawan lama saya dan memikirkan bagaimana saya harus menjelaskan jika memang sang karyawan lama bertanya kepada saya. Saya juga berharap asisten senior saya bisa mengambil hal positif dari logika saya.

Namun inti dari semuanya itu adalah bahwa kita memang adalah mahluk unik yang diciptakan Tuhan dengan cara berpikir yang tidak pernah sama. Bahkan dalam hal yang sederhana sekalipun.

Jadi bersyukurlah atas segala yang ada dalam diri kita. Dan bersyukurlah jika kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa melihat dan mengalami bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki cara pandang berbeda dengan kita. Hindari untuk melihat mereka sebagai orang yang ‘aneh’, tetapi cobalah untuk memahami mereka dan pakailah cara pandang mereka untuk ‘memperkaya’ batin kita.

Kegiatan Positif Saat Libur : Sekelompok Anak Usia 12 Tahun Mencoba Kerja Magang Sederhana

Berawal dari sejak berakhirnya UN (Ujian Nasional) untuk kelas 6, dimana kebetulan sekolah anak saya ternyata meliburkan siswa kelas 6 selama sebulan. Tentu saja saya merasa kaget mendengar hal tersebut dari anak saya karena saat itu anak yang lain masih aktif bersekolah dan menurut saya seharusnya siswa kelas 6 tetap datang ke sekolah agar dapat tetap dimonitor oleh guru dan memiliki kegiatan terarah.

Setelah itu saya berpikir bagaimana caranya agar anak saya tidak menghabiskan waktunya dengan nonton tv atau main-main internet. Yang pasti, kegiatan tersebut haruslah baru dan melibatkan beberapa temannya.Lalu saya teringat pada teman saya yang memiliki sebuah toko yang menjual part-part atau item elektronik seperti kabel, stop kontak, IC dll. Saya coba tanyakan apakah teman saya membutuhkan tenaga untuk melakukan stock taking di tokonya.

Akhirnya setelah disetujui, saya berbicara dengan anak saya dan menjelaskan konsep magang atau internship. Saya tawarkan kesempatan tersebut dan menanyakan apakah dia tertarik. Jawabannya : tertarik. Lalu kami bersama-sama mencari 3 orang temannya yang orangtuanya saya kenal.Setelah itu saya menelpon orang tua mereka, dalam hal ini para ibu, dan menawarkan apakah mereka mengijinkan anaknya untuk ikut dalam program magang di tempat teman saya selama libur ini. Tentunya ada sedikit uang saku yang sudah disiapkan. Tapi bukan itu tujuan utamanya. Tujuannya adalah untuk mengisi waktu mereka dengan kegiatan yang positif sekaligus memberikan pengalaman baru bagi mereka tentang rasanya ‘bekerja’.

Beberapa hari sebelum program magang dimulai, saya mengumpulkan mereka dan menjelaskan mengenai konsep magang dengan term kerja yang sangat mudah yaitu : tugas mereka adalah menghitung barang dan menuliskannya pada kartu stock, periode bekerja adalah sekitar 9 hari dan hanya dilakukan setiap hari Rabu sampai Jumat, dibagi dalam dua kelompok dan hanya bekerja selama 3 jam saja.Untuk lebih memberikan gambaran dunia kerja, saya buatkan sebuah Perjanjian Kerja yang sangat sederhana dimana didalamnya tertulis mengenai jam kerja, datang harus tepat waktu dll.

Akhirnya hari pertama dimulai dimana teman saya menjelaskan mengenai cara kerja dan juga memberitahu jangan hanya menghitung tetapi cobalah untuk belajar mengenai item yang ada. Diakhir hari, saya bertanya kepada anak saya, bagaimana rasanya bekerja. Jawabannya : capek. Ternyata setelah saya coba kumpulkan data, ketiga anak yang lain juga memiliki komentar yang sama : capek.

Namun walaupun ada yang kecapekan seperti anak saya yang selalu makan dengan sangat ‘lahap’ setiap pulang kerja, ada yang ‘mutung’ karena terlalu capek sebab pagi harinya baru main futsal dengan teman-temannya, ada yang berencana tukar hari karena ada rencana main dengan teman, ada yang berkata bahwa tidak mau lagi kerja menghitung seperti ini ; yang mengagumkan adalah keempat anak ini pada akhirnya tetap dengan semangat dan konsisten menyelesaikan periode kerjanya selama 9 hari.

