Profile – Bollywood : Priyanka Chopra

Nama yang sudah banyak disebut orang. Berawal dari kesuksesannya meraih gelar Miss World, Priyanka tidak lupa dengan tanah kelahirannya, India. Dia tetap meluangkan waktu untuk berkarier sebagai aktris di dunia film Bollywood. 

Tidak sedikit filmnya yang menorehkan memori yang manis di hati para pencintanya. Teri Meri Kahaani, Anjaana Anjaani, Mary Kom, Barfi!, Dil Dhadakne Do, dan yang terbaru adalah sebuah film kolosal berjudul Bajirao Mastani yang telah mengukuhkan namanya sebagai aktris papan atas di India. 

Priyanka tidak sekedar memanfaatkan kesempatan yang ada untuk bermain film, seperti layaknya sebagian kecil selebriti. Kalau kita melihat mutu aktingnya dalam film Bollywood, bagi saya pribadi, Priyanka dapat masuk ke dalam semua karakter yang dia perankan. 

Menjadi istri yang tertekan walaupun kaya raya dan hebat dalam wirausaha di Dil Dhadakne Do. Menjadi aktris yang sedang jatuh cinta dalam Teri Meri Kahaani. Menjadi seorang boxer wanita India di Mary Kom. Menjadi seorang gadis autisme dalam film Barfi! (world class acting). Menjadi istri dari seorang Peshwa (panglima perang) yang dimadu oleh suaminya namun tetap mencintai suaminya sampai maut memisahkan mereka di Bajirao Mastani. 

Sebagai bagian dari gelarnya menjadi Miss World, tentu saja dia juga banyak terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Penghargaan dalam dunia akting dan karya sosial mungkin sudah tidak terhitung lagi banyaknya. 
Puncak kesuksesannya saat ini adalah menjadi leading role/pemeran utama dalam serial TV dari ABC yang berjudul Quantico. Saat ini sudah memasuki season yang ke-2. Priyanka memerankan agen FBI Alex Parrish. 

So practically, the whole world knew who is Priyanka Chopra. 

Namun bagaimanapun tetap akan ada komentar yang kurang positif terhadap kesuksesannya di dunia perfilman Bollywood dan di Amerika. 

Saya sempat kaget membaca sebuah pernyataan dari seseorang di India yang berkata bahwa mari kita lihat saja berapa lama Priyanka dapat bertahan di Amerika. 

Mari kita lihat semua kerja keras yang telah dia lakukan. Film-filmnya di dunia perfilman Bollywood disutradai oleh beberapa sutradara hebat. Dan kita tentu saja tahu bahwa sutradara yang bagus, tidak akan sembarangan memilih aktor dan aktris untuk memerankan karakter di filmnya. Lalu bagaimana Priyanka bisa bertahan di Quantico bahkan sudah memasuki season yang ke-2, mari kita berpikir dengan logika betapa sulit mempertahankan stamina agar bisa memerankan Alex Parrish dengan konsisten sementara terkadang dia masih harus bolak balik Amerika dan India karena adanya beberapa hal yang harus dia hadiri di India. 

Talentanya masih ditambah dengan vokalnya yang unik. Priyanka tidak serta merta terjun ke dalam dunia tarik suara hanya karena dia sudah menjadi Miss World. Farhan Akhtar, seorang aktor India yang sekaligus penyanyi, yang mendorong Priyanka untuk berkarier di dunia tarik suara. 

Kalau kita melihat beberapa sesi wawancara Priyanka ataupun beberapa pidato singkat saat dia menerima penghargaan, Priyanka berbicara dalam bahasa Inggris yang jelas artikulasinya. Namun dia juga tidak lupa dengan bahasa ibu yaitu bahasa Hindi. Menurut saya, itu luar biasa. 

My personal opinion ? She is beautiful inside and out. She is sexy inside and out. She is energetic. She has a contagious smile. She has an excellent attitude. It’s her inner characters. We can’t blame her or saying something bad about her. Mistakes … to err is human. Her personal life is not our business. 

Bukan pertanyaan berapa lama dia bisa bertahan di Amerika. Namun seharusnya India sangat bangga bisa memiliki seorang Priyanka Chopra, yang dengan kesuksesannya, masih tetap mencintai negaranya. 

Priyanka, I always admire all your work. Wish you all the best, girl. You deserve it. 

