Movie Review – Bollywood : TAMASHA

Film Bollywood yang unik. Dibintangi oleh Ranbir Kapoor dan Deepika Padukone. Dua aktor yang sedang di puncak kariernya, namun setelah meihat filmnya, tidak heran mereka memang sedang menjadi incaran sutradara dan produser. 

Intinya adalah love story, dengan pesan moral bahwa menemukan diri sendiri adalah kunci kebahagiaan hidup. Sederhana namun mendalam. Baru kali ini saya menonton film yang dibintangi oleh Ranbir Kapoor dan disutradarai oleh Imtiaz Ali. Deepika Padukone sudah pernah saya tonton di beberapa film sebelumnya dan memang kualitas aktingnya diatas rata-rata.

 

Imtiaz Ali sering saya dengar namanya sebagai seorang sutradara yang brilian dengan hasil karyanya yang selalu mendapat pujian dari kritisi. Apakah berhasil menjadi box office atau flop di peredaran, saya tidak mengetahui dengan jelas. Namun beberapa filmnya sudah ‘melegenda’ di dunia perfilman Bollywood.

 

Sebut saja misalnya Jab We Met, Highway, Rockstar, beberapa filmnya yang sudah pasti diketahui oleh masyarakat pencinta film India. Namun lewat film Tamasha, saya mengakui bahwa Imtiaz memiliki metode penyutradaraan yang unik, dengan jalinan kisah yang unik pula.

 

Sementara ini kali pertama juga saya melihat penampilan akting Ranbir Kapoor, yang diakui oleh dunia perfilman Bollywood untuk kemampuan aktingnya. Ternyata benar, rentang emosi yang ditampilkan oleh Ved yang diperankan Ranbir Kapoor, luar biasa. Kita bisa merasakan roller coaster perjalanan jiwa Ved dari seorang yang free spirit menjadi seorang yang bertingkah laku seperti mesin karena tuntutan keluarga dan akhirnya berhasil menemukan dirinya sendiri, dengan bantuan Tara, kekasihnya.

 

Tamasha, yang berarti pertunjukan, memberikan sebuah pesan moral yang sangat penting. Bahwa bagaimanapun tradisi keluarga akan tetap lekat, dimanapun kita berada. Kisah leluhur yang hidup susah kemudian berhasil, bisa jadi akan membebani hidup kita di masa depan, karena adanya ‘tuntutan’ untuk bisa menjadi pahlawan bagi keluarga. Sama dengan yang dialami oleh Ved, yang dituntut untuk bisa menjadi orang yang bekerja di kantor dengan dasi dan jas, memiliki reputasi yang baik, sopan dan penurut. Walaupun didalamnya sebenarnya Ved adalah seorang ‘artis’ yang mendapatkan kepuasan batin dengan menjadi seorang ‘story teller’.

 

Sebuah cara pandang yang umum, bahwa masih banyak profesi yang berkaitan dengan ‘performing art’ dinilai sebagai profesi yang tidak menjanjikan kehidupan. Penyanyi, story teller, aktor aktris yang biasa bermain di teater, dan masih banyak lagi lainnya, yang dianggap tidak layak untuk dijadikan profesi.

 

Apakah kita memerlukan seorang Mona Darling atau Tara, untuk bisa memiliki keberanian menemukan diri kita yang sebenarnya, dan berani untuk mengungkapkan hal tersebut di depan keluarga kita ? Film ini tidak menitikberatkan pada kekuatan seorang kekasih, tapi lebih menitikberatkan pada keberanian diri kita untuk bisa menentukan kemana arah kisah hidup kita mau dibawa. Mengikuti tuntutan lingkungan namun tidak bahagia, atau berani untuk mengungkapkan ‘siapa saya sebenarnya’ dan memperoleh kebahagiaan batin.

