The Millenium Parenthood – Day 07 : KOMUNIKASI – Two Different Wor(l)d

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

Beberapa minggu belakangan ini saya sedang menghadapi situasi unik di rumah. Pertanyaan yang timbul dalam benak saya adalah : mengapa anak saya yang sudah remaja tumbuh menjadi remaja yang seolah tidak punya nilai hidup yang baik ? Kemana semua nilai hidup yang sudah kami ajarkan selama ini ?

Lalu semalam saya mencoba mencari referensi dengan browsing di internet. Dan saya menemukan sebuah artikel yang sangat menjawab pertanyaan saya tadi. Artikel ini saya baca di http://www.empoweringparents.com. Saya tersenyum membacanya karena saya menyadari bahwa dunia saya dan dunia anak saya adalah BERBEDA.

Saya baru menyadari bahwa di saat saya sedang mencoba untuk mengingatkan anak remaja saya tentang betapa pentingnya mengingat tentang sopan santun, cara merapikan kamar dan meja belajarnya, sebenarnya saat itu yang ada dalam pikirannya adalah bahwa aku cantik, aku sedang ‘suka’ dengan temanku, aku ingin beli buku tentang boy band yang sedang ngetop di Amerika sekarang, dan berbagai macam ‘persoalan’ yang timbul di usianya yang baru memasuki masa remaja.

Akhirnya yang terjadi adalah sebuah adegan yang lucu, saya sebagai ‘sang ibu’ sedang bicara tiada henti sementara putri saya sebagai ‘sang remaja’ hanya diam mendengarkan namun pikirannya sedang berjalan-jalan entah kemana.

Terkadang saya merasa putus asa, merasa sedih memikirkan mengapa putri saya sekarang tumbuh menjadi remaja yang sulit diberitahu dan diatur, padahal dulu dia adalah anak yang manis dan menyenangkan.

Diberitahu dan diatur – sebuah kalimat yang pada akhirnya perlu dipertanyakan ulang. Dari sisi siapa kita melihat ? Dari sisi orang tua. Kita ‘menilai’ bahwa anak remaja kita sulit diberitahu dan diatur. Bagaimana dari sisi mereka ? Pernahkah kita memikirkan tanggapan mereka. Saya baru menyadari bahwa putri saya ternyata merasa ’banyak dikritik’ oleh saya.

Maka terjadilah benturan. Pihak orang tua merasa sedih dan putus asa karena ’nasehatnya’ tidak didengar, sementara sang remaja merasa dirinya terlalu diperhatikan dan banyak dikritik.

Two different world, two different words. Tidak akan bertemu di tengah-tengah jika tidak ada kompromi dari kedua belah pihak. Dan kompromi hanya akan bisa terjadi jika timbul kerelaan dari diri masing-masing untuk mau berkorban bagi pihak lainnya.

Tidak ada pengorbanan secara fisik, tidak ada harta atau uang yang dikorbankan, tidak ada harga diri yang dipertaruhkan. Yang diperlukan hanya kerelaan untuk menyediakan waktu, pikiran dan hati untuk mau membuka pikiran dan terbuka terhadap satu sama lain.

Saya pun saat ini masih sering mengalami kesulitan untuk bisa rela mendengar dan memahami putri saya. Apalagi putri saya yang masih sangat belia. Namun semua itu adalah proses. Dan proses itu akan berjalan jika dimulai dari pihak orang tua, kita yang sudah lebih lama hidup di dunia ini dan sudah pernah mengalami masa remaja, walaupun kondisinya sangat jauh berbeda.

Tidak pada tempatnya jika kita langsung menuntut anak remaja kita untuk lebih bisa mengerti kita. Mereka masih sangat muda dan baru saja mulai untuk bisa melihat dunia dengan segala macam permasalahannya.

Kompromi yang paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah belajar mendengar dan mengerti dunia mereka. Mencoba mengerti bahwa lagu-lagu One Direction (grup boyband yang saat ini sedang nge-top) itu adalah sangat COOL. Mencoba mengerti bahwa lagu-lagu SNSD dan Wonder Girl, serta tariannya adalah sangat KEREN. Mencoba mengerti bahwa sinetron Putih Abu Abu itu menarik sekali. Dan sekaligus mencoba mengerti bahwa mereka tidak bisa mengerti mengapa orang tuanya masih suka mendengar lagu-lagu Harvey Malaiholo, ayah dan ibu selalu ribut tentang meja belajar yang rapi padahal mereka sendiri tidak merasa itu menjadi masalah.

Belajar untuk mendengar dan belajar untuk mengerti dunia remaja, adalah dua hal mendasar (menurut saya) yang paling penting kita pelajari. Cara menasihati dan lain-lain itu adalah prioritas ke-sekian.

Saat ini saya mengalami bahwa belajar mendengar akan lebih mudah jika kita sudah belajar untuk mengerti dunia remaja. Saat ini saya belum bisa mengerti dengan sepenuhnya. Saya masih sering mencoba berpikir dengan logika saya dan buka dengan cara berpikir remaja.