Movie Review – Bollywood : TAMASHA

Film Bollywood yang unik. Dibintangi oleh Ranbir Kapoor dan Deepika Padukone. Dua aktor yang sedang di puncak kariernya, namun setelah meihat filmnya, tidak heran mereka memang sedang menjadi incaran sutradara dan produser. 

Intinya adalah love story, dengan pesan moral bahwa menemukan diri sendiri adalah kunci kebahagiaan hidup. Sederhana namun mendalam. Baru kali ini saya menonton film yang dibintangi oleh Ranbir Kapoor dan disutradarai oleh Imtiaz Ali. Deepika Padukone sudah pernah saya tonton di beberapa film sebelumnya dan memang kualitas aktingnya diatas rata-rata.

 

Imtiaz Ali sering saya dengar namanya sebagai seorang sutradara yang brilian dengan hasil karyanya yang selalu mendapat pujian dari kritisi. Apakah berhasil menjadi box office atau flop di peredaran, saya tidak mengetahui dengan jelas. Namun beberapa filmnya sudah ‘melegenda’ di dunia perfilman Bollywood.

 

Sebut saja misalnya Jab We Met, Highway, Rockstar, beberapa filmnya yang sudah pasti diketahui oleh masyarakat pencinta film India. Namun lewat film Tamasha, saya mengakui bahwa Imtiaz memiliki metode penyutradaraan yang unik, dengan jalinan kisah yang unik pula.

 

Sementara ini kali pertama juga saya melihat penampilan akting Ranbir Kapoor, yang diakui oleh dunia perfilman Bollywood untuk kemampuan aktingnya. Ternyata benar, rentang emosi yang ditampilkan oleh Ved yang diperankan Ranbir Kapoor, luar biasa. Kita bisa merasakan roller coaster perjalanan jiwa Ved dari seorang yang free spirit menjadi seorang yang bertingkah laku seperti mesin karena tuntutan keluarga dan akhirnya berhasil menemukan dirinya sendiri, dengan bantuan Tara, kekasihnya.

 

Tamasha, yang berarti pertunjukan, memberikan sebuah pesan moral yang sangat penting. Bahwa bagaimanapun tradisi keluarga akan tetap lekat, dimanapun kita berada. Kisah leluhur yang hidup susah kemudian berhasil, bisa jadi akan membebani hidup kita di masa depan, karena adanya ‘tuntutan’ untuk bisa menjadi pahlawan bagi keluarga. Sama dengan yang dialami oleh Ved, yang dituntut untuk bisa menjadi orang yang bekerja di kantor dengan dasi dan jas, memiliki reputasi yang baik, sopan dan penurut. Walaupun didalamnya sebenarnya Ved adalah seorang ‘artis’ yang mendapatkan kepuasan batin dengan menjadi seorang ‘story teller’.

 

Sebuah cara pandang yang umum, bahwa masih banyak profesi yang berkaitan dengan ‘performing art’ dinilai sebagai profesi yang tidak menjanjikan kehidupan. Penyanyi, story teller, aktor aktris yang biasa bermain di teater, dan masih banyak lagi lainnya, yang dianggap tidak layak untuk dijadikan profesi.

 

Apakah kita memerlukan seorang Mona Darling atau Tara, untuk bisa memiliki keberanian menemukan diri kita yang sebenarnya, dan berani untuk mengungkapkan hal tersebut di depan keluarga kita ? Film ini tidak menitikberatkan pada kekuatan seorang kekasih, tapi lebih menitikberatkan pada keberanian diri kita untuk bisa menentukan kemana arah kisah hidup kita mau dibawa. Mengikuti tuntutan lingkungan namun tidak bahagia, atau berani untuk mengungkapkan ‘siapa saya sebenarnya’ dan memperoleh kebahagiaan batin.

 

Seperti umumnya film Bollywood, Tamasha mengambil setting di beberapa tempat. Di Corsica sebagai tempat pertemuan Ved dan Tara. Lalu pindah ke Simla, India, tempat masa kecil Ved. Berpindah lagi ke Kolkata tempat tinggal Tara. Kembali ke Delhi sebagai tempat pertemuan Ved dan Tara setelah 4 tahun berpisah. Dan ditutup dengan pertemuan akhir mereka di Tokyo.