Selayaknya usia anak kelas 6, mereka masih malu-malu untuk bertegur sapa dengan karyawan toko, sehingga tidak tahu nama mereka. Tapi saya mendorong anak saya untuk bertanya siapa nama mereka dan alangkah baiknya kalau bisa berinteraksi dengan mereka. Saya juga diberitahu bahwa mereka tidak mau mengambil jatah air mineral yang sudah disediakan. Mungkin malu ya …

Yang lebih menarik lagi adalah saat pembagian uang saku. Sesuai dengan permintaan teman saya, mereka dibuatkan kartu ucapan terima kasih yang dilaminating dan dimasukkan ke dalam amplop. Reaksi mereka ternyata bermacam-macam. Anak saya loncat-loncat kegirangan menerima honornya dan langsung punya rencana banyak dengan uang tersebut (tentu saja upah tersebut tidak akan bisa mengakomodasi semua rencananya ). Ada yang dengan bangga mengatakan dia akan membawa uang hasil kerjanya saat nonton bareng dengan teman-temannya ke mall dan berencana untuk belanja buku dll. Tapi ada juga yang sama sekali tidak melihat isi amplopnya dan keesokan harinya ibunya menemukan amplop tersebut di tempat sampah dan setelah dicek, uangnya masih ada dalam amplop, dan saat diberitahukan kepada anak tersebut, reaksinya hanya ketawa saja.

Sampai  saat ini saya belum sempat berbicara lagi dengan keempat anak tersebut. Namun saya yakin bahwa mereka sudah mendapat ‘essence’ dari program magang yang sederhana ini, bahwa untuk mendapatkan sesuatu, kita harus berusaha. Dalam hal ini, untuk mendapatkan tambahan uang saku di hari libur, mereka harus bekerja.

Reaksi mereka yang beraneka ragam memang mencengangkan, tapi sekaligus juga menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga dan unik untuk saya. Bagian terbaik yang saya sangat hargai adalah komitmen dan konsistensi mereka dalam menyelesaikan tugasnya. Walaupun saya yakin pasti ada hari-hari dimana godaan untuk bolos pasti sangat besar. Sama seperti kita, dimana terkadang timbul kejenuhan untuk berangkat kerja di pagi hari.

Dan yang membuat saya bersyukur adalah saat saya mendengar beberapa cerita dari para ibu tentang kegiatan anaknya yang membuat mereka stress, yaitu main sepeda seharian atau malah asyik main game online di rumah dari pagi sampai malam.
Saya juga bersyukur bisa mendapat advice dan moral support dari mbak Nina (@AnnaNinaSurti) saat hendak melaksanakan ide ini. Beliau juga yang mendorong saya untuk menuliskan pengalaman saya ini di blog dengan harapan agar bisa dibaca oleh para orang tua.

Di belahan dunia barat, anak bekerja saat liburan adalah hal yang wajar sepanjang pekerjaannya memang sesuai dengan usianya. Dan kita sebagai orang tua bisa membantu menciptakan lapangan kerja tersebut dengan mengandalkan kreatifitas kita dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Gunakan koneksi dengan teman yang memiliki toko atau usaha sendiri. Pilihlah jenis pekerjaan yang cocok. Jadilah pendengar yang baik bagi mereka. Anda pasti akan kagum dengan nilai-nilai hidup dan cara pandang mereka dalam proses ini.

Saya bersyukur saya bisa mewujudkan ide dengan bantuan mbak Nina, teman saya dan juga dukungan dari para ibu mereka. Saya berharap anak-anak berempat itu bisa mendapatkan pengalaman yang positif dari program magang yang sederhana ini.
Saya masih memiliki keinginan untuk terus mencari kesempatan seperti ini lagi saat anak saya libur panjang, sehingga mereka bisa mendapatkan pengalaman positif. Kita boleh menyediakan seluruh sarana prasarana dengan teknologi canggih seperti internet dan gadget yang bagus dan hebat. Tapi jangan lupa untuk mengajarkan nilai kehidupan (value of life) dengan cara yang sederhana dan kreatif agar anak kita bertumbuh menjadi orang yang bisa bersosialisasi dengan semua orang dari berbagai kalangan karena mereka memiliki EMPATI.