Dunia remaja adalah dunia yang ’unik’, penuh dengan permasalahan mulai dari jerawat, model rambut, pertemanan sampai gaya bicara. Dunia remaja adalah dunia yang tidak mudah dimengerti dengan logika, karena didalamnya bercampur segala macam emosi dan perasaan, tanpa ada batasan dan definisi kapan dan dimana perasaan itu bisa timbul. Dunia remaja adalah dunia yang penuh dengan tanjakan dan turunan, suka dan duka, sedih dan gembira, marah dan tertawa, yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja.

Mungkin sampai putri saya sudah dewasa nanti, saya belum dapat memahami 100% dunia remaja. Namun setidaknya dalam hidup ini saya sudah berusaha untuk mencoba mengerti, walaupun saya harus rela berkorban waktu, pikiran dan perasaan saya untuk bisa melakukan hal tersebut. Yang saya selalu ingat adalah bahwa saya melakukannya untuk anak saya, yang sudah ada dalam rahim saya selama 9 bulan. Maka apalah artinya waktu, tenaga dan pikiran yang harus saya sediakan saat ini untuk bisa memahami putri saya.

Two different world, two different words. Akan bertemu di tengah-tengah jika kita mau belajar mengerti dunia mereka dan belajar mendengar.

It’s not easy but it’s possible.

Slide presentasi dari posting ini dapat dilihat dan diunduh di : http://goo.gl/2W7lE

The Millenium Parenthood – Day 06 : KOMUNIKASI – Berbicara Tentang Seks Dengan Remaja (Bagian 2)

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

Setelah di bagian 1 kita berbicara mengenai hal-hal apa saja yang perlu diberitahukan kepada anak remaja kita tentang seks dan bagaimana cara menyampaikannya, maka di bagian ke 2 ini saya ingin berbagi mengenai beberapa ide sederhana dan menarik untuk menyampaikan mengenai seks kepada anak remaja kita.

Dari penulis Corey di SimpleMom, digabungkan dengan sedikit pengalam pribadi saya, memang ada beberapa ide menarik dan mudah untuk dilakukan seperti misalnya :

1. Mulailah membiasakan diri menyampaikan tentang seks dari sejak usia sekolah, tergantung kesiapan mereka.
Mulai dengan cara menggunakan istilah organ reproduksi secara benar. Tentunya sesuai dengan berkembangnya usia, maka kita dapat menambahkan sedikit demi sedikit informasi mengenai seks. Hal ini juga akan membantu orang tua untuk mengikis rasa malu dan tabu saat berbicara tentang seks dengan anak, jika dimulai saat anak masih di jenjang SD. Mengapa demikian ? Karena anak usia sekolah cenderung tidak bertanya hal-hal yang serius mengenai hubungan pria dan wanita, sehingga tanpa disadari kita juga berlatih untuk menyampaikan hal yang lebih serius saat anak kita memasuki usia remaja.

2. Berinisiatif untuk memulai pembicaraan.
Misalnya dengan menggunakan contoh nyata, ada teman kita yang sedang hamil. Gunakan kesempatan tersebut untuk bicara soal bayi yang berada dalam perut ibu. Sekali lagi, tentu saja disesuaikan dengan kesiapan dan usia anak dan remaja.

3. Saat menyampaikan tentang konsekuensi hubungan seks di luar nikah dan lain-lain, hindari bersikap menggurui dan menasehati. Jika kita terlihat ngotot dalam memberitahukan hal tersebut, terbuka kemungkinan anak remaja kita malah penasaran mengapa orang tuanya sedemikian takut. Jangan sampai mereka malah mencoba-coba mencari tahu dengan cara yang kurang baik.

4. Ide yang sangat menarik untuk saya adalah memberikan contoh nyata mengenai kencan.
Corey memberikan ide yang sangat bagus. Salah satu hal yang perlu dimengerti oleh remaja adalah bahwa hubungan seks adalah sebuah kegiatan fisik yang selayaknya dilakukan dengan pasangan hidup kita yang terikat dalam sebuah ikatan pernikahan. Untuk bisa melalui tahapan pernikahan, pria dan wanita perlu saling mengenal lebih jauh lewat ’kencan’.

Maka jika Anda memiliki anak remaja putri, ada baiknya suatu saat sang Ayah mengajak remaja putrinya ’on a date/kencan’. Jika Anda memiliki remaja putra, tidak ada salahnya sesekali sang Ibu mengajak remaja putranya untuk ’kencan’.

Kesempatan ini memiliki banyak sekali nilai positif yaitu :
• Menghapus image yang diberikan dari film-film yang ada, bahwa sebuah kencan pasti akan diakhir dengan hubungan seks
• Kencan bertujuan untuk saling mengenal calon pasangan, sekaligus mengenal diri kita sendiri mengenai perasaan yang kita miliki untuk lawan jenis
• Ayah atau Ibu bisa menunjukkan bagaimana cara kencan yang masih dalam batas normal yang sesuai dengan usia dan kematangan remaja, misalnya bahwa bergandengan tangan bisa memberikan kenikmatan jika dilakukan dengan perasaan, bahkan hanya dengan mengobrol juga akan menjadi sebuah momen yang baik untuk kencan.
• Ayah dapat menunjukkan bagaimana contoh pria yang baik dan sopan saat mengajak remaja putrinya berkencan, misalnya berpakaian sopan, mau mendengarkan dia berbicara, membukakan pintu saat di tempat ramai. Ibu juga bisa menunjukkan kepada remaja putranya bagaimana seharusnya mereka bertindak jika suatu saat mereka mengajak teman perempuan mereka untuk berkencan, bagaimana sikap dan perilaku seorang perempuan yang baik saat diajak kencan.