 

Ada dua hal unik dalam film ini. Pertama, film dibuka dengan adegan di panggung antara robot dan badut. Ranbir menjadi robot dan Deepika menjadi badut. Mereka melakukan monolog sebagai pengantar sebelum kita dibawa masuk kedalam masa kecil Ved.

 

Yang kedua, hal yang paling sering dibicarakan orang yaitu chemistry antara dua leading role dalam sebuah film. Saya sudah menonton film Deepika beberapa buah. Saya setuju dengan sebuah komentar orang di Instagram bahwa dalam 2 buah film, dimana Deepika berpasangan dengan Ranveer Singh, yang konon merupakan kekasihnya, chemistry diantara mereka bisa digolongkan ‘explosive’. Kita bisa merasakan dahsyatnya kekuatan cinta mereka dalam karakter yang diperankan, lewat mata dan ekspresi wajah. Saya juga pernah menonton film Deepika yang berpasangan dengan Shah Rukh Khan, seorang aktor Bollywood yang sudah mendunia dan melegenda. Chemistry yang terlihat memang indah, namun mungkin karena perbedaan usia yang cukup jauh, terasa dan terlihat biasa saja, tidak ada sesuatu yang istimewa.

 

Untuk Deepika dan Ranbir, ini adalah film ke-3 yang mereka mainkan bersama. Chemistry yang ada, sama seperti yang diungkapkan banyak orang, adalah luar biasa. Dalam film Tamasha, saya tidak melihat sepasang kekasih dengan gelora cinta yang dahsyat. Yang kita rasakan adalah bagaimana kita dibawa mengikuti perkembangan hati mereka.

 

Kita diajak untuk bisa merasakan awal pertemuan Ved dan Tara yang didasari iseng, menikmati kekonyolan mereka dalam waktu 7 hari di Corsica. Bagaimana beratnya perasaan Tara saat harus meninggalkan Ved, karena mereka telah berjanji untuk tidak bertemu lagi. Bagaimana kita menjadi ikut terharu melihat Tara melewatkan 4 tahun dengan kenangan tentang Ved yang tidak pernah lepas. Kita ikut deg-degan saat Tara berhasil menemukan Ved di Delhi, namun ikut merasakan frustasi bersama Tara melihat Ved dengan kepribadian yang berbeda.

 

Puncak emosi adalah saat Tara minta maaf karena sudah mengatakan kebenaran bahwa Ved yang dia kenal di Delhi berbeda dengan Ved yang dia kenal di Corsica. Namun kelihatannya saat itu Ved sudah dalam puncak krisis jati diri, sehingga dia begitu marah dan tidak mendengarkan Tara.

 

Adegan di dalam sebuah perpustakaan/restaurant unik antara Tara dan Ved, sungguh luar biasa. Tara dengan lantang menyatakan bahwa dia tidak bisa lepas dari Ved. Namun Ved merasa tersakiti karena dengan demikian berarti Tara melakukan kompromi, berkorban hanya untuk supaya tidak jauh dengan Ved. Penggambaran rasa sayang Tara diperlihatkan dengan adegan Tara dan Ved meletakkan kepala di meja. Bagaimana Tara ingin menyalurkan rasa cinta dan keprihatinannya lewat belaian tangannya di kepala Ved. Kita bisa merasakan hal tersebut, tanpa harus ada dialog.

 

Dan seluruh perjalanan hati Ved dan Tara ditutup dengan dibukanya kostum robot Ved dan tampillah Ved dengan jati diri yang sebenarnya, seorang story teller, dengan baju kasual, rambut digelung dan ikat kepala. Saat Ved memberikan isyarat terima kasih sampai dia menelungkup di atas panggung, kepada Tara, menunjukkan betapa besar kehadiran Tara telah mendorong Ved untuk bisa menemukan dirinya.

 

Adegan penutup di Tokyo, dengan tulisan ‘Don Returns’ ditutup dengan Ved dan Tara yang sedang menari masing-masing dengan headphone, merupakan sebuah adegan penutup yang manis, yang membuat kita tersenyum lega tanpa harus menyaksikan adegan peluk cium yang mesra dan lain-lain.

 

Positive vibe yang ingin dimunculkan dari Tara, berhasil dirasakan oleh kita. Imtiaz Ali berhasil memadukan pertunjukan teater, kehebatan seorang story teller dalam menyampaikan cerita yang bisa membuat orang terpana dengan kehidupan manusia yang umum kita jumpai, dimana kita masih menjalankan hidup karena tuntutan masyarakat.