 

Seperti umumnya film Bollywood, Tamasha mengambil setting di beberapa tempat. Di Corsica sebagai tempat pertemuan Ved dan Tara. Lalu pindah ke Simla, India, tempat masa kecil Ved. Berpindah lagi ke Kolkata tempat tinggal Tara. Kembali ke Delhi sebagai tempat pertemuan Ved dan Tara setelah 4 tahun berpisah. Dan ditutup dengan pertemuan akhir mereka di Tokyo.

 

Ada dua hal unik dalam film ini. Pertama, film dibuka dengan adegan di panggung antara robot dan badut. Ranbir menjadi robot dan Deepika menjadi badut. Mereka melakukan monolog sebagai pengantar sebelum kita dibawa masuk kedalam masa kecil Ved.

 

Yang kedua, hal yang paling sering dibicarakan orang yaitu chemistry antara dua leading role dalam sebuah film. Saya sudah menonton film Deepika beberapa buah. Saya setuju dengan sebuah komentar orang di Instagram bahwa dalam 2 buah film, dimana Deepika berpasangan dengan Ranveer Singh, yang konon merupakan kekasihnya, chemistry diantara mereka bisa digolongkan ‘explosive’. Kita bisa merasakan dahsyatnya kekuatan cinta mereka dalam karakter yang diperankan, lewat mata dan ekspresi wajah. Saya juga pernah menonton film Deepika yang berpasangan dengan Shah Rukh Khan, seorang aktor Bollywood yang sudah mendunia dan melegenda. Chemistry yang terlihat memang indah, namun mungkin karena perbedaan usia yang cukup jauh, terasa dan terlihat biasa saja, tidak ada sesuatu yang istimewa.

 

Untuk Deepika dan Ranbir, ini adalah film ke-3 yang mereka mainkan bersama. Chemistry yang ada, sama seperti yang diungkapkan banyak orang, adalah luar biasa. Dalam film Tamasha, saya tidak melihat sepasang kekasih dengan gelora cinta yang dahsyat. Yang kita rasakan adalah bagaimana kita dibawa mengikuti perkembangan hati mereka.

 

Kita diajak untuk bisa merasakan awal pertemuan Ved dan Tara yang didasari iseng, menikmati kekonyolan mereka dalam waktu 7 hari di Corsica. Bagaimana beratnya perasaan Tara saat harus meninggalkan Ved, karena mereka telah berjanji untuk tidak bertemu lagi. Bagaimana kita menjadi ikut terharu melihat Tara melewatkan 4 tahun dengan kenangan tentang Ved yang tidak pernah lepas. Kita ikut deg-degan saat Tara berhasil menemukan Ved di Delhi, namun ikut merasakan frustasi bersama Tara melihat Ved dengan kepribadian yang berbeda.

 

Puncak emosi adalah saat Tara minta maaf karena sudah mengatakan kebenaran bahwa Ved yang dia kenal di Delhi berbeda dengan Ved yang dia kenal di Corsica. Namun kelihatannya saat itu Ved sudah dalam puncak krisis jati diri, sehingga dia begitu marah dan tidak mendengarkan Tara.

 

Adegan di dalam sebuah perpustakaan/restaurant unik antara Tara dan Ved, sungguh luar biasa. Tara dengan lantang menyatakan bahwa dia tidak bisa lepas dari Ved. Namun Ved merasa tersakiti karena dengan demikian berarti Tara melakukan kompromi, berkorban hanya untuk supaya tidak jauh dengan Ved. Penggambaran rasa sayang Tara diperlihatkan dengan adegan Tara dan Ved meletakkan kepala di meja. Bagaimana Tara ingin menyalurkan rasa cinta dan keprihatinannya lewat belaian tangannya di kepala Ved. Kita bisa merasakan hal tersebut, tanpa harus ada dialog.

 

Dan seluruh perjalanan hati Ved dan Tara ditutup dengan dibukanya kostum robot Ved dan tampillah Ved dengan jati diri yang sebenarnya, seorang story teller, dengan baju kasual, rambut digelung dan ikat kepala. Saat Ved memberikan isyarat terima kasih sampai dia menelungkup di atas panggung, kepada Tara, menunjukkan betapa besar kehadiran Tara telah mendorong Ved untuk bisa menemukan dirinya.