Bagi saya, iden ini luar biasa. Kegiatan yang sederhana, karena kita tidak harus mengajak anak remaja kita ke restoran mewah, tapi momen yang diperoleh adalah sangat istimewa. Saya berniat untuk mencobanya.

5. Berikan informasi yang akurat sesuai dengan usianya.
Jangan memaksakan berbagi cerita tentang kehamilan di luar nikah dengan anak usia 9 tahun. Atau tentang burung bangau yang membawa bayi untuk dimasukkan ke perut ibu dan diceritakan kepada anak remaja kita.

6. Berilah penjelasan mengenai nilai hidup/values Anda mengenai seks.
Ini adalah tanggung jawab utama Anda sebagai orang tua. Jika anak remaja bisa mengerti dan memahami nilai-nilai positif yang kita berikan, maka hal tersebut akan menjadi ’pagar pelindung’ mereka dari hal-hal yang tidak baik. Misalnya nilai kehidupan bahwa suami/istri adalah satu-satunya orang dimana kita bisa melakukan hubungan seks dengan kenikmatan dan kepuasan yang seharusnya. Bahwa ada batas-batas saat kita berpacaran, dimana mereka harus bisa menghormati diri sendiri dengan cara menjaga diri saat berpacaran, misalnya tidak membiarkan dirinya sembarangan ’disentuh’ oleh sembarang lawan jenis.

7. Ciptakan suasana nyaman dengan cara mencari ide untuk mengajak bicara di saat anak remaja sedang santai, atau sambil jalan keluar jajan dan sebagainya. Pesan yang harus diterima anak remaja kita adalah bahwa berbicara mengenai seks degan orang tua adalah hal yang menarik dan menyenangkan.

Mungkin sebagian pembaca akan melihat kegiatan ini adalah kegiatan yang sederhana dan akan mudah dilakukan. Dan sebagian lagi akan berpikir seribu kali untuk mencoba melakukannya karena merasa hal ini adalah hal yang berat untuk dilakukan.

Saya yakin para penulis diatas, sudah pernah mencoba mempraktekkan hal yang mereka tulis kepada anak remaja mereka sendiri. Saya pun sudah mulai mencoba mempraktekkan dengan remaja putri saya.

Selama kita melakukannya dengan pemikiran bahwa ini semua demi kepentingan anak remaja kita yang sangat kita cintai, maka yakinkan diri Anda bahwa semuanya akan bisa dilalui dengan baik.

It’s not easy but it’s possible.

Slide presentasi dari posting ini dapat dilihat dan diunduh pada : http://goo.gl/JIvKd

The Millenium Parenthood – Day 05 : KOMUNIKASI – Berbicara Tentang Seks Dengan Remaja (Bagian 1)

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

Saat kita memasuki masa puber, pernahkah orang tua kita melakukan ‘Sex Talks’ atau berbincang-bincang mengenai seks ? Mungkin hanya sedikit yang pernah mengalami hal tersebut, karena pada saat itu (sekitar 25-35 tahun yang lalu), tidaklah lazim untuk membicarakan seks secara terbuka dengan anak-anak.

Tetapi anak remaja era Milenium sudah berbeda. Mereka sudah terpapar dengan segala kemajuan teknologi sehingga begitu mudah mengakses berbagai macam informasi dalam bentuk video, tulisan, gambar. Ditambah dengan televisi yang menyuguhkan beragam acara yang selayaknya hanya boleh ditonton orang dewasa, tapi diputar di sore hari saat anak-anak masih beraktifitas.

Seluruh media tersebut mempercepat pengetahuan remaja tentang hal-hal yang berkaitan dengan hubungan pria dan wanita, pacaran, menikah dan lain-lain. Sehingga tidak heran jika mereka mudah masuk dalam pergaulan yang ‘terlalu bebas’.

Sebuah tulisan tentang free sex di Bandung (dapat dilihat di http://deep.dragonadopters.com) mengungkapkan di tahun 2002 tercatat ada 104 kasus hubungan seks pra-nikah, dan setiap tahunnya terus meningkat. Alasan yang dilontarkan adalah : upaya menyalurkan dorongan seks (58% dari responden), tanda ungkapan cinta (38%), dipaksa pacar (27%), supaya dianggap modern (21%).

Itu hanya data sekilas kondisi di Bandung, padahal kasus seks pra nikah terjadi di berbagai tempat. Misalnya di Cikarang, yang merupakan komunitas pekerja yang merantau dari berbagai daerah, pasti banyak kasus hubungan seks pra nikah, belum lagi para remaja SMP dan SMA saat ini yang sudah bisa menukar diri dengan setumpuk uang untuk pulsa atau handphone.