 

Seperti pesan moral yang saya rasakan dalam sebuah film Hollywwod yang berjudul ‘Me Before You’, saya rasa film Tamasha juga memiliki pesan yang sama : You only get one life, it’s actually your duty to live it as fully as possible.

 

How? Depend on ourselves. Kita mau menjalani untuk memuaskan orang lain, atau kita mau menjalani agar kisah hidup kita adalah kisah yang nyata dengan diri kita yang sebenarnya.

Movie Review – Bollywood : KAPOOR & SONS (Since 1921)

Salah satu film Bollywood yang unik. Plot cerita tidak seperti yang diduga. Banyak issue yang ditimbulkan oleh penulis cerita, namun sengaja tidak digali lebih dalam. Saya menduga bahwa hal tersebut memang ditulis untuk menggambarkan kebohongan dan kekacauan yang terjadi dalam sebuah keluarga, yang dibungkus dengan motivasi kasih sayang. 

Film ini dimulai dengan kehidupan keluarga Kapoor yang tidak dijelaskan tinggal dimana dan apa yang dikerjakan oleh sang ayah. Yang digambarkan adalah Dadu (kakek) yang sudah berusia 90 tahun, yang sering berlatih mati mendadak. Hingga akhirnya suatu hari, sang kakek benar-benar terkena serangan jantung sehingga harus dirawat di rumah sakit. 

Hal inilah yang membuat kedua cucunya yang tinggal di Inggris untuk kembali ke India. Yang pertama bernama Rahul Kapoor yang berprofesi sebagai penulis dan memiliki kehidupan yang nyaman di London. Penampilannya sangat rapi dan cenderung kelimis, namun sangat menyayangi ibunya. Sang ibu selalu menjuluki Rahul sebagai ‘the perfect son’. Yang kedua bernama Arjun Kapoor, dengan kepribadian yang cenderung ‘free-spirit’, tinggal di Inggris namun selalu berganti profesi. 

Sepanjang film digambarkan bahwa keluarga ini ternyata tidak pernah bisa duduk dengan tenag dan damai. Sang ibu selalu memancing pertengkaran dengan sang ayah, mulai dari urusan membetulkan pipa air sampai tuduhan bahwa sang ayah berselingkuh. Sementara sang ayah selalu mengeluarkan perkataan yang cenderung menyakiti hati istrinya. Rahul selalu berada dalam posisi sebagai penengah untuk seluruh perselisihan yang ada. Arjun selalu dianggap sebagai anak yang tidak pernah serius dalam segala hal.

Hingga suatu saat tanpa disengaja, kedua kakak beradik ini bertemu dengan Tia, seorang gadis cantik yang memiliki bungalow besar, warisan dari kakeknya, yang akan dijual. Tia seorang gadis yang terlihat ceria, spontan, dan agak nekad, namun ternyata dibalik semua itu dia menyimpan sebuah trauma mengenai kematian kedua orangtuanya. 

Alur cerita kemudian diarahkan dengan permintaan Dadu yang disampaikan kepada Rahul. Pertama, jika dia meninggal dia minta dikuburkan, bukan dibakar. Yang berarti tidak sesuai dengan adat Hindu.

Kedua, sebelum meninggal, Dadu ingin punya foto keluarga yang ingin digantung di dinding dengan tulisan “Kapoor & Sons Since 1921’. Sebuah keinginan yang sederhana, namun menjadi poros dari segala peristiwa yang terjadi setelahnya. 

Ada beberapa hal yang menarik dari film ini :

1. Tidak ada lagu yang mengiringi tarian, yang biasa kita jumpai dalam film Bollywood. Kalaupun ada, itu hanya sekedar menunjukkan betapa kepribadian Tia dan Arjun sangat mirip sehingga mereka menikmati saat-saat bersama. Dan betapa sebenarnya keceriaan dalam keluarga yang sudah lama hilang, masih dirindukan oleh keluarga.