 

Adegan penutup di Tokyo, dengan tulisan ‘Don Returns’ ditutup dengan Ved dan Tara yang sedang menari masing-masing dengan headphone, merupakan sebuah adegan penutup yang manis, yang membuat kita tersenyum lega tanpa harus menyaksikan adegan peluk cium yang mesra dan lain-lain.

 

Positive vibe yang ingin dimunculkan dari Tara, berhasil dirasakan oleh kita. Imtiaz Ali berhasil memadukan pertunjukan teater, kehebatan seorang story teller dalam menyampaikan cerita yang bisa membuat orang terpana dengan kehidupan manusia yang umum kita jumpai, dimana kita masih menjalankan hidup karena tuntutan masyarakat.

 

Seperti pesan moral yang saya rasakan dalam sebuah film Hollywwod yang berjudul ‘Me Before You’, saya rasa film Tamasha juga memiliki pesan yang sama : You only get one life, it’s actually your duty to live it as fully as possible.

 

How? Depend on ourselves. Kita mau menjalani untuk memuaskan orang lain, atau kita mau menjalani agar kisah hidup kita adalah kisah yang nyata dengan diri kita yang sebenarnya.

Advertisements

Movie Junkie

Pernah mendengar kata ‘junkie’ ? Definisi dalam Merriam-Webster Dictionary adalah pecandu obat. Konotasinya negatif ya. Namun seperti bahasa lainnya, seiring dengan berkembangnya jaman, terjadi pergeseran arti dalam penggunaan kata ‘junkie’. Kata ini tidak hanya digunakan untuk pecandu obat/drugs, tapi dipakai juga untuk beberapa padanan kata. Salah satunya yang saya suka adalah ‘movie junkie’.
 

Terjemahan bebasnya kira-kira adalah orang yang kecanduan nonton. Saya merasa saya bisa masuk dalam kategori tersebut, tapi boleh dong saya punya definisi sendiri. Movie junkie untuk saya pribadi adalah orang yang punya hobi nonton, baik itu di bioskop atau TV atau nonton DVD di rumah. Rela meluangkan waktu untuk nonton sebuah film yang biasanya berkisar antara 1,5-2 jam, yang untuk sebagian orang akan dirasa membuang waktu. Tidak berhenti sampai disitu, selesai nonton, biasanya otak kita tidak berhenti merenungkan dan menganalisa film yang tadi sudah membuat kita duduk selama itu.

 

Biasanya secara otomatis otak saya akan memproses film tersebut. Kalau tidak berkesan untuk saya, ya sudah saya lupakan saja. Kalau cukup berkesan, saya mencoba menganalisa film tersebut. Kira-kira apa yang menarik, pesan moral yang ingin disampaikan itu apa ya. Kalau film tersebut sangat berkesan, saya gelagapan sendiri saking terpesonanya dan biasanya 99,99% saya akan kembali ke bioskop menonton film yang sama, untuk memperhatikan (kalau bisa) seluruh aspek dalam film tersebut. Dari kualitas akting para aktornya, gaya penyutradaraannya, settingnya, original score dan soundtracknya, dialognya, jalan ceritanya dan detil-detil lainnya.

 

Apakah saya menuangkan analisa di otak saya dalam bentuk tulisan atau podcast ? Belum tentu. Karena biasanya saya memilih mengambil waktu untuk meresapi dan mencerna semua yang peroleh dari film tersebut. Di saat saya sudah puas, wah biasanya sudah tidak sempat menulis lagi karena adanya kesibukan yang lain. Namun kalaupun saya menulis, tentunya isinya tidak seperti para kritikus film yang bisa memandang dari sudut ilmu perfilman. Saya hanya menuliskan dari sisi saya sebagai penonton dan penikmat film, yang mengapresiasi karya seni dalam bentuk film.