Tentu saja tidak pernah sedikitpun kita berharap bahwa anak remaja kita termasuk dari salah satu orang seperti itu. Namun apa tindakan preventif yang sudah kita buat ? Apakah kita sudah mengesampingkan rasa tabu dan malu untuk bicara tentang seks dengan anak remaja kita ? Apakah kita sudah meluangkan waktu untuk menjelaskan mengenai seks kepada anak remaja kita ?

Sebenarnya apa sih yang disebut dengan ‘Sex Talks’ atau pembicaraan mengenai seks ? Inti pembicaraan seharusnya tidak jauh dari penjelasan mengenai masa puber dan apa yang akan mereka hadapi setelah melewati masa puber.

Maka ada beberapa yang bisa kita ambil dari tulisan Denise Witmer (http://www.parentingteens.about.com) mengenai apa saja yang perlu diberitahukan kepada anak remaja kita tentang seks :

1. Remaja perlu belajar tentang tubuh dan organ seksual. Bukan seperti mata pelajaran biologi di sekolah, tetapi menjelaskan dengan bahasa sehari-hari mengenai fungsi dan perubahan yang terjadi. Banyak blog ataupun website yang saat ini menyediakan informasi mengenai hal tersebut.
2. Remaja perlu menyadari mengenai seksualitasnya dengan body imagenya. Mereka perlu tahu bahwa orang akan melihat mereka ‘menarik’ jika memiliki tubuh yang sehat dan bugar, bukan tubuh yang kurus namun hasil dari penyakit bulimia/anoreksia.
3. Remaja perlu mengetahui bahwa tidak salah jika memiliki perasaan ‘cinta’ terhadap lawan jenis karena memang hal tersebut normal. Sekaligus menjelaskan bahwa ada beberapa tindakan fisik yang memang bisa menyatakan perasaan tersebut, tentunya dalam batas-batas yang sesuai dengan usia dan kematangan remaja.
4. Remaja perlu diberitahu dengan jelas bagaimana seorang wanita bisa hamil, dan merupakan hasil hubungan antara pria dan wanita yang sudah terikat dalam sebuah ikatan pernikahan.
5. Remaja perlu diberitahu apa hubungannya antara hubungan seks dengan hubungan antara pria dan wanita yang dijalankan dengan komitmen dan keseriusan. Sekaligus dijelaskan mengenai resiko hamil muda dan penyakit akibat hubungan seksual jika melakukan hubungan seks pra-nikah.
6. Remaja perlu ditingkatkan kesadaran dirinya agar tidak menjadi korban pelecehan seksual oleh teman maupun orang dewasa di sekelilingnya.

Cukup banyak hal yang harus dijelaskan, dan yang pasti memerlukan persiapan penuh dari orang tua saat menjelaskan, karena kita harus membekali diri dengan pengetahuan yang memadai dan pertanyaan yang mungkin timbul dari mereka.

Namun ada beberapa tips praktis yang saya ambil dari SimpleMom.net dan digabungkan dengan pengalaman saya mengenai cara menyampaikan hal-hal tersebut kepada anak remaja kita :

1. Berikan fakta yang sebenarnya dengan bahasa yang seharusnya. Misalnya menggunakan kata ’penis’ dan bukan ’burung’, menggunakan kata ’vagina’, dan beberapa istilah dasar yang memang sudah seharusnya mereka ketahui. Jika kita tidak malu mengucapkannya, maka mereka juga akan belajar bahwa mereka juga tidak perlu malu menggunakan istilah-istilah tersebut untuk bertanya kepada kita.
2. Gunakan metode diskusi dan sharing, dikombinasikan dengan membagi pengetahuan. Terutama diskusi tentang pacaran, hubungan seks yang belum waktunya, kehamilan dan lain-lain. Perlu disinggung bahwa hubungan seks dan kehamilan bukan merupakan peristiwa yang menjijikkan jika dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan orang yang tepat, seperti suami/istri kita.
3. Berikan gambaran mengenai konsekuensi dari pergaulan bebas. Apa risiko hamil muda bagi sang ibu, bagaimana kehidupan rumah tangga jika dipaksa menikah karena kehamilan diluar nikah sementara usia masih SMA atau masih bersekolah.
4. Gunakan bahasa sederhana dan ciptakan suasana yang nyaman dan relaks. Suasana yang serius akan membuat anak remaja kita menjadi tegang, seolah-olah sedang diadili.
5. Yakinkan anak remaja kita bahwa orang tua adalah pihak yang paling tepat untuk bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seks dan ’pintu’ kita akan selalu terbuka untuk mereka. Hal ini paling penting disampaikan untuk mencegah mereka mencari orang luar untuk dimintai pendapat/nasehat yang mungkin akan menuntun mereka ke arah yang kurang baik.

Di bagian berikutnya, kita akan mencoba melihat beberapa ide sederhana dan menarik untuk menyampaikan mengenai seks kepada anak remaja kita.