2. Jika dilihat sampai akhir, maka sebenarnya alur cerita baru bergerak dengan cepat setelah Dadu mengutarakan keinginannya untuk merayakan ulangtahunnya yang ke-90 di rumah. Mulai dari kenyataan tentang perselingkuhan sang ayah, bahwa Tia tidak sengaja pernah mencium Rahul dan saat hal itu diceritakan kepada Arjun – malah membuat hubungan Tia dan Arjun menjadi renggang. Masih ditambah dengan kenyataan bahwa Rahul adalah gay dan sang ibu ternyata berperan besar dalam membuat Arjun percaya bahwa dirinya tidak berguna dengan cara memberikan novel pertama Arjun kepada Rahul, yang ternyata menjadi best seller dan mendatangkan kemasyuran bagi Rahul.

3. Dengan banyaknya issue yang ditampilkan, banyak pula yang memang tidak ditampilkan untuk diselesaikan. Yang terlihat adalah bahwa pada akhir cerita, walaupun dalam keadaan yang sedih, semua saling memaafkan. Namun sayang sekali, depth/kedalaman dari plot tidak terasa.

4. Pesan moral yang sangat kuat terlihat dan terasa, setidaknya untuk saya pribadi, adalah sebuah kalimat yang selalu terkait dengan Karan Johar yang menjadi salah satu produser film ini : It’s all about loving your parents. Dari sikap Arjun yang selalu menyentuh ujung kaki Dadu saat dia datang dari Inggris. Bagaimana Arjun yang begitu kecewa dan marah pada ibunya, ternyata tidak bisa memungkiri rasa sayang pada ibunya. Rahul yang menyatakan kekecewaannya bahwa dia sudah lelah dianggap anak sempurna dan dia hanya minta ibunya untuk menerima dia apa adanya, ternyata tetap tidak bisa hidup tenang dengan kondisi sang ibu tidak mau berdamai dengan dia. In the end, these boys reconcile with their mother. And in the end, it’s all about loving your parents.

5. Setting yang digunakan sederhana namun indah. Tidak banyak lokasi karena memang alur cerita hanya berkisar di rumah. Namun bagi saya, sang sutradara rasanya mencoba menampilkan suasana ‘rumah’ yang sebenarnya. Rumah yang seharusnya bisa menjadi tempat berlindung bagi keluarga, yang bisa menghangatkan hati anggota keluarga. Bagaimana kemarahan dan kebencian dapat merusak hakikat dari ‘rumah’.

6. Tidak ada lonjakan emosi yang berarti. Namun emosi saya mulai terusik saat Tia bercerita mengenai traumanya setiap hari ulangtahunnya kepada Arjun. Bahwa setiap ulangtahunnya selalu mengingatkan dia telpon terakhir dari orangtuanya yang diterima Tia dengan kemarahan dan ucapan untuk tidak pernah kembali lagi. Dan ternyata pada hari itu juga pesawat yang ditumpangi orangtuanya mengalami kecelakaan. Lonjakan yang kedua, yang sedikit membuat saya terbawa adalah saat Dadu berbicara lewat Facetime kepada Rahul dan Arjun, memberitahu bahwa sang ibu yang terlihat kuat di pagi hari, ternyata setiap malam menangis karena rasa kehilangan luar biasa dari meatian suaminya dan kepergian kedua anaknya. Satu dialog yang sangat menyentuh, diucapkan Dadu saat meminta Rahul dan Arjun untuk pulang : I’m asking you for the one thing I don’t have, just a little TIME. Everyone makes mistakes, kids, but we don’t abandon our families. Consider this as an old man request, once, just once, come back.

7. Sejujurnya, dari segi akting, saya melihat akting yang ditampilkan Rishi Kapoor sebagai Dadu dan Ratna Pathak sebagai Sunita Kapoor (sang ibu) yang membuat alur cerita terasa memiliki jiwa. Kemunculan Tia yang diperankan oleh Alia Bhatt, tidak berperan banyak terhadap alur cerita. Alia masih memerankan karakter gadis yang ceria dan spontan. Fawad Khan sebagai Rahul Kapoor dan Sidharth Maholtra sebagai Arjun Kapoor, belum memberikan percikan chemistry yang terasa, sebagai kakak beradik. Chemistry mereka baru sedikit muncul ke permukaan di setiap adegan mereka sedang bersama Dadu. Kehadiran Dadu menjadi stimulan bagi chemistry Fawad Khan dan Sidharth Maholtra.

 

Secara keseluruhan, film ini berhasil menyampaikan pesan yang mendasar bahwa keluarga adalah keluarga. Everyone makes mistakes, but we don’t abandon our families.