 

Sejak kapan saya kecanduan nonton ? Kalau saya runut ulang hidup saya, rupanya tanpa disadari sejak kecil saya suka diajak orangtua saya untuk nonton. Jaman itu yang paling diminati adalah film silat dari Hongkong. Lalu setelah saya kuliah jauh dari rumah, saya punya kebebasan untuk bepergian sendiri dan kebetulan ada bioskop di dekat tempat kost saya. Suasana yang sangat mendukung hobi nonton. Apalagi saat itu tiket masih harganya Rp 2.500,- (sekitar tahun 1985) dan banyak sekali film bagus. Hobi ini berlanjut sampai sekarang.

 

Saya bukan movie freak, yang kalau anda tanya film A pemeran utamanya siapa dan tahun berapa dibuatnya, belum tentu saya hafal. Contekan ajaib saya adalah situs IMDb yang datanya sangat terpercaya. Kalau sudah ngintip sedikit disitu, memori saya langsung terbuka tentang film itu. Tapi kalau anda tanya kesan saya nonton sebuah film, biasanya saya masih ingat walaupun mungkin nontonnya sudah bertahun-tahun yang lalu.

 

Saya sangat menikmati saat-saat menonton. Sampai saat ini suami dan anak-anak saya masih suka menggoda saya kalau saya menangis saat menonton film. Tapi untuk saya, berarti keseluruhan aspek dalam film tersebut telah mencapai sasarannya, yaitu membawa saya ikut hanyut dalam emosi yang diciptakan.

 

Boleh percaya atau tidak, ada film-film yang menurut saya adalah film yang luar biasa, yang saya tonton lebih dari satu kali. Tapi saya rasa banyak juga orang yang melakukan hal tersebut. Film luar biasa – itu menurut definisi saya lho, karena belum tentu para kritikus film berpengalaman atau penonton lainnya setuju dengan pendapat saya. Tapi film yang saya nilai bagus, belum tentu jua akan saya tonton lebih dari satu kali walaupun pemeran utamanya idola saya.

 

Contohnya The Revenant, saya nge-fans banget dengan Leonardo di Caprio. Tapi cukup satu kali saya nonton film itu. Kesannya, capek dan ikut sakit melihat Leo hidupnya merana sepanjang film. Tapi film Titanic, saya nonton delapan kali. Saya kagum dengan Leo, kagum dengan Kate Winslet, kagum dengan setting kapal Titanic yang megah, ngeri melihat proses tenggelamnya kapal tersebut dan masih banyak kesan lainnya, termasuk lagunya.

 

Mengapa Titanic sih ? Mengapa bukan The Revenant, film yang menghantar Leo mendapat Oscarnya yang pertama ? Karena adanya harmonisasi dari seluruh aspek yang ada, yang melibatkan banyak orang, mencampuradukkan emosi kita melihat Jack dan Rose. Sementara dalam The Revenant, itu benar-benar film laki-laki, saat orang-orang pendatang berbuat seenaknya terhadap suku Indian yang biasanya kita sebut ‘Native American’.

 

Namun sekali lagi, penilaian seperti itu relatif. Adalah hak asasi manusia untuk menilai sebuah film itu layak atau tidak layak ditonton, atau bahkan wajib ditonton berulang kali.

 

Jika ada yang bertanya tentang sebuah film, kepada saya, dengan senang hati saya akan bercerita dari sudut pandang saya. Memang tidak semua orang bisa menerima pandangan saya, tapi ada kepuasan tersendiri bisa berbagi tentang apa yang saya rasakan.

 

Maka, saya bangga mengakui bahwa saya seorang ‘movie junkie’ yang walaupun kadar kemurniannya mungkin baru 80% saja, karena saya sering lupa tentang judul, pemeran utama, sutradara atau tahunnya, saya sangat menikmati dan mencintai seni dalam bentuk film.