Slide presentasi dari posting ini dapat dilihat dan diunduh pada : http://goo.gl/tmmc3

The Millenium Parenthood – Day 04 : Komunikasi – (TIDAK) SULIT JADI REMAJA

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

Saat mempunyai ide untuk menulis tentang sulitnya jadi remaja, saya terpikir untuk mencoba menanyakan kepada beberapa remaja yang saya kenal tentang bagaimana rasanya jadi remaja. Memang karena waktu yang sempit, saya menanyakan via sms, belum bisa bertemu langsung.

Dari 10 remaja dengan rentang usia 12-17 tahun, 2 remaja diantaranya tidak merespond. Dua remaja lainnya menjawab tidak ada kesulitan, dijalani dengan enjoy. Dua remaja menjawab kesulitannya adalah tanggung jawab lebih besar yang diberikan orang. Dua remaja menjawab banyak pengalaman dan kegiatan baru, serta belajar untuk lebih serius dalam disiplin. Satu remaja berkata bahwa tantangannya adalah belajar bersabar dan banyak dikritik serta mood yang berubah-ubah.

Dari hasil survey tersebut, saya melihat bahwa sebagian remaja sudah mampu mengekspresikan perasaannya, tetapi masih ada yang belum mampu mengekspresikannya.

Dilihat dari usianya, masa remaja adalah masa yang membingungkan. Karena dari segi usia, remaja belum bisa dikatakan matang seperti orang dewasa. Namun dari segi fisik, mereka mulai mengalami perubahan menuju bentuk tubuh orang dewasa.

Seperti yang ditulis oleh Tsh Oxenreider di blognya (Simple Mom), begitu anak kita memasuki usia remaja, orang tua langsung memasang harapan yang berbeda. Tiba-tiba si remaja dibebani harapan dari orang tua dalam hal pergaulan, perawatan tubuh, akademis pelajaran di sekolah, tanggung jawab membantu orang tua dan lain-lain.

Sementara secara psikis, mereka dalam keadaan ‘bingung’. Mari kita ingat-ingat lagi saat kita memasuki usia puber dahulu. Rasa malu saat mendapat haid pertama, sudah tumbuh kumis, suara yang berubah, munculnya jakun di leher, perkembangan tubuh remaja putri dengan adanya payudara sampai masalah mimpi basah pada remaja putra. Masih ditambah lagi dengan kondisi hormon dalam badan yang belum stabil, membuat remaja mudah berjerawat ataupun bau badan. Dengan keadaan seperti itu, sangat mendukung remaja untuk memiliki mood yang bisa berayun-ayun seperti roller coaster, sebentar tertawa, sebentar menangis, sebentar marah.

Malah ada sebuah tulisan dari Dennis E. Coates, Ph.D., yang mengatakan bahwa bagian otak remaja yang melakukan tugas untuk berpikir sebab-akibat, planning, pengambilan keputusan, penilaian secara moral, konseptual – bagian otak yang membuktikan bahwa manusia saat dewasa merupakan mahluk yang lebih pandai dari mahluk hidup lainnya – justru sedang berada dalam kondisi ‘under construction/sedang dalam proses’ untuk selama beberapa tahun. Hal inilah yang menyebabkan remaja melakukan hal-hal yang ‘irasional’.

Maka jika ada orang tua yang berkata bahwa anak remajanya baik-baik saja, selalu ceria, tidak ada masalah – biasanya saya terdiam dan berpikir apakah benar seideal itu ?

Kalau kita analisa seluruh perkembangan yang terjadi secara bersamaan pada remaja, maka justru kita jangan heran kalau para remaja sering bertingkah laku yang menurut kita ‘tidak masuk akal’. Justru hal tersebut yang menunjukkan bahwa perkembangan mereka normal.

Marah karena hal sepele, tertawa untuk hal yang rasanya biasa saja, mulai berani untuk berargumentasi dengan orang tua, mengurangi makan dengan alasan takut gemuk, dan berbagai macam hal-hal yang menurut kita adalah ‘unbelievable things’, justru merupakan hal yang wajar yang memang semestinya terjadi pada remaja.

Tugas kita sebagai orang tua selain membesarkan mereka, adalah belajar untuk memahami bahwa memasuki dunia remaja adalah tidak mudah. Fisik, psikis, emosi dan otak sedang bertransformasi agar beberapa tahun kemudian mereka bisa menjadi manusia dewasa.

Disitulah peran kita sebagai orang tua sangat besar. Menjadi teman saat mereka ingin bercerita. Menjadi orang tua saat mereka memerlukan rasa aman. Menjadi orang dewasa yang bisa berbagi pengalaman dan nilai hidup saat mereka mulai bimbang. Menjadi pendamping untuk meletakkan dasar-dasar iman yang kuat agar mereka bisa membedakan dengan jelas mana yang baik dan tidak baik. Saya menyebutnya dengan istilah ‘situational parents’.

Saya selalu ingin berbagai pengalaman saya sebagai orang tua. Saya bukan ‘Super Mother’. Saya sendiri masih terus belajar dan belajar untuk bisa menjadi ‘situational mother’ yang bisa berganti peran sesuai dengan kebutuhan anak remaja saya. Yang saya tahu dengan pasti adalah : it’s not easy but it’s possible, lakukan semuanya untuk anak remaja kita tercinta.

Kalau kita bisa menjadi ‘situational parents’, maka saya mengacungkan kedua jempol tinggi-tinggi kepada Anda. Karena Anda telah membantu anak remaja anda untuk mengatakan : Tidak sulit menjadi remaja.

Slide presentasi dari posting ini dapat dilihat dan diunduh pada : http://goo.gl/W4eeD

The Millenium Parenthood – Day 03 : Komunikasi – BELAJAR MENDENGARKAN SECARA AKTIF

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

Berapa jarak usia antara Anda dengan anak remaja Anda ? Usia saya dan putri sulung saya terpaut 30 tahun. Saat dia duduk di kelas 5, saya merasa bersemangat, karena berarti putri saya akan memasuki dunia remaja. Saya bertekad untuk menempatkan diri saya sebagai ‘teman’ bagi dia.

Namun begitu dia duduk di kelas 6, seperti kembang api di malam Tahun Baru, segala permasalahan remaja pun muncul. Akhirnya saya menjadi ‘orang dewasa’ yang lebih banyak memberi wejangan daripada menjadi ‘teman curhat’. Apalagi saat dia sudah masuk kelas 7 sekarang, di awal saya sempat bingung mengikuti moodnya yang betul-betul seperti roller coaster, menanjak naik untuk kemudian tiba-tiba turun.

Tapi setelah saya menenangkan diri dan mencoba introspeksi, saya baru menyadari bahwa saya terlalu ‘cerewet’, terlalu banyak bicara dan tidak mau ‘mendengar’. Akhirnya pembicaraan kami selalu berujung dengan selisih paham. Terkadang dia yang lalai melakukan sesuatu, saya tegur – mungkin juga dengan cara yang tidak berkenan di hatinya, akhirnya yang terjadi dia yang lebih marah kepada saya.

Setelah itu perlahan-lahan saya berusaha untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Adakalanya saya berhasil bersabar, tapi masih lebih sering saya tidak sabar dan mulai menasehati dia.

Sebagai orang tua, kita pasti akan berargumen bahwa kita sudah punya pengalaman satu generasi lebih awal, jadi kita patut memberitahu anak remaja kita. Tapi kita tidak menyadari, bahwa yang dibutuhkan oleh anak remaja kita adalah ‘teman curhat’ untuk semua kebingungan yang mereka peroleh, bukan wejangan. Wejangan, nasihat, atau apapun namanya, bisa menyusul belakangan. Karena seperti pernah disampaikan oleh mbak Ratih Ibrahim, seorang psikolog, bahwa dunia remaja adalah dirinya sendiri. Fokusnya adalah dirinya sendiri, bukan orang lain.

Sebenarnya kita tidak murni 100% mendengarkan tanpa berkata apa-apa, tetapi ada satu cara yang lebih efektif yang disebut dengan Active Listening (Mendengar Secara Aktif). Menurut Simple Mom, langkah-langkah active listening adalah sebagai berikut :

1. Berhenti – jangan melakukan aktifitas apapun
2. Pandanglah anak remaja anda
3. Berikan perhatian sepenuhnya pada mereka
4. Dengarkan cerita mereka
5. Setelah itu baru ulangi cerita yang tadi Anda dengar

Jika anak remaja kita setuju dengan re-telling/penceritaan kembali dari Anda, dan mereka mencari jawaban dari Anda, berikan apa yang mereka perlukan.

Jika tidak ada pertanyaan, berikan pernyataan bahwa kita mengerti tentang cerita yang disampaikan.

Jika kita tidak mengerti ceritanya, mintalah mereka untuk mengklarifikasi dengan mengulang ceritanya sampai anda mengerti.

Mudah ? Tentu saja tidak. Terkadang untuk melakukan langkah 1 saja kita sudah berat hati. Terkadang saat putri saya datang ingin bercerita, saya sudah memperhatikan dan mendengarkan, tapi tangan saya masih memegang handphone. Begitu sadar, saya langsung meletakkannya, karena mereka ingin diperhatikan benar-benar. Bahkan kadang putri saya belum selesai bercerita, saya sudah tidak tahan untuk memberikan komentar.

Namun hanya satu hal yang perlu kita tanamkan dalam pikiran kita : yang perlu perhatian penuh adalah anak kita yang sangat kita cintai, yang sedang dalam masa ‘bingung’ dengan segala perubahan fisik, psikis dan emosinya. Apakah ceritanya hanya seputar gurunya yang cakep, atau sedang ‘suka’ dengan kakak kelasnya, tentunya tidak akan merugikan kita kalau kita mencoba untuk Aktif Mendengar. Tidak mudah tapi tidak mustahil.

Bersyukurlah jika anak remaja kita masih mau cerewet bercerita kepada orang tuanya. Itu tandanya ikatan antara anak dan orang tua yang terbentuk masih bagus. Peliharalah ikatan itu dengan belajar mendengar secara aktif. It’s not easy but it’s possible, for the sake of our teens.