 

Anda yang memiliki hobi sama seperti saya, bahkan mungkin sering nonton film yang sama berulang kali, tidak usah malu. Tapi alangkah baiknya kalau kita bisa menuangkan pendapat kita dalam bentuk tulisan ya. Saya sedang mencoba untuk mulai tekun menulis sehabis menonton film yang menurut saya layak tonton.

 

Bukan untuk menjadi kritikus film, karena saya tidak punya latar belakang itu, tapi sebagai record/catatan saya saja, yang bisa saya baca berkali-kali dan mengembalikan memori saya tentang sebuah film.

 

Ayo, para ‘movie junkie’, lanjutkan hobi nontonnya. Kalau ada yang ingin sharing, ayo kita diskusi via twitter or email or instagram.

Ada Apa Dengan Cinta 2 – Sekedar Film Romantis atau Film Kehidupan ?

Sejak di media sosial sudah mulai promosi film ini, saya sudah punya keinginan yang sangat besar untuk nonton. Jujur, saya belum pernah nonton AADC yang pertama. Yang menjadi motivasi besar saya ingin nonton film ini ada 2 hal : pertama, karena yang menjadi tokoh sentral adalah Dian Sastro dan Nicholas Saputra. I’m not their fanatic fans, but I love them. I love their professionalism and I love their work. Kedua, saya sangat suka dengan sequel karena sequel biasanya memanjakan imajinasi kita karena ada kelanjutan dari kisah originalnya. 

Baru kemarin saya menyempatkan diri untuk nonton, di siang hari yang panas jalan menuju bioskop, sendirian karena this is my ‘me-time’.

Saya tidak akan menceritakan sinopsisnya. Saya hanya ingin berbagi efek dari film itu terhadap diri saya, yang melankolis kalau menonton film drama. 

Begitu mulai melihat opening title dengan warna khas AADC, rasanya sukma tertarik masuk dalam dunia AADC yang fenomenal itu. Adalah satu kejelian dari Mira Lesmana dan Riri Riza yang tetap mempertahankan orginalitas dari AADC yang pertama untuk hal yang sederhana, komposisi warna yang unik. 

Melihat Genk Cinta sebenarnya menyenangkan, tapi efeknya tidak seperti saat melihat Rangga. Can you imagine, the legendary Rangga, so cool and so cold seeting in NYC – hmmm, efeknya ternyata beda ya. 

Banyak yang bilang plotnya berjalan lambat. Bagi saya, tidak juga. Saya sangat menikmati kualitas akting para aktornya yang luar biasa. Natural tapi ngga lebay. Chemistrynya mantap. Belum lagi bicara soal settingnya yang indah di Jogjakarta, dengan tata pencahayaan yang ciamik yang membuat Jogjakarta menjadi kota yang unik dan eksotis. 

Filmnya bukan film drama yang tragis atau penuh dengan kesedihan. Film ini film yang romantis banget. Saking romantisnya, sampai ada beberapa scene yang membuat saya menangis sedikit. 

Melihat Cinta seperti melihat boneka princess yang terbungkus oleh kilau gemilau keindahan, bling bling dan kecantikan. Apalagi Dian Sastro yang wajahnya sangat ayu. Melihat Cinta seperti melihat gelas yang terbuat dari kaca, yang kelihatan cantik tapi sebenarnya rapuh. Melihat Cinta, saya merasa bisa ikut terhanyut dalam lautan cintanya yang begitu besar untuk Rangga. 

Melihat Rangga seperti melihat sebuah pilar yang kokoh, yang dalam kesendiriannya justru membuat wanita penasaran. Melihat Rangga rasanya melihat sosok yang mungkin hampir tidak akan pernah kita temui dalam kehidupan nyata, cintanya hanya untuk satu orang – ganteng – bahasa Inggrisnya luar biasa – penulis yang handal – puitis banget lagi. Melihat Rangga, rasanya seperti minum Coca Cola, sekali teguk terus ketagihan untuk minum sampai habis.