Slide presentasi dari posting ini dapat dilihat dan diunduh dari : http://goo.gl/Ajgyb

The Millenium Parenthood – Day 02 : Komunikasi – EMPATI

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

Beberapa hari yang lalu, ke dua anak saya baru saja pulang dari sekolah dan jam menunjukkan sudah pukul 15.20. Sementara sang kakak harus segera berangkat lagi pukul 16.00 untuk kerja kelompok. Saya langsung mengingatkan sang kakak untuk segera mandi dan makan. Tapi saat sang kakak hendak mandi, ternyata si adik sudah mendahului mandi plus keramas pula, alhasil baru selesai 10 menit kemudian dan sang kakak harus terburu-buru mandi. Padahal dari awal seisi rumah sudah sibuk mengingatkan kakak untuk bergegas mandi dan si adik masih tenang-tenang saja.

Atau pernahkah kita melihat anak-anak pulang sekolah sambil membawa jajanan, lalu dengan seenaknya melempar kantong plastik atau sampah makanan ke jalan atau pinggir jalan, padahal terkadang tersedia tempat sampah di dekatnya.

Atau yang lebih parah lagi adalah saat saya mendengar cerita di sebuah sekolah ada seorang anak SMP yang di-bully oleh teman-temannya saat istirahat makan siang, dimana bekal makan siangnya direbut dan dibuang isinya ke tanah.

Kejadian tersebut bisa kita lihat dari berbagai sisi, namun saya tertarik untuk melihatnya dari sisi EMPATI. Apa sih empati itu ? Menurut Kamus Bahasa Indonesia Online (www.kamusbahasaindonesia.org), empati didefinisikan sebagai keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Maka dengan contoh kasus dari yang sederhana sampai yang berat, terlihat bahwa anak-anak sekarang mulai berkurang atau bahkan tidak diajarkan untuk ber-empati kepada sesamanya.

Memang perkembangan emosi anak dan remaja akan mengalami perkembangan sesuai dengan usia dan perilaku lingkungan di sekitarnya. Namun ada beberapa hal penting yang patut kita sadari. Empati bukanlah sebuah sifat yang turun temurun. Kabar baiknya, empati adalah sebuah ketrampilan yang bisa dipelajari. Namun anak belum memiliki kemampuan untuk bisa mengetahui apa yang dimaksud dengan empati.

Sebagai orang tua yang sudah lebih dulu hidup di dunia ini dan memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dari anak kita, sudah sewajarnya menjadi tugas kita untuk bisa mengajarkan anak kita berempati, sesuai dengan perkembangan usianya.

Anak yang masih kecil dapat diajarkan berempati secara sederhana, yaitu dengan perlahan-lahan diajarkan untuk bisa berbagi mainan dengan temannya, untuk mau berbagi dengan sesama yang kekurangan misalnya dengan diajak mengunjungi panti asuhan.

Bagaimana dengan remaja ?

Dengan segala kompleksitas yang dialaminya saat memasuki usia puber, tidaklah heran jika sebagian besar remaja mungkin terlihat tidak memiliki empati terhadap sesama. Bukanlah merupakan kesalahan mereka jika mereka terlihat tidak bisa berempati, karena kemungkinan besar lingkungan di sekelilingnya tidak mendukung untuk si remaja mempelajari ketrampilan tersebut.

Kita bisa berempati karena memang sedari kecil kita dididik oleh orang tua kita untuk bisa berbela rasa terhadap sesama yang kurang beruntung. Maka wajarlah jika sekarang pun kita bisa mencontohkan tindakan-tindakan yang mencerminkan empati terhadap remaja kita.

Saya berusaha untuk tidak memarahi putri saya yang baru menginjak remaja, jika suatu saat dia bertindak tanpa berempati. Misalnya mentertawakan orang yang memiliki kelainan fisik. Tapi saya berusaha untuk menegur dan kemudian menjelaskan kepada dia mengapa hal tersebut tidak patut dilakukan.

Memiliki ketrampilan untuk berempati adalah memiliki ketrampilan untuk bisa menempatkan diri kita jika berada di tempat yang kurang beruntung. Misalnya, jika melihat orang yang suka gagap saat berbicara, cobalah bayangkan jika kita menjadi orang seperti itu, betapa tidak nyamannya karena kita harus berkonsentrasi dan berusaha keras hanya untuk bisa menyelesaikan sebuah kalimat. Jika kita mampu melakukan hal tersebut, maka kita tidak akan tertawa melihat keadaan orang tersebut, tapi mungkin akan mencoba membantu untuk memberikan jawaban yang jelas kepada si penanya. Dan kemampuan seperti itu harus dilatih terus menerus dengan pendampingan dari orang tua.

Anak dan remaja adalah peniru yang ulung. Dalam artian bahwa mereka akan melihat contoh tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa terdekat di lingkungan tempat tinggalnya. Maka jika remaja masih tinggal bersama orang tua, dia akan melihat dan mencontoh tindakan orang tuanya.

Maka sebagai orang tua, kita harus berusaha untuk bisa menyelaraskan antara penjelasan tentang empati kepada anak remaja kita, dengan tindakan nyata kita. Jangan sampai terjadi dimana kita selalu memberitahu bahwa kita harus berempati dengan orang-orang yang kurang beruntung dalam segi fisik, namun suatu saat di depan mereka, dengan seenaknya kita memberikan julukan ‘bego’ saat menemui orang yang tidak bisa menjawab pertanyaan kita.