Mungkin karena Dian Sastro dan Nicholas Saputra yang memerankannya. Tapi lebih besar kemungkinannya karena pendalaman karakternya yang sudah kelasnya Piala Citra.

 

Belum diramu dengan kehadiran Genk Cinta dan tokoh Mamet yang kocak. Kalau analoginya dengan makanan, enaknya seperti Es Teler 77 atau es sekoteng Bandung. Manis dan cantik. Masih ditambah dengan lagu-lagu cantik dari Melly Goeslaw dan Anto Hoed.

 

Setelah nonton, barulah saya mencoba melihat review di iMDB ataupun comment orang-orang di Instagram yang berkaitan dengan AADC2. Ternyata banyak juga ya yang mengumpat habis film itu. Bahkan sampai ada yang membandingkan dengan film action dari Amerika. Pada dasarnya, semua itu relatif dan menjadi hak asasi setiap orang untuk mengutamakan pendapatnya.

 

Tapi untuk saya, AADC 2 ini memiliki banyak nilai-nilai kehidupan :

1. Intelegensia dari Mira Lesmana dan Riri Riza dalam membuat sekuel ini menjadi sebuah film yang romantis tapi tidak kacangan …. Untuk film Indonesia, luar biasa. Dialognya cerdas walaupun disampaikan dalam bahasa sehari-hari : Dia itu udah kayak arsip buat gue …

2. Kualitas akting dan chemistry yang dimiliki Nicholas Saputra, Dian Sastro, Genk Cinta & Mamet … sekali lagi, luar biasa.

3. Betapa kita selama ini terlalu haus dan konsumtif dengan segala sesuatu yang berbau ‘luar negeri’ padahal di Indonesia banyak sekali tempat dan budaya yang belum pernah kita temui. Contoh yang paling nyata, baru kali ini saya tahu ada kelompok teater yang menggunakan boneka yang bernama Papermoon Puppet Theater yang sudah berkelana sampai ke luar negeri. Saat melihat scene puppet show itu, rasanya ingin menangis melihat Rangga dan Cinta dengan matanya yang berlinang, duduk berdampingan dengan seriusnya melihat pertunjukan tersebut – yang … sekali lagi untuk saya : luar biasa.

4. Friendship tidak bisa dipungkiri adalah hal yang dibutuhkan manusia, karena Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk sosial yang perlu orang lain dalam menjalani kehidupannya. Setiap orang punya cara sendiri untuk memilih teman. Namun pertemanan Cinta – Karmen – Maura – Milly – Alya (yang diceritakan sudah meninggal karena kecelakaan) menjadi sebuah angin segar dalam kehidupan saat ini dimana teknologi menguasai kita sampai kita lupa untuk membuat perjumpaan dengan orang-orang yang kita cintai, teman-teman kita. Kita merasa sah saja kalau kita menyapa lewat media sosial sampai satu saat kita bertemu muka, yang muncul adalah ‘awkward situation’ dan bukan kehangatan.

5. Untuk kesekian kalinya, Melly Goeslaw dan Anto Hoed menunjukkan talentanya yang luar biasa dalam menerjemahkan plotting film ke dalam lagu. Setiap sebuah lagu dimulai, rasanya perasaan ini seperti dicubit-cubit – bener lho, itu yang saya rasakan saat mendengar lagu-lagu dalam film ini.

6. Semoga generasi muda yang tergoda menonton film ini, bisa menyadari bahwa sebenarnya Indonesia memiliki seniman/artis yang memiliki talenta luar biasa seperti yang kita jumpai dalam film ini. Mulai dari produser, sutradara, komposer, aktor aktris dan para crew yang terlibat. Tahukah anda, bahwa lagu ‘Bimbang’ yang dulu dinyanyikan Melly Goeslaw di film AADC, sekarang sudah diturunkan dan diarasemen ulang oleh 2 putra Melly & Anto Hoed dan dinyanyikan oleh putri dari Titi DJ.

7. Believe in LOVE – cinta antara pria dan wanita, anak dan orangtua, kakak dan adik, antara sahabat. TRUE LOVE exist, Cinta Sejati itu memang ada.

8. Saya diingatkan kembali bahwa cara mengekspresikan perasaan kita lewat tulisan berbentuk surat atau puisi, adalah suatu bentuk apresiasi dan respect kita terhadap orang yang kita cintai. Bukan dari sisi romantismenya. Tapi bayangkan bahwa saat kita menulis surat, baik itu dalam bentuk email atau surat, bahkan jika kita bisa membuat puisi, kita meluangkan waktu kita, mencurahkan pikiran dan hati kita untuk mencari rangkaian kata-kata yang tepat agar orang tersebut dapat menerima pesan yang ingin kita sampaikan.

9. Film ini memanjakan imajinasi saya tentang kisah cinta klasik yang berakhir dengan happy ending. Perjalanan Rangga dan Cinta dalam film ini, sangat memukau saya. Seperti yang dikatakan oleh Dian Sastro bahwa saat dia mendengar plotting dari AADC 2 dari Mira Lesmana dan Riri Riza, sama seperti saat menonton film Whiplash (saya juga suka dan kagum dengan film ini), kesannya unik, filmnya bukan genre thriller tapi nontonnya ataupun mendengar storylinenya rasanya deg-degan. Tapi deg-degan inilah yang pada akhirnya memanjakan imajinasi saya. Yang bisa membuat saya tersenyum, menangis, tersenyum lagi dan pada akhirnya berharap saya ada di New York bersama Rangga dan Cinta.

10. Imajinasi harus dimanjakan dengan cara yang positif karena dapat memicu kita untuk menjadi kreatif. Film ini tidak harus memicu kreatifitas saya untuk ikut-ikutan membuat film, tapi bisa memancing kreatifitas saya dalam banyak hal, misalnya membuat tampilan slide yang unik, membuat sebuah event kecil yang unik untuk kelompok kecil atau bahkan kreativitas yang tumbuh untuk mengajak kedua putri saya menjelajah Jogjakarta.
So, bebaskan imajinasimu secara positif. Be creative. Seimbangkan hidup kita antara kerja dan menikmati hidup. Menikmati hidup tidak harus dengan belanja atau pergi ke luar negeri, bisa dengan cara yang sederhana – nonton film, mencintai budaya Indonesia, baca buku dan masih banyak lagi.

 

Untuk saya, menonton film ini punya dua efek yang baik. Memanjakan diri lewat imajinasi dan belajar nilai kehidupan yang sederhana tapi bermakna yang membuat saya bersyukur atas hidup ini.

Seperti yang saya sampaikan kepada dua teman saya yang juga ngefans berat dengan Rangga dan Cinta, biarpun saya sudah punya dua putri yang sudah usia remaja, komentar saya tentang ending AADC 2 (spoiler alert !!!) : Kalau yang nunggu di New York kayak Rangga (a.k.a Nicholas Saputra gitu), gua rela deh beli tiket pesawat ke New York dan tiba saat winter yang barangkali suhunya sudah seperti chicken nugget dalam freezer .. #aadc2 #timrangga #timcinta #ranggacinta #senyumrangga
Ratusan purnama berlalu

Tapi cinta tak pernah berlalu

Walau kau usir aku di hidupmu

Tapi cintaku tetap diam

– Ratusan Purnama / Melly Goeslaw & Marthino Lio
Semua perihal diciptakan sebagai batas.

Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain.

Hari ini membatasi besok dan kemarin.

Besok batas hari ini dan lusa.

Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita.

 

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta.

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata.

Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang.

Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.

 

Seorang ayah membelah anak dari ibunya—dan sebaliknya.

Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan.

Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur.

 

Apa kabar hari ini?

Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.

-Batas / Aan Mansyur – puisi Rangga untuk Cinta