Empati adalah sebuah ketrampilan yang bisa dipelajari. Dan guru yang paling tepat untuk mengajarkan hal tersebut sejak dini adalah orang tua, bukan sekolah, bukan lingkungan bermain. Remaja yang mampu berempati biasanya akan lebih mudah bersosialisasi dengan berbagai kalangan karena mereka bisa menempatkan diri (secara mental) dalam kondisi orang-orang yang ada di sekitar mereka. Mereka juga cenderung lebih matang dalam pengambilan keputusan kelak di kemudian hari, karena mereka akan mempertimbangkan dari berbagai sisi sebelum memutuskan sesuatu.

Presentasi untuk posting ini dapat dilihat di : http://goo.gl/FiYcr

The Millenium Parenthood – Day 01 : Ora na azu nwa

“Ora na azu nwa” – It takes a village to raise a child (Nigerian proverb)

Bulan Oktober 2012 ini menjadi awal baru bagi saya dan rekan menulis saya, mbak Judith (@LetsShareABook) untuk kembali menulis selama sebulan penuh. Kali ini kami ingin menulis sekitar dunia parenting dengan tujuan ingin berbagi dan bertukar pengetahuan dengan rekan-rekan pembaca.

Namun agar tulisan kami lebih mengena, maka mbak Judith akan fokus pada dunia parenting untuk anak usia sekolah karena anak perempuannya yang cantik memang baru akan berusia 5 tahun. Sementara saya akan mencoba fokus pada dunia parenting untuk pra-remaja/remaja karena putri sulung saya baru saja menginjakkan kakinya di dunia remaja.

Walaupun fokus range usia berbeda, namun tema setiap minggu akan sama. Minggu pertama akan kami isi dengan tema Komunikasi, dilanjutkan dengan tema Sosialisasi, Multiple Intelligence dan ditutup dengan Pendidikan. Karena kami merasa bahwa tema inilah yang memang layak untuk ditulis agar bisa berbagai dengan pembaca, karena masalah yang kita hadapi dalam membesarkan anak biasanya adalah masalah yang tipikal atau sudah pernah terjadi.

Tulisan kami bukan tulisan pakar yang ahli dalam dunia anak dan remaja, ataupun pakar psikologi yang ahli dalam parenting. Kami hanyalah dua orang ibu yang memiliki perhatian yang besar dalam dunia parenting.

Menjadi orang tua yang baik, membutuhkan seluruh hati, tenaga, pikiran dan usaha kita. Melelahkan namun akan menghasilkan buah yang manis setelah anak-anak sudah dewasa.

Menjadi orang tua yang baik, hanya bisa diperoleh lewat pengalaman. Tidak ada kursus atau sekolah atau seminar yang bisa meng-up grade kita seketika menjadi orang tua yang sempurna.

Apakah anak kita masih balita, atau sudah usia sekolah, atau sudah memasuki dunia remaja atau malah sudah kuliah, tugas kita sebagai orang tua masih berjalan.

Sayangnya, masih banyak dari kita yang menempatkan diri pada pola pikir tradisional, yaitu orang tua ‘berhak’ penuh atas anaknya. Padahal seharusnya kita mesti menempatkan diri sebagai ‘teman’ dan berfungsi sebagai ‘pendamping’, karena tugas kita di dunia ini adalah mendampingi mereka sampai satu saat mereka sudah bisa mandiri dalam segala hal termasuk menentukan sendiri jalan hidupnya.

Sampai saat ini, saya sendiri masih belajar dan belajar terus untuk bisa menjadi ‘pendamping’ dan bukan ‘instruktur’ untuk anak-anak saya. Tidak mudah tapi tidak mustahil.

Begitu pentingnya proses membesarkan anak, sehingga kami memilih sebuah proverb/pepatah Nigeria yang jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris memiliki arti yang mendalam yaitu : “It takes a village to raise a child.” Pepatah ini berasal dari suku Igbo yang secara harafiah berarti perlu sebuah komunitas untuk membesarkan seorang anak dan sudah ada berabad-abad lamanya di Afrika. Walaupun masih menjadi kontroversi apakah benar pepatah ini berasal dari budaya Afrika, namun ada beberapa pepatah dari benua Afrika yang memiliki pesan yang mirip dengan pepatah ini. Misalnya : dalam bahasa Lunyoro (Banyoro) ada pepatah mengatakan ‘Omwana takulila nju emoi,’ yang diterjemahkan menjadi ‘Seorang anak tumbuh tidak hanya dalam satu rumah.’ Dalam bahasa Kihaya (Bahaya) apa pepatah mengatakan, ‘Omwana taba womoi,’ yang diterjemahkan menjadi ‘Seorang anak bukanlah milik orang tua atau rumah.’ (Sumber : Wikipedia)

Kami tidaklah lebih pintar dari Anda. Kami hanya mau berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan Anda. Kami mau belajar bersama dengan Anda dan jika perlu, belajar dari Anda.

Mari kita bersama-sama membekali diri kita untuk menjadi Orangtua Milenium !